Sempat Kaya dari Jualan Kamera, Tapi… (part 4 – end)

Ini tengah malam hampir dini hari. Kepala saya pening, hal yang sangat tidak kuinginkan, terjadi juga. Setiap tindakan bakal menghadirkan konsekuensi, begitu juga mereka.

Memang gelagat celamitan Bennett sudah pernah terlihat. Dia beli kamera T4 dari uang sendiri, dan keberatan beli baterai cadangan karena harganya hampir sejuta. Dia sogok Thoma pakai parfum dan minyak rambut. Tadinya aku merasa malu sudah mengenalkan orang celamitan kepada pemasok bisnis, tapi lama-lama ternyata sogokan demi sogokan itu ada maksudnya. Juga dia sering minta lensa kaliber landscape untuk dirinya sendiri, dia ceritakan sih, dan aku merasa heran karena harusnya minta barang untuk dijual. Tapi aku tahunya sebatas itu, tak menduga segala tingkah kepo dan oportunis akan berujung pada penggelapan.

Aku marah pada keduanya, karena permainan ini bisa terlaksana karena dua pihak bersepakat main belakang.

Langsung aku ketik panjang lebar. Belum pakai maki-maki, tapi nanti pasti. Teks yang hampir sama untuk dua orang berbeda, intinya, aku tegaskan bahwa akulah yang memulai bisnis ini, kemudian mengajak orang lain gabung. Bukannya didirikan bersama apalagi aku yang ikut ke Bennett. Tak lupa aku telepon beberapa kali, tentu tak ada yang jawab karena tengah malam.

Pagi hari, ada balasan dari Bennett.

“Sabar kang, jangan emosi dulu.”

“Apaan lu, tak tahu diri. Udah berapa lama main belakang…”

“Baru tiga kali kiriman, kang…”

“Baru??!”

Demikian juga Thoma, ada balas, di waktu yang hampir bersamaan.

“Iya kang, saya diajak sama Bennett…”

“Supaya apa mas? dia bayar lebih atau apa?”

“Enggak kang…”

“Saya gak terima.”

“Maaf kang.”

“Mau cerita ini saya sampaikan ke pihak atas? gampang buat saya, banyak kenalan fotografer senior sana…”

“Jangan kang…”

Bennet hanya minta maaf dan berkilah tak akan mengulangi. Yang mana tentu sulit untuk dipercaya. Sama sekali tidak ada bahas ganti rugi, dan kalaupun bahas, sangat sulit untuk dibuktikan, berapa unit yang telah digelapkan. Dari rekam jejak bukti yang kudapat, dia pasok ke pengepul-pengepul yang tidak aku kenal. Dia cukup cerdik untuk tidak jual di forum jual-beli manapun, yang berisiko kupergoki.

Sedangkan Thoma, sedikit lebih mending, karena dia tahu punya risiko lebih besar. Dia pasti sangat paham, aku ini blak-blakan dan punya pengikut.

“Mas, sebagai permintaan maaf, saya kirim T3 dan dua lensa, buat mas pakai.. katanya lagi suka ngevlog ‘kan…”

“Saya bisa beli sendiri mas. Saya gak butuh permintaan maaf, saya butuh komitmen, ini arah bisnis mau gimana…”

“Menurut akang baiknya gimana…?”

“Mulai sekarang, kembalikan seperti dulu, kirim barang hanya ke saya.”

Kendati demikian, tak pernah lagi ada barang ke saya. Aku juga tak pernah lagi mendatangi gudang. Di sana masih ada aset-aset hasil patunganku beberapa puluh juta, juga barangkali potensi-potensi pendapatan yang seharusnya aku miliki. Aku malas meminta-minta pasokan ke Thoma. Kalau memang pikiran mereka sudah melenceng, aku bisa apa. Kalau memang ada transaksi di belakang, aku sudah tak bisa mengendalikan.

Beberapa bulan kemudian…

Siang yang terik. Aku minum es kopi di halaman rumah. Berhentilah sebuah mobil, rupanya paman saya. Yang potongannya macam Murad “Preman Pensiun.”

“Yang mana yang mau dilepas?” tanya dia sambil bakar rokok.

“Hijau dulu ajalah…”

Kami membicarakan salah satu motor sport koleksiku. Pada akhirnya, tabungan saya berkuran juga kalau gini-gini terus. Jadi aku titip jual ke dia. Biasanya agak cepat. Ya kalau laku, bisa buat saya hidup beberapa bulan. Tentu muncul lagi perasaan itu… kalau saya masih bisnis kamera, alih-alih menjual salah satu koleksi motor, yang ada malah bakal bertambah.

“Mau mamang yang urus?” ujarnya.

