Lima Street Tog Panutan Saya~

Salah satu cara terbaik untuk terus berkembang adalah punya guru yang tepat. Tidak berarti kita diangkat jadi murid macam di film-film kungfu. Kenal gak kenal, kalau saya rasa dia hebat dan bisa bikin saya ikutan hebat, saya yang angkat dia jadi guru. Haha.

Orang-orang dalam daftar ini tidak pernah berubah kok. Suatu ketika, saya punya Leica Q… mahal sekali. Baterai cadangannya tak kalah mahal… nah saya punya tradisi, alih-alih menempel stiker bertuliskan A B C atau 1 2 3 sebagai penanda, saya selalu menulis nama fotografer yang saya sukai. Khusus untuk yang Leica, semua baterai saya tempeli nama-nama di bawah ini. Mereka orang-orang spesial untuk saya, jadi harus ditempel di Leica. Kalau sosoknya biasa saja ya berakhir di Kingma seratus ribuan untuk Lumix juga cukup.

Berikut nama-nama yang menginspirasi saya. Tanpa urutan spesifik siapa yang lebih hebat atau berpengaruh. Semua sama hebatnya…

catatan : Sekali lagi, list ini tentang street fotografi ya. Genre saya ya itu. Fotografer landscape, wild life, Toktok, wibu dll, saya kurang kenal harap maklum.

copyright Tatsuo Suzuki

Tatsuo Suzuki

Beliau ini yang membuat saya menemukan arah di dunia fotografi. Kejelian, keberanian, serta visi memotret beliau memang tiada duanya. Awal saya menemukan salah satu foto beliau di tahun 2015, saya langsung terpukau. Selalu penuh emosi, gairah, serta rasa cemburu untuk ingin juga bisa sepertinya. Bagaimana caranya kok bisa begitu.

Saya benar-benar ingin berkenalan dengannya. Makanya waktu itu ketika saya lihat dia pakai Fuji X100T, saya ikutan beli. Ya, skill dan lokasi motret beda jauh, minimal kameranya sama dululah. Begitu ‘kan idamannya… sama seperti kalau kamu beli sepatu bola Nike, karena ingin sehebat Ronaldo.

Saya komen di fotonya, kurang lebih begini… “Mas, saya beli X100T demi bikin foto seperti anda. Kalau berkenan, tolong berikan saran…” , tak lama kemudian dia DM saya, setelah like semua foto di feed saya. Dia berikan wejangan, tentang tujuan kita ada di jalanan, apa yang harus kita lihat, dll dsb.

Kalau sekarang sih ya sudah akrab… lewat Storyofthestreet saya pernah kerja sama, juga saya pernah jadi penyalur resmi  buku Tokyo Friction, dengan seijin dia. Bisa saya chat kapan saja, tapi ya malu juga kalau gak ada kepentingan apa pun. Ketika ada “kisruh X100V” (Googling saja), saya termasuk yang pasang badan. Toh dia pun tidak ambil pusing ketika kontrak sebagai ambassador Fuji diputus gara-gara penilaian bodoh publik pada satu video. Dan memang, di mata saya, dia lebih besar daripada brand kamera apa pun yang dipakai kok. 

Bagi saya, Tatsuo adalah penunjuk jalan di dunia street fotografi. Tiada bandingannya. Dia yang terhebat sepanjang masa.

Referensi tentang Tatsuo Suzuki

copyright Sambara

Sambara

Kalau pak tua ini sih sahabat saya, sering kami telponan berjam-jam untuk membahas fenomena dunia street fotografi dewasa ini.

Tidak ada yang tidak menyukai Sambara, baik karya-karyanya, apalagi orangnya. Nama yang sudah sangat legendaris, dan identik dengan street fotografi Indonesia. Bahkan saya berani menyebut, Sambara tidak memotret ala street Indonesia, melainkan street Indonesia yang memotret dengan gaya Sambara. Saya tidak berbasa-basi, lihat betapa besar pengaruh beliau terhadap khazanah street kita. Hampir semua street fotografer muda, mencoba untuk meniru gayanya (kecuali saya, ha ha).

Semua orang bisa memotret di monas, tapi foto Sambara selalu terasa beda sentuhannya. Ribuan orang motret di pasar, namun rasanya hanya Sambara yang bisa memberikan nuansa elegan bahkan di lokasi yang tidak terpikirkan bakal punya potensi di mata orang lain.

Beruntung bagi saya, dapat mengenal beliau secara personal. Tiap pekan beliau selalu menelepon ke saya, untuk memberikan wejangan-wejangan serta motivasi yang sudah pasti saya rasakan manfaatnya. Ketika saya diterpa kritik lantaran memotret dengan gaya yang tidak umum di sini, beliau yang terus mendorong saya untuk mempertajam gaya saya, bungkam semua yang ragu.

Memang pengalaman tidak berbohong sih, beliau sangat jeli menangkap momen yang mungkin bakal dilewatkan oleh amatir-amatir semacam saya. Gilanya, selalu saja hasilnya asyik dan enak untuk dilihat. Ada beberapa nama yang disebut selevel dengan Sambara. Bagi saya, itu terlalu cepat. Dia sudah lebih jauh beberapa tahun cahaya. Saya bisa menebak, itu nama-nama yang “selevel” Sambara, akan mengupload foto seperti apa esok, dan esoknya lagi, dan esoknya lagi. Namun saya tidak pernah bisa menebak, foto seperti apa yang esok akan Sambara sajikan. Selalu saja ada kejutan, kejutan yang hadir karena keheranan kita, kok bisa-bisanya dapat aja momen di tengah segala kesederhanaan isi framenya. Juga rasa terkejut, karena kadang momennya berlangsung sangat mencolok, spektakuler, tapi tetap berbaur dan tidak dipaksakan.

