Lagian kalau kamu sudah merasa jadi seorang street fotografer, pasti rasanya bakal aneh kalau jalan-jalan tanpa kamera. Kita tidak tahu kapan momen muncul, dan sekali pun tidak muncul-muncul, tidak apa. Itu makanya saya selalu menyarankan bawa kamera yang kecil sajalah, tidak usah gantung benda seberat hampir 2KG di leher. Lensa juga satu cukup, 28mm 35mm atau 50mm kalau fix, kalau zoom ya yang wajar saja di kaliber kisaran 24-70mm ‘kan.
Saya kalau hunting di tempat super mainstream di Bandung, misalnya kawasan Braga, dan saya sendirian saja pakai Ricoh GR III. Sedangkan kebanyakan “street tog” lain pakai mirrorless, dan bahkan DSLR walau entry level. Saya merasa lebih samar, lebih diabaikan oleh orang-orang di jalanan, juga lebih dimaklumi kalau jeprat-jepret karena mungkin dianggapnya turis. Kamera pocket bisa apa sih? Paling buat tugas sekolah, atau tender proyek pertambangan.
Pemahaman orang awam yang sangat awam dan kadang terlampau awam bahwa DSLR itu pro, karena besar, barangkali buas dan bertenaga. Sedangkan pocket adalah mainan, murah, amatir, sebatas hobi dan apapun itu, malah menguntungkan. Bukankah pendapat awam sama sekali tidak penting toh mereka tidak membayar kita. Yang terpenting adalah kamera itu bekerja dengan baik dan menghasilkan foto yang kita inginkan.
Kamu tidak perlu jelaskan panjang lebar bahwa Ricoh GR III itu harganya 14 juta sedangkan DLSR entry level beserta kit lens para urbex itu jauh lebih murah. Gak usah. Poin saya adalah, kepuasan diri sendiri adalah yang utama. Jangan karena takut disangka amatiran, lantas memaksakan diri harus punya DSLR, lalu hunting sejauh 10KM jalan kaki gantung kamera berat sampai patah leher. Sangat tidak penting untuk memuaskan orang lain yang tidak punya kepentingan. Jangankan pendapat orang awam, pendapat expert saja kadang tidak melulu harus didengar. Ya misalnya obrolan ngibul saya ini hahaha.
Lebih ringan, lebih menyenangkan. Bebas dari incaran perampok. Lebih fleksibel bergerak dan mencari sudut terbaik.
