OTSUKARE!

Dewasa ini saya amat “geuleuh” dengan kata itu, sebab makin identik dengan…

Tukang foto yg suka motret cosplayer di event wibu. Secara terjemahan sih artinya “terima kasih untuk kerja kerasnya”. Tapi di sini, “otsukare” sudah jadi semacam metode pembayaran selain tunai dan QRIS, namun hanya berlaku jika kedua pihak sama bodohnya.

Kayaknya belum lama ini aku menulis artikel yang mirip-mirip deh. Entah mengapa rasanya harus melanjutkan. Tidak berarti setiap ada kejadian baru, mesti aku perbarui… kalau begitu sih nanti gak ada habisnya. Aku sendiri pun kerap bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya yang membuatku kesal. Haruskah aku peduli pada mereka yang bahkan tidak menghargai dirinya sendiri…?

Bulan lalu aku dan Randy portrait satu cewek, sebut saja namanya Lynette. Portait beneran bukan street portrait seperti lazimnya kami. Modelnya boleh nemu di event wibu memang, namun tampaknya masih bersih dari kontaminasi. Uang jajan dan ongkos sudah kami siapkan. Di sela sesi yang banyak terhenti karena hujan, seperti biasa Randy mau mengecek kejiwaan cewek yang kami foto.

“Eh kamu pernah diajak foto sama si A, B dan C gak…?” tanya Randy.

“Kalau di event ya pernah kak… kalau di luaran sih belum… tapi udah pada ngajak…”

“Jangan mau!”

“Eh kenapa?”

“Nanti kamu diajak foto jauh berjam-jam, gak dibayar gak dikasih makan. Terus bajunya dikasih yang seksi banget…”

“Ih serem gitu…”

Terlebih lagi si cewek yang kami foto ini ternyata masih SMP, walau potongannya kayak anak kuliahan. Sekadar pakai hot pants paha putih berkilauan depan publik sih dia gak ragu. Namun saat foto, kami suruh pakai rok dan kaos kaki panjang, agar jangan terlalu terbuka. Demikian, si cewek sudah kami beri paham siapa-siapa saja nama yg “berbahaya”, baik yang suka foto puluhan jam tanpa kasih makan, hingga yang punya motivasi terselubung ngajak nude art. Tapi sepertinya dia tahu sesuatu yang kami belum tahu.

“Tahu gak kak…” ujarnya. “Jadi ada satu fotografer gitu, tiap yang foto dia bawain kostum…”

“Bagus dong, jadi gak usah beli.”

“Dia bawainnya rok pendek banget bahan latex gitu…”

“Wah…”

Aku dan Randy saling berpandangan, sepertinya kami sepemikiran.

Tebak apa yang terjadi satu pekan kemudian. Lynette foto dengan si latex, dan beneran dia pakai rok mini hitam mengilap. Memang mesti diakui, daya tarik cewek ini ya pahanya yang putih mulus… namun dia masih SMP. Sudah begitu, ketiak dan nenen kemana-mana pula. Segera aku chat…

“Lho katanya takut…?”

“Iya kak, aku pengen buktiin.”

Sebetulnya… ya harapan kami memang ketinggian. Bagaimana juga, si Lynette ini wibu, suka bercosplay. Jadi memang agak susah untuk ditebak apalagi dipercaya. Untuk lebih menguatkan upaya “perlawanan” dari nasihat kami, Lynette beberapa hari kemudian upload foto rebahan di kasur ala kamar cewek Jepang, difoto oleh tak lain tak bukan, si wibu hoodie (cek kisah sebelumnya) yang punya reputasi motret cewek sepuluh jam tanpa kasih makan minum.

Dewasa ini aku suka mantengin Thread. Entah gimana awalnya, mendadak feed jadi banyak celoteh-celoteh tentang “collab”. Mulai dari cewek yang mau wisuda, lantas mengundang collab fotografer. Hingga tukang foto yang gak mau keluar modal, post pengumuman cari model yang mau collab.

Terus terang, ini agak membuka pandanganku. Ternyata cewek cantik pun memang kadang butuh foto, bak gayung bersambut, memang banyak yang siap memotret. Jadi tidak melulu fotografer gratisan macam si hoodie nyari cewek ke mana-mana. Demikian, collab ‘kan kependekan dari kolaborasi. Semestinya kedua belah pihak diuntungkan.

Aku bukannya mau nyeleneh sendiri. Udah simpel aja, foto saya jelek, selesai. Tapi saya sanggup mengeluarkan uang. Jadi saya akan bayar model (sumpah sampai kapan pun saya akan tetap pakai kata ‘model’ dan tak akan ganti jadi ‘muse’) dengan uang. Kewajiban saya adalah bayar pakai uang, bukan bayar pakai foto. Saya sadar diri, belum sehebat Daido atau Tatsuo… belum sampai hati aku menukar keringat dan kerja keras wanita pakai foto bokeh ngejreng warna-warni.

Demikian masih suka ada warga binaan yang bertanya, kenapa saya tak pernah tag /mention orangnya dalam sebuah post portrait. Well…

(1) Karena saya gak kenal orangnya. sebab kebanyakan bukan portrait beneran, melainkan street portrait alias saya ajak cewek asing yg ketemu di jalanan. Saya gak pernah tukeran IG. hal-hal seperti itu saya serahkan ke kawan saya, Randy. Tapi kalau diminta, fotonya ya saya kasih, tentunya titip via Randy. Sejujurnya saya gak terlalu suka chat sama cewek yang ketemu di jalan, haha… kalau ngobrol langsung sih seneng-seneng aja. Mereka punya kecenderungan berubah jadi orang yang berbeda ketika nanti lanjut chat, jadi sombong atau pura-pura gak baca… kebetulan saya emosian, jadi hal-hal seperti itu sangat aku hindari.

2) Kamu pernah gak, nemu cewek asing yg tak bisa pose, kenal dari dia SMP, terus di awal-awal selalu portrait bareng, sampai dia mulai jago dan dikenal. nah pas udah terkenal, jadi susah diajak? Kalau mau nostalgia, aku punya seorang modal yang sangat paham apa yang aku inginkan… sudah deket banget, kayak adik sendiri. Kadang aku ajak foto bukan karena sangat ingin, melainkan juga untuk bantu perekonomian dia… maklum, dia tinggal bersama ayah yang tukang sabung ayam, harus bayar kontrakan dll dari hasil jadi model foto.

Dibilang cantik banget sih enggak, tapi dia tuh kayak pakai susuk. Auranya dapet banget, sangat pas dalam frame. Tapi namanya cewek apalagi cakep, ya lama-lama terkenal juga. Sialnya, setelah terkenal… dia jadi sombong. Ya begitulah.

Atau… model yg kamu “temukan” bakatnya, dicuri fotografer lain lantas dicuci otaknya supaya jgn mau lagi foto sama kamu? Ada, namanya Hu Tao… saya menemukan dia di kampus, sebelumnya tak pernah model-modelan. Secara teknis, kalau ada manajer, saya adalah orang yang paling berhak… tapi aku ‘kan tidak begitu.

Alkisah, saya punya mantan kawan (yang sialnya ternyata satu circle  dengan si wibu hoodie. Pokoknya dia itu si paling bokeh dan tone “Classic Negative” Fuji. Kalau dia punya model, pelit minta ampun gak pernah ngajak. Tapi begitu orang lain punya, suka mohon-mohon agar diajak.

Suatu ketika di Minggu sore yang tenang, saya ada janji portrait santai dengan Hu Tao (tentunya ada fee). Pagi harinya si buluk itu sudah portrait cewek lain, tentu pula tidak ngajak saya. Eh… hanya karena lihat story yang saya bikin, dia muncul dong di warung kopi Hu Tao dan saya lagi nyantai. Terus ikut-ikutan jalan moto. Bukan cuma sok akrab, tapi minta kontak si Hu Tao. Berikutnya, dia mendadak jadi sering portrait si Hu Tao.

Tentu Hu Tao bukan anak apalagi budak saya, manajemen juga bukan. Tapi etika minimal ada lah, basa-basi ngajak. Dia pakai model yang saya temukan loh, dan dia pertama kenal ketika sesi saya. Lebih menjengkelkan lagi, sampai sekarang si Hu Tao masih dipakai, diajak foto-foto seksi pakai celana dalam doang. Rasanya itu “too much”, dia mahasiswi dan dari keluarga baik-baik, bukan yang potongannya bakal umbar aurat. Dengan saya pun kalau foto selalu pakai baju yang normal.

Khusus si buluk ini memang tak tahu malu. Saya kerap dengan cerita dari kawan lain, model mereka “dicuri” lantas cuci otak, sehingga ketika kita pengen ngajak, si ceweknya mendadak nolak.

Tapi tetap sih. Alasan utamanya, tak model yg kamu sayangi dikerjai sama fotografer gratisan, foto sepuluh jam oleh sepuluh orang tp gak dikasih makan atau ongkos, terus dipaksa buka-bukaan…? jangankan tag / mention, saya follow pun kadang tidak. Semua itu demi melindungi mereka dari potensi bahaya.

Ya mungkin saya juga tidak membuka jalan mereka untuk jadi lebih dikenal, namun sekali lagi itu bukan kewajiban saya. Aku tidak collab, aku bayar. Dan kewajibanku adalah bayar sesuai kesepakatan, bukan untuk bikin mereka jadi terkenal.

Mungkin di dunia ini hanya Elisa, model saya yang nurut dengan segala nasihat, dan masih aman dari cengkeraman tangan-tangan usil. Namun jika akhirnya dia berpaling, kepada siapa aku harus menyimpan sisa kepercayaan ini…

Ah… kadang aku juga bertanya pada diri sendiri, kenapa harus repot-repot mengurusi orang lain yang bahkan tak peduli pada dirinya sendiri. Tapi jika kamu merasa punya pendirian, maka perjuangkanlah. Hanya lakukan dan lanjutkan jika itu sesuai dengan kata hatimu.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram