Jaring Ikan

Cerita ini bermula sekitar tiga tahun lalu…

Aku rutin hunting di jalanan bersama seorang kawan bernama Carl. Kami tidak terlalu street sebetulnya, apalagi aku… kamera nyaris hanya berfungsi jika subjeknya cantik. Boleh snap cewek yang lewat, juga boleh ajak portrait barang lima menit jika memungkinkan.

Jika sang “model jalanan” cukup bersahabat, biasanya Carl akan minta kontaknya untuk semoga dia kooperatif bakal diajak portrait betulan di kemudian hari. Ya dibilang portrait betulan pun juga tidak terlalu, kami selalu pakai studio tanpa tembok alias di jalanan. Jujur aku tidak bisa membayangkan jika harus berada di satu ruangan berjam-jam, tidak peduli itu bersama model. Jauh lebih masuk akal dan nyaman bagiku untuk jalan santai sembari sesekali jepret.

Pertama sekali duetku dan Carl berhasil ajak stranger untuk lanjut portrait di lain hari, ya lancar-lancar saja, walau ada rasa kurang greget. Kami terlalu lugu, tidak koordinasi mengenai busana sang model.

“Apa lain kali kita modali baju dan rok, Kang?” tanya Carl, saat kami ngopi.

“Jangan ah, mahal cuma sekali pakai.” jawabku.

“Iya sih…”

“Daripada itu, ada satu benda yang murah, tapi bakal signifikan membantu…” ujarku.

“Apa itu…?” tanya dia.

Sejak saat itu jika ada model yang bersepakat untuk portrait, Carl akan lebih dulu mengirimkan sejumlah uang agar si cewek beli sendiri di Shopee.

Benda itu adalah stocking jaring-jaring. Jujur hingga hari ini aku masih mengagumi foto fishnet Daido Moriyama, tapi rasanya aku tak bakal coba meniru foto itu, setidaknya saat ini. Padahal dulu aku punya banyak kesempatan untuk membuat foto begitu, tapi selalu kelupaan haha.

Pada akhirnya, hampir setiap portrait model kami ya selalu pakai stocking jaring. Manfaatnya ada dua sih, jika sudah sepakai pakai lantas dibelikan, ya pasti dipakai, dan sudah pasti nyambungnya dengan rok. Si model tidak mungkin punya ide pakai jeans gombrang atau celana sontog, yang mana jauh dari elegan dan tidak sesuai visi kami.

Manfaat lainnya, ah sebetulnya aku segan menjelaskannya. Tapi entah mengapa, orang Indonesia itu lututnya hitam. Kalau keseluruhan badannya hitam juga, itu aku wajar. Yang terjadi, orangnya putih kok, putih banget malah… namun tetap saja lututnya hitam. Jujur aku kurang paham, kalau saya lihat cewek Thailand atau Philipina, warna kulitnya lebih kurang sama dengan di kita, tapi lututnya putih.

Selaku aku bukan fotografer studio, sudah pasti pula aku tidak bakal melakukan yang namanya “retouch”. Segitu ya segitu saja, aku membayangkan lelahnya menggosok lutut di Photoshop biar gak hitam (dulu AI belum kayak sekarang). Dengan adanya stocking motif jaring-jaring, hal-hal itu jadi agak samar. Lagian bagus dong, jadi gak terlalu terbuka dan memperlihatkan kulit. Ada juga sih cara motret full body dengan menyembunyikan lutut hitam yakni pose jongkok, tapi itu sangat cupu.

tapi ini si Ellen, dia gak butuh stocking sebetulnya…

Walau kadang pun sudah pakai rok dan stocking, aku malah lupa untuk foto seluruh badan atau ada kakinya, seringnya sih ujung kepala sampai dada saja haha. Pernah juga kami motret cewek bernama Ellen, nah dia mubazir dikasih stocking karena lututnya gak hitam. Wah bahagia banget deh… padahal dia bukan ras tertentu lho. Kemudian yang namanya Aulia, wah… pokoknya dalam kaitannya dengan fotografi serta malasnya kami edit-edit, sangat bersyukur ketika dapat model yang lututnya putih.

Aulia… spesies langka.

Beli stocking dulu juga gak apa-apa sih, cuma 25 ribu. Tapi harus dalam pengawasan, sebab pernah satu kali modelnya salah beli. Dia beli yang hitam pekat. Alih-alih jadi seksi misterius, jadinya kayak mau menyelam. Kalau yang hitamnya agak transparan sih oke… aku jadi teringat… 2015, aku berkenalan dengan seorang cewek bernama Ajeng. Dia SPG brand hp baru, dress code mereka pakai stocking hitam jaring… pokoknya menggemaskan. Terpaksa pula saya beli hp Vivo demi bisa dekat, tapi Vivo di masa itu masih keren, kayak OnePlus lah seolah untuk yang paham-paham aja. Akhirnya ya jadi… walau berakhir menyebalkan hahaha.

Menjala di Empang

Belakangan populasi stranger cantik di jalanan makin habis. Ini ada kaitannya dengan dihilangkannya Braga Beken alias car free day. Jika ada Beken, maka akses masuk ke Braga hanya dua… tidak peduli orangnya naik Ducati atau Koenigsegg, ya dia harus turun lanjut jalan kaki untuk menuju tempat mana pun yang dia mau di Braga. Jadi niscaya akan selalu papasan kami, bisa ajak foto.

Nah saat tak ada Beken, ya pada turun ojol langsung depan pintu cafe, tanpa sempat dulu terciduk kami.

Oleh sebab itu, nyaris setahun ini metode hunting kami ubah. Ditambah anggota baru bernama Daniel, kami canangkan hunting itu dimulai portrait dulu sampai petang, nanti modelnya pulang, baru lanjut cari stranger. Sebab, jauh lebih kondusif motret pakai slow shutter flash saat Braga sudah gelap… segala kekumuhan akibat ditiadakannya car free day, bisa disamarkan. Kami tidak mau menyamarkan latar belakang pakai bokeh, karena itu terlalu noob.

Di mana harus mencari model? di Thread! tinggal masukkan kata kunci “model Bandung” atau “muse Bandung”, nanti juga bermunculan. Ah, jujur saya sebel dengar istilah “muse” apalagi dijadikan username oleh orangnya. Kayak self proclaim aja, mana ada pula yang memberi predikat “muse pemula” pada dirinya sendiri. Gimana sih, kalau pemula ya bukan muse dong. Ah.

“Cha, tebar jaring…” aku kerap beri aba-aba pada Daniel. Dia saya panggil Echa, biar gemas, nama dia ‘kan Daniel Reza.

Lantas dia akan bikin semacam sayembara di Thread. Mencari model lokasi Bandung bla bla bla. Tak pernah lupa harus ditulis ada “fee”. Bukannya gimana-gimana, kami harus menjaga gengsi, paling anti nyuruh orang ke sana ke mari tapi gak bayar. Kalau seperti itu, apa bedanya dengan kelompok wibu cabul.

Ah, yang punya ide cari model di Thread bukan cuma kami, kelompok wibu cabul “Otsukare” juga melakukannya. Dengan bokeh dan “tone Jepang” sebagai andalan, plus seorang bidak catur yang jadi tumbal untuk sok imut cari cewek, bahkan pernah ada seorang cewek turis lagi nanya di Thread perihal kedai batagor yang enak di Bandung, dia sambar komen ajak foto-foto. Sungguh celamitan, tak heran akun dia sebulan sekali kena suspen sehingga harus bikin baru. Juga ada si wibu berwajah seram yang pergerakannya senyap, tapi sering maling model saya… kasihan sering disuruh foto berjam-jam tanpa dibayar atau makan minum, malahan si model yang kadang harus mentraktir dia.

Jika aku berkenalan dengan cewek Bandung untuk kemudian ingin sesi foto, maka ada dua kemungkinan : pernah difoto oleh si seram, atau nanti setelah saya bakal dicari itu cewek oleh si seram. Padahal saya sudah main bersih dengan tidak tag, mention atau follow… tetap saja kena. Aku juga kadang heran, saat misalnya sudah janjian dengan cewek random yang track record bersih dari gerogotan kelompok wibu, lantas tiba hari H motret, saat ngobrol ngopi dia bakal cerita sehari sebelumnya diajak atau malah sudah foto dengan si seram. Sungguh mengherankan, bisa beneran satu matchday lebih awal kena begal dulu. Apa memang sehabis itu cewek di Bandung, sampai kena lagi kena lagi.

Pokoknya kalau sudah kena foto si seram, ah kayak rusak aja auranya… dikit-dikit pose jurus matahari kayak Ten Shin di Dragon Ball. Sungguh… aku hanya ingin portrait dengan tenang dengan sosok yang masih bersih dan lugu.

Iren gothic malah dapatnya secara offline, semoga dia selalu terjaga dari sindikat wibu cabul…

Demikian, setiap Echa bikin sayembara, sudah pasti banyak pelamar masuk. Sayangnya, kebanyakan belum memenuhi harapan kami. Entah karena tidak ditulis fee berapa, atau foto yang dipajang Echa terlalu eksperimental sehingga model yang terlalu cantik jadi takut. Tapi aku punya prasangka sih, walau kami tulis honor portraitnya lima juta, tetap bakal dia lagi dia lagi yang muncul. Pernah sekali yang komen, mirip Erling Haaland. Saya sampai menyemburkan kopi yang lagi disruput sembari scroll-scroll hasil sayembara.

Dibilang sia-sia sih enggak juga, walau kebanyakan model yang dipilih bukan dari pelamar sayembara, melainkan ya menggali sampai dalam sekali. Kalau ngikut keyword pencarian, kadang… waduh. Kerap ada satu cewek yang spam komen ti berbagai sayembara cari model. Saat ada yang cari talent Chindo, dia komen. Dibutuhkan cewek blasteran, nongol juga. Barangkali nanti jika ada yang cari model African-American, dia pun bakal mengajukan diri. Ah… cari model di Thread ini seperti menebar jaring ke sungai. Entahlah apa yang nyangkut… mungkin sapu-sapu, yang jelas agak jarang kalau kakap, karena tidak ada kakap di sungai.

Echa kerap memperlihatkan padaku sih, berapa ratus cewek yang dia kirimi pesan. Aku memercayakan penuh padanya sebab dia cukup sopan dan ada aura old money. Nama dia juga keren, Daniel. Namun ya dari seratus paling yang balas cuma lima, itu pun jarang sekali semuanya lanjut ke tahap berikutnya. Untuk hal ini aku sangat memaklumi, karena memang situasinya begitu… huft…

Menangkap Cahaya

Pokoknya kami sangat membutuhkan model. Selalu kami bayar dengan layak, pun diberi makan, minum, kopi, rokok bahkan. Kami tidak mau “collab” karena kalau collab maka fotonya harus juga didasarkan gagasan sang model. Waduh, selaku kami anti bokeh atau warna ngejreng, niscaya foto kami tidak akan memuaskan sang model, bahkan mungkin dia tidak mengerti apa maksudnya. Dan memang kepuasan model sudah tidak penting lagi… kewajiban kami adalah bayar sesuai perjanjian, bukan membuat foto yang dia suka. Walau tentu jika diminta, fotonya bakal kami kasih kok, bahkan cukup meluangkan waktu olah foto versi warna, sebab aslinya foto saya dan Daniel itu monokrom.

Gak perlu tag atau mention. Gerombolan wibu cabul masih berkeliaran, bahkan para petingginya sudah terindikasi menyalurkan cewek-cewek wibu broken home ke dunia hitam, yang mana diawali dari sesi foto seksi di studio yang dipenuhi kamera tersembunyi dalam ruang gantinya. Saya sudah capek menasihati cewek yang kami foto, karena pernah ada yang goblok sekali. Dari tidak tahu apa-apa, kami kasih arahan untuk hindari fotografer tertentu, malah sengaja dia cari. Malas deh.

