Nyetrit Pakai Lensa Zoom F/2.8 , Gak Enak

Ini adalah kali pertama sepanjang hidup, saya beli lensa zoom. Pengecualian buat lensa kit bawaan kamera yang biasanya langsung saya jual lagi, kali ini saya sengaja beli… langsung dua malahan.

Dalam setiap brand kamera, pasti punya lensa zoom dengan kaliber 24-70mm. Baik dalam bentuk kit lens yang bukaan F/3.5 dan semakin gelap ketika zoom in, atau juga versi rada elit yang bukaannya konstan di F/2.8 mau zoom sejauh apapun. Ini biasanya mahal. Tapi semahal-mahalnya, saya ‘kan pakai kamera MFT jadi ya tetap murah.

Bukan berarti saya sangat ingin lensa semacam ini, saya punya beberapa lensa fix dengan FL bervariasi dan bukaannya pasti lebih besar. Belakangan ini saya menghadapi masalah, langit selalu hujan. Tidak berarti saya jadi ingin motret sambil hujan-hujanan karena jangan berharap ada adegan ratusan orang jalan pakai payung transparan macam di Shibuya… tapi ya karena saya pakai E-M5 II yang anti cuaca, masa lensanya gak tahan air. Terkadang lagi jalan tiba-tiba gerimis, kaget juga, jadi alangkah baik kalau ada sedikit antisipasi. Hal-hal seperti ini tidak pernah terpikirkan ketika pakai kamera yang tidak anti hujan, langsung masukin aja ke balik jaket atau dalam tas. Kok malah jadi repot ya hahaha…

Anyway saya gak tahu bagusan mana antara Lumix 12-35mm dan Olympus 12-40mm, jadi saya beli keduanya saja. Ya nanti saya jual salah satu di Tokopedia. Lagian nih ya, inilah kegembiraan pakai MFT. Dua lensa ini kalau harganya digabung, setara satu lensa Fujinon 16-55 yang jarak zoomnya sama, built quality bisa diperdebatkan mirip-mirip, dan bukaan pun konstan di F/2.8. Saya bandingkan dengan Fujifilm karena saya tahunya itu haha. Tentu saja yang Olympus apalagi Lumix jauh lebih kompak, walau tetap sangat besar buat saya.

kiri : Olympus M.Zuiko 12-40 F/2.8 “Pro”kanan : Lumix X Vario 12-35mm F/2.8

Lensa zoom bukaan konstan seperti ini beda dengan lensa sapujagat yang mencakup jarak zoom lebih luas. Lensa sapujagat tuh bukaan F pasti kecil, hasil juga seadanya, yang penting bisa motret. Lensa zoom 24-70 F/2.8 tuh makanya mahal, karena kualitas optiknya sangat bagus. Walau tentu misanya 35mm pada lensa zoom tidak akan sebagus fix 35mm, tapi asyiknya ya setara bawa beberapa lensa, yang mana lebih praktis daripada bawa beberapa lensa ‘kan.

perbandingan ukuran lensa Leica 15mm F/1.7 dengan Olympus 12-40 F/2.8

Pertama kali pakai lensa-lensa ini, rasanya… besar dan berat sekali. Terbiasa pakai Ricoh GR dan semacamnya, pakai mirrorless dan lensa pancake saja pun sudah agak kagok. Apalagi pakai lensa mug begini. Terpasang di E-M5 II, tampilannya sangat tidak proporsional dan berat ke depan. Pasti hanya cocok dipasang di GH5 atau E-M1 semacam itulah, yang bodinya besar.

Dan bodohnya saya, karena terbiasa pakai lensa fix, saya sering lupa kalau lagi pakai lensa yang bisa zoom. Terus saja saya pakai di paling wide hahaha… Oh iya, saya tidak akan membandingkan lensa Lumix dengan Olympus karena buat apa… saya pun baru sempat pakai yang Olympus, tampaknya pun saya lebih sreg pakai yang Olympus karena ada skala jarak pada ring manual fokusnya, cocok untuk “zone focus”.

12mm (=24mm) pada F/4, cantik tapi harus pakai masker

Saya bawa lensanya nyetrit. Gak terlalu nyetrit juga sih, cuma ke acara cosplay. Tapi kau tahulah, saya ‘kan ngincernya cewek cantik, kalau di jalanan Suriah van Java sangat amat sulit dewasa ini.

Begitu sadar bisa zoom, saya jadi pemalas. Alih-alih mendekat dan cari komposisi, ya sudah zoom saja, akhirnya background jadi terkompres padat. Dan rasanya aneh saja kalau zoom sampai 80mm pakai bukaan F/8, gak ada artistik-artistiknya… kalau sudah pakai focal length portrait, ya pakai bukaan terbesar saja biar bokeh. Kalau bukaan lebar dan semuanya fokus, rasanya aneh. Tapi sebisa mungkin saya ingin pakai paling wide, zoom hanya ketika benar-benar tidak bisa mendekat atau ingin efek artistik tertentu seperti kompresi pada wajah, tapi susah… bikin jadi pemalas.

Kamu pasti bertanya, F/2.8 di MFT bisa bokeh gitu? ya tentu saja bisa, ‘kan focal length panjang akan mengompres background jadi padat, selanjutnya urusan elemen lensa, bakal menerjemahkan bidang di luar fokus jadi seperti apa. Menurut saya sih bokehnya cukup, tapi harus di F/2.8 supaya maksimal.

Seperti di bahas di awal, lensa semacam ini mahal karena punya kualitas optik. Saya anti bahas ketajaman, karena ketajaman tidak berpengaruh terhadap kualitas foto, kalau kata saya. Tapi ya sudahlah, lensa ini tajam semenjak wide open. Sweet spot di F/4, di atas itu gak banyak berubah. 

40mm (=80mm) F/8 , seharusnya pakai wide sih ini…

Pokoknya tangan saya pegel semua, mana kamera ini gak ada grip yang memadai. Oh iya mungkin karena bagi orang awam, lensa besar itu terlihat “profesional”, saya jadi kena pengalaman aneh. Jadi di Braga tuh lagi semarak tukang foto goceng, alias jasa foto dengan harga Rp5.000,- per frame, dan dengan luar biasa mereka gelar stand lighting di tengah jalan bikin sumpek. Kebanyakan ‘kan kameranya DSLR dan lensa besar, lengkap dengan flash menancap. Eh… kemarin saya disamperin ibu-ibu, ditanyain berapa kalau mau difotoin. Astaga… saya jawab aja, saya amatir cuma hobi. Aku tidak akan pernah minta bayaran sih, malahan aku yang bayar… tapi ya jangan ibu-ibu juga.

Lagian saya ‘kan pakai Olympus, bukan DSLR atau Sony.

12mm (24mm) F/8 , tuh lihat payung lighting di belakang… itu jasa foto goceng yang saya maksud.

Itulah kesan-kesan pakai lensa zoom F/2.8. Enaknya, serasa bawa beberapa lensa dengan kualitas mantap. Gak enaknya ukurannya besar sekali, dan lensa model ini memang selalu besar. Kecuali lensa kit, yang dizoom dikit langsung gelap. Nanti sih kalau sudah tidak musim hujan, saya bawanya lensa fix lagi yang kecil mungil. Street fotografi itu enaknya seminimal dan seringan mungkin. Kalau buat studio atau nikahan, itu beda lagi, wajib punya kayaknya lensa semacam ini.