Wejangan untuk Street Tog Pemula

Street fotografi itu menyenangkan dan harusnya membawa kegembiraan, baik saat memotret hingga menikmati foto-foto jalanan. Ada yang memotret hanya sekadar hobi atau iseng bersama teman, dan tak sedikit juga yang pada akhirnya malah mendapat penghasilan. Apapun itu, tujuan akhirnya adalah menghasilkan karya yang… ya bisa bikin bahagia.

Untuk kamu yang baru masuk ke genre ini, ya setahun dua tahun lah, dengarkanlah nasihat dari orang tua ini. Ada beberapa hal yang akan saya ceritakan, semuanya berdasar dari pengalaman hampir sepuluh tahun memotret serta bergelut dalam genre ini.  Semuanya bertujuan untuk menjadikan kamu street tog yang elegan dengan karya yang keren.

Tidak akan banyak bahasan mengenai kamera pada tulisan ini. Gear itu memang penting, namun ada hal lain yang tak kalah pentingnya dalam rangka mencapai tujuan menjadi street tog keren dengan karya yang keren pula, yakni… mentalitas dan cara kamu memandang dunia fotografi jalanan. 

Jangan beli kamera mahal

Tidak perlu dibahas panjang lebar. Sudah saya tulis lengkap pada artikel sebelumnya, silakan dibaca kalau mau.

Cari dan pilih sosok idola sekaligus guru dan mentor

Ini sangat penting. Di masa-masa awal, kamu mungkin bingung hendak memotret seperti apa. Menemukan sosok yang tepat bisa sangat menentukan bakal seperti apa karya-karyamu di masa depan. Kamu harus cari sosok idola yang karya-karyanya terlihat sangat luar biasa dan sulit ditiru. Mengapa demikian? Ketika kamu memosisikan dia sebagai guru, maka kamu adalah murid. Sudah takdirnya murid akan mencontoh apa yang dilakukan oleh gurunya. Dalam konteks seni, murid harus punya keinginan kuat untuk suatu saat bisa melampaui gurunya. Kalau misalnya kamu punya idola yang coba kamu tiru foto-fotonya dan ternyata berhasil disamai dalam seminggu, segera ganti idolamu, upgrade ke yang lebih jago.

Sengaja saya pilih Tatsuo Suzuki serta Daido Moriyama sebagai sosok yang saya jadikan inspirasi dalam memotret. Karena karya-karya mereka tuh… kadang-kadang susah sekali dibuat, di luar nalar. Jadinya malah bikin saya termotivasi untuk terus berlatih dan mencoba hal baru.

Namun dalam kaitan sebagai mentor, ya mana mau Daido dan Tatsuo membimbing saya haha. Ada banyak fotografer hebat, tapi tidak bisa menjadi guru. Ada yang pandai berteori segala macam, tapi karyanya gak jelas. Memang, sosok seperti saya ini langka sekali, makanya harus kalian sayangi dan jaga baik-baik, haha. Akan tetapi ada kok cara mendapat mentor serta bimbingan, yakni dengan gabung komunitas. Ini pun tidak bisa sembarangan, saya jelaskan pada poin berikutnya…

Komunitas yang tepat

Ada banyak jenis komunitas fotografi. Mulai dari yang asal hunting bareng tanpa memandang genre serta merek kamera, ada yang ekslusif untuk circle satu brand, ada juga komunitas untuk genre tertentu misalnya portrait dan tentunya street. Komunitas street pun ada yang hanya hunting-hunting bareng, ada juga yang sampai bikin kelompok diskusi hingga cetak zine sebagainya. Kedengarannya keren sekali, tapi tunggu dulu…

Sudah beberapa kali saya menemukan komunitas yang toxic. Mereka ini… kalau misalnya kita beda pemikiran, dianggapnya ngaco. Mending kalau mereka itu sangat terkenal, jago, atau minimal berpkiran terbuka. Ini saya bicara kejadian nyata, dalam negeri, bahkan ada yang di kota saya sendiri.

