Leica Termurah

Sebulan lalu aku pakai Leica yang lebih murah dari ini sih, tapi ya Dlux itu versi mark up dari Lumix. Nah kalau yang ini beneran Leica, Made in Germany…

Ini adalah Leica X1. Kamera kompak APSC yang diluncurkan tahun 2009. Tua sekali ya, sudah 15 tahun. Demikian, ini adalah kompak APSC pertama di dunia, bukan GR atau X100.

Sejujurnya aku belum pernah pegang sebelumnya. Sering lihat sih di marketplace, tapi ya semurah-murahnya Leica tetap saja mahal. Pada hari-hari normal, dengan budget setara jelas aku akan pilih Ricoh GR II. Namun atas dasar penasaran, akhirnya beli juga. Well, usia kamera ini seumuran dengan rata-rata model cewek yang sering saya foto, dan untuk ukuran kamera digital itu sangat tua… ya kayak beli digicam lawas lah, bedanya ini kalau rusak atau mati, duh mahal banget…

Syukurlah unit yang kudapatkan, kondisinya sangat prima. Biasanya kalau nemu kamera ini di marketplace, antara kondisinya sudah bekas perang sama sekali, atau beneran like new alias cuma jadi pajangan. Saya punya kayaknya sering dipakai, tapi ringan-ringan saja. Kondisi yang sangat ideal untuk kamera seusia ini, karena kalau like new cuma dipajang pun tidak sehat juga.

Seperti itu bentuknya. Aku dapat yang full hitam. Sebetulnya untuk kamera ini, aku tidak punya preferensi khusus mesti hitam atau silver, sama saja. Namun hitam lebih mampu menyembunyikan luntur-luntur halus di bagian top plate, lain dengan silver.

Ya begitulah… ini memang kecil, tapi gak kecil-kecil amat. Dibanding Coolpix A yang rutin kupakai, ini sedikit lebih panjang. Sedangkan bobotnya hampir sama. Itu karena build quality ya… yang Made in Germany. Semuanya solid, kayak batu bata. Tapi di luar dugaan, si Coolpix tampak sama sekali tidak inferior haha, juara memang itu kamera. Dan tentu saja karena ini Leica, di bagian depan tidak ada grip sama sekali… supaya nanti beli grip tambahan = keluar duit lagi. 

Susunan tombolnya sederhana seperti Leica pada umumnya. Switch power langsung tembus ke drive S dan C. Fungsi-fungsi penting langsung ada di kiri layar, artinya kamera ini tidak bisa digunakan hanya satu tangan layaknya GR. Di lensa seolah ada ring fokus tapi itu bukan, tidak ada fungsinya. Kalau diputar, nanti lepas. Biasanya untuk dipasang auto lens cap atau hood, yang sayangnya saya tidak punya.

foto standar

Sekali lagi, ini adalah kamera tahun 2009, maka angka-angka speknya bakal terdengar sangat kuno. Contohnya layar, selain hanya 2.7″ resolusinya pun gak sampai 250.000 dots, mana sangat redup pula (kecuali diatur sampai maksimal, yang jangan juga karena nanti boros baterai). Ya itu seperti digicam hipster yang jaman sekarang dijual sejutaan, tapi ‘kan ini kamera premium sekali bahkan di masanya. Malahan, Lumix GF1 yang lahir tepat satu minggu sebelumnya, punya resolusi dua kali lipat.

Ya kalau biasa main digicam hipster, layar sepayah ini fine-fine saja sekadar untuk komposisi. Tapi kebanyakan kita pasti terbiasa dengan layar 1-2 juta dots, betul-betul mata butuh penyesuaian. Positifnya, pas buka filenya di komputer atau hp, bakal sangat bersyukur karena ternyata hasilnya bagus sekali… jadi kalau pas lihat hasil di layar kameranya tampak jelek dan gelap, jangan dihapus, nanti saja, buka dulu di komputer, file aslinya sangat lumayan.

Ah iya, filenya DNG kok, nyaman. Tapi yang aneh, walau bisa RAW tapi kamera ini mewajibkan kita ngambil RAW + JPEG. Tidak bisa RAW saja. Entahlah kenapa, walau ukuran filenya relatif kecil tapi ya rasanya buang-buang memori saja. JPEG itu buat saya hanya berguna untuk transfer file lewat wifi, yang mana tentu saja tidak ada pada kamera ini.

Ya sudah, kameranya aku pakai di jalanan dan juga portrait tipis-tipis. Sekilas jadi teringat pas punya Leica Q sih. Walau ya agak jauh juga, tapi ada feel mirip-mirip lah… ini ‘kan cikal-bakalnya Leica Q. Memindahkan shutter speed lewat puter-puteran, termasuk juga F, karena tidak ada ring F di lensanya, melainkan lewat roda. Ya kenapa tidak…

Termasuk juga mengatur jarak manual untuk zone focus, lewat dial, yang feeling gesernya kayak roda di mouse komputer. Ini oke-oke saja, dan harus, karena AF pada kamera ini sangat tidak bisa diandalkan. Bisa, tapi ya jangan. Kabar baiknya, walau kameranya dimatikan, jarak fokusnya tetap di posisi semula… kamera tua ini lebih waras daripada Coolpix A atau Sony RX1. Menunya juga jauh lebih simpel, semua digabung jadi satu, tidak ada sub menu, karena memang hanya sedikit. Alias tidak usah kebanyakan setting, motret ajalah… 

Ah… batre CMOSnya sudah soak, kalau baterai dicabut tanggalnya reset. Tapi cuma tanggal dan jam doang, settingan sih aman… emangnya Fuji heheh.

Di luar dugaan, kameranya cukup responsif asalkan kita lupain yang namanya AF. Ngambil foto nyaris tanpa delay, enak sih ini. Paling yang agak lelet, pas nyalain kamera. Sebetulnya AFnya tidak buruk-buruk amat, ya memang tidak cepat tapi masih bisa lah. Jadi ada tiga mode fokus yakni AF, MF dan AF macro. Nah yang macro ini… entahlah mesti dari jarak berapa… dari 30cm gagal, 20cm gagal, 10cm apalagi. Syukurlah tidak ada keharusan aku motret makro…

bagaimana pun ini APSC jadi ya bisa saja bokeh kalau mau. ini pakai manual fokus,
karena AF makronya entahlah gak jelas…

Eits… tapi itu AF sebaiknya hanya digunakan saat siang saja… karena saat cahaya mulai turun, dia langsung ngos-ngosan. Sebetulnya saat siang pun saya lebih suka menggunakan zone focus sih, jauh lebih responsif.

Tapi pun ada hal menjengkelkan, yakni ketika aku ingin memotret snap semeter pakai flash malam-malam. Namanya zone focus, ya tidak ada delay harusnya, sudah terbukti pas siang. Namun pada kamera ini, entah kenapa kalau snap pakai flash… ada delay setengah detik dari pencet shutter hingga menjepret. Apakah faktor usia atau teknologi, sehingga shutter sync dengan flashnya lambat atau gimana… yang jelas jadi banyak gagalnya, karena setengah detik itu subjek yang papasan sudah keburu makin dekat, jadinya muscle memory harus disesuaikan lagi untuk mulai jepret setengah detik sebelum subjek datang, alias saat subjek masih sekitar 1.5 meter padahal sudah diatur semeter. Ya ini berpengaruh juga ke motion blur di background… ah kalau gak jago, kacau lah haha. Saya penasaran apakah pada masanya, ada orang lain yang motret begini pakai kamera ini plus flash bawaannya.. hehe.

Untuk portait flash sih aman-aman saja. Apalagi pakai flash eksternal, makin sedap.

Pokoknya dari awal aku akan menganggap kamera ini adalah digicam yang kegedean, bukan kamera street buas kayak GR atau X70. Soalnya emang gak ngebut-ngebut amat, sekadar street yang santai-santai ya aman, tapi kalau bisa diajak bikin foto yang sesuai dengan gaya saya, ya itu bonus saja.

Dengan lensa 24mm yang setelah crop factor menghasilkan 36mm, ya FL yang cocok buat street. Walau aku lebih prefer 28mm, tapi okelah… masih terasa sangat familiar. Walau dengan bukaan F/8 dan set zone focus semeter, aku benar-benar tidak yakin subjeknya fokus apa tidak haha… selain tidak ada focus peaking, resolusi layarnya ‘kan rendah sekali. Ah tapi foto dulu saja, cek belakangan di laptop…

Tentu pula layarnya tidak menampilkan eksposur yang sesuai… tapi hal ini sudah saya duga dari awal hahaha… tenang saja, lightmeternya akurat kok. Lalu juga, saat lihat-lihat foto, lensanya tidak otomatis masuk… sekalipun tidak dipakai motret. Mungkin supaya sat set kalau ada momen atau apalah…

Dan ketika aku buka file-filenya di Photoshop… hasilnya… ya biasa saja haha. Memang ada “warna Leica” yang mudah-mudahan bukan ilusi, tapi buatku tidak ada artinya karena toh bakal aku jadikan monokrom di Silver Efex. RAWnya cukup bisa diangkat sih, kendati ketajaman serta DR bawaannya pun sudah lumayan. Karena hanya 12mp, dimensi fotonya sekitar 4200×2800 sekian lah… itu lebih dari cukup, jangan khawatir.

Warna dan karakter fotonya… mirip sekali dengan Lumix jadul kayak GF3 haha. Serius… sulit dijelaskan, tapi karena saya sering pakai Lumix jadinya terasa. Oh, kamera ini ISOnya hanya bisa naik turun full stop, tidak bisa sepertiga. Dan sampai dengan 1600 masih aman lah, ya walau mulai noise tapi tak apa-apa juga.

Kameranya saya pinjamkan sehari ke murid saya, Randy. Dia pakai untuk motret nikahan adiknya,
tentu RAW + JPEG tapi dia pakai filter monokrom bawaan kameranya. Nah jadi foto-foto pengantin
di sini semuanya JPEG monokrom no edit bawaan kamera. Bagaimana menurut kalian?

Kalau mau cobain edit RAWnya buat belajar, silakan download di sini.

Selama aku test dua kali hunting, baterainya masih lumayan sehat. Bagaimana pun, usia pakainya sudah belasan tahun. Untuk kamera lain, mungkin aku sudah ancang-ancang untuk beli baterai cadangan karena ya nyetrit dengan satu baterai itu (apalagi sudah uzur) sangat riskan. Namun sial, saya kira baterainya punya kesamaan dengan Lumix apa lah… ternyata tidak. Harga baterai originalnya 1.2 juta, dan tidak ada versi Kingma atau Wasabi di Tokopedia. Kayaknya di masa itu, Wasabi dan Kingma belum eksis. Ngeri juga sih kalau dapat unit yang baterainya sakit, siap-siap jajan lagi… syukurlah yang saya punya masih lumayan sehat dan kurus. Fiuh…

Bagaimana kesimpulannya? worth to buy?

Ya… gimana ya… walau biasanya pada Leica kamu akan bayar lebih dari yang seharusnya, namun dengan melihat harga pocket premium semakin digoreng, 6-7 juta untuk pocket ASPC, kok kamera ini malah terasa oke ya. Terlepas dari baterainya yang mahal tiada tara, tapi dengan harga yang sama, kamu pun tak bakal dapat Ricoh GR II atau Fuji X70 sih. Jadinya ya ini seperti Coolpix A, walau pakainya menyebalkan dan terasa usang, tapi hasil akhir fotonya baik-baik saja.

Anggaplah di marketplace sekarang Ricoh GR II tuh harganya 9 jutaan, ini kamu hanya keluar 7 juta untuk X1. Selisih dua jutanya untuk kompensasi layar yang resolusinya rendah dan megapiksel yang kurang 4mp haha. Lagian ini Leica, ada rasa keren tersendiri ketika dipakai hunting street dan ketemu sesama street tog. Lantas pula, lingkaran merah itu adalah jaminan, nilai pasarnya bakal terjaga atau malahan naik seiring waktu. Kayaknya Ricoh GR tidak bakal bisa hidup sampai 15 tahun begini, tapi X1 bisa, karena kualitas material dan teknologinya.

Oh iya, dengan harga yang hampir mendekati, kamu bakal dapat D-Lux 6, yang mana itu Leica bohongan alias Lumix LX7 yang walau sensornya kecil sekali namun dari segi fungsi malah lebih sat set dan multi guna. Sedangkan ini ‘kan Leica beneran, jadi ya harus seperti ini : tidak banyak ini itu, tapi fotonya bagus dan kameranya awet.

Jika kamu seperti saya, tidak mementingkan harus pakai teknologi terbaru, dan tidak manja harus pakai yang serba mudah, maka tidak ada salahnya sih cobain, masih mudah dicari kok di Tokopedia. Ini adalah rute termurah memasuki dunia Leica.