Nostalgia

Rasanya memotret sudah mulai membosankan, atau malah menjengkelkan. Aku selalu berpikir untuk sejenak berhenti…

Sore kemarin aku duduk di tengah sawah dekat rumah. Berbekal gorengan serta kopi botolan. Sekali-kali enak juga ngadem seperti ini. Syukurlah aku ini orangnya “murah”, bisa mencari cara healing yang tidak terlalu keluar banyak uang. Ya ini karena faktor krisis ekonomi juga sih, karena jika uangku lagi banyak, aku pasti akan melakukan ritual healing yang tak akan bisa kamu bayangkan hehe.

Di lain hari, kondisi gabut begini sudah pasti aku akan berangkat ke kota sambil tentunya membawa kamera. Ya, memotret itu salah satu sarana rekreasi sih. Namun jika mulai terasa tidak menyenangkan, malas juga aku melakukannya. Banyak hal yang sudah berubah, baik dari segi diri sendiri, juga dari segi lingkungan fotografi. Bagaimana pun, ini adalah kegiatan seni, dan salah satu sifat dari kesenian adalah ingin diapresiasi. 

Kemudian aku melihat seorang kakek di kejauhan, lagi tekun mengarit padi yang sudah menguning. Sontak saja aku teringat jaman dulu, kalau tak salah dulu aku pernah ke tengah sawah sendirian demi mencari adegan semacam itu untuk kupotret. Sayang sekali, aku tidak bisa menemukan filenya. Dahulu aku sangat buruk dalam arsip file, setiap aku jual kamera, kartu memorinya selalu aku kasih (tentu sudah aku format). Asalkan aku punya file BW hasil edit, itu sudah cukup, makanya aku jadi tak punya file aslinya. Di kemudian hari, aku sudah agak lebih waras, bukan cuma mengarsip foto aslinya, melainkan juga harus RAW.

Sekarang barangkali sulit kalian bayangkan aku akan memotret hal-hal seperti kakek mengarit padi… haha. Tapi di masa lalu, ya itulah. Baru kenal fotografi, obsesi pertama ya… bokeh. Karena tidak bisa pakai HP fotonya bokeh, makanya saat itu aku tak membuang sedikit pun kesempatan. Bahkan kalau perlu, setiap foto tuh wide open terus bukaaannya, agar blur maksimal hahaha.

Lumix GX7 + Helios 44-2 58/2

Ditambah dengan betapa awamnya aku saat itu, gak tahu mau motret apa. Kalau buka Instagram dan lihat foto-foto lokal, ya munculnya foto-foto yang begitu. Yang kemudian dikenal sebagai genre “human interest” (yang sampai sekarang pun aku tak pernah sependapat). Namun bagiku yang sangat awam, sepertinya itulah genre yang menyenangkan serta mudah untuk dipraktikkan. 

Aku juga beli buku fotografi di Gramedia. Tentu saja tidak akan mungkin di sana jual zine Daido Moriyama. Adanya ya buku seperti itu, makinlah aku terpengaruh. Jangan salah, sangat menyenangkan loh… jadinya pengen eksplorasi pinggiran kota. Pokoknya carinya kakek-kakek atau nenek-nenek haha. Kendati saat itu aku awam, namun aku cukup waras untuk tidak bikin foto yang isinya eksploitasi kemiskinan atau kesedihan penyandang disabilitas. Bahkan di masa sekarang pun, jika ada street fotografer pemula yang salah bimbingan sejak awal, bisa jadi akan mengawalinya dari “human interest” yang sedih-sedih.

foto sok sedih ala ala

Ah… beneran deh. Itu pasti sekitar tahun 2014, saat awal-awal aku menyukai fotografi. Mirrorless masih jadi hal baru, benda yang “niche”… tidak bisa buat kerja, namun kalau buat hobi apalagi street ya cocok karena kecil. Lensanya juga belum banyak, oleh sebab itu pakai lensa vintage disambung adapter tuh bukan buat gaya-gayaan, memang sangat lumrah kalau mau bokeh hemat. Di masa itu belum ada TTartisan dan sebagainya, kalau mau murah ya beli lensa manual analog.

Fuji X-T10 + Helios 44-2 58/2

Aku cukup mandiri untuk mencari tahu segalanya sendiri sih. Tanpa tedeng aling-aling aku beli lensa Helios 58mm, yang dicitrakan sebagai copy dari Zeiss, punya bokeh melintir. Dengan polosnya aku pasang pada body Lumix GX7, sehingga terciptalah crop factor 2x dan lensanya jadi 116mm hahaha. Eh tapi aku cukup suka lensa ini, tetap aku pakai ketika aku pindah ke Fuji X-T10, agak tidak separah Lumix lah crop factornya walau tetap saja jauh.

Sempat juga agar tidak kesusahan dengan FL terlalu panjang, aku eksperimen beli Fujian CCTV. Wah itu bokehnya lebih melintir lagi, namun hasilnya kacau… maklumlah, bagaimana juga itu lensa mainan, harganya cuma 200 ribuan.

Olympus E-M10 – Fujian 25/1.4

Demikian saat itu aku selalu pakai lensa paling dekat ya 50mm (Fujinon 35/1.4 atau Leica Summilux 25/1.4). Motret apa saja yang ada di jalanan. Dari segi hasil, wah… kalau sekarang dilihat kembali, suka ingin tertawa sendiri haha. 

Lantaran hobi pakai lensa manual serta adapter abal-abal, tak jarang sensor kameranya jadi kotor, yang paling parah ya kena biji besi. Waktu itu aku pakai Fuji X-T10, beli dari baru, dan baru juga sebulan sudah kotor parah sensornya. Aku bawa ke SC FFID (waktu itu ada di Bandung, sekarang tak ada, jangan tanya kenapa). Kuceritakanlah, aku minta cleaning sensor, kuperlihatkan pada si cewek pegawai sana, fotoku bercak-bercak semua terutama kalau foto langit. Kata dia kameranya harus dikirim ke Jakarta, ya sudah. Eh… bukan main baik, selagi kameranya menginap aku dipinjami X100T.

Terlepas kemudian teknisi Jakarta itu gobloknya bukan main, layar X-T10 saya dibongkar untuk diperiksa dead pixel – padahal bintik di layar itu karena sensor kotor bukan dead pixel – , tapi peminjaman X100T itu benar-benar berkesan. Setelah selesai dan aku kembalikan, langsung aku jual X-T10, Fujinon 35mm serta Heliosnya, untuk kubelikan X100T. Apalagi itu adalah kamera yang sama dengan kamera yang dipakai oleh fotografer kesukaanku…

editan yang sangat tidak masuk akal sekali ha ha – X100T

Kemudian aku mulai suka lihat foto-foto luar negeri. Satu yang sangat membuatku takjub adalah foto-foto Tatsuo Suzuki. Benar-benar memesona. Ah… ingin sekali bisa sehebat dia. Tak peduli harus beli kamera lain atau makan waktu bertahun-tahun, pokoknya aku bertekad. Aku ingin meninggalkan aliran foto random ini, untuk lebih bisa memotret orang lain dari dekat, dengan background yang terlihat seirama dengan subjek. Ya itulah, mengapa aku beli X100T dan mulai coba-coba mendekat. Ahhhhh. Ya sudah, ‘kan sekarang hasilnya sudah bisa kamu lihat setiap hari hehe.

Satu hal yang sulit sekali kuikuti adalah… bukan, bukan cewek cantik atau gedung-gedung di Tokyo, haha. Melainkan teknik dia bikin foto malam berbayang. Huh… aku tidak punya teman yang cukup hebat untuk mengajarkanku teknik itu, bahkan aku tidak tahu apa nama tekniknya. Aku eksperimen terus-terusan, gonta-ganti seting ini itu. Hingga akhirnya ketemu. Kunci utamanya ternyata shutter speed. Bukan main gembira saat itu. Walau ya tetap saja, agak ngeri-ngeri sedap ngeflash orang asing di jalanan tuh.

ini foto pertamaku eksperimen slow shutter, X100T yang beli sendiri

Waktu itu foto ini difitur oleh Fujifilm Indonesia. Bukan karena fotonya bagus kayaknya, melainkan karena pakai X70. Maklum, aku beli pas launching jadinya ya salah satu orang pertama yang punya. Saat itu ‘kan launchingnya bareng Xpro2, orang kebanyakan akan pilih mirrorless. Kamera pocket premium dengan lensa fix 28mm, siapa juga yang mau, kecuali saya.

Kayaknya aku terus ganti-ganti kamera, demi belajar serta eksplorasi. 

Kamera ini bisa double exposure, tapi aku rasa kalau kita foto orang lalu pindah ke daun, misalnya, kok rasanya apa kaitannya dan entah apa bagusnya, sudah saja gabungkan di Photoshop. Makanya aku suka pakai untuk bikin subjek jadi terlihat ada dua haha. Eh… sering direpost akun street haha, waktu itu gembira bukan main. Hingga lama-lama, aku bikin akun sendiri (storyofthestreet) . Ya walau pengetahunan masih pas-pasan, pokoknya ingin meninggalkan jejak. 

Sudah sih, selanjutnya full aku hanya fokus cari cewek cantik di jalanan. Aku juga pakai Ricoh GR, karena konon kalau bener-bener mau main street BW kayak Jepang, ya harus GR. Dan aku rasa, saat-saat terbaikku memotret ya pas pakai GR dan GR II. Kendati demikian, semisal sekarang aku beli lagi GR II, tentu feelingnya akan sangat berbeda.

Cewek ini adalah orang asing pertama yang aku beranikan diri untuk ajak portrait di jalanan.
Bingung juga sih, gimana ngajaknya, lalu gimana taruh dia di dalam pemandangan yang buruk ini dll dsb. Tapi ya aku harus berani mencoba. Setiap ada tantangan baru, ya mesti aku hadapi.

Kalau dilihat-lihat kembali, kok jaman dulu itu rasanya menyenangkan betul ya. Turun ke jalan pun bukan sengaja niat berangkat dari rumah, tapi sepulang bekerja. Namun dengan waktu yang pas-pasan, kok malah terpicu, hasil dan prosesnya selalu seru. Barangkali karena tidak ada tekanan harus membuat foto seperti ini itu, pokoknya jepret. Mau bagus mau jelek, upload.

Jam tujuh petang tuh waktunya anak street untuk upload. Instragram juga masih beres, enak sekali saling melihat karya teman-teman. Walau kadang ada orang menyebalkan, tapi selebihnya masih sangat kondusif.

sok akrab dengan bocil jalanan

Eh seringkali aku mencoba untuk nyetrit tapi tidak menargetkan foto tertentu, ya berharap bisa menikmati lagi keceriaan seperti dahulu itu. Apakah berhasil? well… sejujurnya belum. Namun aku akan terus mencoba.