Ada sebuah kisah yang cukup melegenda…
Yakni di dunia sepakbola, tersebutlah pemain asal Belanda bernama Arjen Robben. Dia adalah cikal bakal pelopor sebuah posisi di dunia bola modern, yaitu “inverted wing” yakni pemain kaki kidal yang bergerak di sayap kanan (begitu juga sebaliknya). Sebelum tahun 2005an, ini belum lazim. Karena sayap kanan selalu diisi pemain spesialisasi kaki kanan, supaya saat memberikan crossing bisa dengan kaki terbaiknya. Contoh sayap tradisional : Mauro Camoranesi, Joaquin Sanchez dan David Beckham.
Tapi pada formasi modern, malah sebaliknya. Pemain sayap dituntut untuk bisa menembak ke gawang, seiring juga ngetopnya formasi 4-3-3. Maka jangan heran jadi banyak pemain kaki kiri justru nongkrong di kanan, dan sebaliknya. Nama-nama yang bisa dikedepankan antara lain Gareth Bale, Mohamed Salah, dan tentunya si Robben ini.

Saking terkenalnya dia punya gerakan signature, sampai-sampai ya ada cara menyerang yang dibuat identik dengan dia, yaitu menggiring dari sisi kanan, gocek ke arah dalam, lalu menembak melengkung ke gawang. Kebanyakan pemain lawan sudah tahu, tapi tetap saja susah dihentikan. Puluhan gol dia cetak dengan cara itu, selalu indah enak dilihat. Pilih salah satu gol “cut inside” dia, jauh lebih bagus daripada gol Mohamed Salah yang kok bisa-bisanya menang Puskas Award.
Ya itu tadi, saking terkenalnya, Robben ini seolah hanya punya satu gerakan. Padahal tentu saja dia adalah pemain yang komplit, makanya bisa berada di level elit untuk waktu lama. Tapi memang, tidak bisa tidak, dia dikenalnya lewat gol-gol yang “dia banget” itu. Sekarang sih kayaknya semua pemain sayap ya begitu, walau ada juga yang gak jelas kayak Antony.
Mengapa saya menceritakan hal di atas…? well, aku mulai merasa dari aspek fotografi aku sudah seperti Arjen Robben. Dalam hal gaya tentunya. Karena jika dari segi kemiripan fisik dan kesamaan tanggal lahir, maka saya ini Harry Kane.
Aku… bisa saja memotret di jalanan dengan banyak gaya. Tapi tidak, aku sudah menemukan kecocokan… Yakni berjalan menerobos kerumunan, mencari subjek utama dengan banyak figuran di belakangnya, lalu snap! berharap lebih dari satu wajah terekam dalam frame dengan berbagai gestur.

Rasanya aku pernah memberikan tips mengenai portrait di tengah kerumunan. Nah, jika hanya snap, apakah lebih mudah? jawabannya adalah… tidak. Pada saat portrait, kita punya kendali penuh terhadap subjek utama (atau bisa disebut model). Sedangkan saat snap, semuanya adalah sosok asing yang tidak bisa dikendalikan. Makanya untuk dapat frame yang padat seimbang tuh, susah bukan main. Lebih dari sekadar bisa menguasai kamera dan flash, namun juga naluri terhadap komposisi.
Tentu saja ini adalah street fotografi, para haters tidak perlu khawatir. Juxta? layering? masuk semua kok. Kenapa subjeknya harus cewek? ya harusnya kalian bersyukur, di negara kita ini hanya ada pria dan wanita. Tidak ada gender aneh-aneh. Demikian, terkadang setelah menjepret saya melihat ada pergeseran, bahwa sosok yang bikin foto itu jadi enak tuh bukan si subjek utama yang cantik, melainkan para figuran tak terduga di belakang.

Saya ini street fotografer paling tidak efisien dari segi pengeluaran, haha. Jika biaya sekali hunting (bensin, makan, rokok dan pengurangan nilai barang) tuh 200rb, maka saya keluar 200rb untuk satu atau dua foto. Ya karena untuk mendapatkan sebuah frame yang benar-benar saya suka, agak sulit juga sih.

Tapi itu poinnya. Saya hanya memotret apa yang saya sukai, bukan apa yang pemirsa sukai. Kalau mau dapat banyak foto ya gampang, tinggal membabi buta saja pakai tele, segala hal random kasih warna ngejreng di Lightroom, lalu upload.
Mungkin ini akan terlihat monoton, tapi ya aku tidak begitu peduli. Kalau menurut para haters ini mudah, ya coba lakukan… apakah bisa. Jangan-jangan menyalakan flash di ruang publik saja tak berani.

Aku lebih suka dikenal seperti Arjen Robben, keras berlatih untuk hanya punya satu jurus tapi mematikan, alih-alih sebagai pemain serba bisa tapi tidak hebat di posisi mana pun seperti Kai Havertz haha.

