Ada banyak hal yang bisa bikin kita jadi termotivasi untuk memotret – dan juga sebaliknya. Salah satunya adalah hadirnya teman dan juga rival…
Tiba-tiba saja aku teringat…
Waktu itu, tahun 2015… aku baru saja memantapkan diri untuk memilih street fotografi sebagai aliran yang akan kudalami. Bisa begitu karena aku sangat terkesima melihat karya-karya dari Tatsuo Suzuki serta beberapa nama lainnya. Bahkan aku beli yang namanya X100T serta install Silver Efex di Photoshop ya gara-gara beliau.
Namun demikian, tetap saja aku tidak bisa terlalu berakrab-akrab dengan beliau, karena bagaimana pun dia itu hitungannya public figure nyaris manusia setengah dewa. Nah, ada satu orang lain, foto-fotonya mirip sekali dengan Bung Tatsuo… orangnya jauh lebih muda, sebut saja namanya Ayato. Entah juga dia ini datang dari mana, tahu-tahu sudah berteman akrab dengan saya. Bisa dibilang, dia ini versi muda dan hemat dari Tatsuo… gayanya mirip banget.
Jaman itu… Instagram masih asyik ya… belum ada Story apalagi Reels ga jelas. Hanya foto. Aku pun masih semangat, pokoknya tiap hari harus memotret dan upload. Pokoknya sore habis magrib tuh pasti upload… tak peduli fotoku masih berantakan, pokoknya harus eksis di dunia street. Nah si Ayato ini, walau tinggal di Jepang tapi selalu upload foto di jam yang sama denganku… prime time waktu Indonesia. Makanya kalau cek hastag tertentu, kadang fotoku dan fotonya sebelahan.
Tentu saja fotonya bagusan dia. Dia motret di Jepang, saya di Bandung… itu saja sudah voor banyak.. haha. Cahaya beda, pemandangan beda, orangnya apalagi. Tapi aku tidak akan mendiskon sedikit pun kemampuannya, aku harus mengakui bahwa dia adalah fotografer yang lebih hebat. Aku selalu merasa cemburu saat melihat foto-fotonya, namun rasa cemburu itu aku jadikan motivasi agar terus belajar untuk sedikit demi sedikit mendekati kemampuannya.

Bahkan pula akhirnya aku mengganti X100T yang merupakan kamera signature Tatsuo, menjadi Ricoh GR… kamera serupa yang dipakai Ayato. Karena rasanya jauh lebih mudah untuk mengikuti foto Ayato daripada Tatsuo. Ini adalah langkah terbaik yang pernah kuambil di dunia foto… bersama GR, aku semakin lincah di jalanan. Tapi kalau diceritakan, bisa panjang lagi. Intinya setiap hari aku turun ke jalanan, memberanikan diri untuk memotret lebih dekat, bahkan pakai flash.
Hari-hari berlalu, aku makin merasa jadi seorang street fotografer. Foto demi foto tayang, makin terlihat arah fotografiku bakal seperti apa. Memang di awal banyak orang julid, salah satunya nanti aku ceritakan di sesi dua. Namun, ya… aku masa bodoh. Aku sangat nyaman memotret dengan gaya ini. Memotret orang asing dari jarak dekat, dengan lensa wide sehingga komposisi latar belakang serta keramaian juga harus diperhitungkan. Begitu menyenangkan… membuatku larut…
Hingga pada suatu saat, untuk seminggu penuh aku tidak melihat Ayato upload satu foto pun. Dan memang… itu adalah akhir dari riwayat fotografi dia, sepertinya. Berhenti sama sekali. Dia tidak membalas pesan dariku.

Jujur saat itu aku agak kehilangan motivasi. Tidak ada teman sekaligus saingan, untuk berlomba bikin foto-foto yang menarik. Juga teman untuk bertukar pikiran tentang fotografi.
Waktu berlalu, sedikit demi sedikit, aku mulai lupa padanya. Tidak, sampai hari ini pun dia tetap aku follow kok. Anehnya kadang dia masih terlihat menonton story yang kubuat… bahkan sampai hari ini. Aku tidak ingin menduga-duga bahwa orangnya sudah mati, dan akun dia dimainkan oleh keluarga atau kerabatnya. Namun sepertinya sih… soalnya aku sulit membayangkan bahwa seseorang bisa berhenti memotret sama sekali…
Tapi aku salah…
Tadi sedikit aku singgung soal orang-orang julid ‘kan? haha. Ya memang ada, periodenya sama, saat aku masih awal-awal di street. Tapi satu yang paling menjengkelkan, ada lah. Ini orang, menasbihkan dirinya sebagai senior di dunia street tanah air, tapi tidak ada sama sekali sifat mengayomi. Dia kalau lihat sesuatu yang baru, bukannya didukung malah dibantai.
Kalau tidak salah, orang ini aku ceritakan di artikel ini. Kemarahanku padanya memacu kreativitas dan motivasiku untuk membuat Storyofthestreet. Pokoknya si paling sepuh selalu saja nyinyir. Kejengkelanku kepadanya berlanjut hingga jadi perang dingin. Aku menolak untuk terlibat dalam kegiatan fotografi apa pun kalau ada dia. Aku mending bikin poros dan aliran sendiri.
Aku tidak akan mendiskon sedikit pun kemampuan dan wawasan dia dalam dunia fotografi jalanan. Tapi aku sangat tidak suka dengan atitud dia yang selalu merasa paling pintar dan paling street. Kalau tidak sependapat, sesat. Kalau coba gaya baru, julid.

Orang itu punya massa dan pengaruh. Tapi tentu saja, aku pun bukan sosok yang puas untuk jadi orang biasa-biasa saja. Ya… saya juga punya ego, aku akan menjadi sosok yang punya pendukung dan berpengaruh juga. Motivasinya sudah bukan foto dalam kamera lagi, melainkan hal-hal di luar kamera.
Pada akhirnya dia tidak akan mengakui kalau setiap buku foto yang kubuat jauh lebih laris. Aku juga sudah pernah jadi brand ambassador kamera plus workshop di gedung mewah. Komunitas yang kubuat pun sudah berkali lipat lebih besar. Aku tidak peduli dia mengakui atau tidak, bisa mengalahkannya saja sudah membuatku puas.
Lama juga tidak terdengar rongrongannya… mungkin sudah tidak berani atau apa, karena orang-orang semacam itu beraninya sama yang terlihat cupu. Dia tak tahu, kalau nanti yang cupu bisa jadi suhu. Kadang kalau lagi telponan diskusi dengan salah satu guru fotografi saya, acap kali terucap juga sih nama dia, jadi apa sekarang.
Dan ternyata, guru saya kadang masih melihat dia hilir mudik di timeline… namun bukan melalui karya foto, melainkan konten-konten reels ala skena nan galau. Aku kaget, dan memang benar. Sudah tidak ada foto sama sekali.
Jelas saja aku kaget. Orang ini dahulu dikenal sebagai si paling street, si suhu foto. Kenapa sekarang jadi begini…? tidak terlihat lagi sisa-sisa jejak dia sebagai seniman. Karena sekali lagi, aku tidak akan mendiskon apapun dari karya-karyanya. Tapi memang, sudah hilang sama sekali… sepertinya dia sudah memilih aliran baru, sebagai seleb reels yang bergelimang like namun miskin substansi.
Apakah aku senang? sama sekali tidak. Artinya, satu lagi fotografer jalanan (setidaknya di sosmed) telah gugur.

Rasanya skenario ini jauh dari ideal. Bagaimana bisa, aku yang gaya fotonya aneh bin nyeleneh, dan mengenal fotografi jauh setelah dia, malah jadi yang bertahan serta eksis lebih lama daripada si paling foto. Kok bisa dia sama sekali meninggalkan dunia yang dulu begitu fanatik dia cintai dan perjuangkan. Jujur saja, aku lebih suka memiliki rival yang memiliki cara pandang berbeda, namun tujuan kita sama. Daripada tidak ada sama sekali.
Entahlah mana yang lebih menyedihkan. Kehilangan teman foto satu aliran yang mendukung satu sama lain, atau kehilangan rival yang saling julid mengecam namun juga memacu diriku agar terus berkembang.
Pada akhirnya… aku masih di sini. Memotret tiap hari, untuk diriku sendiri…

