Oleh sebab itu, dari awal sudah aku wanti-wanti…
Itulah yang kukatakan pada kawanku, Daniel. Sejak beberapa bulan lalu, tugas untuk chat serta membangun relasi dengan calon model portrait, kuserahkan penuh kepadanya. Soalnya di antara kami, dia yang semangat portraitnya masih membara. Aku sih sudah agak bosan, sudah sepuluh tahun lebih.
“Padahal sama akang saja…? lebih banyak follower…” ujarnya.
“Haiya… yang mencari dan menghimpun ‘kan tetap saya. Tapi saya gak mau chat sama cewek…” jawabku.
“Carl gimana?” tanya dia lagi.
“Carl urusan ngajak di lapangan.”
“Siap…”
Demikian, sebagai kapten aku harus menyusun rencana agar sesi hunting terus berjalan, dan kalau bisa sih lancar. Bagaimana pun, aku sudah menilai bahwa Daniel sangat cakap dalam komunikasi dan diplomasi. Kalau aku sih, dibalas lama apalagi tidak dibalas, bakal marah-marah.
Tapi juga harus kuingatkan, bahwa kultur komunikasi terutama cewek gen Z di kota ini, memang agak lain. Tak peduli seberapa sopan atau berapa banyak komitmen fee yang dijanjikan… jangan kaget kalau tiba-tiba orangnya menghilang, walau secara spektakuler kok bisa-bisanya masih lihat story.
Oleh sebab itu istilah “Jurus Maura” terlahir. Maura itu nama cewek, sejarahnya dulu dia pernah foto di jalanan sebagai stranger, ketika mau lanjut diajak foto lebih serius, orangnya pura-pura gak buka chat, padahal aktif. Menimang di sepakbola ada yang namanya tendangan “Panenka” atau “R9 step over”, maka sudah saja kami jadikan “Maura” sebagai kata sifat.
“Bagaimana Carl, dua nama yang kemarin saya kirim?” adalah pertanyaan yang sering kuajukan.
“Satu on proses, satu lagi Maura, kang…” jawaban yang sudah bisa dipahami.
Pada prosesnya, keputusanku menunjuk Daniel sebagai humas adalah langkah brilian. Sebagai Pirlo, aku butuh dua gelandang lain sepagai partner. Gattuso sudah ada, nah masuk Seedorf makin klop. Bukan berarti segala beban pikiran kulimpahkan, sebab ada kejadian apa pun, aku tetap tahu kok…
“Kacau kang, sudah deal hari tapi menghilang lagi…” keluhnya.
“Sudah berapa chat tak dibalas?” tanyaku.
“Dua kali.”
“Cukup. Jaga harga diri kita. Model bukan dia doang.”
Pada dasarnya model itu punya masa kadaluarsa sih, setelah tiga kali foto pasti ada aja ini itunya. Kami maklum, memang kami menargetkan paling maksimal tiga sesi. Setelahnya si cewek, entah tiba-tiba nikah, atau direbut kelompok wibu cabul. Tidak apa-apa, toh tak ada yang tak tergantikan kok. Aku lebih suka modelnya ganti-ganti dan bervariasi, walau alangkah baiknya hubungan baik tetap dijaga. Kota ini sempit loh, di kemudian hari pasti bakal bertemu lagi.
Kendati kebanyakan berakir sukses, tetap saja ada beberapa Maura yang cukup monumental.
—
Suatu akhir pekan, Daniel memasang sayembara pencarian model di Thread. Normalnya metode ini memang selalu disambut banyak pelamar. Perkara apakah sesuai kriteria, nah itu lain cerita.
Lantas ada satu sosok yang cukup menarik perhatian. Baik dari segi visual, hingga cara berkomunikasi yang sangat sopan. Bahkan dengan antusias dia ingin coba difoto sambil akrobat sebagaimana video yang tercantum dalam sayembara. Ya… itu adalah teknik slow sync flash terkini yang sedang kami kembangkan… super lambat, serta harus dipadukan gerakan kamera serta model.