Pernah saya punya seorang kawan, sebut saja namanya Tartaglia. Entah dapat ilham dari mana, dia bikin terobosan, jadi ada sebuah alat yang namanya “light blaster“, itu gunanya untuk menembak flash yang sudah dilapis dengan film beraneka pola. Intinya alat itu bentuknya seperti pengering rambut, di dalamnya ada flash off camera, lembar stensil pola-pola, serta sebuah lensa manual. Dia head shot stranger pakai alat itu, saya saksi hidup karena motretnya sama saya. Menurut saya itu luar biasa inovatif, praktiknya sendiri pun sangat sulit karena tangan kanan pegang kamera, tangan kiri pegang itu, dan harus diatur fokusnya karena pakai lensa manual, belum lagi subjek yang gerakannya susah ditebak. Dari sepuluh percobaan, mungkin hanya berhasil sekali. Untuk perjuangan, terobosan serta keberaniannya, saya sangat mengapresiasi, dan bahkan seminggu penuh saya tayangkan foto-fotonya di laman Storyofthestreet. Tanggapan pemirsa luar biasa ramai, apalagi dari fotografer luar negeri. Namun apa tanggapan para “sepuh” di “komunitas street” kita?

Dibantai dong teman saya ini di forum mereka. Dikatain bukan street, manipulasi, dan lain-lain. What the fuck dude? Mereka tidak mau menerima hal baru, atau malah tidak suka melihat ada sosok di luar komunitasnya yang tiba-tiba mencuat. Ibarat pepatah lama Jepang, ada paku yang menonjol harus langsung diketok supaya rata. Ini gila. Alih-alih diapresiasi atau diberi dukungan, malah dicaci maki. Temen saya sampai down mentalnya. Tapi sama sesepuh yang bener-bener budayawan, dikasih semangat kok, disuruh terusin. Itu suara-suara sumbang dengan kritik tidak membangun, memang gak usah didengar. Saya pun tak tinggal diam, langsung saya buat video Youtube yang membela Tartaglia sekaligus mengecam tindakan “sepuh street” gadungan itu.

Saya juga pernah mengalami kok. Dahulu sekali ketika baru awal-awal, dituding menjiplak gaya street Jepang dan mungkin mereka khawatir bakal bikin rusuh atau apalah. Orangnya dia-dia juga. Saya tidak ambil pusing karena siapa mereka. Sampai masa kini ketika jelas terbukti saya bisa bikin gerakan #storyofthestreet yang bisa kamu cek berapa juta foto pakai hastag saya, hingga saya jadi ambassador sebuah brand kamera bahkan difasilitasi dengan mewah, ya mereka tetap tidak akan mengakui, dan memang saya tidak butuh pengakuan dari orang iri dengki. Bener gak? Haha. Dan sepertinya sekarang dia masih di sana-sana saja, kasihan juga sih.

Jadi ada satu komunitas di Bandung, karena sebagian digawangi oleh sosok-sosok toxic yang tak pernah berkembang, maka saya tidak pernah berniat untuk ikut-ikutan. Alkisah tiap hari tertentu tiap pekannya, mereka mengadakan diskusi buku foto. Di markasnya. Biasanya yang bikin dan yang hadir ya dia-dia juga, namun pada suatu kesempatan, yang akan presentasi adalah teman saya, dia bahas buku Tokyo Friction karya Tatsuo Suzuki, yang mana adalah guru saya dan diaa juga belinya titip lewat saya. Apa coba? Diksusi orang-orang berpikiran sempit itu gak jauh-jauh dari mempertanyakan adab dan etika Tatsuo untuk head shot orang asing dari jarak dekat. Astaga… saya kira mereka itu cukup terpelajar, tapi yang begitu saya diributkan, bagi mereka motret pakai tele tuh jauh lebih beradab. Apanya yang komunitas street fotografi kalau seperti itu?

Tapi puncaknya sih beberapa pekan kemudian. Lagi-lagi entah dapat ilham dari mana, yang mau presentasi tuh si Tartaglia, bahasnya buku saya. Combo gak tuh, yang mau tampil dan yang dibahas, sama-sama sosok tidak populer di kalangan “para budayawan” itu. Hahaha. Dan seperti bisa diduga, Tartaglia dicecar masalah etika memotret orang asing dari jarak dekat.  Parahnya, orangnya dia lagi. Hahahaha. Saya hadir di acara itu tapi tidak memperkenalkan diri, duduk di belakang, sengaja pengen memantau. Tempat ini merangkap perpustakaan buku foto, dan sebagian penghuninya suka bikin zine tipis berisi foto suka-suka karya mereka, entahlah diperjual-belikan atau tidak. Ya mereka mau nyinyir gimana juga, buku saya yang lagi dibahas tuh terbukti sold ribuan copy dan banyaknya kirim luar negeri, jadi aku gak ambil pusing.

Pada akhirnya, saya memang tidak merasa cocok untuk kumpul-kumpul dengan komunitas semacam ini. Melihat berbagai sisi, rasanya tidak akan membuat saya berkembang atau jadi kaya, makanya saya lebih memilih untuk bikin “blok” baru haha, dengan mereka yang open minded serta tidak merasa paling suhu di bidang ini. Saya tidak menyatakan perang, tapi jelas saya tegaskan akan ada di sisi berbeda.

Tapi guru-guru yang saya hormati para budayawan (asli) yang punya prestasi dan karya jelas, malah cenderung ada di pihak saya, gimana dong…

Teman hunting

Terkadang hunting sendirian itu terlihat menyeramkan. Sebetulnya tidak juga. Saya tidak selalu hunting bersama teman, tapi juga tidak selalu sendirian, ya seimbang saja. Semua ada plus minusnya. Tapi saya merasa kalau sendirian, malah lebih kreatif dan mengeksplor lebih jauh, namun ya gampang bosan karena gak ada partner in crime.

Cari teman hunting yang sejati tuh susah lho. Ada yang rajin datang, tapi gaya fotonya beda, sering ketinggalan di belakang kalau lagi jalan. Ada yang fotonya seirama, orangnya ngeret dan jarang hadir. Ada yang cocok foto cocok gaya, staminanya payah baru jalan dikit udah minta melipir ke warung kopi. Haha. Semua ada kisahnya lah, itulah mengapa jangan pernah tergantung dengan orang lain.

‘Kan ada tuh sajaknya…

Kalau aku ingin memotret, aku akan berangkat walau mendung. Tenang saja… langit akan cerah ketika aku tiba.

Kalau aku ingin memotret, aku akan berangkat walau sendirian. Tenang saja… di jalanan aku akan menemukan teman baru.

Kalau aku ingin memotret, aku akan berangkat walau tak ada model. Tenang saja, di jalanan selalu ada ribuan model yang menunggu untuk aku potret.

Kurang lebih seperti itulah. Orang terbaik untuk memotivasi semangat memotretmu, ya kamu sendiri.

Jangan biasakan pakai lensa tele.

Itu. Dan malah jangan pernah coba sama sekali kecuali memang lagi di Afrika motret singa. Karena pakai tele di jalanan tuh… membunuh keberanian, mematikan naluri komposisi, kecekatan serta kepekaan kita.

Penjelasan lengkapnya baca di sini. Intinya janganlah dibiasakan jadi pemalas. Gak peduli komposisi, pasrah aja toh backgroundnya blur semua karena pakai lensa FL jauh. Waaah… bahaya. Sudah pakai tele, motretnya gelandangan, diunggah ke Instagram pakai caption sedih. Seolah sudah berhasil tamat satu achievment ya, padahal itu sudah masuk selangkah ke arah kegelapan.

Jangan berat di editan

Banyak saya temui dewasa ini, foto street yang entah apa point of interestnya, namun editan warnanya luar biasa. Baguslah mereka tidak sampai menambahkan objek di Photoshop karena bisa langsung diskualifikasi kalau ikutan lomba. Ingat, ini fotografi bukan retouchgrafi. Bukan berarti haram mengedit warna jadi ngejreng dan sebagainya, tapi mindset harus tetap di jalan lurus. Jadi banyak foto random asal-asalan namun yang ada di pikirannya tuh, “ntar aja edit warna ngejreng, bakal kelihatan bagus”. Gawat.

Nama-nama hebat yang saya kenal, banyak yang JPEG only tanpa edit. Biasanya street tog yang sederhana tapi serius sih, namun karyanya nikmat banget. Bagi mereka, setelah foto diambil tuh ya sudah 99% jadi. Sayangnya kebanyakan malah sebaliknya, setelah jepret tuh baru 1%, 99% sisanya baru rampung setelah ditimpa preset Lightroom luar biasa ngejreng norak, dan dengan luar biasa berani-beraninya dia jual preset itu untuk pemula di antara segala pemula.

Sekian wejangan dari saya. Nanti kalau ada ide lain, saya tambahkan lagi. Jangan terlalu dipercaya, ambil yang baiknya saja, kalau ada. Semoga kita semua menjadi fotografer hebat dengan karya-karya yang hebat pula.