Kamera Murah : Olympus OM-D E-M5 II

Akhirnya aku punya kamera ini… haha. Dulu mahal sekali, bahkan di bon tahun 2019 yang terlampir dalam paket pembelian, tertulis 22,8 juta harganya. Tapi itu sama kit 12-40 Pro sih, kalau body only sekitar 15 jutaan (di tahun 2019 – walau aslinya kamera ini meluncur tahun 2015, entah berapa harga pas awal). Mahal, tapi dulu. Eh tapi entah bagaimana, Olympus Official Store di Tokopedia masih menjual kamera ini kok dengan harga segitu… barunya masih ada 15.3 juta padahal bekasnya sudah 6 juta -,-

Namun kendati di tahun sekarang bekasnya sudah jauh lebih terjangkau, aku masih belum saja punya, setidaknya sampai kemarin. Karena jarang yang fisiknya mulus sekali seperti yang ini, dan juga saya lebih memilih beli E-M10 II lantaran sempat beranggapan kalau ini dan E-M10 II tuh mirip-mirip, cuma bedanya E-M5 ada jack mic dan weather sealed.  Ternyata tidak…

Ini adalah kamera yang berbeda sekali dengan E-M10 II. Ya walau sama-sama “Made in Vietnam”, tapi seandainya pada label di pantat bodinya ditulis “Made in Japan” pun saya percaya saja. Dibanding E-M10 Build quality benar-benar bagus, magnesium. Feel di genggaman jauh sekali. Perasaan saat tombol dipencet, warna layar, hingga suara flange shutternya sangat lembut, tidak menghentak kasar seperti E-M10. Ternyata sampai sedemikian bedanya seri entry level dan enthusiast.

E-M5 II bersebelahan dengan E-M10 II

Secara spek jelas, cari saja di web lain. Intinya sensor MFT 16 megapixel, contrast AF, weather sealed, video Full HD 60 fps, dll dsb. Spek tidak akan bisa membuat foto, kalau di masa lalu kamera ini enak dan bisa bikin foto yang bagus, maka di masa sekarang pun bisa…

Hal pertama yang saya lakukan setelah pengecekan fisik dan fungsi singkat, adalah memperbarui firmware. Saya cek di web Olympus, firmware terkini adalah versi 4.1. Saya kaget, berarti kamera ini umurnya cukup panjang dan juga dapat perhatian khusus, sampai dapat update berkali-kali. Berbeda sekali dengan E-M10 yang mentok di 1.1, yang mana artinya setelah open box, cuma dapat sekali update. Sampai sedemikian dibeda-bedakannya, padahal kamera apapun berhak dibuatkan update kalau ada bug atau penambahan fitur. E-M10 tidak sempurna dari lahir, tapi ya… tidak diperhatikan sama orang tuanya, padahal dia lebih laku haha.

Entah mengapa cara updatenya tidak bisa dengan copy file ke SD card. Jadi harus download dulu software khusus, lalu kameranya dicolok ke Mac pakai kabel USB jadul, kemudian dia akan kontak server untuk minta pembaruan. Ini butuh effort lebih. Bisa juga via aplikasi smartphonenya, tapi saya takut ada masalah koneksi dan putus ketika update, jadinya lewat kabel saja. Tapi seberapa banyak sih yang peduli sama firmware kamera kecuali saya. Itu juga gara-gara lihat ada tambahan “flat video profile” dalam update terbarunya.

Pada akhirnya, yang harus dibahas adalah cita rasa memotret pakai kamera ini. Singkat cerita, kamera ini sangat bagus dan sesuai dengan setiap rupiah yang dikeluarkan. Tapi seperti apa…?

Strap kamera yang saya pakai itu bisa dibeli di sini

Saat digenggam, grip bagian depan lumayan ada. Walau tetap pegal karena kamera ini kecil sekali tapi berat. Namun gripnya okelah. Posisi tombol-tombol cukup mudah dijangkau dengan satu tangan saja.

Tampilan menunya… seperti biasa, amburadul. Padahal update firmware sudah berkali-kali, kenapa tidak dicomot saja tampilan yang simpel dari E-M10 III… saya cinta Olympus dari dulu, tapi saya selalu benci menunya. Bikin pusing kalau mau cari sesuatu. Sebaiknya set yang susah-susah di awal, lalu pindahkan yang penting-penting ke FN button, supaya gak usah masuk menu lagi selamanya. Tapi tidak bisa, selain UI dan UXnya buruk, memang banyak yang kacau… contohnya, kalau mau mati-nyalakan “live view boost” (semacam tampilan layar mengikuti exposure), secara luar biasa itu tulisannya gelap saja tidak bisa diklik. Harus ganti mode shoot ke iAuto dulu. Dan masih banyak lagi hal-hal rumit di luar nalar haha.

Ada banyak sekali tombol FN yang bisa dikustom, enam buah di luar tombol empat arah. Tapi begitulah karena menunya aneh, tombol yang banyak itu agak sia-sia karena tidak semua fitur yang diinginkan bisa diatur ke tombol kustom. Buat yang pertama kali memakai kamera ini pasti bingung mencari tombol ISO. By default ada di cetrek-cetrek samping layar. Terlihat keren tapi rasanya agak gimana ya… ganti ISO ‘kan sering kalau motret mode M, makanya saya atur ke salah satu tombol FN. Satu tombol lagi saya set jadi focus peaking, sisanya saya kosongkan saja. Dan dari empat tombol arah, cuma dua yang bisa dikustom, sisanya harus ngikutin dia… tombol atas malah by default adalah naikin shutter speed, tidak bisa diganti… ini aneh karena sudah ada dua roda besar yang pasti difungsikan sebagai shutter speed dan F. Pada E-M10 juga begini, dan pasti di kamera lain pun demikian.

Layar bisa diputar ke depan. Oke untuk selfie atau vlog. Walau resolusi dan jenis layarnya sama dengan E-M10, tapi rasanya sedikit lebih bagus. Begitu juga EVFnya, tapi yang ini bukan rasanya… memang EVFnya jauh lebih besar dan jelas. Di sisi kanan ada port 3.5mm untuk colok mic. Menyenangkan sekali.

model kesukaan saya yang baik hati dan sering muncul

Saat memotret… yah, begitulah. Enak sekali. AF walau cuma contrast detect tapi sangat ngebut, apalagi single point. Tracking objek juga gesit. Hanya saja kalau pakai wide tracking, pasti agak kerepotan karena sistem AFnya bukan phase detection. Lagian pemalas amat sih motret pakai wide tracking, jangan semua hal diserahkan ke kamera lah haha.

Prosesor kamera ini adalah Truepix VII, sama dengan E-M1, E-M10 ii dan E-PL8. Tidak ada filter AA di sensornya, jadi hasil pasti tajaaaam, walau pun tajam-tajam amat buat apa sih. Ya setelah memotret, kelihatan lah, sesuatu yang selalu saya rindukan… color render Olympus bagus sekali, detail dan dynamic range juga super. Jujur saya paling suka skin tone Olympus, bahkan dibanding Fujifilm sekalipun. Benar-benar natural.

close up pakai lensa murah TTartisan 23mm

Kebanyakan saya mengetes pakai lensa TTartisan 23mm, setara 46mm. Tentu lensa ini tidak ada OIS, tapi IBIS Olympus sejak dulu sangat bisa diandalkan. Saya bisa hand held 1″ dan membuat light trail abal-abal tanpa tripod dengan mudah. 

Sebetulnya kamera ini bisa diajak hujan-hujanan, tapi saya tidak punya lensa seri pro yang weather resist. Jadinya foto yang normal-normal saja. Dipasangkan lensa TTartisan 23mm, semakin menambah kesan kamera analog, apalagi kalau layarnya ditutup. Namun tekstur bagian layarnya gampang berminyak kalau kena muka. Solusinya ganti eyecup EVF pakai yang lebih panjang, supaya muka gak nempel.

Suara shutternya… astaga, enak sekali. Lebih enak daripada E-M1. Tentu juga jauh lebih baik daripada E-M10 yang kasar. Suaranya seperti kita menggigit tulang lunak pada paha ayam goreng. Kruk. Satu yang saya rada kehilangan, tidak ada pop-up flash pada kamera ini. Dikasih flash bawaan kok, cukup besar juga, GN jauh lebih besar daripada pop-up, tapi tidak praktis. Untuk portrait mungkin orang-orang akan bawa flash beneran, tapi untuk street ‘kan kurang enak… Oh iya, baterai kamera ini pada kondisi sehat, sangat awet. Saya hunting seharian kurang lebih seratus foto dengan layar selalu nyala plus pakai flash, berkurang satu bar saja.

pakai flash tancap bawaan, saya sempat pontang-panting mencari setingan layarnya yang under exposure. gak ketemu, akhirnya pakai setingan S-OVF

File RAW pada kamera ini ukurannya sekitar 20mb. Sangat bersahabat. Bisa edit RAW langsung di kamera dan kasih filter-filter bawaan, tapi dari sekian banyak filter mungkin yang rada bener cuma yang grainny monochrome, sisanya gak jelas, harusnya tidak usah ada untuk kamera dengan kaliber enthusiast begini. Kalau mau coba edit RAWnya yang berwarna, saya sertakan file untuk kalian download di sini.

ISO 6400 di parkiran yang gelap. aslinya tidak grainy begini, saya tambah-tambahi…

Saya membeli kamera ini seharga 5 juta pas. Tidak ada cashback karena sellernya pemula, gak pakai power merchant. Namun demikian, itu juga sudah murah karena toko lain ada yang jual 7.5 juta lebih dengan kondisi dan kelengkapan begini. Yo… 5 juta untuk kamera sebagus ini, obral bukan main. Kalau kamu suka mirrorless kecil yang solid, ini bisa dipertimbangkan. Dibanding kamera MFT lain yang harganya mirip semisal Lumix GX85, masih mending ini. Tapi kalau dibanding mirrorless APSC di harga sama kayak Fuji X-T10 atau Sony A6000, ini bakal terlihat inferior setidaknya di atas kertas. Tapi kalau soal teknologi, kenikmatan memotret serta hasil foto, saya berani adu.

Seperti biasa, kamu harus beli Olympus apalagi yang jadul, kalau benar-benar ingin dan paham. Ukuran ringkas, pilihan lensa bejibun dan murah. Tapi juga kalau butuh cepat, rada susah jualnya, harus di komunitas. Servis juga entah di mana.

cahaya di sini tricky sekali, kami diam di tempat teduh, tapi di belakang dia silau bukan main aslinya. bisa diatasi dengan mudah, RAWnya enak…

Namun sepengalaman saya, E-M5 dan Pen F agak langka dan banyak dicari, harusnya sih gak ribet macam E-M10 jualnya. Gabungkan kamera ini dengan lensa M.Zuiko 17mm F/1.8, pilihan mantap dan aman. 8 jutaan total lah, sudah bahagia siap nyetrit siap portrait. Jangan pakaikan lensa pancake macam Lumix 14mm atau 20mm karena gak pas dengan bodinya yang mirip analog. Pasangkan dengan lensa yang full metal dan banyak cetakan angka-angka. Lebih mantap lagi kalau bodinya silver lensanya silver juga, namun dengan mempertimbangkan bahwa di masa depan kayaknya saya kalau beli kamera bakal warna hitam, ya saya gak bakal beli lensa warna silver.

Gas. Tunggu apa lagi. Saya suka sekali kamera ini, kamu juga pasti suka.