Paman saya adalah satu dari sedikit orang yang aku ceritakan kronologi lengkap kasus penggelapan ini. Dia sesepuh di organisasi kepolisian. Melihat keponakan kesayangannya tidak lagi hedon, dan malah santai-santai terus, dia pasti prihatin.

“Gimana ya… sulit dibuktikan angka-angkanya, berapa yang hilang, berapa yang seharusnya aku miliki…”

“Mamang gak terima, bajingan bener. Diajak ikutan bisnis, malah nikung.”

“Iya, begitulah…”

“Mau mamang habisin aja orangnya…?”

“Jangan. Bikin dia mati atau sekarat juga gak bakal balikin kerugian saya, mang.”

Tapi aku ingat, sesuatu dengan angka pasti. Yakni aset-aset yang kumiliki di sana.

“Paling urusin aja aset-aset saya di sana…”

“Kirim nomornya.”

Tak lama kemudian, paman saya menelepon sambil marah-marah. Sejurus kemudian, ada chat dari sosok yang tidak ada foto profilnya.

“Apa kabar kang? terima kasih sudah diingetin. Aset-aset jualan masih ada, aman, keuntungan juga ada. Asetnya mau diambil bagi dua apa gimana…?” begitu isinya.

“Balikin dalam bentuk uang. Kalau mau urus-urus dalam bentuk barang, silakan. Tapi bukan saya yang ke sana, tapi paman saya.”

*****

Kemarin, di warung kopi kesukaan.

Fariz menyeruput kopi susu khas kedai kopi ini, lantas membakar rokok kreteknya. Sahabat saya sejak jaman kuliah ini terlihat makin gemuk, namun tak dinyana sekarang sudah jadi developer web handal.

“Jadi, duit lo balik?”

“Balik sih, tapi keuntungannya gak jelas. Mau minta kejelasan apa lagi dari orang yang kebukti pernah maling, iya ‘kan?”

Dia mengepulkan asap tebal. Suasana warung kopi siang ini begitu lowong, malas, dan tenang. Kuperlihatakan riwayat chat Tokopedia padanya, bahkan setelah beberapa bulan aku tidak jualan lagi, masih banyak pelanggan setia yang bertanya, kapan stok ada lagi.

“Terus, bisnis kamera gimana?” tanya dia.

“Ya, gua udah stop kalau dari merek itu. Gak ada lagi gua dikasih.”

“Mungkin gak masih jalan di belakang…?”

“Yah… semakin dipikirin juga cuma bikin marah ‘kan.. gua gak mau mikirin. Ya asal mereka bisa bawanya aja.”

“Iklas lo?”

“Kagak… gua sumpahin dari setiap rupiah duit yang harusnya punya gue, sperma mereka berkurang satu mili…”

“Hahahaha…”

Kami berdua menyeruput kopi. Hidup itu sederhana, minum kopi sambil santai merokok. Itu juga bikin senang ternyata.

“Si orang dari brand kameranya, lu gas gak?”

“Enggak sih, pas keadaan normal aja orangnya kuran waras, bales seminggu sekali. Apalagi udah kejadian gini, makin ilang aja…”

“Ada bisnis lain…?”

“Gua kepikiran main lagi di fashion sih, kayak dulu…”

“Boleh tuh, gua ikutan…”

“Tapi sebelumnya…”

“Apa?”

“Gua mau tulis kisah ini. Lu bikinin gua website ya, tar isinya cerita-cerita ama foto-foto gue…”

“Siaaaap.”

“Eh ntar kalau cerita maneh sampai dibaca sama petinggi brand itu, gimana?”

“Yaa, gak apa-apa. Semua boleh baca, gratis.”

Demikian, Fariz membuatkan saya website ini, sambil ngopi di kedai kesukaan. Tak lama, banyak iklan mulai tayang. Aku memang menyukai Preman Pensiun, namun bukan berarti aku harus berbisnis dengan oportunis dan ada perebutan bisnis, walau sebetulnya bisa saja. Aku percaya, ketika satu pintu tertutup, maka akan ada pintu lain yang terbuka. Tapi ketika kita menutup pintu orang lain, maka percayalah, tuhan akan menutup pintumu, dengan segera.

Saat ini, aku menjalani hidup dengan menulis, memotret serta mendesain pakaian pria. Sangat tidak bisa hedon seperti tahun lalu saat berbisnis kamera. Namun hidup sudah punya ceritanya tersendiri. Benar kok, selama kita masih bisa bersantai sambil menikmati secangkir kopi… apa lagi?

*****

*Segala yang terjadi dalam cerita ini adalah kejadian sebenarnya. Jika ada kesamaan tokoh, kejadian atau merek, silakan laporkan langsung pada orangnya. Bilangin aja, dia saya jadikan bahan cerita. Kalau gak terima, silakan konfrontasi. Hehe.

Baca part 3