Pasti sebagian besar street fotografer lebih memilih untuk memotret saat pagi, atau siang, atau sore, asalkan jangan malam. Sepertinya sih karena malam itu gelap. Untuk saya sendiri, saya lebih memilih untuk memotret malam daripada pagi, atau siang, atau malam. Kegemaran ini tidak ujug-ujug muncul, melainkan buah dari pengalaman, kondisi cuaca, keadaan di jalanan kota saya, dan sebagainya. Ada beberapa poin sih kalau mau diceritakan…
Pertama, kondisi cahaya. Sedikit aneh, tapi memang begitu. Malam hari itu kondisi cahayanya stabil. Beda dengan siang, bisa saja tiba-tiba awan menutupi matahari, atau mendung mendadak. Golden hour pagi cepat berganti jadi terik tengah hari, golden hour sore pun hanya sebentar, keburu senja dan cahaya turun. Malam? Mau jam 6, jam 9, jam 12, bahkan jam 3 dini hari sekali pun akan tetap hitam langitnya.
Kedua, orang-orang di kota saya lebih banyak beredar di malam hari daripada siang. Entah takut sinar matahari atau apa, pokoknya kalau siang itu jalanan sepi sekali. Apalagi yang namanya cewek, wah. Berhubung saya ini berfokus pada subjek, kalau di jalan tidak ada orang, ya tidak ada yang saya foto.
Ketiga, malam hari itu membuat segala keruwetan menjadi lebih simpel. Saya ini payah dalam menyatukan kekacauan di dalam satu frame. Kondisi jalanan di sini, sangat berantakan. Trotoarnya penuh pegadang, juga ojek online. Bahu jalan juga selalu saja ada angkot berhenti, atau taksi online yang biasanya mobil yang bentuknya begitu saja dan warnanya kalau tidak putih pasti silver. Pohon yang seolah muncul tiba-tiba, kabel listrik, dan apapun lah pokoknya tidak enak dilihat. Saat malam tiba, kegelapan menyembunyikan detail-detail kacau itu.
Terakhir, saya adalah fans berat teknik flash second curtain. Tentu saja teknik ini lebih efektif dilakukan di malam hari. Saya menjelaskan tentang teknik ini pada bab lainnya. Yang jelas itulah, saya lebih condong untuk memotret malam hari. Kalau kamu bagaimana..?