Sekarang kami gak mau ambil pusing. Toh diperlakukan dengan baik serta diberi wejangan pun, setelah satu atau dua sesi modelnya bakal “jurus Maura“, jadi ya secukupnya saja profesional.

Terlebih kami punya idola yakni Mas Tatsuo, portraitnya makin mantap saja. Memang harus begitu, carilah guru yang fotonya susah ditiru, biar kamu makin terpicu. Jangan mengidolakan seseorang yang fotonya bisa dijiplak dalam sehari, wah kacau… nantinya gampang puas.

Tiba-tiba aku teringat seorang pemuda sini. Itu orang sebulan sekali pasti post di Thread tangkapan layar profil Instagram dia dengan caption “padahal baru belajar foto enam bulan”. Seolah ingin validasi dan menunggu ada yang komen : “gila bro baru enam bulan udah bagus gini… bakat alami… Lamine Yamal…” , mana itu orang di sering dengan bangganya portrait pakai bokeh palsu serta watermark ZEISS atau HASSELBLAD ala hp China, sembari bangganya bilang hasil hp sudah menggantikan mirrorless. Satu-satunya yang akurat dari pernyataannya baru belajar motret enam bulan ya kebodohannya itu. Mana blagu pula, jadinya dia sering jadi bulan-bulanan di grup foto maupun teknologi.

Padahal ya standar aja, portrait bokeh dengan warna ngejreng jauh dari natural. Itulah akibat dari salah memilih idola. Saya kenal cewek dari orang itu, sebut saja siluman susu… ternyata dia suka bongkar rahasia serta menyalurkan model saya pada kelompok wibu cabul. Segera saya putuskan segala kontak. Juga saya suruh Echa lakukan serupa, dia nurut dan paham. Entahlah kalau Carl…

Cari model itu susah. Harus menggali dalam sekali, menebar jala hingga tengah lautan. Sudah dapat eh malah mati duluan sisa separuh karena digerogoti parasit, dan ketika berhasil malah ada yang mengumpan balik ke siluman gurita. Walau sudah mengurangi tingkat perlindungan pada model, bukan berarti kami rela mereka jadi santapan wibu cabul serta diajak foto telanjang…

Menjaring Kamera

Sejak artikel terakhir, aku beli beberapa kamera, tapi juga menjual beberapa. Kawan jauh saya Niko Siregar menitipkan beberapa unit Fuji, saya jual ke tengkulak biar cepat. Sebagian hasil penjualannya saya kutip, supaya dia bisa mengakuisisi Nikon Coolpix A saya. Aku memang ingin kamera itu dilanjut rawat oleh orang yang pantas.

Saya juga dapat deal yang bagus sekali. E-M5 II dan lensa 12-40mm like new cuma sembilan juta. COD Bandung pula. Kondisi normal jika dipecah, masing-masing sekitar 6.5 juta. Karena saya sudah punya bodi E-M5 II bahkan sampai tiga biji, saya oper ke Daniel. Sekarang dia resmi jadi member MFT, bahkan hanya dalam dua pekan dia sudah beli tiga lensa termasuk Samyang fisheye… baru debut dia, dan tersadar bahwa untuk memotret bahagia gak perlu mahal haha.

Aku juga sekarang kembali pakai 17mm F/1.8. Sekali doang itu 12-40mm dipakai, bagus sih tapi beratnya gak kira-kira.

Namun yang terbaru, sehari sebelum tulisan ini dibuat aku bereuni dengan Lumix GX9… beli warna silver biasa. Ah… teringat Gina deh. Olympus akan aku istirahatkan, bakal pakai GX9 untuk beberapa saat. Bahkan sudah saya pakai sepanjang akhir pekan kemarin… rasanya sedikit lebih baik daripada E-M5 II…

Pundi-pundi keuangan sedang sehat, tiap hari aku menjala marketplace berharap nemu barang langka dan murah. Apalagi harga kamera baru semakin tak masuk akal… toh aku sih tak masalah pakai kamera lawas.

Jangan lupa memotret…!

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram