Warung Kopi Purnama, Rumah Kedua

Kalau kalian mengikuti saya sejak lama, kalian pasti sudah sering dengar nama tempat ini, walau mungkin belum pernah datang. Saya akan ceritakan, mengapa tempat ini sangat berkesan dan juga sedikit banyak ada hubungannya dengan street fotografi.

Warung Kopi Purnama adanya di Jl.Alkateri, Bandung. Bukan Jl.ABC ya. Memang sebelah-sebelahan, tapi beda. Dan cara yang benar untuk datang ke sini kalau pakai kendaraan, adalah masuk dari Jl.Asia-Afrika. Selain itu, salah, karena melawan arus lalu-lintas. Walau pada jam-jam tertentu, jalannya kosong tapi tidak berarti dibenarkan untuk melawan arah. Kedai ini tidak buka cabang di lokasi lain ya.

seperti ini bangunannya ya

Lokasi di Google Maps

Kedai ini sudah berdiri sejak tahun 1930, dan menu dia paling khas adalah roti srikaya. Kok saya tahu? karena pasword wifinya “Srikaya1930” hahaha… jangan tertipu dengan bangunannya yang seperti rumah tua, karena wifinya ada empat biji dengan speed 5G semua. Salah satu yang bikin betah.

Kau tahulah, Bandung ini kota kecil. Cek saja, untuk kegiatan hunting bareng street fotografi, saya berani bertaruh, kemungkinannya 80% pasti di sekitaran Asia-Afrika, ABC atau Braga. Dan bahkan Ronaldo atau Messi pun kalau tinggal di sini, pasti nongkrongnya di sana-sana juga. Nah maka dari itu, Purnama ini letaknya strategis sekali… sebagai tempat janjian kalau mau street, pun untuk melepas lelah sambil ngopi-ngopi selepas hunting. 

Tempatnya asyik, kayak rumah. Bukan rumah sih, kayak balai warga lah. Cukup luas juga, walau saya selalu duduk di bagian yang sama yakni di depan, soalnya kalau di outdoor gak boleh merokok. Agak kebalik sih ini sebenarnya. Kasihan yang bukan perokok, untuk bisa keluar masuk mencapai belakang harus lewat dulu lokasi merokok. Arsitekturnya benar-benar klasik, foto-foto Bandung jaman dulu banyak di temboknya. Lampu-lampunya, meja dan kursi serta jendela-jendelanya. Yang tidak terlalu klasik paling musik yang diputar di sana. Karena saya sudah sangat akrab, sengaja suka saya ajak bercanda…

“Mang, sini…” ujar saya.

“Iya A…” kata sang pramusaji.

“Tempat ini ‘kan tempat bersejarah, legendaris…” ujarku.

“Betul…”

“Kenapa lagunya kok Kangen Band…”

Langsung sama operator di kasir, lagunya diganti jadi Broery Marantika. Senangnya.

Aku hampir selalu pesen menu yang sama sih. Minumnya kopi susu atau kopi telur, cemilannya roti kukus srikaya atau roti telur gulung. Kalau kamu cuma pesan dua item itu, totalnya cuma sekitar 35 ribu saja. Di sini tidak ada capucino atau minuman boba, semuanya tradisional dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Tapi menunya banyak kok, mungkin ada seratus lebih. Cuma aku sukanya ya itu.

Kalau sudah pesan, ya sudah. Bisa duduk sepuasnya. Bawa laptop kek pura-pura ngetik, atau pacaran atau apalah. Yang jelas ini adalah kedai untuk keluarga, jadi pelanggannya tidak cuma anak muda, malah banyaknya kaum tua. Posisi meja yang saling berdekatan, dimaksudkan untuk bikin jadi akrab. Walau seumur-umur saya tidak pernah juga jadi kenal dengan pembeli di meja sebelah. Haha.

Purnama buka dari jam 08:00 sampai 21:00. Mau datang jam berapa saja, sama enaknya. Cuma kalau agak siangan, parkir mobil dijamin susah, soalnya di sini kawasan ruko-ruko perdagangan, jadi banyak yang parkir. Khusus hari Minggu, kalau datang pagi sekali dijamin penuh… soalnya ada tradisi sarapan bersama, jadi segala macam tukang Bubur, Sekoteng segala macam, dibolehkan gelar dagangan di depan Purnama, dan kita boleh pesan untuk disantap di dalam. Kalau kopi sih, ya pesennya ke kasir aja.

Namun selepas siang, suasana di jalanan sana mendadak enak sekali. Apalagi kalau cerah. Jalanan lowong, karena toko-toko pada tutup. Aku kalau janjian motret sama cewek, aku ajak ke sini. Karena mudah dicari, lalu juga enak buat berjalan-jalan cari spot. Harap maklum, Bandung ya cuma segini-gininya. Tapi dari Purnama, keluar kedai sudah langsung Jl.ABC, enak kosong kalau Minggu, foto ala-ala nostalgia cocok sekali. Kalau mau rada modern, nyeberang sedikit sampai ke Kepatihan, pura-pura saja banyak gedung tinggi kayak di Tokyo. Kalau mau menjelajah lagi, jalan saja ke Sudirman, roof top Pasar Baru, atau jembatan deket stasiun. Sepertinya karena jembatan itu cukup lekat dengan saya, para street tog sini nyebutnya “jembatan Kangchem”… ada-ada saja. Tapi jangan sekali-sekali mencetuskan ide nude art dengan teman, karena dari sini juga dekat sekali ke lokalisasi… haha.

Entahlah, motret di Minggu siang dan sore yang cerah di sisi kota yang sepi tuh… relaksasi sekali rasanya. 

Kayaknya hampir setiap cewek yang pernah aku ajak portrait sambil jalan-jalan, pasti pernah aku ajak ke sini. Pun, cewek yang akhirnya aku deketin. Gimana ya… daripada kebanyakan kenangan dan bikin galau, sudah saja semuanya aku kompilasikan jadi “kenangan Purnama”… supaya menghemat SSD otak saya, jangan kepenuhan oleh kenangan-kenangan percintaan, nanti gak bisa save kenangan-kenangan lainnya.

Ahhh, aku suka sekali kedai ini. Minimal seminggu dua kali pasti ke sini. Sudah aku anggap rumah kedua. Bahkan alamat di bio Instagram saya, ya Warung Kopi Purnama… haha.