Akhirnya datang kembali. Bukan cuma mengantarkan kenangan, tapi juga untuk menemani bikin kenangan baru.
Anu… aku ini punya gelar akademik di bidang Sastra Indonesia, jadi harap maklum haha. Namun kalau dahulu ketika lihat hujan inginnya menulis puisi, sekarang sih aku maunya motret. Kadang pula makin bergairah selepas lihat foto-foto hujan di jalanan Shibuya Tokyo, walau kenyataannya di sini mesti banyak-banyak menurunkan ekspektasi. Boro-boro puluhan orang hilir mudik dengan setelan bagus plus payung transparan… di Bandung, ada orang mau jalan pakai payung saat hujan pun sudah syukur alhamdulilah… mana payungnya ada logo brand kopi atau kecap pula.
Orang-orang di sini memang takut air… haha. Padahal mereka cuma bawa badan. Aku saja yang menenteng kamera, anteng-anteng saja.

ceweknya tidak penting, paman pemulung di belakangnya lebih penting…
Harusnya sih aku lebih berhati-hari, tapi seriusan, aku tidak pernah sekali pun mengalami kamera rusak karena motret saat hujan. Terlebih kamera yang kupakai biasanya pocket APSC kayak GR, yang mana ada mekanisme lensa keluar masuk. Kebayang ‘kan, setitik air saja ikut masuk ke dalam sensor, bakal seperti apa. Tapi beneran, gak pernah. Barangkali dari sekitar lima puluh kamera yang pernah saya pakai, cuma satu yang secara resmi punya ketahanan terhadap air yaitu Olympus E-M5 / E-M5 II, itu pun harus dipasangkan dengan lensa tertentu semisal 12-35mm F/2.8, yang sudah pasti hampir tak pernah saya miliki karena besar sekali.
Pakai kamera pocket memang paling bener, tinggal masukkan ke saku jaket saat berjalan dalam hujan. Begitu lihat momen, keluarkan dan jepret deh. Dalam hal ini menurutku yang paling top adalah Fuji X70, karena respon saat dinyakalan sangat cepat karena tidak ada lensa keluar masuk, namun dengan catatan… jangan dikit-dikit lensanya ditutup pakai lens cap. Flashnya pun tidak usah dipencet agar nongol, makin sigap pokoknya.

Flash itu penting sekali loh. Saat hujan banyak titik-titik air beterbangan di udara… kadang dengan sedikit keberuntungan, ketika tertembak cahaya, bakal mencipatakan efek-efek yang menambah nuansa hujan dalam frame. Belum lagi kadang ada momen tak terduga, ya walau agak susah juga kalau di sini… karena begitu hujan, jalanan langsung kosong. Tapi optimislah!
Akhirnya aku motret sambil hujan-hujanan lagi hahaha. Sekarang sih baru awal musim hujan jadi masih gembira saja lihat hujan. Nanti lama-lama pasti jengkel juga dan komat-kamit merindukan musim panas.

Kemarin saya portrait dengan model kesukaan. Walau kata aplikasi cuaca di iOS, sudah pasti hujan, tapi tetap bandel. Sebab sudah sekitar tiga pekan, aku kesulitan mendapatkan foto gratis alias street yang layak. Jikalau alam semesta tidak mengizinkanku bahagia secara cuma-cuma, ya sudah ambil yang bayar saja. Dan benar saja, hujan pun terjadi. Walau seperti gerimis, tapi stabil dan awet sekali. Ya sudah beli payung dulu di Baltos, sekalian saja yang transparan biar bisa merangkap properti foto. Buset… aku sudah berkali-kali beli payung begini di Tokopedia harganya tak pernah di atas 25 ribu, eh di sini 60 ribu. Tapi mau bagaimana lagi…
Jadilah kami berjalan menyusuri jalan tikus menuju Cihampelas. Sebetulnya ada hal-hal lain namun cukuplah soal fotografi yang kuceritakan haha. Pokoknya agak sulit deh, rute ini seharusnya ditempuh saat musim panas dengan cahaya melimpah. Kalau mendung begini, susah juga cari spot yang pas. Opsi terakhir, terpaksa deh manjat ke mahakarya Kang Emil alias Teras Cihampelas, yang kondisinya terbengkalai seperti candi jaman kerajaan.

Beberapa saat, bosan juga. Jalan saja deh ke Ciwalk, sambil cari kopi. Secara, makin deras juga hujannya. Lantas saat baru masuk, aku dikejutkan dengan…
“Kok banyak yang pakai wig warna-warni?!” teriakku dalam hati. Ini sih, tak lain tak bukan, sudah pasti lagi ada acara wibu di dalam. Sial… aku lupa tidak cek jadwal pekan ini. Biasanya rutin aku cek, bukan untuk aku datangi melainkan untuk aku hindari. Jangankan mampir, lewat saja pun aku ogah. Namun kali ini, uh… aku tidak punya pilihan lagi. Kami pun terpaksa masuk ke kawasan belanja yang dipenuhi… cosplayer.
Rasanya… aneh saja. Sudah dua tahun aku berhenti ke event beginian. Dahulu sih mau hujan mau panas, walau macet atau jauh, bakal aku belain datang. Namun untuk sekarang sih… bahkan mungkin aku akan menghimbau siapa pun yang punya anak untuk… ah baca saja deh tulisan yang ini…

Tapi seriusan… Ada juga sih perasaan kangen. Waktu awal-awal aku memutuskan pensiun, itu sekurang-kurangnya ada sekitar lima kali aku mimpi datang ke acara wibu… hahaha. Sebegitunya perasaan sedihku harus meninggalkan sebuah dunia, namun ya untuk kebaikanku sendiri. Lagian selain aku sudah terlalu tua untuk begitu-begitu, waktu luangku untuk memotret juga terbatas, tentunya aku lebih memilih untuk membuang waktu di jalanan saja.
Melihat remaja-remaja berkostum, ah… walau sebagian bermasker, tapi sebagian lagi tidak. Ingin rasanya memotret satu demi satu. Tapi aku ‘kan bawa model sendiri. Ah, tentu saja cewek yang aku ajak ini cantik, mungkin agak lebih cantik dari cosplayer mana pun di acara ini, makanya banyak yang memerhatikan kami dari jauh. Sudah begitu pakai stocking dan payung transparan pula haha. Ada sebuah atmosfer yang sulit sekali untuk kujelaskan… perasaan muda, naif, namun manja sekaligus liar. Ah.

“Lihat orang yang pakai topi biru itu…?” ujarku. “Iya kak…” jawabnya.
“Nah itulah orang yang aku ceritakan, yang suka cari korban buat diajak foto berjam-jam tanpa dibayar tanpa dikasih makan…”
“Waduh…”
Tadinya dia mau aku suruh diam di tengah kerumunan sih, agar disamperin sama si fotografer tolol gratisan, terus nanti aku datangi dan aku cekik orangnya hahaha. Namun, ya tidak kulakukan. Saat ini aku hanya orang asing.
Namun aku bisa lihat kok, dari jauh si tolol itu lagi candid Elisa pakai tele. Tentu dia penasaran, sebab berkali-kali dia ajak Elisa buat foto selalu tak direspon. Sudah tentu ada campur tanganku… karena Elisa mau kalau aku beri saran untuk kebaikannya, untuk hiraukan orang-orang yang sudah kutandai, ya demi keselamatan dan kesejahterannya sendiri.
Ah… walau 98% aku asing dengan wajah-wajahnya tapi ada beberapa cosplayer yang masih mengenaliku. Ya soalnya dulu aku punya hobi suka bagi-bagi duit ke cosplayer. Begitulah, walau agak aneh tapi aku lebih suka diingat sebagai sosok yang dermawan alih-alih yang pelit kayak si tolol.



tahun 2022, diambil dengan kamera E-M5 II di lokasi kesukaan saya.
Kemudian dari kejauhan aku melihat sosok lain yang… dulu pun akrab sekali denganku. Bukan cuma kalau di event, tapi beberapa kali juga portrait di luar sebagai manusia biasa. Tentu aku bayar, jangan khawatir. Dia tampak sudah agak dewasa dan makin cantik. Namun tidak aku datangi apalagi sapa. Entahlah… tidak mau saja.
Kami di sana sampai habis petang. Reda atau tidak, ya harus pulang. Jalan balik dulu ke Baltos karena motorku ada di sana. Entahlah ya… walau sesi portrait kali ini rasanya mahal sekali… lantaran cuma dapat frame sedikit, tapi aku senang. Ini agak memalukan untuk disebutkan, tapi aku gembira bisa ke acara wibu lagi… hahaha. Sesekali nostalgia boleh kali ya~
Namun bukan berarti aku bakal terus-terusan balik ke acara wibu. Enggak lah. Musim hujan sudah dimulai, menyapu semua kenangan lama. Akan lebih baik jika aku bersenang-senang sambil mencari calon kenangan baru di jalanan…

