Kala itu di tahun 2012, saya membeli sebuah kamera tanpa alasan yang jelas. Iya tujuannya sih untuk memotret, tapi bukan berarti saya benar-benar ingin memotret, namun hanya sekadar ingin beli saja, namanya juga labil. Setelah itu, saya mempelajari dari Youtube tentang kamera, lensa, teknik foto, dan apapun lah. Lalu sampailah saya pada channel DigitalRev, yang adegannya selalu saja si Kai mencoba kamera baru sembari menjelajahi jalanan kota Hong Kong. Melihat dia memotret wanita yang mendorong troli, atau kakek-kakek yang membetulkan kipas angin di pinggir jalan, kok rasanya menarik betul ya. “Aha!” kini akhirnya saya tahu kamera ini harus dipakai apa.
Dengan gagahnya saya menenteng kamera di leher, sambil jalan kaki keliling kota Bandung ini. Oh iya, kamera yang saya beli itu adalah Lumix GF3 dan lensa kitnya. Kenapa saya pilih Lumix? Tidak tahu, biasanya saat saya menonton video review hape di Youtube, ada adegan reviewernya selfie kamera depan dan kamera yang dia pakai rekam video tersebut ikut terfoto, nah biasanya mereknya Lumix. Sampai beberapa tahun kemudian saya selalu beli kamera baru, pasti Lumix, yang di kemudian hari saya sesali haha… tapi bahasan soal itu nanti saja.
Anyway, ketika saya pertama “turun ke jalan”, saya merasa sedikit kikuk, karena ternyata kota saya tidak sebagus kota si Kai. Kok saya baru ngeh ya. Iya sudah, yang penting motret lah. Apa saja dipotret, orang lewat dipotret, gerobak mang gorengan dipotret, pengemis dipotret. Apa sajalah, yang penting memori card ada isinya. Gilanya kala itu, ke mana-mana saya bawa tripod! Jelas kala itu saya masih sangat tidak “street” dan masih ingin-inginnya bikin foto lampu mobil memanjang dari atas jembatan penyeberangan…
Dan terus terang saya merasa tidak puas. Ibarat makan, kok gak kenyang. Saya tidak punya teman hunting yang bisa jadi mentor. Setingan eksposure bisa dipelajari otodidak, namun kecakapan ketika “turun ke jalan” itu tidak datang dengan sendirinya, memang mesti berjalan seiring waktu. Sembari saya salah-salah beli lensa karena tidak tahu crop factor kamera Micro Four Third itu adalah dikali dua, saya cari-cari di internet, siapa fotografer yang bisa dijadikan teladan untuk saya membuat foto. Bla bla bla, lalu saya menemukan seorang fotografer asal Jepang, namanya Tatsuo Suzuki… saya sangat terpesona dengan karya-karyanya, dari sanalah saya memantapkan hati, dan segala kisah ini dimulai…

