Kalau ditanya “apa sih serunya motret orang asing dari jarak terlalu dekat” ya saya akan bertanya balik, apa serunya motret orang asing dari jarak sepuluh meter haha.
Bagaiamana pun, di awal-awal saat kita baru coba turun ke jalan, saya yakin semuanya pasti masih suka memotret segala hal dan pendekatannya umum-umum saja. Seiring waktu, akan mulai meruncing deh… kesukaannya menjurus ke gaya foto yang seperti apa. Ibarat di sepakbola, ada pemain legendaris yang bernama Arjen Robben. Itu orang jurusnya cuma satu, pemain kidal ini selalu giring dari sisi kanan penyerangan, lalu tekuk bola ke sisi dalam, lantas tembak pakai kaki kiri dengan keras dan bola pun melengkung ke pojok gawang lawan. Sudah bisa diprediksi tapi tetap saja susah dihentikan. Saya lebih suka yang seperti itu, mempertajam satu teknik yang dia kuasai, daripada punya banyak jurus tapi semuanya biasa saja tidak istimewa, semacam Kai Havertz hahah.

Pada akhirnya saya merasa, kalau tidak memotret dengan cara ini, ya tidak puas, kayak belum motret. Kegemaran ini diawali gara-gara dahulu saya mengenal kamera yang namanya Ricoh GR, dan juga kenikmatan saat melihat foto-foto dengan gaya ini, biasanya Bruce Gilden dan Tatsuo Suzuki. Ada rasa kagum tersendiri, saat berhasil mengabadikan ekspresi dari jarak begitu dekat, namun juga di belakang subjek masih terbentang luas latar belakang manusia yang hilir mudik dan seolah bikin frame tuh jadi banyak isinya.
Bahkan sampai saya jadikan slogan tuh, “One Meter from the Stranger”, dicetak pada strap kulit produksi sendiri yang lumayan laku keras juga saat itu. Saya berharapnya orang yang pakai strap itu, akan selalu baca tulisannya saat lagi hunting, maka ia akan coba untuk push maksimal mendekat pada subjek.

Baiklah, walau terlihat mudah, tapi sebetulnya tidak sederhana juga sih. Maka akan saya jelaskan dalam dua aspek, yakni gear dan pendekatan.
1. Gear
Ini cukup berpengaruh walau bukan yang paling utama. Kamera sih bebas merek apa saja, tidak harus Ricoh GR, malah saya pun saat ini tidak punya GR kok. Tapi saya menyarankan pakai kamera yang kecil saja dan warnanya hitam, jangan pakai-pakai kamera warna silver atau bahkan pakai silikon karet warna kuning yang mencolok itu. Duh. Kamu tahu fungsi sebenarnya silikon karet warna-warni itu? itu untuk fotografer wedding yang bekerja dalam tim, untuk mengarahkan tamu yang berpose di pelaminan untuk melihat ke arah kamera warna tertentu, karena pasti ada banyak kamera dan ada juga orang yang pegang kamera video. Pakai silikon warna aneh-aneh di jalan, cuma bikin kamu mencolok dan subjek akan segera buang muka ketika sadar.
Saya mengharuskan, lensa itu 28mm atau 35mm saja. Di atas itu, terlalu dekat. Memang tujuannya motret subjek sedekat mungkin, tapi jangan juga dengan FL jauh karena nanti background jadi terkompres dan malah bokeh semua. Dengan lensa 28mm, jarak satu meter dengan subjek yang lagi jalan ke arah kita tuh kurang lebih bisa dapat frame dari ujung kepala sampai pinggang, namun sebaiknya ambil setara tinggi dada saja, supaya di atas kepala subjek masih ada ruang negatif.

Enaknya pakai Ricoh GR tuh ada “snap focus”, semacam pengaturan jarak default fokus, jadinya cepat. Tapi itu hanya fitur khusus karena pada dasarnya, semua kamera yang bisa manual fokus bisa kok diatur seperti itu. Tapi kalau pakai GR atau X70 atau Coolpix A, kameranya leaf shutter, jadinya sangat sunyi tidak ada suara hentakan jepret yang keras. Kamera leaf shutter juga artinya flash bisa menyala pada speed berapa pun. Memotret di jalanan apalagi subjeknya lari ke sana ke mari, kita butuh shutter speed cepat, dan betapa asyiknya kalau speed 1/500″ tetap bisa pakai flash, ketika kebanyak kamera dengan flange shutter mentok di 1/160-250″ (kecuali pakai flash eksternal, yang mana kontra produktif karena bikin kamera jadi besar, otomatis menggugurkan niat awal untuk memotret dengan lincah serta tak terdeteksi oleh subjek).

2. Pendekatan
Yang utama adalah, itu set dulu fokus kamera jadi manual, set jaraknya jadi satu meter. Ini sangat penting karena jika diibaratkan memancing, pakai AF tuh kita yang ngejar-ngejar ikan, tapi kalau zone fokus, itu ikannya yang langsung nyangkut ke jala yang sudah dipasang.
Agak panjang penjelasannya, dan sudah ada artikel khususnya di sini.
Terlepas dari perumpamaan “jala” tadi, memotret dengan gaya ini, sangat tidak cocok kalau kita hanya diam saja. Akan lebih baik kalau terus berjalan, sambil terus memantau apa yang ada di depan. Saat jaraknya sudah hampir masuk, angkat kamera lalu snap deh.
Maka, ada beberapa hal yang sebaiknya diusahakan untuk terjadi. Terpenting, cari yang namanya keramaian bahkan kerumunan manusia. Ini bikin subjek “terjebak” untuk tidak belok-belok ketika kita sedang membidik, dan juga bikin background jadi kaya oleh para figuran. Saya pernah menonton video Tatsuo hunting di Shibuya, karena situasinya sudah padat sesak, dia tidak perlu lagi susah payah, subjek nyamperin sendiri ke dalam frame. Tapi ketika dia hunting di Jerman, jalanannya lengang, dia mesti agak berusaha agar bisa sedekat mungkin. Tentu kalau jalannya kosong, dari kejauhan pun subjek sudah ngeh kalau ada orang bawa kamera, dan ketika sudah agak dekat, dia pasti ambil jarak untuk menghindar. Lain cerita kalau jalanannya padat.
Demikian, itulah salah satu manfaat pakai kamera yang kecil saja dan kalau bisa, muat masuk saku jaket. Jadi itu kamera, pegang saja dalam saku… dan ketika sudah agak dekat, barulah keluarkan. Memang agak bikin kaget, tapi saya rasa masih dalam batas aman. Yang tidak boleh dilakukan tuh memanggil subjek lantas saat menoleh, jepret. Itu sudah membuka kontak lebih lanjut, dan dia semakin punya hak untuk komplain.

Ini tentu tidak akan mendatangkan risiko apapun, malahan bisa jadi bakal pada portrait dan malah kenalan. Namun sayang, nilai spontanitasnya jadi agak hilang, jatuhnya sudah street portrait karena sudah ada kontak dan mereka berpose.

tapi tidak ada satu subjek yang lebih menonjol… oleh sebab itu, sangat penting untuk fokus pada satu subjek, sedangkan figuran lainnya menyesuaikan.
Kalau terus mencoba, nanti akan muncul sendiri naluri untuk mencari titik tengah “COD” dengan subjek, entah di sudut yang cahaya mataharinya bagus, atau persimpangan jalan yang menjadi titik temu hilir-mudik dari berbagai arah. Kecepatan berjalan juga akan makin selaras dengan dinamisnya lautan manusia. Terpenting, feeling menekan tombol shutter pun akan semakin pas timing-nya, ketika subjek menoleh ke satu arah, sedangkan pada figuran ke arah lainnya, wah…

Pakai flash juga boleh saja, kalau berani. Tapi saya yakin semua yang baca ini, dengan tidak pakai tele di jalanan pun sudah cukup pemberani. Anu… subjeknya tidak harus cewek ya, terserah kamu saja. Ini sih kebetulan saya suka dengan yang namanya wanita.

Kurang lebih seperti itulah. Tujuannya ya untuk mencari kepuasan. Kadang kala akan ada kaum julid yang mempermasalahkan, kok berkesan kurang sopan ya memotret dari jarak sedekat itu. Nah… itu mereka yang logikanya terbalik. Yang tidak sopan itu yang pakai tele, motret curi-curi dari jarak sepuluh meter… kasihan orangnya lagi nguap atau ngupil, difoto, lalu tayang di sosmed. Kalau cara seperti ini, orangnya pasti tahu kok, jelas-jelas kamu ada semeter di depan dia. Seandainya dia tidak berkenan, pasti bakal komplain langsung. Urusan selesai di lokasi. Daripada nanti heboh-heboh belakangan dia cek ada fotonya di sosmed, adegan lagi ngupil, ‘kan lebih tidak elegan.
Mau terlihat sebagai pemberani atau pengecut? mau memotret yang ada tingkat kesulitannya, atau yang asal jadi aja? pilihan ada di tanganmu.

