Tiba-tiba saja aku berdiri di pelataran sebuah mall, luas sekali. Penuh bukan main oleh gadis-gadis cosplayer yang kawai. Kostumnya keren sekali, ada Furina, Navia bahkan Guizhong. Rambutnya warna-warni, aku terkejut bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang bersembunyi di balik masker…
Musik yang diputar begitu menggema santai. Ini Kyosuke Himuro! wah tumben betul, agak berbudaya. Masih cahaya sore di musim panas, hangat dan menyebar. “Apakah aku bawa kamera…?” kubuka resleting tas slempangku. Ada, aku bawa Leica Q hitam yang jarang sekali kupakai itu. Aku berjalan di tengah kerumunan cosplayer, mencoba pilih yang tercantik dari yang paling cantik. Mengherankan, semua seperti tersenyum padaku.
“Hei, foto yuk…” ujarku pada seorang Yoimiya. Dia tersenyum lebar, betul-betul mirip Yoimiya. Awan seperti bergeser, sorot mentari semakin masuk. Langsung dia berpose ‘peace’ pakai dua tangan menempel di wajah. Maka aku langsung membidik lewat EVF, karena cahaya semakin silau untuk lihat di layar. “Tahan… satu.. dua…”
Sejurus kemudian, muncul garis-garis pada kedua lengannya. Sobek sedikit lalu jadi banyak dan memenuhi lengan gadis itu yang anehnya masih tetap berpose. Darah mulai bercucuran, menetes jatuh, senyumnya makin lebar. “Apaan nih…” seruku… matahari makin silau dan silau, seisi viewfinder putih menyilaukan. Kameranya menempel di wajahku, tidak bisa kulepas walau sekuat tenaga, darahnya semakin deras muncrat ke segala arah. “Aaarrrggghhhh…” aku mengerang, “Hihihi” terdengan Yoimiya tertawa, walau tak terlihat karena mataku serasa perih sekali.
“Aaaahhhhhhh…”
Silau. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamarku. Gorden beterbangan tertiup angin. Badanku berkeringat semua, rasanya menempel dengan seprei. Lagi-lagi mimpi itu. Aku bangkit dengan malas. Jam berapa ini? kayaknya belum ada jam sepuluh pagi. Rumah rasanya sepi. Kubakar sebatang rokok, lalu menggeser gorden sampai terbuka penuh. Hari ini pun sepertinya belum akan turun hujan, langitnya biru sekali, bersih tanpa ada awan, padahal ini sudah hampir November.
“Fiuh…” kuhembuskan asap kuat-kuat. “Aku akan menghitung mimpi tadi sebagai bentuk kerinduanku pada kamera Leica Q yang tahun lalu kujual…” gumamku. Susah memang kalau ingin beli lagi, sudah menembus 40 juta padahal ada Q2 dan Q3, bukannya jadi murah malah makin mahal. Lagipula, kalau mimpi tadi dihitung sebagai kerinduanku pada event cosplay, angkanya semakin besar. Sejak memutuskan berhenti, sedikitnya aku sudah mimpi semacam itu tujuh kali.
Selesai mandi dan “sarapan”, kuambil sekaleng kopi kalengan dari kulkas. Sambil merokok lagi, kubuka laptop. “Hari ini ke mana ya…?” aku buka Instagram. Beginilah derita seorang freelancer, kadang tidak tahu rencana mau ke mana, ikuti arah angin saja. “Apaan nih…” pada explore Instagram, fotonya cosplay dan portrait Japan wannabe semua. Aku paham bahwa Google dan Facebook memang menyadap semua pembicaraan dan ketikan kita, tapi masa iya mereka juga bisa membaca mimpi?? karena tidak sekali pun aku pernah walau sekadar iseng, untuk mencari hal-hal yang berhubungan dengan cosplay.
Anyway, aku lihat foto-foto portrait “Japan wannabe”. Ini sih jelas orang Indonesia… editannya tebal sekali. Cewek duduk di taman, pakai headphone yang tidak tersambung ke mana-mana, seragam sekolah Jepang. Bagian lututnya dipoles habis-habisan supaya putih. Bahkan ditambahkan hurup Jepang besar sekali, tak lupa juga pakai musik pengiring yang vibesnya Jepang banget.
“Aku penasaran, bagaimana reaksi orang Jepang asli ketika lihat foto-foto ini, yang lebih Jepang dari orang Jepang beneran… he he…” aku geser-geser lagi foto. Sejujurnya aku tidak pernah mendapatkan sensasi cemburu atau iri ingin juga memotret yang serupa, karena memang tidak.
Nah kalau ini, baru bikin aku bergairah. “Mantap!” seruku saat muncul foto street monokrom pakai flash, ekspresi subjeknya dapet sekali, background dinamis penuh nyawa. Ini baru namanya fotografi Jepang, elegan! bukan ujug-ujug pakai seifuku dan payung transparan lalu ditempel-tempel hurup dan lagu.
“Baiklah, hari ini aku mau nyetrit!” segera kusiapkan kamera. Hari apa sih sekarang? ah aku tidak peduli hari, kalau aku mau nyetrit ya berangkat saja. Semoga cerah, minimal dengan cahaya yang baik, banyak alternatif lokasi dan gaya yang bisa kupilih. Huntingnya di mana, itu gimana ntar, sambil jalan nanti kutentukan. Ikuti arah angin saja…
Baru sejam keliling-keliling, aku sudah merasa malas. Sekarang lagi duduk di warung kopi yang sepi, minum es jeruk sambil merokok sendirian. Braga hari ini sepi sekali. Padahal pas masih di rumah, aku membayangkan bakal hunting di lokasi-lokasi baru yang bisa saja ada hidden gems, tapi endingnya tetap saja berlabuh di sini. Aku melihat stiker yang agak mencolok di kaca etalase warung, gambar orang pegang kamera, dengan gaya anime.
“Mak…” kupanggil ibu warung yang memang akrab.
“Apa?”
“Ini siapa yang nempel stiker itu?”
“Oooh… temenmu ‘kan.”
“Temen yang mana?”
Memang jika ada yang bisa disebut “teman” saya duduk di sini, maka pasti saya yang bawa karena warung ini cukup tersembunyi. Ah terserahlah.
“Aku ingin portrait…” keluhku. Mengherankan. Kalau lagi portrait, suka ingin street. Kalau lagi street, ingin portrait. Makanya paling bener memang, portrait di jalan raya saja sudah. Tapi dengan siapa…?? aku tidak bisa menciduk sembarang cewek dari jalanan untuk diajak foto, karena memang tidak ada. Sedangkan untuk portrait terencana pun, sama saja, saat ini aku tidak banyak kenal sosok menarik.
“Oh…” aku teringat temanku, si Freminet. Dia fotografer idealis iya, tapi juga suka ke acara wibu. Tapi yang terpenting, dia fotografer komersil goceng per foto yang biasanya ngetem di jalanan Braga. Segera aku berdiri, titik dia mangkal hanya beberapa puluh meter dari sini.
Kulihat geng foto goceng sedang pada melamun, sepi orderan karena week day dan masih siang, kayaknya. Kulihat satu per satu, pada pakai Fujifilm, tapi kok tidak tampak batang hidung si Freminet. Aku WhatsApp saja deh…
“Ke Braga gak?”
“Enggak a, sepi kalau week day.” balasnya, tumben cepat.
“Posisi?”
“Rumah.”
“Ada cafe yang enak di sekitar sana…?”
“Ada a…”
“Ngopi… saya traktir.”
“Gas!”
Kuambil motor di parkiran. Biasanya aku berat meninggalkan jalanan apalagi masih sore. Tapi kalau sepi begini, bawaanya pengen nangis, mending aku ngopi. Lagipula si Freminet banyak referensi model, terutama, aku punya sebuah rencana… hanya dia yang bisa melakukannya untukku.
Mana nih tukang parkirnya. Tidak ada bukan berarti aku tidak bayar, aku tetap ingin bayar. Nah muncul juga, si abah lagi makan cuanki rupanya. “Ayo…” serunya, sambil menarik mundur motorku dari parkiran Circle K rel kereta.
“Kemarin temanmu parkir di sini juga.” ujarnya.
“Hah? yang mana?”
“Yang pakai motor biru. Yang bawa kamera.”
“Ooohh…”
Si Guoba. Kurang ajar. Selama ini menghilang seperti pengecut, tapi parkir pakai tempat yang kukenalkan. Rute memotret pun pakai rute dan lokasi yang biasa kupakai, mulai dari parkir hingga rute jalan kakinya, dan bahkan tetap pakai gaya yang kuajarkan. Bisa dibilang, dia pakai hak kekayaan intelektual saya. Dengan melihat Ahmad Dhani bisa melarang Once menyanyikan lagu Dewa, aku bisa saja melarang dia. Tapi itu nanti sajalah, tidak penting juga, hanya saja menyebalkan.
Tiba di cafe, Freminet sudah ada. Lagi merokok Signature, juga ada kopi hitam. “Pesen dulu a…” ujarnya. Dia memang memanggilku “aa”, karena dia orang Sunda asli, dan jauh lebih muda. “Siap…” jawabku. Tak lama kemudian, muncul secangkir kopi susu di hadapanku.
“Masih suka ke event wibu?” tanyaku, sruput kopi.
“Gak sering a, kadang aja…”
“Oooh… masih pada pakai masker ga?”
“Masih a, hahaha…”
“Huh… titik terendah seorang fotografer… jauh-jauh datang ke event wibu cuma buat foto cosplayer bermasker…”
“Sedih memang… eh tapi ngomong-ngomong soal masker…”
“Kenapa?”
“Si Gorou kemarin ada di event. Pakai hoodie dan masker… sendirian.”
“Wah? Motret dia?”
“Enggak.”
Aku benar-benar tidak punya ide, mesti ngapain di event cosplay kalau tidak motret. Tapi yang kita bicarakan ini ada Gorou, temanku yang predator sekaligus pedofil. Jangan-jangan dia mau cari mangsa lagi.
“Emang aa mau ke event lagi?” tanya dia.
“Tidak. Tidak akan pernah.”
“Oooh kirain…”
“Tapi yang mau dibahas, ada hubungan dengan event wibu sih…”
“Apa tuh…?”
“Kau tahu sendiri ‘kan, model foto yang agak cantik elegan, mahal sekali…”
“Betul…”
“Agak murah kalau minta ke anak hunting Braga, tapi gradenya agak-agak… weleh-weleh…”
“Juga betul.”
“Nah, tugasmu scouting di event-event. Cari yang sekiranya bakal bagus kalau casual… nanti fee biar aku yang tanggung. Mereka biasanya imut lucu, fee juga terjangkau. Kadang bisa gratis tapi aku gak mau, bayar aja biarin… aku gak mau dikenal sebagai fotografer miskin.”
“Wah, bisa aja sih. Tapi bukannya lebih enak kalau ngecek sendiri…?”
“Ah enggak, gak mau lagi datang ke acara begituan. Aku terima beres aja, bawain mereka sebagai sosok manusia biasa.. bukan cosplay.”
“Siap kalau begitu.”
Kami sama-sama bakar rokok dan memesan lagi kopi. Si Freminet ini walau suka ke event wibu, tapi sama sepertiku dia sudah fotografer dari sananya. Bukan wibu yang asal beli kamera karena suka ke event.
“Akun Instagram Yoimiya masih ada a?” dia tanya.
“Dibikin nonaktif sih.”
“Nah aktifin lagi aja, enak ntar scoutingnya…”
“Iya juga ya.”
“Udah dikenal ‘kan…”
“Hm… justru malah bakal aku ganti nama dan segala identitasnya… biar membuang image Yoimiya di masa lalu. Aku khawatir gara-gara ulah satu orang, nama Yoimiya jadi tercemar…”
“Boleh sih.”
“Coba cek di IG sekarang, ada sosok-sosok potensial gak. Buat foto ya, bukan buat aneh-aneh…”
Freminet langsung buka IG dia yang khusus wibu. Kebanyakan ya begitu… antara pakai masker, atau editannya terlalu dalam, sudah kayak AI. Memang benar sih, enaknya datang langsung atau sama sosok yang sudah pernah dilihat wujud aslinya. “Biasanya yang bales cuma sebagian, a.” ujarnya. Iya, itu aku paham betul… tidak semua mau ramah pada dunia luar… tidak semua seperti… Kirara.
Tapi tidak berarti bakal gagal juga. Coba saja. Fotografi tidak boleh terhenti. Dan benar saja, tiga hari kemudian Freminet berhasil mengadendakan sesi portrait dengan seorang cewek cosplayer yang mau tidak mau harus berpakaian casual karena aku ingin memotret mereka dalam wujud manusia normal.
“Namanya Candace a…” ujar Freminet agak berteriak, soalnya kami ngobrol di motor.
“Pernah ketemu saya…?” tanyaku.
“Pernah, pas di MIM… cosplay rambut hijau.”
“Cantik…?”
“Lumayan…”
“Berapa sepakat fee?”
“Dua ratus.”
“Oke!”
Maka laju motor semakin kencang, menuju lokasi pertemuan. Agak mengherankan, padahal sepanjang pekan langitnya cerah, giliran mau foto bahkan ada modelnya, mendung jangan-jangan hujan. Oleh sebab itu kupilih lokasi yang sudah aku kuasai, yakni sekitar markas di Purnama.
Begitu mau masuk parkir motor, di sebelah ada orang boncengan, parkir juga. Kayaknya itu si Candace. Satunya lagi aku gelap, entah pria atau wanita, sulit dinilai dari perawakan dan rambutnya, apalagi pakai masker.
“Hai…” sapanya.
“Hai…” jawabku.
Aku ingin memuji, dia on time. Sekarang jam tiga pas, tidak lewat sedetik pun.
“Dulu pernah foto aku di MIM dan BIP ya kak?” tanya dia.
“Wah, apa iya…”
“Iya ih… pas aku nongkrong di luar di event BIP…”
“Oooh yang suka ngerokok ya… haha.”
“Iya, hehehe…”
Lalu kami berjalan menuju jembatan lokasi biasa foto, yang juga sudah mulai coba diklaim oleh Guoba. Sepanjang jalan Freminet ngobrol dengan Candace, soal event, anime, dll. Aku pura-pura gak ngerti, padahal emang iya. Temannya tidak banyak bicara, makanya aku masih belum bisa memastikan dia itu pria atau wanita.
Berjanjutlah sesi foto-foto, habis jembatan, diteruskan ke roof top. Cantik sih si Candace, berpose juga luwes. Rambut aslinya juga hijau rupanya. Begitu beres, kami jalan lagi ke Purnama, motor ‘kan diparkir di sana.
Tadinya mau aku ajak mereka ngopi, tapi tampaknya buru-buru, jadi langsung saja oleh Freminet dikasihkan uang buat dia jajan. Selesai, simpel. Motret model gak mahal.
“Kerja bagus…” ujarku.
“Mantap a…”
“Harap dipersering.”
“Siap.”
Karena petang hari sudah pulang, aku punya waktu untuk memproses foto jadi hitam-putih. Lumayan lah, dari beberapa puluh jepret, setengahnya bagus. Jadi kalau fotonya bagus, itu karena modelnya hebat. Tapi kalau fotonya buruk, itu sepenuhnya salahku.
Langsung aku upload. Beberapa saat kemudian hal yang janggal terjadi, Guoba yang biasanya absen menonton Story, mendadak muncul. Jelas pemicunya adalah, dia melihatku upload foto Candace, gadis dari event wibu. Pasti bertanya-tanya dia. Belum tahu dia, aku punya utusan di mana-mana. Haha.
Sabtu malam. Aku nyetrit sendirian. Biar saja berangkat sendirian, nanti juga ada teman. Contohnya sekarang, aku lagi ngobrol dengan kakek penjual buku sholat di Braga. Beliau ini sahabat saya, kami sering berdiskusi terutama tentang tanda-tanda akhir zaman yang semakin nyata. Dia juga belakangan tidak tenang berjualan, karena kerap dipalak preman asal Ambon. Makanya aku duduk bersamanya, ingin tahu juga yang mana preman yang dia maksud, biar aku hajar.
“Oh iya… kemarin temanmu ke sini…”
“Yang mana tuh…?”
“Yang pendek keriting…”
“Ooh si Guoba…”
“Gak pernah bareng-bareng lagi sekarang…?”
“Enggak…”
“Kenapa…?”
“Dia takut sama saya, haha. Padahal temennya yang kacau, pelecehan seksual ke anak kecil.”
“Astagfirulah…”
“Ah duduk terus, kapan saya dapat foto. Jalan dulu ya…” aku bangkit dari bangku jalanan.
“Oke…”
“Nanti kalau ada yang ganggu, bilang aja kek…”
“Aman…”
Memang aku harus bergerak, karena foto tidak lahir dengan sendirinya. Apalagi aku punya agenda untuk mengetes kamera yang baru kubeli. Terus aku berjalan, mencari sesuatu yang menarik. Lumayan sih, dapat frame keren, cewek cantik bakar poster Israel, ternyata dia artis lagi promosi film di Bandung. Lalu adegan street pun dapat beberapa. Tak terasa, sudah gelap langit, padahal rasanya baru jam lima ternyata sudah jam tujuh.
Agak lelah ternyata. Aku ngaso di emperan toko yang tutup, kemudian bakar rokok. Sesaat kemudian, aku merasa mengenali seseorang. Di tengah kemacetan, ada cewek bawa motor tapi gak pakai helm, pakai celana pendek dan jaket jeans, tampak marah-marah karena lalu lintas padat bukan main. Segera aku bangkit.
“Amber!” seruku. Dia menoleh.
“Ehhh… Kak Albedo!” serunya sambil senyum.
Semasa masih aktif ke event wibu, bisa dibilang Amber ini cewek yang paling akrab denganku. Anaknya agak tengil, kadang songong, tapi juga cengeng. Entah berjodoh atau apa, waktu itu dia kecopetan di event Braga, lalu ngadu padaku kemudian pingsan. Pernah juga gak punya ongkos buat pulang, lalu minta diantar. Tapi kalau lagi jadi cosplay, sombongnya minta ampun… selalu nyari cosplayer cowok ganteng untuk dijadikan pengawal sepanjang acara. Pura-pura gak kenal ke kami, padahal kalau ada apa-apa, kami yang dicari. Bayangkan, dulu kami pernah membayarnya hampir sejuta untuk berdandan seperti Yoimiya. Aku juga selalu ngasih dia uang buat beli rokok, parah juga sih masih SMP sudah merokok… Dji Sam Soe pula. Tapi pengalaman di event wibu membuat kami sudah tidak perlu merasa kaget untuk apa pun sih. Huh… kami… siapa itu kami?
Amber ini juga punya hobi… silet-silet tangan. Aku tidak akan menyuruhnya berhenti karena tidak akan mempan. Intinya dia anak yang menyenangkan, walau agak miring isi kepalanya. Cantik juga lumayan.
“Mau kemana?”
“Mau cari parkir dulu…”
Kami ngobrol sambil dia melaju merayap dalam macet, aku sih jalan kaki.
“Gak bakal ada parkir kosong… semua penuh, malam Minggu!”
“Aduh gimana dong?”
“Di warung si Emak aja… gratis…”
“Gratis? mau dong!”
“Ya udah ikutin aku…”
Capek juga ya jalan cepat-cepat, soalnya lalu lintas mulai bergerak. Masih seratus meter nih.
“Naik motor aja kak…”
“Oke.”
“Dia berhenti. Lalu mundur duduknya…”
“Aku pegang kamera, susah bawa motornya…”
“Ya udah aku bonceng…”
Aku naik. Aneh sekali bermotor di Braga gak pakai helm. Lebih aneh lagi, aku dibonceng sama cewek… aduh kok rasanya lembut sekali… jok motornya.
“Di depan belok…”
“Oke…”
Parkirlah motor Scoopy dia di warung. Emak terheran-heran aku dibonceng cewek remaja. “Saudara jauh mak… titip motor…” ujarku. “Boleh.” jawabnya.
“Kak Albedo apa kabar???” dia peluk aku. Eh. Si Emak dan anak-anak nongkrong pada melihat.
“Kamu ya… udah gede sekarang…” ujarku.
“Aku cari-cari di event, kok gak pernah ada…”
“Pensiun. Haha.”
“Yaaah…”
“Aku bosen lihat yang pakai masker… terus aku juga sebel sama satu cewek…”
“Siapa kak?”
“Ada, namanya Kirara…”
“Waah, aku tahu tuh. Aku juga sebel, dia pernah bikin masalah pas ngerental kostum lewat aku.”
“Astaga…”
Kami jalan menyusuri gang, untuk kembali ke hingar-bingarnya Braga.
“Kamu mau ke mana…”
“Mau ketemuan sama temen-temen, nyusun rencana buat event Genshin kolaborasi sama restoran pizza….”
“Wah, kapan tuh?”
“Ntar jam delapan…”
“Nah, masih ada waktu… kita foto-foto dulu…”
“Gas. Beliin rokok ya.”
Aku ajak dia ke jajaran Braga depan, biar banyak cahaya dan ada zebra cross. Agak aneh melihat dia berpakaian normal. Tapi akhirnya kesampaian juga. Walau sudah akrab bagaimana pun, aku belum pernah bisa foto dia dalam wujud casual.
Poster-poster anti Israel malah tambah banyak, cocok kujadikan properti. Dia berpose dengan luwes. Celananya pendek sekali, tapi pakai sepatu dan kaos kaki tinggi kayak tante-tante main tenis di tahun 80an.
“Bekas silet-silet masih ada?” tanyaku.
“Ada nih, aku tambahin…” dia menggulung lengan jaketnya.
“Astaga…”
“Tapi sekarang sih gak pakai silet, tapi pakai jarum peniti. Ini aku bawa ke mana-mana…”
“Ya ampun… kamu ya…”
Setelah sekitar dua puluh menit foto-foto, kami mampir ke minimarket. Mau kubelikan dia rokok atau apa saja yang dia mau.
“Kapan mau ke event lagi kak…?” kami ngobrol kala antri kasir.
“Gak… gak bakal…”
“Yaaah…”
“Aaah, tuh pilih mau rokok apa…”
“Sampoerna Mild yang gede teh!”
“Tumben…”
“Kan dibayarin Kak Albedo… uangnya banyak…”
“Gaas.”
Akhirnya beres bayar, dia pamitan di depan minimarket. Kami berpelukan. Aneh sekali. Banyak yang melihat, pengamen pun sampai berhenti sejenak. Dia lalu menyeberang, dan berlalu…
Anak manis. Anak baik sebetulnya. Semoga dia tidak tersesat.
Ah… aku ngapain lagi ya. Sesi hunting hari ini puas dan padat sekali sih. Aku juga mendapatkan teman baru, dan bertemu teman lama. Pulang saja deh, sudah malam dan capek juga. Aku nyebrang, supaya sekalian pamit ke kakek buku sholat dulu.
Dia lagi nawar-nawarin buku di depan kedai es krim yang ramai.
“Pak Cik, saya pulang dulu ya…”
“Eh, tadi ada temenmu loh…”
“Oh iya?”
“Tapi pas bapak sebut kamu juga lagi di sini, dia balik lagi.”
“Pengecut. Haha.”
Ya sudah, aku berjalan menuju parkiran motor di Circle K rel kereta. Mendengar cerita kakek buku sholat, menyebalkan juga sih. Berani-beraninya pakai spot parkir saya, kedai kopi, warteg, rute foto, spot portrait, dan bahkan jadwal street rutin mingguan saya… tapi takut kalau bakal bertemu saya. Apa yang sedang dipikirkan oleh Guoba? tapi tenang, aku tidak akan ikut permainan orang lain.
Aku pulang, bermotor dengan santai. Menikmati jalanan Bandung di malam Minggu. Anginnya hangat, bikin mengantuk, saatnya menyimpan tenaga. Apalagi esok aku akan portrait dengan sosok baru, yang sekalian pasti akan membuat Guoba terkaget.
Semuanya, sudah ada dalam rencana.

