Jurus Maura

Aku punya sahabat asal Jerman yang hobi keliling dunia, dan selalu kaget saat mengunjungi Indonesia…

(tulisan ini tidak akan disertai foto apa pun, sebab nanti tidak relevan)

Memang dia orangnya tak mau diam di satu tempat. Malahan diam di Jerman paling cuma sebulan dalam setahun, sisanya kawasan Asia macam India, Thailand, Vietnam hingga Indonesia cenderung malah jadi rumahnya. Terhitung bulan lalu adalah kali ketiga dalam tiga tahun kami bersua di Bandung. Ya memang, setelah di Indonesia pun tidak diam di satu kota… pasti awalnya Jakarta, lanjut Bandung, lantas Jogja dan seterusnya.

Walau kadang setelah di sini dia bakal mengeluh karena terlalu “kering” baginya saat motret jalanan – maklum, biasa motret di negara lain – namun dia tidak terlalu keukeuh harus dapat foto. Motret jalanan hanya sebagian agendanya, sisanya ya nongkrong bersama karib lokal, kuliner, hingga pula menikmati pesona wanita tanah air hahahaha.

Biasanya jika dia sudah menemukan “teman” di satu kota, maka berikutnya daerah tersebut masuk radar untuk dia kunjungi tentu dia akan mengabari teman tersebut. Itu sangat wajar. Namun sudah bukan sekali dua kali dia berkeluh kesah pada saya…

“Kemarin pas mau ke Jakarta, saya janjian dengan si A untuk bertemu dan motret…” ujarnya tapi dalam Bahasa Inggris.

“Terus…”

“Dia setuju kok. Tapi begitu hari H, orangnya mendadak tidak buka chat dari saya… terbukti dari ceklis WhatsApp yang tak juga biru, padahal ‘last seen’ selalu baru. Malah dia pun masih bisa melihat story Instagram saya…”

“Hm…”

“Pernah juga di Surabaya, saya janjian dengan perempuan. Juga sama, pas sudah dekat jam pertemuan, menghilang begitu saja.”

“Saya turut menyesal, tapi saya tidak kaget.” tukasku.

“Kok begitu…?”

“Di sini kami menyebutnya ‘jurus Maura’…”

“Ada ya istilah begitu…?”

“Enggak sih, itu bikinan saya dan Carl saja… haha.”

Demikian kawan saya yang bule itu kadang masih heran dengan perangai orang kita. Kalau saya tentu tidak harus kaget lagi, karena itulah realita sehari-hari. Ada yang terlalu segan untuk menolak, ada juga yang memang tidak peduli. Tapi intinya adalah bagaimana cara kita menghormati orang lain, yang akan kembali pada diri kita sendiri kok.

Ini mirip dengan orang yang karena dikejar hutang atau suka selingkuh sehingga setingan ceklis WhatsApp dibikin tidak biru serta ‘last seen’ tentu tak ada.

Mirip saja, tapi tidak sama. Karena kalau sedang dikejar hutang ya orang bakal pura-pura mati, alih-alih entah untuk alasan apa kok bisa-bisanya lihat story dari orang yang ngasih hutang.

Khusus untuk ‘jurus Maura’ ini… ah saya jelaskan dulu saja deh, ‘Maura’ itu nama cewek yang ditemukan oleh saya dan Carl di jalanan, lantas kami street portrait. Tapi setelah foto-fotonya dikirimkan, mendadak fitur DM di Instagram dia rusak parah dan mungkin berlangsung selamanya. Tapi hebatnya kalau lihat Story, selalu hadir. Itu saja sih, tidak ada alasan khusus, cuma biar ada saja…

Makanya kadang saat mencari talent di Internet untuk portrait, dan selalu saya percayakan pada Carl untuk pendekatan hingga penjadwalan serta lokasi hingga biaya, ketika saya tanya “bagaimana progresnya…?” , dia cukup jawab saja singkat “jurus Maura” maka kami sudah saling paham apa yang terjadi. Kira-kira seperti itu. Segera move on cari yang lain.

Biasanya terlapor “jurus Maura” berasal dari kalangan remaja cewek wibu sih, yang bisa-bisanya masih coba-coba kami gaet untuk portrait walau kemungkinan berhasilnya tipis. Namun bukan berarti wanita yang tampak berkelas nan terpelajar tidak akan menggunakan jurus itu, sebab faktanya terjadi juga sih…

Pekan lalu kami memotret model yang saya temukan di Thread. Sangat cantik, luwes, enak juga ngobrol sambil jalan-jalan saat motret. Sebetulnya saya sangat cocok, ingin menjadikannya model rutin. Dia orang luar kota, tapi kalau akhir pekan ada di Bandung. Mungkin pula aku berharap lebih dari itu, sebab selepas sesi foto pun dia masih cukup menyenangkan…

Jadi saat jeda, kami makan kebab, bahkan pula kawan bule saya ikut, jadinya kami berempat tuh di Braga. Mungkin karena masih kenyang, si cewek hanya menyantap kebabnya satu suap. Sambil bercanda aku marahi…

“Euh kamu mah, anak-anak di Gaza kelaparan, ini makan malah gak habis…”

“Ih nanti aku makan di rumah kok, janji deh…”

“Kirim video makan sampai habis ya…”
“Siaaap.”

Betulan dong, satu jam setelah dia pulang duluan, dikirimkannya timelapse dia makan kebab sampai habis. Terus juga kalimat panjang ucapan terima kasih serta permohonan maaf kalau pas foto-foto posenya ada yang kurang dan sebagainya.

Dan, ya… berikutnya jurus Maura.

Memang saya ini orangnya tidak sabaran. Teknik tarik-ulur layangan dalam komunikasi dengan incaran, saya sudah tidak mau. Bohong itu yang bilang segala ada kupu-kupu dalam dada. Buat saya, kupu-kupu itu sudah mati sejak lama disantap tarantula yang bersarang dalam dada. Aku menjadi tarantula jantan, yang sehabis mendekat dan kawin dengan betina maka berikutnya aku akan dilahap.

Aku tidak mau mendekat lebih jauh ke dalam lubang hanya demi memastikan penghuninya adalah kupu-kupu atau malah siluman kayak di Wukong. Berikan sinyal yang baik dan mudah dimengerti, bukan jaring yang harus diikuti hanya demi bunuh diri.

Eh kita lagi bahas apa sih? haha.

WhatsApp saya biru kok. Seandainya aku rasa sudah tidak perlu dibalas, tetap akan aku buka supaya menandakan sudah kubaca. Itu hanya berlaku jika kita sesama tim biru. Mengapa saya geram pada kelakuan seperti itu, ya karena saya tidak begitu ke orang lain. Jika kelakuan kamu sejenis dengan yang bikin ulah, tidak berhak komplain.

Demikian kendati terkesan aku ini bisa dengan mudah memutuskan hubungan dengan orang yang berulah, tapi sebetulnya aku ingin punya teman sebanyak mungkin. Atau juga calon istri mungkin. Pepatah lama mengatakan bahwa “teman adalah keluarga yang kau pilih…” , nah itu dia, kalau gelagatnya sudah tidak ingin memperpanjang silaturahmi ya buat apa lagi dipertahankan. Persetan jurus tarik-ulur layangan, ini 2025, tak ada orang yang sampai berhari-hari tidak buka sosial media.

Itu pulalah yang saya jelaskan pada kawan bule saya. Syukurnya dia paham dan setuju. Kami punya cara sendiri dalam menghormati diri sendiri, antara lain dengan tidak datang jika tak diundang, dan tidak lagi menghubungi seseorang jika pesan terakhir belum dibalas (atau malah belum dibuka). Kami juga menolak vaksin saat musim Covid, mengidolai Andrew tate, dan punya pemahaman sama bahwa jumlah manusia di planet Bumi ini masih banyak daripada sekadar berkutat dengan orang yang tidak asyik.