Kamera Nostalgia (Gagal)

Bulan lalu aku beli kamera ini lagi, semata karena teringat satu wanita…

Haha, kalian kegocek dengan foto di depan. Bukan Pen F kok. Bukan berarti saya tidak ingin punya atau nostalgia dengan kamera itu, tapi memang tidak terlalu ada kenangan. Dulu punya hanya dua pekan, waktu itu saya tukar guling dengan Pak Yogi. Dia saya kasih Leica 9mm F/1.7, dia kasih saya bodi Pen F. Di tahun 2022 transaksi itu terdengar masuk akal, sebab harga Pen F masih sekitar tujuh juta, pun populasi Leica 9mm bisa dihitung jari. Sekarang situasinya terbalik, Pen F bekasnya di atas sepuluh, sedangkan Leica 9mm kadang malah jadi bonus bundling Lumix G100.

Lagipula kawan hunting saya si Daniel sudah beli, jadi saya bisa pegang atau pakai kapan saja. Kamera yang mau saya bahas adalah Lumix GX9.

sebelah-sebelahan dengan OM-D

Memang seolah tidak punya nilai koleksi seperti Pen F, padahal kamera ini sama langkanya. Menurut saya, di luar desain, kamera ini unggul dari Pen F. Tapi ya… alangkah lebih baik jika desainnya bagus sih.

2023 aku sempat pakai kamera ini, juga dalam periode yang singkat. Namun kameranya kupakai saat bulan puasa, dan sebagaimana sebagian kamu tahu, kenangan di bulan puasa itu lebih… melekat.

Aku motret di kampus yang sudah sepi karena dekat lebaran, bersama Gina. Untuk beberapa saat, dia adalah model utamaku. Namun saat ini sudah tidak bisa lagi…

Ah sudahlah. Kamera ini harganya sekitar tujuh juta. Bisa lebih bisa kurang. Ini adalah seri GX terakhir Lumix sebelum kini hanya ada GH dan S yang ukurannya besar-besar. Soal spek atau review yang lebih serius, sudah banyak lah. Intinya kamera ini cukup layak dibeli, apalagi di harga segitu… ini jauh lebih oke daripada Fuji X-E3 dan semacamnya.

Kurang lebih saat menulis ini, kameranya sudah kupakai tiga kali hunting. Aku paksakan untuk pakai kamera ini, supaya E-M5 II istirahat. Jujur saya kalau bawa kamera ini, terlepas dari dua kejengkelan pakai Olympus yakni harus seting jam tiap ganti baterai, dan menunya yang rumit. Wah… menu Lumix adalah yang terbaik.

Kendati demikian… Entahlah, sekeras apapun aku berusaha, rasanya sulit sekali untuk bersejiwa dengan kamera ini.

Walau tidak terlalu fatal, tapi ada dua kekurangan kamera ini yang kadang bikin momentum serta mood saat motret agak terganggu.

Pertama, layarnya. Bukan soal resolusi atau refresh rate, karena jujur sangat bagus. Walau terpaksa 60hz saya turunkan jadi 30hz agar hemat baterai. Jadi layar kamera ini ketika flash dinyalakan atau bahkan sekadar ada flash eksternal nancap di hot shoe, maka “constant preview” langsung mati. Bukan cuma mati, malah tak bisa diakses sama sekali. Awalnya terdengar cerdas dan praktis, namun sayangnya saya pakai flash bukan hanya di malam hari (yang “constant review” sebaiknya memang mati). Ada kondisi motret siang dan aku ingin subjek membelakangi matahari agar cahayanya pecah membentuk bintang. Nah jika previewnya tidak akurat, susah menerka-nerka posisi matahari serta efek cahaya pecahnya.

Kedua, ini saya belum nemu solusinya. Awalnya aku mengira ini terjadi karena aku pakai lensa Olympus.

Shutter flange terasa sangat lambat. Hentakannya serasa kasar dan kayak 1/10″. Kalau sekadar kasar saja, Olympus E-PL7 pun cekreknya kasar banget, tapi ya ketika shutter speed cepat dan lambat terasa bedanya. Ini sih mau shutter berapa pun tetap lambat dan kasar. Apakah fotonya jadi blur? tidak juga. Tapi cukup bikin khawatir.

Hingga akhirnya aku beli lensa Leica 15mm dengan harapan jika pakai lensa Lumix masalahnya akan hilang, ternyata sama saja. Jadinya motret siang agak kurang menyenangkan. Lain cerita kalau malam, toh memang saya bakal pakai 1/15″ atau lebih lambat.

Kalau diingat kembali, ini tidak hanya terjadi untuk unit yang sekarang. Unit 2023 yang dulu kupakai juga begitu. Entah juga sih, mungkin saya terlalu lama pakai E-M5 II yang hentakan flange shutternya sangat renyah dan elegan.

Jujur, aku ingin sekali kamera ini yang jadi daily driver. Sebab dia sudah lecet-lecet, jadinya saya bisa pakai tanpa segan. Dan yang utama, hasil fotonya lebih bagus daripada E-M5 II. Ada sih solusi instan yakni pakai electronic shutter, tapi tidak akan pernah kucoba lantaran jadi gak bisa pakai flash.

Saya tidak akan menyarankan atau melarang beli GX9 toh barangnya sudah jarang sekali. Oh iya, di sela kegabutan saya beli GX7 mark II alias GX85. Saya cobain ternyata feel shutternya mirip sekali, sepertinya perasaan “lambat” itu memang secara umum ada di kamera Lumix. Heran, kok tak banyak yang bahas, ataukah saya yang terlalu peka, atau hanya saya orang yang pakai Lumix dan Olympus bersamaan. Hahaha.

yang mana coba?

Sepertinya sih jika penggunanya bukan saya, kamera ini baik-baik saja. Kendati demikian, ini adalah kamera yang sangat bagus kok. Value per money menang banyak. AF sangat cepat, video juga istimewa. EVF pun bisa diputar ke atas haha. Cuma bentuknya saja jelek dan agak susah dijual. Karena susah dijual, ya terpaksa tetap saya pakai haha. Kendati sedikit menjengkelkan, tapi tiap ngolah fotonya sangat puas… (walau entah mengapa selalu under exposure pas di laptop).

Begitulah.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram