Sisi Gelap Event Wibu

Aku tahu kok. Makanya kamu pun harus tahu.

Baiklah, kata pengantarnya tak usah terlalu panjang. Segala hal yang aku tulis di sini memang ada dan sepertinya masih terus terjadi. Boleh percaya boleh tidak, yang jelas untuk beberapa hal, bisa dengan mudah dicek kebenarannya, dan untuk sebagian hal lain kalian harus cukup lama “terlibat” dalam dunia event wibu agar bisa melihatnya.

Untuk yang belum tahu, event wibu itu semacam acara tentang Jepang, ya isinya macam-macam, ada cosplay, perform grup idol, stan makanan, nonton bareng anime dan sebagainya. Ya pokoknya sekilas lihat ada begituan di mall, kalian pasti ngeh kok. Sebetulnya dari jaman kuliah aku doyan datang ke event begini, namun lama berhenti. Sepuluh tahun kemudian aku rutin lagi singgah, lebih kurang setahun penuh, lantas sama sekali berhenti karena rasanya sudah jauh berbeda dari yang aku kenal. Ada hal-hal yang tidak sejalan dengan idealisku. 

tentu aku gak bakal pose tangan membentuk hati atau kontak fisik apa pun ke cewek

Aku ini jurnalis. Beberapa pekan lalu aku diundang oleh manajemen salah satu mall besar di Bandung, ditanyai pendapat mengenai baik-buruknya mengadakan event wibu. Ya… tidak ada untung atau rugi bagiku, mau ada atau tidak. Buat mall barangkali tentu bikin jadi ramai, terlepas itu hanya ramai gak jelas dan belum tentu berbanding lurus dengan income. Aku hanya memberikan nasihat saja.

Namun untuk tulisan di blog, aku tidak akan bermanis-manis, harus aku ceritakan apa adanya. Di antara pembaca setia, pasti ada sosok orang tua yang sedang membesarkan putra-putrinya dengan sangat hati-hati, ada juga sosok kakak yang mesti menjaga adik perempuannya, dan yang terpenting… sosok polos yang baru mau coba-coba. Ya tentu saja ada sisi “tidak gelap” dari event wibu, tapi ya aku tidak tahu apaan, silakan cari sendiri. Yang mau aku jelaskan, adalah sisi gelapnya… yang semoga bisa membuka mata kalian…

disclaimer :

a. Semua foto dalam tulisan ini adalah milik saya sendiri, namun supaya tidak kena delik, saya sensor saja wajah-wajah orangnya.

b. Semua hal yang saya ceritakan, terjadi di Bandung. Apakah berlaku juga di kota lain? ya saya tak tahu karena tidak pernah terlibat di kota lain.

c. Tidak semua wibu melakukan hal yang saya tulis. Hanya sebagian saja. Aku kenal kok banyak wibu / cosplayer yang kelakuannya normal.

d. “Sisi gelap” tidak berarti bahaya, namun jelas tidak bisa juga membanggakan untuk dilakukan. Silakan nilai sendiri.

e. Di judul sudah aku tulis ya, “event wibu”, jadi hanya hal-hal yang berkait dengan / dan dari “event”. Jadi bukan mencakup “wibu” secara keseluruhan.

Baiklah, berikut hal-hal yang aku selalu bawel pada teman yang sudah punya anak apalagi remaja, agar cari saja sarana rekreasi lain daripada ke event wibu :

1.  Budaya memakai masker. Sebagaimana acara-acara lainnya, event wibu pun kembali bergeliat seusai pandemi covid. Di awal-awal masih sangat bisa dimaklumi, apalagi kalau acaranya diadakan di ruang tertutup. Namun sudah beberapa tahun sejak, pakai masker malah sudah jadi semacam budaya. Kadang malah aku lihat para wibu sebelum masuk mall tak pakai masker, namun setelah berdandan segala rupa eh malah pakai masker.

Biasanya aku akan mengkritik dari segi fotografi, karena apa poinnya sudah dandan plus kostum segala macam kok mukanya malah ditutup. Kalau kamu tanya pada mereka, kok pakai masker, paling jawabannya antara gak tahan bau atau malu. Aku memaklumi sih karena memang bau, bau banget, apalagi kalau sudah dalam ruangan dan penuh sesak. Namun alasan malu, kadang aku sulit mencerna. Apakah menghadiri acara wibu atau menjadi cosplayer itu memalukan? takut ketemu tetangga atau saudara? ‘kan aneh, kalau memalukan kenapa dilakukan.

