Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas berbagai lensa manual sejutaan, di sana pandangan saya jelas, kalau cuma dapet repot manualan tanpa karakter khusus, mendingan pakai lensa manual jaman analog, atau sekalian saja kit AF. Tapi ada satu lensa manual murah yang sudah eksis dari lama, sekarang banyak dicari lagi. Ya selain memang selalu terjangkau, ada karakter khusus yang bikin disukai banyak orang, termasuk saya…
Ini adalah Fujian CCTV 25mm F/1.4. Generasi pertama. Yang paling awal.
Kenapa begitu…? Pertama, harganya cuma 300 ribuan saja. Tapi yang utama, ya karena bokehnya bener-bener swirl melintir. Pernah dulu saya bandingkan pakai kamera yang sama, ini lebih melintir daripada Helios 44-2 alias Zeiss Biotar, dan juga lebih mudah untuk bikin melintir (background tidak harus pohon / tidak harus terlalu jauh).



Lensa ini murah karena built quality dan kualitas optiknya benar-benar kacau. Memang fisiknya full logam, tapi selain ukurannya segede pion catur sehingga aneh sekali dipegang, ring fokus dia gak jelas arah dan stepnya, pokoknya semua pakai feeling. Dan kalau feeling kamu kurang terlatih, kamu bakal mencopot lensa ini jadi dua bagian. Serius, ring fokusnya merangkap screw yang menghubungkan optik depan dengan pantat lensa.
Kualitas optiknya kacau karena… kayaknya cuma kaca doang, mana ada coating atau aspherical element. Menghadap cahaya sedikit saja bakal flare putih semua, harus stop down ke bukaan yang tepat, terlalu lebar bakal vignette putih, terlalu sempit malah vignette putih. Bidang tajam juga sedikit sekali, kebanyakan soft hampir masuk ke background melintir. Kacau pokoknya haha.
Tapi ya karena cuma 300 ribu, memang jangan dibawa serius. Ini gak bisa jadi lensa utama, harus dianggap sebagai mainan / selingan. Untuk foto-foto eksperimental atau fine art, mantap sih. Jangan berharap tone warna yang dinamis, semuanya flat kentel, konsisten untuk tidak konsisten pokoknya. Kadang bagus sekali, kadang jelek sekali.
Ini saya bahas yang generasi pertama ya. Karena dahulu laku, pembuatnya bikin pembaruan, jadi kompatibel ke APSC. Sebetulnya dari awal juga kompatibel toh mountingnya tetat C-Mount, tinggal pakai adapter sesuai. Tapi jangankan di APSC, di Micro Four Third saja vignette parah. Soalnya optik belakangnya kecil sekali, lebih kecil dari sensor MFT. Ini paling tidak vignette kalau dipasang di Nikon 1 atau Pentax Q. Tapi mana ada yang pakai kamera itu apalagi sekarang. 25mm itu ideal sekali di Lumix / Olympus karena jadinya 50mm, oke untuk segala situasi.



Ada varian lainnya, yang 35mm F/1.7 tapi saya tak suka karena bakal jadi 70mm di Olympus. Untuk generasi setelahnya, bentuknya agak diperbarui, dari asalnya kayak titit jadi rada normal, nah macam 7artisan lah bentuknya. Harga agak naik, tapi vignette minim. Tapi sayang, bokehnya sangat tidak melintir lagi. Gimana sih, kita ‘kan beli mau cari bokeh muter-muternya.
Sekarang lensa ini masih banyak yang jual kok di Tokopedia. Kalau bisa, ya cari yang 25mm F/1.4 pertama itu, kalau gak ada, yang 35mm F/1.7 juga boleh. Kalau yang baru bentuknya kayak 7artisan itu jangan lah, hasilnya sama-sama kacau tapi tidak punya karakter. Pokoknya apapun gearnya mau murah mau mahal, harus tetap kreatif!

