Apa itu Street Portrait?

Apakah termasuk dalam street fotografi?

Jawabannya adalah, masa bodoh. Ini sudah 2022 hampir 2023, kok masih meributkan terminologi. Sudah jelas ‘kan, street fotografi itu adalah sebuah génre yang dinamis dan bakal terus berkembang, jadi mengapa menghakimi sesuatu yang kita sendiri tidak tahu, lima atau sepuluh tahun ke depan bakal seperti apa perkembangannya.

Hanya yang perlu digaris bawahi, “street portrait” itu sama sekali berbeda dengan “portrait on the street”. Jadi kalau bawa sendiri model dari rumah, atau janjian dengan “model” untuk kemudian foto-foto di tepi jalan, ya bukan. Tidak ingin meributkan istilah, namun memang bukan begitu cara mainnya.

Street portrait artinya mengajak foto orang tidak dikenal yang ditemui di jalanan. Mengapa harus ngajak kalau bisa candid? Ya itu kalau kamu bawa lensa tele, ‘kan tidak semua street tog suka bawa-bawa lensa untuk motret satwa liar. Kadang dalam benak, ketika lihat suatu wajah, bakal terbesit ide untuk… bakal lebih bagus nih kalau dia menghadap ke sini, atau.. kalau dia keukeuh berdiri di situ, gak dapet cahayanya. Nah itu, fungsinya mengajak si orang tak dikenal. Dan bahkan tanpa perlu bicara pun, ketika subjek ngeh dengan kehadiran kita, lantas dia ganti pose, itu sudah masuk ke lahan street portrait.

Kenapa motret orang asing di jalanan itu hemat dibanding bawa model sendiri?

Ada dua hal yang perlu ditekankan di awal. “Portrait on the street” itu tidak sama dengan “street portrait”. Portrait on the street artinya dari awal sudah kenal dengan modelnya, lalu janjian di suatu tempat untuk foto-foto dengan konsep street.

Kedua, hemat dan boros di sini bukan dalam artian biaya yang dikeluarkan. Tentu saja model harus dibayar, enak aja mau gratis, dia sudah jauh-jauh, dandan, dan apalagi jadi tontonan umum karena foto di ruang publik.

Artinya begini, selagi kita memotret sang model. Kita akan berfokus padanya, dan terus-terusan memotretnya. Entah karena sudah bayar, atau mungkin keenakan karena bisa disuruh berpose. Namun karena kita melakukannya di jalanan, lantaran kita merasa punya satu model, jadinya kita melewatkan ratusan “model” lain yang hilir-mudik lewat selagi kita motret. Kok begitu? Ya tentulah, setiap orang bisa menjadi model dengan pendekatan street portrait, sayang betul sudah turun ke jalan tapi melewatkan banyak potensi lain.

Dan jangan lupa, keseringan bawa model yang disewa untuk membuat konsep jalanan, bakal melemahkan naluri untuk memodelkan orang yang sama sekali asing. Jadi jangan keseringan. Kalau mau portrait model, di studio atau kamar saja…

“Enak ya kang di Bandung, ceweknya cantik-cantik, motret begituan gampang. Makanya motret cewek terus.”

Hm, orang yang ngomong begitu pasti ke Bandung sesekali saja, atau mungkin hanya dengar lewat cerita. Sering sekali saya hunting berjam-jam, cuma dapat satu bahkan tidak sama sekali.

Pertama-tama, aku meyakini bahwa kegiatan memotret bukan hanya menjepret, edit lalu upload. Lebih dari itu, aku mengharapkan ada rekreasi, terapi dan bahkan sensasi. Ketika aku merasa puas untuk mengambil ekspresi kecantikan dari dekat dan berbaur dengan lingkungannya, maka aku akan terus melakukannya. Jadi bukan masalah tinggal di Bandung, karena meski saya pindah rumah ke Wamena atau Sabang, saya tetap memotret seperti ini.

Kalau perkara mudah atau tidak untuk mendapatkan foto-foto begitu, jelas lebih mudah kalau saya memilih untuk memotret hal lain. Bawa 300mm ke jalanan, setiap ada orang sepuh melamun atau dorong gerobak, sudah jadi sebuah frame. Edit agak dramatis, tambahkan caption “pejuang keluarga, setiap keringatmu bla bla bla.” beres, malah bisa viral.

Asal kamu tahu saja ya, kalau ada salah satu tanda datangnya hari akhir yaitu perbandingan jumlah wanita berpuluh kali lipat lelaki, maka kami di sini termasuk yang bikin hari akhir itu kelihatannya masih jauh, karena di sini lebih banyak lelaki. Belum lagi sekalinya nemu yang cakep, kadang susah juga berhasil difoto karena 28 atau 35mm punya tantangan sendiri, mana harus pintar atur background karena view di sini juga berantakan. Kesimpulannya sih, ya gak bisa dibilang gampang. Tapi ini menyenangkan buat saya, karena ada rekreasi, terapi, dan sensasi. Dan karena saya suka cewek. Ha ha.