Sebagus Apa Kamera Si Paling Ghaib?

Aku sulit berkata-kata, ketika mendadak banyak yang jual kamera ini dalam kondisi “baru” dengan harga… dua puluh juta!

Namun semuanya jadi masuk akal ketika aku cek harga bekasnya yang… astaga, lima belas jutaan. Tidak banyak sih yang kutemukan, dan justru karena sudah langka itulah makanya yang pasang harga bisa seenaknya.

Ini adalah Canon G7X II, kamera keluaran tahun 2016 yang jadi cikal-bakal membludaknya animo masyarakat untuk beli kamera pocket serta bikin harga jadi gila-gilaan. Konon katanya mulai populer lagi di Tiktok, hingga mulai diburu kaum FOMO. Efeknya ya merembet ke segala kamera lain, tapi itu sudah dibahas di post lain. Tulisan kali ini hanya membahas G7X II apakah layak ditebus mahal… karena ya ketika kamera sejenis yang ikut-ikutan digoreng tuh masih agak mudah dicari (walau mahal), kamera ini beneran langka…

Huh. Sebetulnya dari dulu pun kamera ini sudah populer sih, namun tidak gini-gini amat. Periode sebelum 2020, gampang banget cari kamera ini bekasnya di bawah empat jutaan. Kuceritakan sedikit sejarahnya, dulu tuh tidak ada yang beli kamera ini untuk fotografi, melainkan untuk vlog.

Kok begitu…? iya karena bentuknya kecil, layar bisa dilipat ke depan, menunya pun gampang sekali. Kendati mark II tidak ada mic input, namun dia bisa menangkap suara yang ngomong jernih sekali. Aku sangat tahu karena pernah punya dan suka bikin video pakai kamera ini.

Beberapa saat kemudian muncul mark III. Sepi peminat. Spek tidak banyak berubah, hanya saja ada colokan mic input, yang mana entah kenapa rasanya masih bagusan gak pakai mic eksternal. Lagipula kamera ini tidak ada hot shoe, jadi kalau mau pakai mic shot gun ya dipasangnya entah di mana… antara di lubang tripod dengan menambah lagi dudukan hot shoe ke sana, atau pakai small rig, yang mana bikin kameranya jadi tidak kompak lagi.

Tapi alasan utama mark III tidak laku, karena auto fokus videonya. Ini pun sudah aku buktikan sendiri, mark III lemot sekali, jangan harap bisa otomatis pindah fokus dengan nyaman, harus dibantu pencet layarnya biar titik fokus pindah. Tentu ini jauh dari ideal apalagi posisi video selfie, langsung goyang. Canon kasih firmware update sih, jadi ada mode baru yakni “vlog”. Walau cukup lumayan, tetap saja tidak secepat mark II. Belum lagi perkara skin tone agak beda, dll dsb. Intinya mark III tidak laku, selain lebih mahal, kok lebih jelek. Tak ada yang beli, kecuali saya…

sampai cari dulu foto-fotonya di arsip Instagram

Iya… aku beruntung pernah punya keduanya, bahkan dalam waktu yang sama. Harap maklum, waktu itu ‘kan aku kaya banget haha. Ya seandainya aku tahu bahwa di masa depan harganya bakal melambung seperti roket, tentu tidak akan kujual, alih-alih aku bakal menimbun sebanyak-banyaknya, toh di kala itu masih gampang sekali cari kamera ini.

Namun kenyataannya ‘kan barangnya sudah aku jual, haha. Tapi sebagai fotografer yang baik, aku selalu mengarsip file RAW setiap foto yang kujepret, jadinya di masa depan bisa aku buka dan edit lagi kalau ada software baru. 

itulah contoh DR dia kalau motret lawan cahaya

Demikian sekarang kamera ini populer untuk fotografi, terutama kaum FOMO yang duitnya banyak. Karena untuk VLOG, sudah gak ngejar. Orang yang mampu beli G7X II seharga 15 juta saya yakin hape dia Galaxy S24 Ultra atau iPhone 15 Pro Max, yang mana untuk video sudah jauh sekali meninggalkan kamera ini. Seriusan, di masa lalu orang-orang ngevlog pakai ini selain karena bentuknya yang ringkas, ya karena kualitas video di hape masih belum layak. Di tahun 2016, iPhone ‘kan baru sampai seri 7, dan kalau mau vlog sambil lihat muka sendiri mesti pakai kamera depan yang luar biasa surem.

Aku pun tidak memiliki kamera ini sejak tahun 2016, melainkan pas pandemi 2020 an. Pernah sih iseng saya kompare kualitas videonya dengan iPhone 12 Pro saya saat itu, bagusan iPhone ke mana-mana. Lain halnya kalau untuk foto, menurut saya G7X II agak lebih lumayan lah, walau pun…

Selingan sedikit, biar motret di jalanan makin sat set, pakai strap lengan dong jangan strap leher. Kabar gembira untuk kita semua, Storyofthetstreet strap sudah rilis lagi, setelah sukses tiga tahun lalu. Kualitas jangan ditanya lagi lah, makanya waktu itu pun sold out kilat. Kali ini pun dicetak terbatas saja, makanya jangan sampai gak kebagian. Mari turun ke jalanan dengan gagah berani dan keren. Segera check out di Tokopedia “kangchem pro“. Yuks.

Lumayan itu bagaimana…?

Ya… lumayan. Seriusan, kamera ini hasil fotonya tidak bagus-bagus amat. Sensornya memang 1″ tapi 1″ itu pun tidak besar. Kondisi siang hari, okelah. Ketika malam tiba, wah kacau noisenya. Satu yang saya ingat, kalau motret JPEG itu tone warna dia agak kuning vintage gimana gitu. Tapi kalau motret RAW, ya datar-datar saja.

Aku teringat dulu beli iPhone 12 Pro soalnya bisa RAW, dan RAWnya jelek sekali. Bukan cuma karena engine JPEGnya terlalu bagus sehingga sudah diproses sedemikan rupa, tapi juga ya memang RAWnya payah. Makanya kalau foto pakai hape mendingan JPEG saja. Nah pada G7X II ini, kasusnya agak mirip. Namun demikian, aku tentu tetap RAW karena fotonya mau aku proses jadi monokrom, serta aku sering motret dalam kondisi cahaya aneh, tujuannya supaya bisa angkat shadow, turun highlight dll.

Hasil fotonya… biasa banget. Sesulit apa pun aku berusaha, hasilnya tetap tak pernah spektakuler.

Tidak peduli sehebat apa color science Canon, ya beginilah batas kemampuan sensor 1″, sebab pernah juga aku pakai Lumix LX10 yang ukuran sensornya sama, ya hasilnya begitu juga.

Mana kalau mau main slow sync flash malam hari, susahnya minta ampun. Di menunya ada kok pilihan slow sync, tapi AF kalau malam hari luar biasa berat. Ini diperparah dengan tidak ada meteran jarak kalau mau manual fokus, jadinya ya jangan harap bisa motret flash sambil jalan ke arah subjek bergerak. Subjeknya harus diam, titik. Kalau mau maksa pakai zone fokus ya akalin sendiri, set dulu jaraknya ke benda lain semisal tiang listrik berjarak satu meter, baru kemudian cari subjek. itu pun seandainya ring fokusnya tidak tergeser.

Ini agak disayangkan karena sejujurnya kamera ini hasil fotonya kalau malam pakai flash, agak lebih mendingan daripada sore hari tanpa flash. Lebih terasa karakter serta detailnya, lebih clean juga… ya karena dengan flash, ISO bisa stay di 500 sedangkan sore tanpa flash mesti push hingga 1600.

Lensanya bisa zoom dari 24mm sampai 100mm. Dengan bukaan terbesar F/1.8 dan kalau mentok zoom hanya turun ke F/2.8. Itu kedengarannya sangat lumayan dan terang, dan kalau kamu mau tahu bokeh F/2.8 100mm pada sensor sekecil ini tuh gimana, lihat saja foto di bawah…

Begitulah… hasil foto kamera ini tidak istimewa. Pada banyak hal, lebih bagusan pakai iPhone. Bukankah kita susah payah bawa kamera khusus tuh demi bikin foto yang lebih bagus daripada iPhone, kalau hasilnya sama atau lebih jelek ngapain. Mahal pula. Kalau mau cari hasil antik, sudah saja digicam sejutaan. Intinya, kalau kamu berangkat dari digicam sejutaan, maka G7X II akan terasa bagus. Tapi kalau asalnya pakai GR atau Coolpix A, ya busuk.

Well, segala situasi dan kerumitan di atas mungkin tidak semua orang merasakan, karena tidak semua orang motret seperti saya dan juga pernah ganti kamera puluhan kali. Untuk fotografer kasual, apalagi yang tidak punya basic fotografi sama sekali, kamera ini ya fun fun saja. Apalagi baterainya awet. Nyesel saya beli baterai cadangan original karena tak ada Wassabi saat itu (mungkin sekarang ada, karena produsen baterai pun ngeh kamera ini hot lagi).

Jadi begini, saya agak tidak yakin itu unit-unit “baru” di Tokopedia tuh beneran “baru”. Kalau memang sejak dulu ada, kenapa baru muncul sekarang. Betapa sabar itu toko-toko, menimbun dulu sejak 2016 haha. Ini agak mirip Nikon Coolpix A, kaget betul saya sekarang tiba-tiba banyak yang jual baru. Beberapa warga binaan yang terpengaruh saya, pada beli. Dan mereka mengeluh, kameranya kalau dimatikan jamnya reset. Tentu itu karena baterai CMOS soak, tapi Coolpix saya baik-baik saja kok. Ada indikasi, toko-toko pun sudah sangat paham situasi FOMO digicam ini sehingga mereka cari-cari barang ke luar negeri, dibikin bagus lagi, dipaking ulang dll dsb. 

Tentunya para kaum FOMO yang sejak lama mendambakan kamera ini, bakal gembira bukan main, walau ya… dua puluh juta tuh… ah itu bahkan lebih mahal daripada Nikon Z5, yang merupakan mirrorless pro full frame. Saya sulit membayangkan, ada yang mau keluar duit segitu untuk kamera itu… walau ya kenyataannya ada saja. Kalau mau agak turun dikit, cari yang bekas, dengan kondisi yang kadang tidak bisa dibanggakan. Belum lagi kalau mau diteliti lebih lanjut soal debu-debu di sensor serta baterai CMOS yang sudah pasti soak. Rasanya tetap saja tidak worth it.

Seriusan deh. Kalau kamera ini harganya lima juta, saya masih dengan riang gembira merekomendasikannya. Tapi kalau sudah mahal banget, masih banyak kamera lain yang lebih layak dibeli.

Kalau sudah niat keluar duit segitu untuk kamera kecil, aku akan belikan Ricoh GR III, walau tidak bisa zoom tapi hasil fotonya berkali lipat lebih bagus. Sisa duitnya belikan baterai cadangan sebanyak-banyaknya. Kalau keukeuh mau selfie ya bisa Fuji X70. Jika tetap harus sangat kecil, ya sudah beli Sony Z-V1. Kayaknya itu satu-satunya kamera kecil yang tidak kena goreng. Tapi dengan saya sebut di sini, ya bakal kena goreng juga.

dengan bobot yang hampir sama tapi harga cuma setengahnya, aku akan pilih Nikon Coolpix A, hasil fotonya berkali-kali lipat lebih enak.

Demikian, memang dunia perkameraan sedang tidak baik-baik saja, ditambah kondisi ekonomi negara ini pun… makin mencemaskan. Tapi namanya hobi, susah juga. Bijak-bijak aja deh. Mau menempuh jalan ninja dengan cari “hidden gems” ya pelik juga karena sudah tidak ada yang terlalu “hidden”. Jangankan G7X II atau Ricoh GR yang secara terang-terangan digoreng habis oleh reviewer, kamera yang semestinya tak tersentuh kaum FOMO kayak Olympus atau Lumix pun, sudah kena goreng juga.

Aku tidak mau mengarahkan untuk beli kamera A atau hindari kamera B. Itu ‘kan uangmu sendiri, bijak-bijak saja. Ada kamera yang memang harganya cenderung naik karena memang punya nilai koleksi serta daya tahan yang panjang, contohnya Leica M. Nah khusus benda-benda ini, ah… hanya tren sesaat, yang sialnya belum ada tanda-tanda selesai.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram