Demi terus menjaga gairah memotret yang padam-padam terus, apa saja akan kulakukan. Termasuk beli gear gak penting serta hunting dengan teknik yang agak lain…
Lensa fisheye… beberapa bulan lalu sempat beli sih, TTartisan 7.5mm F/2.8. Aku lebih familiar dengan Samyang 7.5mm sebetulnya, tapi waktu itu susah dicari di Tokopedia. Lalu juga TTartisan tampak menggoda karena F/2 dibandingkan F/3.5 pada Samyang. Ya sudah beli TTartisan.
Seminggu saya jual lagi.

Bukan berarti build quality atau performa optiknya buruk. Lensa itu terlalu besar dan berat. Setiap saya pakai flash, sekitar 30% bagian bawah frame pasti gelap semua. Selain faktor field of view yang sangat lebar, ya lensa ini panjang sekali bentuknya, jadi ngeblok flash. Niat saya bikin efek slow sync melintir distorsi jadi buyar karena fotonya pasti gagal. Lagian, seperti biasa, ini aslinya lensa buat APSC makanya sudut pandangnya tidak seluas lensa yang memang untuk MFT (waktu itu kamera saya Lumix, sekarang Olympus). Lalu juga itu lens cap TTartisan parah sekali, sangat longgar, kebayang aja di dalam tas lepas sendiri lantas lens cap logam itu menghantam bagian depan optik yang cembung. Aaaaaah.
Akhirnya pekan ini saya beli Samyang. Bukan lensa yang asing, sekitar tujuh tahun lalu aku pernah punya. Saya ingat betul, lensa ini mungil, jadi perkara cahaya flash kena block harusnya bisa disingkirkan.
Wah lensa ini tongkrongannya keren sekali. Ukurannya pas, fisik metal semua dan ada garis merah macam lensa EOS L. Tak lain tak bukan untuk mencoba acara ini, aku berangkat ke acara cosplay, seperti biasa. Sengaja lensa-lensa lain yang lebih normal saya tinggal di rumah, hari ini full pakai fisheye. Ingin tahu saja, kayak apa hasilnya…
Lensa ini fokusnya full manual. Kalau mau ada AF, belinya yang merek Lumix, tapi harganya tiga kali lipat lebih mahal. Itu pemborosan, karena jelas lensa semacam ini kita tidak butuh AF. Set saja di infinity, maka apapun yang jaraknya di atas 30cm dari kamera, pasti fokus semua. Apalagi set bukaan di F/5.6 ke atas, sudah pasti semuanya tajam.
Catatan : kalau mau beli lensa fisheye, harus ada kata “fisheye” di nama lensanya. Kedengarannya sangat jelas, tapi orang awam bisa saja salah. Focal length sangat lebar atau bahkan sama, bisa saja adalah lensa ultra wide tanpa distorsi melengkung, contohnya Laowa 7.5mm F/2. Walau ya masa salah beli, lensa ultra wide non fisheye biasanya dibanderol dengan harga jauh lebih mahal.
Jepret-jepret pakai ini, cepat sekali. Ya selain tidak ada jeda AF, kita pun tidak butuh muter-muter ring fokus layaknya lensa MF kebanyakan. Posisi ring fokusnya sudah pasti selalu di infinity kok. Bisa dilihat pada satuan jarak di ring fokus. Bisa saja diatur tapi adanya 30cm ke bawah, memangnya mau foto apaan… serangga…?
Yang harus diperhatikan, karena distorsinya luar biasa, ya namanya juga fisheye. Maka subjek sudah pasti harus benar-benar di tengah. Tidak boleh di area rule of third apalagi terlalu di sisi, nanti dia bakal melengkung. Sebetulnya lensa macam ini biasa digunakan untuk motret city scape atau maksimal orang main skateboard. Saya saja yang kurang kerjaan, dipakai street dan portrait.
Pakai flash, sial, masih ada bagian hitam di bawah frame. Ini tidak terjadi bahkan kalau saya pakai lensa Olympus 12-40 yang besar. Maka jelas, ternyata ini adalah faktor field of view dari focal length super lebar. Namun hitam-hitamnya jauh lebih sedikit daripada pas pakai TTartisan. Ini cukup tidak bikin sebel, masih bisa saya crop tapi saya jarang crop foto sih.
Hasil fotonya… wah, saya suka sekali. Walau micro contrast serta DR agak-agak tidak sebaik lensa Olympus, tapi warnanya enak sekali. Saya malah agak jarang bisa bikin foto monokrom dengan tone seperti ini kalau pakai lensa normal. Kadang susah ditebak, fotonya bakal seperti apa (kalau pakai flash). Tapi kalau full pakai cahaya alami, itu ya gampang-gampang saja, cuma kurang greget, jadi kayak jepretan ultra wide iPhone. Makanya kita beli kamera beneran, ya supaya bisa bikin foto yang tidak bisa dijepret pakai iPhone dong…
Intinya saya gembira, padahal cuma ke acara cosplay yang sering juga sih saya datangi, tapi jepret-jepret banyak sekali. Selain ada sensasi baru, tone warnanya enak. Tapi saya pakai Olympus, belum coba kalau di bodi Lumix.
Soal komposisi juga harus dipertimbangkan. Sekalipun sedang mendung, mau gak mau saya harus nembak ada langitnya, supaya seimbang dan kalau cembung isinya aspal semua, buruk sekali ‘kan jadinya.
Aaaaah, saya puas sekali, apalagi mengingat harga lensa ini. Dahulu kala ini harganya 4 jutaan, bekasnya 3 jutaan. Di masa sekarang, bisa dapet di bawah 2 juta saja. Kalau gak salah lensa ini ada juga buat Fujifilm, tapi 8mm, tak apa ‘kan crop factornya beda. Artinya mereka niat bikin, beda mounting beda pula formulanya, gak asal tebas macam TTartisan.
Oh iya, esoknya aku pakai untuk portrait…
Tadinya saya berpikir, lensa ini ya buat selingan saja, mana mungkin jadi lensa utama untuk hunting. Namun kayaknya bakal rutin saya pakai, minimal saya bawa. Selain memang pakainya menyenangkan, dijual juga bakal susah karena tidak sembarang orang niat banget beli lensa begini.




