Kalau kamu berpikir mereka hanya pakai masker ketika di dalam ruangan yang penuh, well… tidak juga sih. Bahkan sebagian mereka tetap pakai masker ketika difoto di space yang luang kok. Tapi itu terserah lah, toh wajah-wajah dia sendiri. Satu hal yang bikin budaya masker ini menjadi potensi bahaya adalah…

Tahukah kamu bahwa sebagian besar penyelenggara acap kali menulis pada poster event : “no cross dresser” , alias larangan lelaki memakai kostum karakter wanita dan sebaliknya, namun tidak pernah ada larangan “dilarang pakai masker”. Jadi, bagaimana membuktikan sosok di balik kostum itu jenis kelaminnya apa kalau wajahnya ditutup masker? sudah banyak lho kejadian, lelaki dengan kostum cewek melenggang bebas masuk ke toilet wanita, dan mungkin sebaliknya juga. Apa kamu tahu situasi toilet wanita saat event padat pengunjung? mereka bisa ganti baju tidak di dalam toiletnya banget, melainkan di mana saja asal tidak ada lelaki. Lagi padat begitu mana ngeh ada lelaki siluman bermasker yang ikutan nongkrong dalam toilet wanita.

Kedengarannya psyco banget ya, tapi semakin lama kamu terlibat di event wibu, semakin kamu akan memahami pola-pola pemikiran mereka yang kadang di luar nalar…

2. Copet dan Pelecehan. Event wibu di Braga Citiwalk tahun 2023 dilaporkan ada lebih dari 70 orang yang kehilangan hp. Itu baru yang melapor, sedangkan yang tidak terdata pasti lebih banyak lagi. Saya hadir di acara itu, dan menyaksikan sendiri satu cewek yang saya kenal, pingsan lantaran dicopet sekaligus digerayangi.

Tidak perlu jadi detektif atau anak buah Syaef untuk membuat analisis bahwa mudah sekali mencopet di event wibu: keramaian cenderung padat berdesak-desakan, tas yang ditaruh di sembarang tempat, dan cara membawa benda berharga yang sangat tidak aman.

Cosplayer, biasanya yang cewek, akan memakai kostum yang sudah pasti tidak ada sakunya. Bisa ganti baju di lokasi, atau dari rumah sudah pakai kostum. Hp dan dompet seharusnya ditaruh dalam tas yang digembok, itu pun kalau bawa. Ini wah aku sering banget mendapati, karena terus-menerus harus bikin konten, hp taruh di sembarang tempat. Lalu juga kadang ditaruh di lantai lantaran mau bikin konten Tiktok joget-joget. Lengah sedikit, raib tuh iPhone 11 inter yang IMEInya disuntik enam bulan.

Mereka cenderung percaya bahwa sesama cosplayer tidak akan saling merampok. Ya mungkin saja, tapi ‘kan yang hadir di event tuh tidak semuanya punya niat hanya senang-senang. Pencopet pun kalau denger ada event wibu di suatu mall, langsung girang kayaknya, mangsa empuk semua. Desak-desak di lorong, eskalator, hingga tas yang ditaruh di lantai begitu saja karena pemiliknya lagi foto-foto.

Dan bukan cuma copet. Maniak cabul juga menyambut gembira. Selain dari awal niatnya ingin grepe-grepe, semakin dipicu pula oleh…

3. Kostum dan perilaku yang kelewatan. Terkadang mereka lupa bahwa saat ada acara, tidak berarti seluruh mall atau taman tuh disewa untuk mereka saja. Banyak sekali keluarga yang rekreasi ke sana, disuguhi cewek-cewek dengan pakaian yang “berani” (namun tentu wajahnya ditutup makser), lalu juga pose-pose yang aduhai saat difoto atau ngonten Tiktok, baik sendirian atau bersama cosplayer lain terutama lawan jenis. Pose-pose mesra cenderung cabul, wah gampang sekali ditemui. Gilanya mereka pakai masker, seolah menutup identitas sendiri sembari meracuni anak-anak kecil yang ada di tempat itu.

Apalagi kalau sudah mulai gelap, jelajahi deh area-area sepi mall, seperti parkiran atau pojok mall. Adegan erotis antar mereka itu macam sudah lumrah. Kemudian dengan perkakas lighting lengkap, fotografer wibu tua sedang menggarap para cosplayer dengan pose yang sangat… menjual. Bagian soal fotografer ini nanti dibahas di bawah.

Yang jelas… gimana ya. Aku mau naif dikit deh, budaya kita itu budaya “ketimuran”, alias… kita suka kok lihat yang eksotis nan eroris, tapi tidak untuk diperlihatkan di depan umum apalagi di depan anak-anak. Pose-pose berpelukan, jidat bertemu jidat sambil saling menatap, dan juga kadang ada saja cosplayer cewek yang dengan berani keliling mall sambil menenteng tulisan “free hug”, tapi giliran meluknya terlalu erat langsung nangis hingga jadi tontonan. Apa sih yang dicari…

Selingan sedikit, biar motret di jalanan makin sat set, pakai strap lengan dong jangan strap leher. Kabar gembira untuk kita semua, Storyofthetstreet strap sudah rilis lagi, setelah sukses tiga tahun lalu. Kualitas jangan ditanya lagi lah, makanya waktu itu pun sold out kilat. Kali ini pun dicetak terbatas saja, makanya jangan sampai gak kebagian. Mari turun ke jalanan dengan gagah berani dan keren. Segera check out di Tokopedia “kangchem pro“. Yuks.

4. Predator dan pedofil berkeliaran. Tahukah kamu bahwa sering sekali ada wibu (tidak tampan) memberikan hadiah makanan pada cosplayer kesayangannya, dan suatu ketika makanan itu adalah puding lengkap dengan fla… dan fla itu sudah diracik dicampur air mani?

Atau om-om yang datang ke acara hanya demi memuaskan hasratnya bercengkrama (dan mencengkram) gadis-gadis remaja? berkedok ikut memotret, lalu minta kontak, lalu…

Ah aku tak mau panjang lebar soal ini, cari aja di Google drama seputar cosplayer, banyak dan selalu bertambah. Kejahatan tidak hanya terjadi ketika ada niat, namun juga ketika ada kesempatan. Mana sekarang tidak ada batasan, usia minimal untuk jadi cosplayer… banyak anak SMP yang walau tubuhnya lebih dewasa namun tidak dengan pemikirannya, yang mudah sekali jadi santapan predator.

Aku kenal seorang fotografer (tidak tampan). Basic dia itu suka “tomar” alias moto di kamar, sudah tentu karena di kamar jadinya adegannya pun lebih intim. Sekali dia datang ke event wibu, langsung ketagihan… dapat banyak calon model. Tidak berarti seratus persen si cewek mau difoto seksi tuh karena rayuan si fotografer (tidak tampan), melainkan juga ada bisnis di balik itu…

5. Bisnis konten erotis. Pernah kepikiran gak, kenapa wibu itu pakai akun Instagram yang berbeda dari akun dia sebagai manusia biasa? ya termasuk juga nama, segala identitas, pun nuansa fotonya jauh berbeda?

Alasannya simpel, supaya punya identitas baru yang tidak mudah dikenali keluarga atau mungkin teman sekolah. Itu okelah. Namun coba klik deh link pada profil mereka, biasanya Trakteer. Ya itu semacam buat minta saweran tapi yang ngasih duit dapat foto. Link ini tentu tidak elok kalau dipajang pada akun Instagram dia yang dikenali sama keluarga dan teman-teman sekolah.

Tentunya kadar fotonya dibedakan, antara yang harganya 5.000 dengan yang 100.000. Kira-kira foto apa sih yang dijual agak mahal itu? yaps.. ya tentu foto seksi dong, dengan teknik editan yang luar biasa, pokoknya auto tobrut.

Berfotonya bisa sendiri, bisa juga kolaborasi dengan fotografer wibu. Tentunya mereka kenal di event. Kalau kenal di masjid atau gereja ‘kan gak mungkin. Alter ego mereka hanya muncul saat di event.

Apakah laku? jangan salah… demi coli sambil lihat cosplayer kesayangannya, wibu rela keluar duit banyak. Saya kenal satu cewek yang enam bulan jualan konten di Trakteer, dia kebeli iPhone Pro Max. Betapa menjanjikan bisnis ini… effortnya jauh lebih rendah daripada Onlyfans, namun penghasilannya boleh diadu.

Sepengamatan saya, sekitar 80% cosplayer pasti menjual fotonya di Trakteer. Namun hanya sebagian kecil saja yang kontennya sudah merambah dunia dewasa. Tapi kebayang gak, saat mereka kumpul di event lalu ngobrol soal income dari jualan konten, yang jual foto biasa mulai termotivasi untuk merambah konten dewasa lantaran melihat rekannya bisa beli iPhone Pro Max dari hasil jual foto editan tobrut?

Ada juga, sosok yang aku tahu betul… kontennya video dia pakai kostum, dengan adegan dia menyayat-nyayat lengan dan paha pakai cutter hingga berdarah. Entah apa motivasi awalnya tapi katanya lagi ngetren (di kalangan mereka), dan ternyata laku juga sebagai konten.