Maka di hari Sabtu, datanglah sang model dengan tepat waktu. Sebut saja namanya Varesa. Memang cantik sih, kulit putih… wajah ceria, saat ngobrol pun sopan dan nyambung, sangat terpelajar lah. Rupa-rupanya dia baru lulus kuliah, dan bakal lanjut S2 di salah satu negara Eropa. Mantap betul.
Sesi foto berlangsung sangat lancar dan menyenangkan. Mulai dari berburu matahari, hingga praktik foto slow sync sambil akrobat pun luwes banget. xG dia sangat tinggi, dari seratus jepret barangkali sekitar 80 persen bagus.
Sebelum pulang kami makan di cafe, obrolan enak. Aku bisa membaca pikiran Daniel, akhirnya menemukan model andalan yang semoga bisa diajak foto lagi kapan-kapan. Saat berpisah, seperti biasa kami berikan amplop Genshin Impact berisi sejumlah uang. Walau di awal Daniel sudah mengabari bahwa perjanjiannya full collab, tapi kami cukup tahu diri bahwa si cewek keluar biaya ongkos, make up dan terutama waktu. Tanpa memandang fakta bahwa sepertinya dia cukup kaya, tetap kami pun punya kebijakan untuk mengganti pengeluaran serta ada sedikit lah untuk jajan.
“Talent scout pekan ini sangat sukses.” ujarku.
“Asli… bagus dan luwes banget…” jawabnya. Sambil kami lanjut menyusuri jalanan Braga malam hari.
Karena fotonya bagus-bagus, aku pun semangat mengedit. Untuk kebutuhan sendiri sih aku cuma perlu beberapa jadi monokrom, namun semua foto versi warna aku olah juga untuk dikasih ke Varesa. Selepas semua masuk ke Drive, aku share link ke Daniel untuk titip diserahkan.
Beberapa hari berlalu…
“Apa katanya soal hasil foto-foto kita?” tanyaku pada Daniel.
“Sudah saya kasih, tapi chatnya belum dibuka…” jawabnya.
“Gak aktif?”
“Aktif kok, story masih lihat terus…”
“Waduh… apakah…?”
“Mudah-mudahan sih, enggak.”
Pekan berikutnya kami kesulitan menemukan model yang sesuai. Daniel angkat gagasan, untuk mengajak lagi Varesa. “Tentu aku setuju. Tapi apa dia mau…?” menimang bahwa chat pekan lalu saja dia tidak buka. Kemudian, ya begitulah, bisa ditebak perkembangannya.
“Saya bingung, Kang…” ujar Daniel sambil menaruh kameranya.
“Varesa?”
“Iya…”
“Sama…”
“Kalau yang berperilaku Maura itu anak SMA wibu yang kelihatannya kosong, masih maklum lah. Ini kurang apalagi coba… sudah dapat yang dewasa, nyambung, terpelajar…”
“Tapi endingnya tetap begitu ‘kan?”
Dan memang benar. Kalau kesalahannya karena metode atau hasil foto, buat apa dia melamar ikut sesi foto kami. Sudah jelas sebelum foto pun dia tertarik dan antusias. Jika perkaranya adalah materi, malahan dari awal tidak ada jumlah uang yang dilibatkan, justru kami yang inisiatif. Aku dan Daniel suka saling hisab, kiranya kami ada kesilapan, kok sepertinya sih normal saja.
Makanya kami sering bingung kalau ceweknya mendadak Maura. Sempat sih kami nasihati perlihal agar hati-hati, sebab di Bandung ada gerombolan fotografer wibu cabul yang kini mulai merambah Thread. Kalau secantik si Varesa, mustahil bakal terlewatkan. Wibu cabul itu bukan cuma membahayakan modelnya, tapi juga selalu kampanye hitam ke model supaya jangan mau foto dengan kelompok lain, termasuk kelompok saya.
Namun demikian, si Varesa itu cukup pintar dan terpelajar. Mungkin salah satu yang paling baik yang pernah kami foto. Masa iya dia sebodoh itu.
Kejadian ini cukup membuat Daniel terpukul. Sebagai kapten, dia kembali kuingatkan bahwa kita sudah mulai harus terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Justru jika kelakuan modelnya normal serta silaturahmi lurus-lurus saja, malah itulah yang aneh…
—
Sosok lain, sebut saja namanya Skirk. Saat itu aku dan Carl terjebak dalam kebohongan pemerintah. Susah payah datang ke Braga hari Minggu demi car free day, ternyata tidak ada. Kalau tahu begitu sih mendingan datang Sabtu, sama-sama kumuh tapi populasi lebih ramai…
Di tengah kegamangan, dari jauh kami melihat sosok yang sangat mencolok. Seorang gadis muda dengan potongan gotik, busana luar biasa minim. Ada temannya dua sih, satu cewek satu cowok, tapi hanya wanita itu yang menarik. Kuberi Carl arahan untuk mengajak cewek itu. Lantas Carl ajak, cewek itu pun menyambut. Rupa-rupanya dia memang ingin geser sedikit agar dua temannya bisa mengobrol, sebab lagi dicomblangin oleh si gotik.
Kurang lebih sekitar setengah jam kami foto-foto. Dia sangat luwes. Tato sangat rimbun di atas kulitnya yang putih. Bisa saja lebih lama sih seandainya dua kawannya tidak merongrong. Aneh, dikasih kesempatan untuk pacaran malah nyusul-nyusul.
Cewek itu bukan orang sini. Tapi dalam beberapa bulan dia bakal kuliah di Bandung sebab akan masuk kampus yang ada fakultas desain. Merasa bisa jadi model andalan, aku menyimpan kontaknya.
Untuk beberapa saat kami rutin berkomunikasi. Dikisahkan, dia sebetulnya ingin segera tinggal di Bandung namun jika belum masuk periode kuliah, orang tuanya tidak berkenan membiayai hidup. Kuceritakan bahwa aku sedang merintis brand fashion skena, dia antusias… ingin ikut magang dll. Jujur aku menyambut baik, sepertinya dia punya potensi, sekalian bisa aku jadikan semacam maskot. Nanti ketika brand aku mulai tayang, biar saja dia yang jadi “owner” bohongan untuk tampil di depan kamera.
Bahkan kalau dia sudah ngebet tinggal di Bandung, silakan saja tinggal di rumah produksi, ada banyak kamar kosong kok.
Suatu malam setelah aku upload portrait dia, seorang cewek yang kukenal – sebut saja namanya Lauma, kirim chat.
“Eh, itu seleb Tiktok, kang…” kirimnya.
“Oh gitu?” aku tidak punya Tiktok jadi tentu saja tak tahu.
“Sudah lihat wajah aslinya?”
“Hah? emangnya palsu?” aku bingung. Aku ‘kan kenal secara langsung, bukan dari sosmed, masa iya kena gocek filter.
Karena dikirimi link, aku penasaran juga. Aku buka di laptop sebab selamanya aku tak mau ikutan Tiktok. Isinya sih kebanyakan video selfie. Hingga akhirnya ada video… tutorial make up.
“Eh kok?” aku agak kaget.
Tapi jujur aku tidak peduli wajah aslinya tanpa make up seperti apa, toh saat portrait pasti make up, dan aku tak minat hal selain fotografi. Aku paham sih make up memang bisa mengubah bentuk, tapi masa sih sedrastis itu. Saat melihat dari dekat, normal saja, bukan yang menor atau gimana. Memang rada gotik, tapi ya sudah. Selama di foto dia cantik.
Maka pekan depannya kami berkesempatan untuk portrait. Ada juga Daniel dan seorang model lain. Dia datang dengan dengan setelan yang jauh lebih seksi lagi, hingga tato yang sambung menyambung melewati punggungnya bisa terlihat jelas.
“Kok ada di Bandung…?” tanyaku.
“Sekalian ada endorse, kak.” jawabnya…
“Hoo… tinggal di mana?”
“Di kos temen aku yang cowok, yang waktu itu…”
Aku berharap dia bohong saja sebenarnya, daripada jawabannya seperti itu, jadinya mikir macam-macam.
“Oh iya, aku bawa ini…” kuambil kantong dari dalam bagasi motor. Isinya adalah sampel celana skena bikinanku.
“Eh… bagus banget bahannya…” gumamnya.
“Harusnya tidak pakai bahan ini, sampel aja. Bahan ini overkill, biaya produksinya hampir 500rb…”
“Tapi nyaman banget loh… bagus desainnya.”
“Nanti pakai ya sesekali pas foto…”
“Gas…”
Agak kurang enak sih sama model satunya lagi, sebab hanya Skirk yang kuberi busana. Habisnya aku hanya tahu ukuran badan dia, kalau model satu lagi belum pernah ketemu.
Setelah menunggu reda hujan beberapa saat, kami berjalan menyusuri rel kereta. Memang Skirk ini sangat fotogenik, rasanya setiap frame bagus. Karena dia punya vape isinya habis, jadi sepanjang foto ngenyot punyaku. Ah… pakaiannya terlalu terbuka sejujurnya. Bahkan saat aku mau ambil foto tato di punggung, tali dia lepas supaya terlihat sempurna.
Hampir sejam kami menjelajah… tadinya ingin rada jauh, namun karena hujan kembali turun, maka terpaksa melipir.
“Sekalian makan deh…?” ujarku. Daniel setuju. Maka kami masuk ke sebuah cafe. Kemudian menyantap hidangan yang lumayan enak.
“Kak, celananya boleh aku bawa? nanti aku modifikasi, bisa untuk artikel baru…” ujarnya.
“Hm, ya boleh saja. Kapan hasilnya?” aku menyruput es teh manis.
“Minggu depan deh.”
“Boleh.”
Bagus dong, selain aku jadi dapat inspirasi desain dari mahasiswi, juga bakal sesi foto lagi. Walau belum kubuka di laptop, aku yakin foto tadi bagus-bagus.
Kami lanjut ke Braga. Foto-foto sebentar. Dia jajan mochi di pinggir jalan.
“Mau?” tanya dia.
“Enggak ah, males cuci tangan.” jawabku.
Aku disuapi dong. Kugigit separuh, baru dia. Aduh.
—
Tapi ya sudah, tidak ada kesenangan yang bertahan lama. Tebak apa yang terjadi sesudahnya.
“Foto si cewek gotik ah kang…” usul Daniel.
“Nah cobalah chat sendiri…” gumamku.
“Ok.”
Aku… jika orangnya memutuskan tidak membalas, tak mau lagi chat. Harga diriku terlalu tinggi. Melihat sepak terjangnya aku jadi teringat karakter Tomie karya Junji Ito. Dia mudah memikat lelaki, namun akhirnya para lelaki akan membunuhnya sebab dia hanya hadir dalam kehidupan seseorang untuk merusak.
Sudah sejak beberapa pekan lalu, Skirk permanen tinggal di Bandung. Dia sudah jadi mahasiswi sini. Tidak begitu berpengaruh, yang dekat hanya jarak… jiwa dia jauh. Dia hanya hantu.
—–
“xG kita di jalanan hari ini payah…” ujar Daniel. Padahal kami motret di car free day, yang akhirnya ada lagi.
“Haha, segala usaha sudah dilakukan.” gumamku.
“Harapan sih, portrait dulu, terus dapet satu dua deh di street…”
“Untuk minggu depan, sudah ada calon…”
“Ada…” tutupku.
Entah akan sebagai Maura lainnya, atau akhirnya kami seperti Tatsuo Suzuki, memiliki model andalan yang setia dan loyal. Yang selain cantik foto, juga waras secara kejiwaan.

