Bergerak dalam senyap untuk merebut kebahagiaan.
Sekitar dua tahun belakangan, motret di Braga jadi lumayan menyenangkan sejak diluncurkannya “Braga Beken”… alias bebas kendaraan. Lokasi yang tadinya semrawut, lumayan agak mendingan lah. Setidaknya dengan dipasangnya penutup jalan plus satpol PP yang mendadak rajin, selain jelas kendaraan tidak bisa lewat apalagi parkir, segala macam pedangang, pengamen, hingga pemulung tak bisa melenggang bebas.
Ya walau kadang masih ada orang-orang tak berpening yang entah darimana kok bisa dikasih lewat bawa motor, namun intensitasnya kadang-kadang saja. Momen “Beken” selalu dinantikan, setidaknya dua hari dalam satu pekan kita bisa berjalan dengan nyaman, menonton pertunjukan musik dari banyak panggung… well sebetulnya yang bagus cuma tiga, yakni musisi trotoar depan Grey, paman “She’s Gone” yang suaranya bukan main, serta paman biola… tapi okelah.

Semua bahagia. Turis senang, setidaknya destinasi wisata yang memang hanya itu-itu saja jadi terlihat rapi dan elegan. Kendati kanan-kiri agak dukdek karena ada studio foto jalanan yang jumlahnya makin tak terkendali, namun lantaran kita tak harus berebut jalan dengan mobil, jadinya ya enak aja. Terutama bagi saya yang doyan foto kerumunan manusia, ya oke.

Tebak apa yang dilakukan pemangku kebijakan saat melihat warganya bahagia? yups, hilangkan! Terhitung saat tulisan ini tayang, sudah dua bulan Beken hilang, dan minimal masih akan hilang selama dua bulan ke depan. Berikutnya sudah bisa ditebak, Braga kembali ke era kegelapan… kumuh lagi. Pengamen, pemulunng, segala macam bebas merongrong…
Trotoar tak pernah lagi cukup, pejalan kaki harus turun berebut jalur dengan mobil motor. Karena eksekusi tolol, akses jalan kembali dinormalkan, namun segala wahana pertunjukan yang ada di trotoar tetap dibiarkan ada layaknya saat bebas kendaraan. Dalihnya membuka jalan adalah untuk mengurangi kemacetan, dan itu adalah argumen tergoblok yang pernah saya dengar. Lantaran sejatinya saat Braga ditutup untuk kendaraan pun, yang pakai mobil motor tetap bisa lanjut Naripan tanpa kena macet apa-apa. Justru malah absurd ketika mobil motor disarankan belok lewat Braga yang sudah penuh lautan manusia. Ada jalan lain yang lancar kok malah disuruh lewat yang macet.

Saya dengan lantang menuduh bahwa ada pihak-pihak yang tidak senang dengan terselenggaranya akhir pekan bebas kendaraan. Pihak-pihak yang merasa punya kekuasaan di atas kebahagiaan orang banyak.
Sudahlah… capek juga bahasnya. Berharap apa sih dari pengelola kota yang setiap hari berharap warganya mati kecelakaan karena jalanan gelap dan berlubang… pemerintah yang dengan teganya mencabut jembatan penyeberangan agar warganya uji nyali menyeberang di jalur dengan kendaraan membabi buta. Pemerintah yang kalah dari ormas.

Berikutnya adalah… ya seperti biasa, pencuri model.
Saya tidak mendukung perbudakan, dan tentu saja model adalah manusia mereka. Tapi saya sangat menentang kelakuan biadab tak kreatif oknum fotografer sini.
Baiklah, akan kuceritakan situasi di kota ini. Secara sensus penduduk, jumlah pria lebih banyak daripada wanita. Nah tentunya dari populasi wanita yang cuma segitu tuh akan disaring lagi berdasarkan usia, ketersediaan, minat dll hingga hanya tersisa 0,00001% saja yang cukup mumpuni untuk diajak portrait. Kalau tak percaya coba saja bikin sayembara di Thread perihal pencarian model. Lantas lihat hasilnya, dari sekian puluh yang komentar, ada berapa yang masuk kriteria foto. Tentu ini pun bukan sampel random, karena betina yang menarik tidak akan melamar melainkan dilamar.
Atau jika mau sampel lapangan, coba kamu ke Braga saat Sabtu malam. Hitung ada berapa cewek cantik yang tersedia dan mau jadi model. Saya berani bertaruh, kamu akan lebih banyak menemukan orang yang pakai baju pit crew tim F1 Mercedes AMG Petronas daripada cewek cantik.
Oleh sebab itu ketika saya dan teman-teman berhasil menemukan subjek portrait, ya memang itu hidden gem.

Disebabkan langkanya populasi wanita cantik di kota ini, belum lagi kerepotan mencari yang sudah macam memilah jerami dalam tumpukan jarum, maka mengambil model orang lain memang jalan pintas. Walau jauh dari elegan namun kuakui itu efektif. Yang jadi masalah, para pencuri ini setelah berhasil menggaet model saya, suka langsung cuci otak agar jangan mau difoto orang lain lantas juga mengajak foto-foto vulgar.
Tak perlu panjang dibahas bahwa ada satu sindikat dengan ujung tombaknya si wibu topi biru yang suka pakai sendal gunung di atas kaos kaki. Sebetulnya dia tidak bergerak sendiri, banyak pion-pion dia yang bergerak membuka ruang, mencarikan dia model entah dari Thread atau postingan orang lain. Mereka itu punya tujuan akhir bisnis foto dengan aliran tertentu untuk dijual. Cek video Youtube Malvin NM kalau penasaran.
Pernah juga saya membuat sebuah grup isinya fotografer portrait, untuk saling bertukar informasi “hidden gems” namun dengan tujuan untuk bikin kelompok hunting. Tebak apa yang terjadi? semua nama yang saya share, disikat sendirian oleh salah satu member yang individualis. Maksud saya share itu supaya nanti motret bareng-bareng, model sekian orang yang motret sekian orang, nanti tuker-tukeran eksplorasi pose dan belajar bareng. Kok malah dimakan sendirian. Grup itu segera saya bubarkan. Karena oknum yang bersangkutan ternyata hanya ingin menerima, tapi tak mau berbagi.
Kemudian yang terbaru, ada orang yang sudah saya anggap kawan, sebut saja si wibu keling. Dia kadang saya ajak jika saya menghadapi situasi harus motret sendiri sedangkan modelnya lebih dari satu orang. Dengan senjata bokehnya, mudah bikin model awam terpesona. Selanjutnya dia suka ajak model saya hunting bersamanya. Sekali lagi, model adalah manusia merdeka dan berhak foto dengan siapa saja. Namun selaku dia kenal dari saya, kok betul-betul tidak etika… tak perlu izin, cukup minimal ngajak saya lah basa-basi. Tanpa saya kenalkan, toh dia tak bakal kenal. Kok malah jadi terus-menerus sama dia, dan tercium aroma kampanye hitam, karena seperti sudah bisa ditebak, modelnya mendadak lost contact dengan saya.
Ini sudah terjadi berkali-kali. Selain mencuri model saya, dia membuka akses untuk sindikat otsukare menikmati hidden gems saya. Kok begitu? kenapa sindikat otsukare tidak langsung curi dari postingan saya? well, saya ‘kan tidak pernah tag atau mention modelnya, bahkan kadang dengan sangat terpaksa tidak saya follow demi keamanan mereka, jadi akan susah dilacak siapa subjek dalam foto. Nah kalau si keling ini upload selain pasti ditag kadang post collab agar dapat engagement, juga selalu pajang foto satu model berkali-kali untuk periode tertentu. Seger dong bagi sindikat otsukare, serasa dapat pasokan. Raib deh model hidden gems saya berganti jadi model gravure untuk dijual di Trakteer.

Entahlah sebetulnya aku marah pada siapa, entah pada mereka yang seenaknya serobot model orang lantas mencuci otaknya untuk lupa pada siapa yang menemukan bakatnya, atau pada si model yang bertindak bagai kerang lupa cangkang…

Hal ini selalu berulang. Susah payah mencari hidden gems raw diamond di internet atau jalanan, lalu ajak foto dengan bayaran yang sangat layak untuk pemula. Kemudian bermodal foto serta wejangan dari saya dan teman-teman, dia mulai percaya diri lantas mulai berani menjajakan jasa jadi model. Lepas itu… tiap ajakan dari saya dan teman-teman diacuhkan.
Padahal sudah dikasih paham bahwa di luar sana ada sindikat berbahaya… yang ujung-ujungnya ngajak foto terbuka di studio rumah dia, yang siapa bisa jamin tak ada spy cam di ruang ganti. Demi keamanan sudah dianjurkan untuk jauhi, toh tak akan menguntungkan dari segi karir maupun ekonomi karena oknum-oknum itu mental gratisan foto gangbang sepuluh lawan satu gak kasih makan, minum apalagi fee jasa.

Tapi namanya “muse pemula”… uh, saya gelisah mendengar istilah itu sebetulnya. Mana ada muse tapi pemula. Self proclaim diri sendiri sebagai “muse” saja sudah aneh, tapi berlindung di balik kata “pemula”. Kalau anda berani mengklaim diri sebagai muse, mestinya bisa memberikan inspirasi bagi sang fotografer, alih-alih malah gagap berpose saja mesti diarahkan. Sudah begitu kata “muse” ditempelkan pada nama pula. Edan.
Ya tapi begitulah… mereka akan selalu tergoda foto warna ngejreng dan bokeh. Terus aja mental collab sampai capek lalu berhenti, tanpa pernah ada paid job datang karena terbiasa begitu.

Oleh sebab itu per hari ini saya akan berhenti mencari model di Thread dan semacamnya. Selain suka kegocek dengan filter yang aduhai, juga effortnya tidak sebanding. Mendingan balik street portrait kayak dulu, cari di jalanan, jeprat-jepret lalu kasih eskrim. Gak usah kenalan dan tukar kontak. Tak ada beban dan rasa kesal ketika mereka mendadak “Jurus Maura” atau ternyata kena kampanye hitam.

