Flash Kecil yang Lagi Ngehits

Butuh waktu sebulan sampai aku bisa dapat flash ini. Dunia jual-beli kamera tanah air memang sedang tidak baik-baik saja…

Seriusan. Awalnya saya lihat kawan hunting saya si Alvi, pakai flash ini. Masuk akal karena dia pakai Xpro3 yang tidak ada flash internal. Ingin juga sih, karena tampak kecil dan murah (sejuta pas kata dia). Eh pas aku cari di Tokopedia, antara pada kosong, atau kalau ada pun yang jualnya makelar, dijual tinggi sampai 1.5 jutaan. Gila. Masa sih sampai flash pun kena goreng…

Biasanya aku tidak mau pakai flash eksternal. Karena walau sekecil apa pun bentuknya, tetap saja bikin kameranya jadi tambah besar. Susah payah saya berkamuflase jadi noob dengan pakai kamera pocket, sia-sia dong kalau ada flash eksternal tertancap jadinya kelihatan pro… gak leluasa lagi motret sambil pura-pura jadi turis.

ini adalah contoh foto yang biasa saya buat… pakai flash internal Nikon Coolpix A

Beneran… selama ada flash internal di kameranya, aku ogah pakai flash eksternal. Terakhir aku punya flash eksternal, pas masih pakai Leica Q dan Ricoh GR III bersamaan. Keduanya tidak ada flash bawaan. Waktu itu aku pakai Nissin i40 Fuji. Entah bagaimana, fungsi TTL berfungsi juga di Leica dan Ricoh. Mungkin pin konektornya sama atau bagaimana lah. Pokoknya saking jarangnya main flash tancap, aku tidak cukup mahir untuk menjelaskan hal ini.

Nissin i40 itu kayak begitu… agak berat sebelah kalau dipasang di kamera kecil

Lagian flash internal di Nikon Coolpix A, menurutku sangat bagus. Dibanding flash Fuji X70 atau Ricoh GR II, ini jauh lebih mendingan. Hasilnya gak kasar, cahayanya pun merata. Aku sangat percaya diri sih, kalau sama-sama pakai flash internal, saya ini lebih hebat dari rata-rata fotografer di dunia haha…

Tapi namanya flash yang ditenagai kamera, sangat makan baterai. Saya diwariskan Coolpix A ini dari Mas Nanung dalam kondisi baterai dua biji yang sakit semua… haha (padahal pas sebelum saya jual ke dia, itu baru semua). Sial, baterai Coolpix ini walau samaan dengan Nikon 1 tetap saja adalah jenis kamera yang jadul dan tidak populer. Tidak ada merek Kingma, saya harus beli Wasabi, 300rb sebiji duh. Sudah beli lagi sebuah, tetap masih kurang apalagi flash nyala terus… ya sudahlah, aku putuskan beli flash eksternal.

ini sampel pakai Nissin i40 di Ricoh GR III

Khusus flash eksternal, aku benar-benar tidak mau yang ada displaynya… karena menurutku itu mengganggu. Makanya, walau pilihan paling umum dan terjangkau adalah Godox TT350 (ada versi Nikon dan pasti bisa TTL), aku tidak lirik. Dalam wishlistku ya hanya Fuji EF-X20, Nissin i40 atau Godox Junior Lux ini. Semuanya kecil dan bergaya full analog.

Nissin i40 wah susah sekali, gak ada yang jual. Fuji EF-X20 yang beberapa tahun silam mudah sekali didapatkan kondisi BNOB sejuta, sekarang langka dan tentu kena goreng. Tapi flash itu payah sekali sih, sudah cahayanya lemah, recharge time lelet, baterainya boros pula karena cuma pakai dua baterai AAA yang buat remote TV. Makanya ketika Alvi bawa Junior Lux ini, yang pertama kutanya adalah ketahanan baterainya… soalnya Junior Lux pun cuma pakai dua baterai AAA.

Kata dia sih cukup seharian asal jangan sering full power. Ya… baterai Alkaline AAA bisa dibeli di mana-mana, sekitar 30rb untuk 4 biji bonus 2. Tapi kalau sering beli ‘kan boncos juga. Solusi jangka panjang ya beli baterai yang bisa dicas ulang.

Sekitar sebulan sejak cicip punya Alvi, akhirnya ada barangnya… Mendadak banyak lagi. Ya sudah akhirnya sikat sebiji. Agak aneh sih ini, sekalinya kosong satu kosong semua, sekarang lagi ada langsung banyak. Sementara official store Godox tetap tidak ada stok, aku nemu toko yang jual brand new 825rb saja. Setelah kena diskon, jadi hanya 750rb. Belinya di sini. Lumayanlah.

Bentuknya ya seperti itu. Full analog. Tombol yang penting cuma yang buat atur power, sisanya hiraukan saja. Ada juga semacam puter-puteran untuk memberi saran kekuatan yang pas, dengan mencocokan ISO dan jarak… ya kayak skala hyperfocal lah.

Uh… sebetulnya aku ini bisa dibilang cukup awam untuk bahas flash eksternal, namun karena benda ini dirancang untuk street fotografi, jadi ya aku coba bahas dikit-dikit lah dari sudut pandang pemakaian di jalanan. Flash ini ‘kan cuma bisa menghadap depan dan tidak bisa pakai triger, jadi aku terhindar dari bahasan-bahasan cahaya studio dll. Kalau cuma dari perspektif street fotografi, bisa lah ya…

Ya… bikin foto untuk artikel ini adalah hal termudah. Tidak seperti biasanya, yang mana aku harus sengaja pakai digicam atau lensa fisheye untuk mengisi galeri, kali ini sih rasanya alami sekali… toh dengan atau tanpa bahas flash ini pun, aku tetap bakal nyetrit pakai flash.

Catatan : semua sampel foto, jarak kamera (dan flash) dengan subjek semuanya sama, satu meter. Harap maklum, aku ‘kan anaknya zone focus banget.

foto standar siang hari, power 1/8

Aku belum bilang ya… flash ini universal. Pin konektornya cuma sebiji, jadi akan berfungsi pada kamera apa saja, tapi hanya mode manual. Tidak ada TTL. Mode auto pun hanya basa-basi, karena walau ada sensor cahaya tapi tetap saja tidak ada komunikasi dengan eksposur di kamera. Sepertinya tidak bisa pakai triger , jadi untuk off camera flash disediakan lubang sync serta kabelnya. Tidak akan pernah saya pakai karena tidak ada port begituan di kamera ini. Untuk kamera analog cocok sih.

Mungkin… mungkin ya, dicolok kabel sync ke penangkap sinyal wireless yang terhubung pada triger di kamera. Nah itu kayaknya. Tapi siapa juga yang mau gitu-gituan pakai flash ini. Masih banyak flash lain yang lebih cocok untuk dibuat begitu. Makanya, tombol samping yang gunanya bikin flash ini jadi slave, siapa juga yang mau pakai.

nah karena tenaganya jauh di atas flash internal, saya jadi bisa slow shutter di sore terang. kalau pakai flash internal, pasti gagal, karena cahaya flashnya masih kalah dari cahaya alami…

Kendati demikian, karena Coolpix A adalah kamera dengan “leaf shutter”, jadi flash tetap bakal terpicu walau di shutter speed 1/2000″ sekali pun. Inilah enaknya pakai kamera begini… gak perlu itu ND filter untuk siang-siang ngeflash, toh shutter speed bisa didorong habis.

Untuk mendapatkan kadar cahaya yang pas sekaligus tidak boros baterai, maksimal kekuatannya aku atur di 1/16. Kalau mau terangnya setara flash internal, kurang lebih di 1/32. Makanya aku naikkan sedikit biar lebih terang, berefek pada ISO yang bisa turun sekitar dua stop.

Hasilnya… ya seru. Pakai internal saja orang di jalanan sudah cukup kaget, apalagi pakai ini hahaha. Cahayanya lebih menyebar, lebih banyak area di sekeliling subjek yang terkena cahaya.  Semakin banyak cahaya yang mengenai bidang pantul, jadinya semakin detail pula foto. Singkat kata, tentu saja flash ini jauh lebih kuat dan bagus daripada flash bawaan kamera. 

Kombinasi leaf shutter + flash eksternal tuh sebetulnya aku tidak mengincar untuk malam hari, melainkan untuk siang terik. Aku suka sekali menembak lawan cahaya matahari, atau pun memberikan cahaya tambahan pada subjek yang tersorot matahari, supaya background terutama langit bisa jadi gelap. Biasanya sih kalau portrait, tapi street juga bolehlah. Tapi karena belakangan Bandung kembali hujan, jadi ya seadanya sajalah haha.

ya kayak ginilah… lawan matahari jadi nyaman

Karena flash ini tidak ada koneksi ke kamera, artinya settingan slow sync dan second curtain jadi tidak berlaku. Tidak peduli seberapa lambat shutter speed, kilatan cahayanya ya tetap cepat, dan akan terpicu saat tombol shutter ditekan, alih-alih nyala saat shutter mau selesai. Maka mesti ada sedikit penyesuaian dari gaya memotret malam terutama goyangan tangan demi bikin efek-efek cahaya. Aman, sama sekali aku tidak merasa kehilangan fungsi TTL. Eh tapi flash ini tidak dikasih difuser, jadi waspada hasilnya terlalu keras.

Khusus untuk gaya motret slow shutter speed ala saya, rasanya kok tidak terlalu signifikan jadi jauh lebih bagus atau gimana sih. Benar bahwa cahayanya lebih terang dan tegas, namun absennya fitur TTL juga berpengaruh, sangat berpengaruh malah. Guna mengompensasi susahnya bikin garis-garis cahaya, aku harus lambatkan shutter speed hingga 1/8″ dari biasanya cukup 1/15″.

Ah… baterainya mengejutkan saya. Karena hanya dibekali dua AAA, kirain bakal buruk kayak EF-X20. Eh ini survive loh, aku kasih baterai Alkaline yang ada di warung, itu dari jam 3 siang sampai sekitar jam 12 malam saya motret full flash kurang lebih seratus frame, dengan power bervariasi 1/16 sampai 1/2, baterainya belum habis. Ya gak bisa dilihat sisa berapa persen, pokoknya masih bisa dipakai. Singkat cerita, dia akan bertahan untuk hunting seharian penuh. Kalau mau bawa spare baterai cadangan juga boleh, toh kecil ini.

Tadinya aku mau ngetes motret pakai fisheye. Selama ini kalau pakai flash internal, selalu cacat fotonya ada area gelap gede banget. Sayangnya saat tulisan ini dibuat, aku tidak punya body MFT… padahal lensanya ada. Nanti lah menyusul.

Edit : ada nih, aku test pakai bodi E-M10… sama saja ada area hitam namun tidak terlalu konkrit, pasti karena letak flash (ditambah hot shoe agak jauh dari lensa karena E-M10 ada penta prism bohongan) lebih tinggi, jadi area hitamnya cenderung seperti bayangan alih-alih blok hitam…

Akhir kata, apakah layak dibeli? tentu saja. Ada sih flash universal lain yang lebih murah, merek National dan CY kalau gak salah, 200 ribuan… tapi intensitas cahayanya gak bisa diatur, harus selalu full power. Kalau ini ‘kan bisa, jadinya lebih fleksibel. Lagian, kalau mau flash yang ukurannya kecil, pilihan sangat terbatas. Kalau gak ini, ya EF-X20 atau FlashQ yang dua jutaan itu…

Junior Lux cuma 800 ribuan. Itu harga yang sama dengan TT350. Kalau sedang ada, harga segituan bisa juga dapet Nissin i40 seken, yang berkali lipat lebih bagus dan bisa jadi senter pula. Pilihan di tangan kamu, mau yang kecil ringan tapi cuma bisa menghadap depan, plus hanya mode manual, atau mau yang agak besar tapi bisa dipakai dengan berbagai cara.

Kayaknya yang beli Junior Lux cuma street fotografer sih, yang pakai GR III atau Leica. Atau juga yang suka portrait ala-ala vintage dengan single flash depan subjek. Ya… fungsinya terbatas tapi spesifik, dengan hasil yang sangat lumayan.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram