Dewasa ini aku gemar lagi mendatangi acara cosplay. Minimal dua pekan sekali, apalagi kalau acaranya digelar di mall yang rada bagus. Auto hadir. Kendati demikian, aku masih merasa linglung kalau berada di sana sendirian. Bukan karena merasa tua sendiri, tapi ya aku gugup saja kalau ada di antara ratusan wibu. Jangan salah, seringnya aku tidak tahu mereka-mereka itu sedang jadi cosplay apaan.
Jujur saja, aku tidak suka nonton anime. Seriusan. Aku kubu baca manga, itu pun manga dengan aliran serius dan tidak mungkin dijadikan cosplay. Kecuali kalau memang mau ada yang memerankan Kintaro dan Yoko dari Golden Boy, aku menyambut baik. Paling aku nonton anime jadul seperti Evangelion atau Digimon. Generasi baru can’t related.
Dahulu, tahun 2015an, aku kadang datang. Saat itu aku baru memulai yang namanya street fotografi, makanya aku butuh arena latihan. Acara cosplay adalah tempat sempurna, aku bisa belajar komposisi, juga belajar untuk mendekat pada subjek asing tanpa khawatir orangnya kabur. Pada akhirnya, nyetrit di acara cosplay melatihku untuk lebih terampil saat memotret di jalanan.

Namun demikian acara seperti ini sempat hilang beberapa saat. Atau mungkin akunya saja yang tak tahu dan malas mencari info. Demikian, setelah pandemi zombie melanda jalanan secara umum menjadi jauh lebih sepi. Bagiku yang menyukai kerumunan serta wanita cantik ini, datang ke acara cosplay bisa menjadi solusi. Setidaknya selingan. Apalagi kalau diadakan di ruang terbuka, yang mana sudah seperti jalanan saja, betapa menyenangkan. Walau ya mana ada cewek pakai seragam sekolah ala Jepang di jalanan sesungguhnya, karena sistem sekarang mengharuskan rok panjang kemeja panjang dan pakai hijab sekalian.
Aku menyukai, sangat menyukai game Genshin Impact, bahkan saya sudah habis hampir 20jt untuk beli iPad beserta top up di dalam game hahaha. Genshin tentu saja bukan game adaptasi anime, tapi dari sananya sudah game. Bukan dari Jepang kok, dari China sebetulnya. Tapi itu tak menyurutkan minat para cosplayer, malahan cosplay Genshin selalu mendominasi di acara-acara.
Tapi yang sebel, ya begitulah… masih pada pakai masker. Macam seolah jadi cosplay ninja saja. Langka sekali cosplayer cantik yang lepas makser. Bahkan sekalipun diculik bawa ke pojokan, tetap pada susah buat buka masker. Ini bikin sedih.
Ya… aku motret di sana. Tapi kalau ceweknya terlalu berkostum, aku tidak pernah edit apalagi upload, karena bisa mengubah pandangan orang terhadap foto-foto saja. Bukannya aku tidak mau terlihat wibu, tapi memang aku ingin dikenal sebagai warga street atau portrait biasa saja. Makanya aku sengaja suka cari cewek non-cosplay di acara cosplay. Gimana sih? iya pokoknya aku datang demi keramaian, dari keramaian itulah aku pilih sosok-sosok yang bisa portrait tapi dengan pendekatan yang saya suka.

Biasanya saya ke sana bersama beberapa teman yang… kalau tidak lagi di acara cosplay, ya seperti orang biasa, malahan mirip tukang pungut iuran jalanan di sinetron Preman Pensiun. Tapi begitu menginjakkan kaki di acara, beh… alter ego langsung, jiwa wibunya bergelora. Mereka juga suka motret dan kameranya lebih bagus daripada saya, bokeh itu wajib. Sesekali saya diajak utuk sesi portrait khusus di luar acara-acara tersebut, ceweknya jadi cosplay anime. Entah, saya kok gak kepingin ya. Sekalipun dia jadi Yoimiya atau Nilou, tak tahu kenapa aku malas saja. Jiwa wibu saya berhenti sampai di acara itu saja.
Kalau pun pada akhirnya kenalan dengan satu- dua model lantas lanjut portrait di luaran, ya aku wajibkan jadi “orang biasa”… hehehe.
Anyway, aku selalu senang kalau habis ke acara begituan. Asal kamu tahu saja, dengan gaya foto saya yang begini, nyetrit di jalanan Bandung itu bagai siksaan. Selain sepi, jarang pula yang cantik, pemandangannya jelek. Ya… anggap saja, alter ego saya, nonton cosplay, walau saya batasi kalau sudah menyangkut fotografi…