Ya begitulah… dari luar kelihatannya event wibu itu lucu-lucuan dan senang-senang saja, tapi kalau sudah tahu lebih dalam. Hm…

Sebetulnya ada kisah lagi, bahwa ada segelintir cosplayer yang menjadikan event itu sebagai arena show case, nantinya mereka bisa dibayar untuk ngamar. Tapi aku tidak punya bukti, karena kalau belum mencoba sendiri aku tidak bisa konfirmasi itu benar atau tidak… (dan aku tidak akan pernah mencoba kok) Tapi kalau sekadar soal konten dewasa, ya kau klik aja coba link link di bio para cosplayer itu. Sepertinya dari sepuluh sampel, minimal satu akan kau temukan.

6. Idol. Ah, tanya sendiri deh ke petugas kebersihan mall, kalau sehabis acara wibu, kondisi toiletnya seperti apa. Apakah bersih wangi, atau malah banyak sperma berceceran…

Karena apa? ya karena para lelaki kurang kerjaan itu tak sanggup menahan birahi selepas menonton idol kesayangannya cover lagu Jepang sambil joget depan panggung.

Pernah suatu ketika, saya melabrak suatu golongan yang mencoba merekrut teman saya untuk membentuk grup idol baru. Ya, si ceweknya pun memang ada tergoda, kalau jadi idol di grup wibu bakal banyak fans. Tentu saja tipikal fansnya tak bakal tampan kayak Andrew Tate atau Rafael Struick, melainkan pemuda jomblo otaku yang rela membeli foto mereka di Trakteer. Dan sejauh yang aku lihat, tidak ada tuh grup idol di acara wibu yang bakal tembus televisi atau minimal radio. Ya begitu saja, berangkat dari satu event ke event lainnya.

Namun pengorbanannya… latihan rutin, sesi foto rutin, jumpa fans rutin. Ada tuh satu kelompok “manajemen” yang menerapkan iuran bulanan kepada talent, mulai dari belum siapa-siapa, sampai nanti, ya tetap bukan siapa-siapa. Yang jelas diorbitkan jadi idol. Seorang cewek yang saya kenal sebut saja namanya “Hu Tao”, dibebankan iuran Rp300.000 sebulan untuk kebutuhan idol serta foto-foto. Gimana sih, jadi model foto bukannya dapet duit malah bayar, padahal ‘kan yang jual fotonya si manajemen, pembagian duitnya juga sangat mencekik. Mana kalau mau foto casual, dia harus minta ijin manajemen serta setor sebagian dari uang yang dia dapat. Padahal saya kenal cewek itu dari awal, bukan setelah dia di manajemen.

Dengan segala hormat, bagiku sih cuma eksploitasi. Kumpulkan lima cewek, ajarkan menari, cover lagu Jepang, masukin ke event. Duitnya masuk ke manajemen, dengan para talent hanya kebagian secuil.

Namun ya para idol itu jadi agak terkenal dan punya banyak fans. Yang akan rela membayar untuk sesi foto dengannya, atau maid cafe disuapin. Bagi sebagian cewek, ketenaran semu itu sudah cukup memuaskan kok. Yang penting para fans joget moshing di event, menarik perhatian pengunjung mall lain, sudah mantap jiwa kayaknya.

7. Oknum fotografer. Berkait dengan bahasan nomor 4 dan 5 , memang sebagai pegiat fotografi, saya agak kesal juga kadang-kadang.

Sering ada kejadian, fotografer A nyamperin cosplayer B di event, lalu ajak foto-foto. Kadang hanya sebentar, kadang juga lama sekali sampai diseret ke sisi mall yang sepi. Giliran nanti si cosplayer minta fotonya, dia kasih ada watermark gede banget… kalau mau versi aslinya, silakan bayar ceban per foto.

Hellooo.. emangnya elu siapa? Daido Moriyama? dia ‘kan bisa memotret itu cewek dengan gratis, kenapa pas ceweknya minta fotonya malah dipatok biaya.

Aku pernah sedikit ngeyel sih dulu… kalau habis motret cosplayer apa saja di event, suka aku kasih amplop isinya duit dan semacam kartu gitu, ada tulisannya “hati-hati kalau ada yg ngajak foto, tanya dulu.”

Ya tentu aku tidak menyuruh dia minta duit ke setiap yang foto, karena mungkin cuma saya doang yang dengan royal bagi-bagi saweran. Namun jangan sampai menyesal belakangan. 

Ada juga contoh lain, sebut saja gerombolan X. Hampir tak pernah absen ke event wibu untuk mencari calon model, nantinya bakal diajak foto di luar event dengan tema casual “Jepang”. Trademark dia tuh, tone fotonya ala “Jepang”, dikasih caption hurup Jepang dan tentu pula pakai lagu Jepang. Tapi atitudnya sama sekali tidak Jepang, tidak menghargai waktu orang lain.

Sudah bukan sekali dua kali cewek yang saya foto, berkisah ketika difoto sama si X (dan gerombolan) tuh, diajak ke tempat yang jauh dari pagi sampai sore, nyaris tak ada istirahat lantaran yg motret banyakan bergantian sedangkan model dia doang, lalu boro-boro dikasih duit, dikasih makan minum pun enggak. OTSU! dia kira itu cewek rasa lelahnya bisa dibayar pakai foto bokeh dan tone ngejreng?!

Makanya ketika saya ketemu si X di event, dia langsung kabur. Dia tahu, saya ini galak terutama kalau soal membela wanita. Aku gak suka lihat wanita dieksploitasi begitu, makanya setiap cewek yang aku foto selalu edukasi, kalau ada yang ajak foto di luar, agar dipastikan dulu berapa fee yang dia dapat, durasinya berapa lama dll dsb.

Aku tidak peduli embel-embelnya “collab” atau apa, yang jelas kalau bisa beli kamera puluhan juta, masa iya gak bisa ngasih model sekadar seratus-dua ratus. 

Belum lagi ada saja kejadian model dilecehkan. Ah ini tidak hanya terjadi dengan latar belakang wibu sih, namun ya memang selalu ada yang asalnya dari kalangan wibu. Para predator itu saat di event bakal mencari yang pertahanannya mudah ditembus. Menculik cosplayer sampai berjam-jam saja sudah menjengkelkan, apalagi ngajak foto casual di luar event sampai si model sudah modal sendiri make up, ongkos dll, hanya untuk pulang dengan perut lapar dan dompet kosong.

Makanya sebagai bentuk perlindungan, aku tidak pernah tag / mention cewek yang aku foto. Aku tak mau mereka jatuh ke tangan yang salah. Bahkan kalau ceweknya nurut dan mau nerima nasihat, dia bakal aku suruh block aja nama-nama yang aku sodorkan… ya buat kebaikan dia juga, daripada kena “otsu”.

Demikian aku pun masih sering memotret wibu. Tentu saja aku bayar haha… tapi ya aku tidak perlu datang ke event, aku suruh saja muridku untuk mencari di Instagram. Kata dia, peluang chat dibalas itu 20% saja, dan dari 20% itu hanya 1% yang tepat janji dan tepat waktu hahaha. Tapi ya begitulah, kadang kalau bukan dengan sesamanya, mereka gak mau foto-foto di luar event. Barangkali juga mereka memang tidak suka uang, melainkan hanya suka untuk eksis di kalangan sesamanya. Ya sudah.

*OTSU : semacam ucapan terima kasih untuk kerja keras. Ya jangan cuma ucapan terima kasih dong, bayar juga… 

Itulah kira-kira hasil pengamatan saya selama setahun penuh bergelut di dunia event wibu. Bukan cuma hadir, melainkan menyelam sangat dalam sih sebenarnya. Sebetulnya bisa saja aku buat lebih panjang, semisal membahas soal psikis atau ekonomi, namun dari awal aku hanya ingin membahas yang ada kaitannya dengan event wibu. Dan sebagaimana yang sudah saya disclaimer, ini tidak bisa dibikin general rata semua. Tapi apakah ada? ya tentu!

Karena kalau sekadar gemar baca manga atau main game anime, ya aku juga suka. Tapi dengan tidak ke event, aku tidak berinteraksi dengan sesama wibu… aku tidak menularkan dan tertular sesuatu, tidak mempengaruhi atau dipengaruhi. Itulah sebabnya dari awal bahasannya harus ajeg, mengenai hal-hal yang hanya terjadi atau dapat dialami kalau kamu berangkat ke event wibu.

Btw, sengaja tidak saya beri tahu di awal, bahwa salah satu sosok di antara foto yang dipasang adalah lelaki yang berdandan jadi wanita. Terbukti ‘kan poin saya soal budaya masker serta potensi bahayanya.

Lantas mengapa pula saya susah-susah menulis kayak gini? ya itulah tugas jurnalis! syukur-syukur bisa menjadi peringatan, baik bagi yang sudah nyemplung, atau untuk yang baru mau nyemplung. Lagian, memangnya apa tak boleh? aku tidak punya kuasa untuk melarang mall mengadakan acara wibu, dan tidak harus juga. Tapi aku punya kewajiban untuk memberi himbauan pada orang-orang yang memang mau. Toh kalian baca tulisan ini karena memang tertarik ‘kan?

OTSU!