Sesuatu yang (juga) Telah Hilang

Sepertinya tahun ini adalah genap sepuluh tahun saya wara-wiri di jalanan. Ya walau pun di masa-masa awal, dibilang nyetrit juga enggak terlalu sih, namun demikian kalau diingat kembali, sangat menyenangkan juga…

Aku baru benar-benar merasa “nyetrit” dengan benar ya ketika untuk pertama kalinya punya kamera Ricoh GR, itu sekitar 2016. Sebelumnya turun ke jalan, random saja segala difoto, ditandai dengan focal length lensa yang berubah-ubah. Aku tidak bilang bahwa orang yang bawa beberapa lensa atau pakai zoom itu tidak nyetrit dengan benar, tapi untuk diriku sendiri, jati diri sudah terbentuk ketika kita sudah menemukan satu focal length kesukaan dan lantas paten mantap selalu pakai itu, semisal 28 atau 35mm.

Demikian, masa-masa awal memotret memang terasa penuh warna. Selain dari semangat eksplorasi yang masih bergelora, juga didukung dengan lingkungan yang… menyenangkan. Kalau diingat lagi, memang benar rasanya banyak hal yang berubah, datang dan hilang. Pernah aku curhat mengenai betapa rindunya aku dengan suasana kota yang dahulu. Itu memang benar, semakin ke sini, gaya foto kita semakin terbentuk bahkan mengerucut, itu bukan hanya dibentuk melalui pengalaman dan pembelajaran, namun juga dari dinamika lingkungan.

Tempo hari, saya melakukan sesi portrait bersama sahabat. Ya intinya aku harus memotret Storyofthestreet zine vol 4, tapi supaya beda dari yang lain, aku pakai model dan fotonya di jalanan… layaknya portrait yang biasa kulakukan.

Selepas cari-cari latar belakang yang ada zebra cross agak rapi (ini sepele namun ternyata sangat sulit, sejelek itukah Bandung…), kami berjalan menuju jembatan yang biasa. Di sana seperti biasanya banyak angkot-angkot ngetem, kebanyakan dalam keadaan sama sekali mesin mati, karena nunggu giliran angkot lain terisi bisa lama sekali. Pada hari-hari lain, aku tidak begitu peduli… tapi kali ini kok rasanya ingin sekali bikin foto cewek di dalam angkot ya.

Sesuai dugaan, mamang supir angkotnya kooperatif sekali angkotnya aku pinjam untuk foto-foto, bahkan dia parkirkan di sudut yang tepat supaya menghadap ke arah yang pas. Tentu saja ini karena modelnya cewek cantik, kalau cowok belum tentu juga dibolehkan. Singkatnya, foto-fotolah, pas beres aku kasih uang rokok. Malah sama mamangnya ditawari untuk diantar pulang pakai angkot… haha mana bisa, kami ‘kan bawa motor, diparkir di Kopi Purnama…

Namun semua adegan itu, memang terasa tidak asing…

Kamu tahu mengapa pada tab “street” di galeri blog saya, terbagi dua jadi sebelum 2019 dan setelah 2019? ya, selain karena ada yang namanya covid, memang situasi jalanan berubah secara signifikan…

Dulu pas lagi gencar-gencarnya turun ke jalan setiap hari, lokasi kesukaan saya untuk memotret adalah di kawasan BIP dan BEC. Tidak pernah aku kekurangan subjek foto, baik di jalanan, hingga di dalam angkot sekali pun. Kala itu, tidak sulit menemukan wanita-wanita yang berdiri tepi jalan, menunggu angkot.

menanti angkot datang… akhirnya kenalan…

Setelah angkotnya datang pun, pasti ngetem dulu. Bukan main “sasaran empuk” untukku yang sudah mulai gemar memotret wanita yang melamun dalam kesendirian. Tidak jarang juga aku ikut naik, hanya demi memotret. Tapi ketika angkotnya sudah mau jalan, ya aku turun haha.

Itu menyenangkan sekali. Jangan dibandingkan dengan kalian warga Jakarta yang bisa naik MRT atau apapun transportasi umum yang tertata rapi, karena di sini tidak ada yang begituan. Sekarang, angkot ada isinya pun sudah syukur. Tapi pada masa “kejayaan” saya nyetrit, mendekati angkot yang ngetem adalah salah satu jalan ninja untuk mendapatkan frame.

Di BEC ‘kan pusat elektronik tuh, makanya banyak SPG yang cantik-cantik. Jaman itu, ojol belum segencar sekarang, oleh sebab itu angkot menjadi pilihan yang cukup digemari. Lain dengan sekarang, orang naik dan turun di lobi, jarang lagi yang sabar menunggu di tepi jalan. Akibatnya spot berburu pun terpaksa bergeser, karena tidak lagi tersebar merata. Eh tapi hal ini mungkin hanya berlaku dan bisa dirasakan oleh orang yang gaya motretnya kayak saya ya…

Ya sekarang pun sebenarnya ada saja orang yang nunggu ojol di pinggir jalan sih, tapi tetap saja beda jauh nuansanya. Sebentar juga sudah dijemput. Kalau pun belum, pemandangan di kanan kirinya jelek sekali karena penuh sama ojol-ojol lain. Mohon maaf saja, tapi sebisa mungkin saya selalu menghindari ada motor dalam frame, karena sangat tidak estetik.

aku mendapat kesan bahwa mereka yang biasa berbagi bangku dalam angkutan umum, jauh lebih mudah diajak interaksi (untuk foto) dibanding yang naik transportasi privat macam ojol…

Lain cerita kalau subjek fotonya duduk dalam angkot. Ada pantulan bayangan dari kaca angkot, belum lagi kalau ada penumpang lainnya dengan berbagai tampilan serta ekspresi. Seru banget, selaku pakai 28mm, saya harus sedekat mungkin, haha. Jika tanpa ada sosok cantik, mungkin isi fotonya bakal kayak di Prindavan… tapi ‘kan terbantu lumayan kalau ada ceweknya. Dan sebaiknya pakai lensa wide, jika pakai tele, akan terlalu padat dengan kompresi framenya, kesenangan berburu komposisi akan berkurang.

Kembali ke masa kini… praktis populasi angkot konvensional semakin berkurang, berganti jadi angkot online. Jauh sih, saya lebih suka angkot yang tulisannya “Zebra” daripada “Sigra”. Tentu saja sekarang sudah sulit menemukan angkot yang terisi penuh apalagi penumpangnya cantik, karena pada lebih milih naik ojol untuk kepraktisan atau keamanan. Ya itu mungkin lebih baik dari segi sosial, tapi buruk dari segi fotografi. Namun fotografi hanya satu bagian dari kondisi sosial, dan kita harus menyesuaikan.

Oleh sebab itu, foto-foto yang bertema angkot seperti saya dulu, kayaknya sulit lagi untuk bisa diulang. Mungkin angkot hanya dinaiki oleh ibu-ibu ke pasar, anak SD, dan copet di Preman Pensiun, yang bahkan tidak tayang tahun ini… huh.

kadang pula agak hujan, jadi banyak rintik air, ah… padahal cuma di angkot tapi bisa jadi sebuah frame yang berkarakter dan lumayan dalam…

Di kota mana ya, saya pernah lihat, angkotnya bagus dan bersih, serta gak banyak ngetem karena supirnya digaji pemerintah, jadinya gak lelet. Saya yakin di sini, angkot bisa ramai kembali seandainya ada pembaruan. Ya walau sebagai pengguna jalan, saya agak jengkel juga kadang suka macet gara-gara ada angkot berhenti seenaknya, namun dari segi street fotografi, betapa saya sangat merindukan “ekosistem” angkot yang seperti dulu…

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram