Akhirnya punya kamera ini. Sudah sejak 2021 aku ingin, baru sekarang kesampaian…
Bukannya aku menunda-nunda beli atau apa, masalahnya kamera ini hanya dijual di Jepang dan sebagian negara Eropa. Di Amerika saja tak ada, apalagi di Indonesia. Oleh sebab itu kalau cari video review di Youtube, agak jarang juga. Selain karena kamera ini lahir saat transisi manajemen Olympus jadi OM System, ya ngapain juga brand bagi-bagi ke influencer jika pada akhirnya kamera ini hanya bisa dibeli di negara tertentu.
Tahun lalu sempat lihat ada di grup sini, buset 15.5 juta, laku pula. Sempat terpikir untuk beli via jastip, ya walau bakal kena banyak biaya tapi aku memang ingin. Sial, jastip-jastip yang seolah terpercaya malah terlalu bodoh untuk sekadar memastikan apakah di kamera ini ada menu bahasa Inggris. Soalnya pada beberapa Lumix dan Sony versi JDM, hanya ada bahasa Jepang dan mesti dihack kalau mau ada menu bahasa lain.
Syukurlah di tahun ini saya dipertemukan dengan kawan baru bernama Daniel. Dia cukup kaya untuk mondar-mandir plesiran luar negeri, lalu juga cakap soal kamera. Makanya ketika bulan lalu dia ke Jepang, saya titip. Di Jepangnya pun kamera ini sudah agak langka, kisah dari Daniel bahwa beberapa toko yang dia kunjungi memang kadang ada stok, tapi cepat habis lagi. Di negara asalnya Olympus laku keras loh.


Akhirnya dapat deal terbaik, unit baru. Harga aslinya sembilan juta sekian… lalu ada tax refund dan biaya ini itu, ya masih baik lah harganya untuk saya. Tentunya tidak sampai 15 juta macam di grup atau di jastip. Saat melihat foto-foto kameranya, aku gembira bukan main. Namun saat unboxing, kok agak…
Desain dan build quality
Jadi begini… seandainya kamu tak pernah pegang E-M5 II atau Pen F, maka sama sekali tak ada masalah. Sayangnya kamera utama saya adalah E-M5 II, kamera ini solid banget kayak batu bata. Walau kecil tapi berat, hampeg. Pun begitu dengan Pen F, sempat punya juga saya.
Dari segi desain sih jujur cakep. Mirip Pen F analog. Tapi dari segi feel di tangan, agak gimana ya… walau grip cukup, thumb rest juga oke, bukan yang model karet bakal getas di kemudian hari, tapi perasaan menggenggamnya sangat… hampa. Saya yakin ini adalah E-M10 IV minus EVF.

Karena selama ini aku cuma bisa lihat foto dan videonya, aku tak punya pikiran apa-apa. Namanya Olympus apalagi seri Pen (Pen doang ya, bukan Pen Lite), sudah pasti solid dan kokoh. Namun saat pertama kali kameranya kupegang… rasanya agak beda.
Serius, aku tak merasa kamera ini akan penyok atau patah, enggak segitunya sih. Tapi kamera ini begitu ringan… terlalu ringan malah. Ini bukan perasaaan saya, melainkan setelah cek sana-sini, kamera ini malah signifikan lebih ringan dibanding E-PL10 yang notabene seri lite. Kalau dibandingkan E-M5 II saya, makin jauh lagi. Bobot pasti cuma 60%. Usut punya usut, sejak E-M5 III ternyata Olympus mengganti gagasan full metal pada kamera flagship jadi plastik. Nah baru ketika ada OM-3 dia waras lagi, kembali besi.
Ini bukan minus, hanya perasaan berbeda saja. Ada untungnya sih, kamera ini jadi sangat ringan. Selain memang ukurannya yang jauh lebih kecil dari perkiraan. Saat ini saya tak punya E-PL untuk perbandingan, tapi saya yakin E-P7 lebih ringkas. Kayak kamera apa ya… ah… kayak Fuji X-M5. Ukuran dan feelnya sama persis. Hanya saja Fuji bakal lebih mudah dijual kalau saya gak punya duit, haha…



Tidak ada EVF pada kamera ini, dan saya tak peduli. Resolusi layarnya biasa saja, ditekuk ke bawah kalau mau selfie. Menunya sudah yang terbaru, sedikit agak tidak membingungkan dibanding sistem menu lama.
Penempatan tombolnya sangat bagus, semua di kanan. Kamera ini bisa digunakan dengan satu tangan saja, sangat street banget.
Ada cetrekan “color mode” kayak Pen F, tapi tidak persis amat. Kalau di Pen F, bisa diputar sampai empat titik kalau tak salah, di E-P7 cuma sekali. Pindah dari mode biasa ke mode warna spesial dia. Terus terang saya hanya akan mencoba sekali saja karena ini kamera baru, selebihnya saya pasti lupa fitur itu ada. Walau seolah hanya cetrek sekali, tapi tidak sesimpel dial Film Simulasi pada kamera Fujifilm. Ada sekitar delapan preset, bisa diatur highlight shadow dan semacamnya, entahlah bisa disimpan atau mesti atur ulang setiap ganti, karena jujur tidak akan saya pakai.


Beberapa preset mononkromnya lumayan bagus sih. Oh iya warna spesial itu hanya untuk JPEG ya. File RAW akan tetap normal. Juga tak bisa RAW saja kalau mau pakai fitur itu, minimal RAW + JPEG.
Performa, feel motret, hasil.
Dalam paket penjualan disertakan lensa kit 14-42 EZ. Itu lensa yang bagus, hanya tak akan pernah saya pakai. Btw tutup lensa dan tutup bodinya sudah logo OM System, padahal branding kamera ini masih Olympus.
Ini adalah kamera yang sama dengan E-M5 III secara sensor dan prosesor. Jika sama-sama baru, E-M5 III lebih mahal. Memang sudah seharusnya, E-M5 ‘kan ada EVF, anti cuaca dll.
Apa yang harus dibahas…? AF sudah pasti ngebut dan akurat. Masih contrast detect, tapi entahlah saya sudah terbiasa jadi baik-baik saja.

Baterainya BLS bukan BLN. Ini adalah baterai seri Pen Lite dan E-M10, agak kecil dan gepeng. Tapi karena baterai baru, ya tahan seharian. Parah juga, sekarang gak dikasih charger eksternal. Mesti colok bodi. Tapi kalau saya yang pakai, ya pasti punya baterai cadangan dan charger Kingma sih. Aduh bahkan tutup baterainya kayak E-M10, bukan selayaknya Pen yang feelnya mewah. Ibarat pintu mobil, beda lah suara nutup pintu Ford dengan Daihatsu.
Oh ada satu hal positif, setidaknya suara flange shutternya masih rasa flagship, bukan yang nyentak kayak seri murah. IBIS pasti 5 axis, aman. Tapi ya itu, karena kameranya terlalu ringan, malah jadi kagok untuk pegang shutter lambat. Walau resolusi videonya sudah 4K (mentok di 30 fps), tapi ini tidak benar-benar untuk videografer. Sekadar untuk momen singkat okelah, untuk hal yang lebih serius agak susah. Tidak ada mic input, LOG dan lain-lain.
Sampai saat ini saya masih mencari opsi untuk mematikan layar tapi kameranya nyala. Di E-P5 sih ada. Di E-M5 II apalagi, tinggal switch EVF. Rasanya kagok saja berjalan hunting, layarnya selalu nyala, agak mubazir. Tentunya bisa diatur sleep, tapi jika ada momen mendadak, kameranya harus “bangun” dulu satu-dua detik.
Intinya sih dari segi performa… ya kayak E-M5 III. Atau untuk lebih general, ya kayak Olympus pada umumnya. Walau ada feel campuran seri flagship dan seri hemat, tapi kamera ini bisa diandalkan kok. Saat di jalanan, saya cukup gembira pakainya. Gak cepat pegal kayak bawa E-M5 II.

Begitu juga hasil fotonya… ya kayak Olympus. Sial bagi saya, entah untuk alasan apa preview RAWnya tidak pernah bisa muncul di Finder MacOS padahal saya cek list kamera yang didukung, ada kok. Ini terus terang menjengkelkan karena proses milih foto jadi lama. Saya kira file RAF Fuji sudah paling biadab, ini lebih parah lagi. RAF walau lelet tapi ujungnya muncul, ini ORF E-P7 cuma ikon saja seterusnya.
Untuk file RAWnya mesti pakai Camera RAW minimal versi 13.8, pasti hampir semua orang sudah pakai. Tentu tulisan saya tidak pernah berdasarkan data atau chart ilmiah, tapi bagi mata awam saya, file Olympus selalu paling enak.

Simpulan
Ya walau saya bilang ini bagus atau jelek, kamu tak akan bisa beli kecuali pergi ke Jepang. Sejujurnya di era harga kamera gila-gilaan begini, apa yang ditawarkan kamera ini untuk harganya cukup oke sih.
Saat tulisan ini dibuat, mendadak OM System banting harga. Sekarang 13 juta sudah dapat OM-5 mark II baru dan ada warna beige pula. Kalau memang ingin kamera yang lebih bisa disiksa, ya tentu saya merekomendasikan OM-5 saja. Kamera ini diciptakan untuk user kasual yang ingin bobot ringan praktis, sambil sesekali bikin vlog.
Memang ada rasa ekslusif karena saya yakin 99.9% tak bakal ada orang lain samaan di jalanan pakai kamera ini. Masalahnya, brand Olympus sendiri tidak pernah membawa citra yang terlalu ekslusif sih. Jangan berpikir ini adalah penerus Pen F atau Pen F tanpa EVF. Ini adalah E-M10 IV tanpa EVF dan bentuknya diperkecil.

Kamera Olympus yang agak mirip dengan E-P7 ya E-M10 IV tadi… tanpa ada EVF, harga E-P7 jadi lebih murah. Bergantung preferensi saja sih. Saya tak begitu suka E-M10 karena desain SLR harusnya diimbangi material full metal. Material ringan begini cocoknya memang untuk kamera yang desainnya kotak modern. Walau sekali lagi… karena kamera Olympus 10 juta dan 5 juta hasilnya sama-sama aja, dan tidak ada yang butuh tambahan ekstra 4 megapixel dari 16 ke 20, jadi mendingan cari E-M5 II yang sehat dan mulus. Kembalian banyak. Kalau ingin kamera yang bentuknya tetap kotak, ya Pen F… di marketplace bekasnya sekitar sepuluh ke atas.
Ngomong-ngomong kamera kecil sekarang sudah jarang. E-PL mentok di 10, kalau beli baru ya harganya mirip E-P7, mending E-P7. Lalu juga ada gorengan Lumix GM1 dan GM5, lebih mahal lagi. Kamera ini pun jauh lebih murah dari Ricoh GR berapa pun yang ada di marketplace, jadi saya sih gembira-gembira saja.
E-P7 sekitar sembilan jutaan (di luar tiket pesawat dan hotel ke Jepang), di zaman sekarang itu adalah harga yang adil. Lagian kamera ini memang bukan untuk semua orang. Olympus sendiri yang memutuskan hal itu sedari awal. Saya menyimpulkan, memang ada alasan mengapa kamera ini tidak dijual secara luas.