Saat berkesempatan bersua beliau, kami selalu ngopi. Dia datang ke Bandung, lalu memberi tahu orang-orang bahwa dia lagi di Bandung. Pasti ramai. Saya meski hujan atau lagi sakit, pasti langsung berangkat. Ke rumahnya di Jakarta pun saya pernah tiga kali… banyak foto-foto jalanan dia dicetak besar dan dibingkai di sepanjang dinding rumahnya. Selalu bersemangat kalau habis bertandang ke kediaman beliau, lantaran saya tahu saya tidak akan pulang dengan tangan hampa, wawasan saya akan bertambah, juga keyakinan dan gairah untuk terus mengeksplorasi jalanan.

Itulah hebatnya Sambara. Idola kita semua.

Referensi tentang Sambara

copyright Kaiman Wong

Kaiman Wong

Kebanyakan orang tahunya dia Youtuber review kamera. Memang benar. Dia bukan secara khusus hanya memotret di jalan, malah cenderung landscape sih. Tapi untuk kamu yang di tahun-tahun 2013-2016 gemar nonton review kamera di kanal DigitalRev, pasti akrab lihat dia mengetes kamera atau lensa sambil jalan keliling kota dan memotret apa pun di jalanan. Coba lihatlah foto-foto yang terkesan ngasal itu, gila sekali komposisi dan kedalaman maknanya.

Bahkan orang inilah yang bikin saya beli kamera untuk pertama kalinya, tanpa dasar suka pada fotografi. Jadi saya beli kamera dulu, baru belajar menjepret, dimulai dengan mode full auto. Tanpa alasan yang kuat, sore-sore saya beli Lumix GF selepas nonton dia pagi harinya. Sial juga sih, coba saja video yang saya tonton tuh Ricoh GR atau Fujifilm, saya tidak usah buang-buang waktu. Namun ya itulah, pesona dia… apa saja jadi terlihat keren dan enak.

Saya pun demikian… lihat dia nenteng-nenteng kamera sambil jepret-jepret di jalanan Hong Kong, kok rasanya nikmat dan seru betul ya. Walau ketika saya coba sendiri nyetrit di Bandung, duh kok rasanya agak beda ya… haha. Sekarang kamu cari videonya pun tak bakal ketemu karena sudah dihilangkan oleh DigitalRev (Kai keluar untuk solo karir sekitar 2017 kalau gak salah). Beruntung saya sudah simpan semuanya dalam ingatan. 

Tatsuo membuat saya mencintai fotografi, tapi Kai yang membuat saya memulai fotografi.

Referensi tentang Kaiman Wong

copyright Daido Moriyama

Daido Moriyama

Ini sang legenda dari Shinjuku. Kegemaran saya melihat secara hitam putih, tertular langsung dari beliau. Foto-fotonya… mistis sekali. Bicara high contrast monokrom plus grainy, tidak bisa lepas dari nama orang ini.

Satu yang paling saya ambil dari dia adalah kegemarannya membuat buku fotografi. Banyak sekali buku dia, dan sekarang sudah jadi pusaka dunia… kalau cari di Tokopedia, jutaan bahkan belasan juta untuk yang langka dan kondisinya prima. Tentu saya juga ikut-ikutan suka bikin buku, dan memang apalagi era sekarang… kalau kamu memotret atas dasar seni dan perasaan, jangan cuma berakhir di sosmed. Cetak!

Yang saya idam-idamkan untuk jajal juga, foto-foto pelacuran. Di sini agak susah, SDMnya beda dengan di sana… dengkulnya hitam semua haha.

Oh… dan tentu kita tidak bisa tidak membahas foto legend, stray dog. Betapa mistisnya pandangan anjing itu.

Referensi tentang Daido Moriyama

Kamu

Iya, kamu, yang lagi baca tulisan ini. Saya mengagumimu yang tak pernah lelah memotret walau situasi jalanan di sini tidak seindah Tokyo, London atau Paris. Saya akan selalu berterima kasih dan menjabat tanganmu, karena terus meramaikan khazanah fotografi jalanan tanah air. Kamu tidak pernah berhenti walau hujan atau panas, tidak lelah walau berjalan berkilo-kilo demi foto, dan tak pernah menyerah walau kena kritik sana-sini. Tidak peduli pakai kamera murah, masa bodoh walau yang like sepi, tetap tersenyum walau kena sembur subjek foto yang kesal karena dijepret.

Katanya kamu juga kalau hunting, ya pakai 28, 35 atau 50mm aja. Gak pernah pakai tele, karena gak mau curi-curi dari jauh kayak pengecut, inginnya mendekat untuk mendapatkan teman baru. Sudah begitu, kamu juga tidak pelit berbagi ilmu… gak cuma diri sendiri yang harus hebat, tapi juga ajak-ajak orang lain… tanpa bikin rusuh atau mendiskreditkan individu atau kelompok lain yang gaya streetnya tidak sesuai seleramu, juga tidak pernah ngerasa si paling Bandung, Jakarta, dll… padahal kontribusimu untuk dunia street kotamu, sangat jelas… untuk semua kalangan, bukan cuma untuk kelompokmu sendiri ehem.

Aku berdoa supaya kamu selalu diberikan semangat dan kesehatan, supaya kelak kalau kita bertemu, bisa sama-sama mengambil foto terbaik.

(jangan macam orang ini. dia mah sukanya bikin ricuh tatanan street lokal… haha)

Referensi tentang kamu… ya silakan buka galeri hp sendiri.

Eh bukan deh… nomor lima itu Eric Kim harusnya. Haha.

copyright Eric Kim

Referensi tentang Eric Kim