Demam “Camdig”

Belakangan, kamera seperti itu populer lagi ya. Kamera digital pocket yang kecil-kecil itu. Saya tidak suka menyebutnyan “camdig” alias camera digital… karena Leica Q pun digital. Semua yang bukan analog ya digital… haha. ya itulah pokoknya, yang kecil-kecil low MP. 

Aku ini ‘kan anaknya “pocket banget”… mungkin 80% waktu saya di jalanan, saya pakai kamera kecil yang lensanya tidak bisa dilepas. Tapi ya gak yang begituan juga, karena saya tidak memotret tiang lampu atau langit, melainkan orang-orang yang berlarian… makanya tetap butuh yang performanya oke. Namun demikian, melihat orang-orang bawa kamera kecil begitu, seger juga sih…

Kemarin pas nyetrit lihat cewek bawa begituan, jadi saya pelajari cara mainnya. di menunya ada filter beberapa, tapi jangan bayangkan super bening kayak Classic Chrome Fuji. Cuma sepia dan semacam bleach bypass. memori card cuma muat beberapa foto, tapi cewek itu bawa card reader, agar bisa langsung upload… Saya tidak sedang pura-pura gak tahu, saya memang pernah beli untuk dijual lagi, tapi tidak pernah saya pakai karena tidak punya card reader yang spesifik untuk Olympus MJU. Demikian kamera yang dipakai kakak itu, SD cardnya sama aja dengan mirrorless yang saya pakai. Mungkin tidak terlalu jadul…

Dan memang ada komunitasnya kok, untuk para geek, mereka bukan tanpa sebab cari yang seperti MJU, karena sensornya jadul masih CCD, sehingga warnanya bener-bener tua. Demikian, para geek itu memang sudah anak kamera dari sananya… namun tren ini diawali dari Tiktok kok, makanya yang bukan anak kamera pun jadi ikut-ikutan.

Pentax MX-1 hasilnya benar-benar vintage… saya punya kok, dan karena hasil fotonya terlalu jadul buat saya, makanya tidak pernah saya pakai haha
ini hasil foto Pentax MX-1 . di tangan saya, gak ada vintage-vintagenya sama sekali…

Kenyataannya itu MJU saya dua-duanya dibeli oleh cewek, salah satunya orang Bandung juga, dia bilang untuk foto es krim di Braga. Kurang lebih harganya sejuta setengah, ya okelah kalau buat mainan. Dan memang jika sekadar untuk selingan, okelah… tapi kalau untuk serius banget, ya gak bisa. Walau padahal tinggal pakai iPhone dan VSCO juga bisa sih kalau mau “vintage look”, namun aku seneng-seneng aja lihat hipster beli beginian karena tren, ya daripada mereka mahal-mahal beli GR III hanya untuk foto tiang lampu, ‘kan sayang… GR III itu selayaknya dipakai oleh orang-orang yang mengidolai Daido Moriyama, sehingga potensinya keluar maksimal, dipakai nyetrit snap snap depan muka.

Ya… saya tahu dari mana tren ini berasal, haha. sedikit banyak ini ada hubungannya dengan tergorengnya harga-harga pocket APSC macam GR II atau X70. 

Memang hasil fotonya vintage banget, tidak dibuat-buat, emang sensornya jadul. saya cukup tua untuk punya benda itu pas jamannya… dan memang membahagiakan sekali, walau dulu belum ada sosmed untuk majang-majang foto, tapi lebih mending daripada pakai pocket film… saya trauma, pas darmawisata ke Jogja, fotonya kebakar semua. makanya tatkala era digital masuk, akhirnya ada perasaan “ini nih yang gue tunggu”…

dengan ukuran yang lebih kurang sama, tentu saja GR III jauh lebih mumpuni, tadinya saya yakin ini kamera hanya untuk geek, tapi ternyata tidak juga ‘kan… siapa saja yang punya 15 juta bisa punya kamera ini, terlepas dari apapun latar belakang fotografi serta bakal digunakan untuk apa…

Seru sih lihat anak-anak muda bawa beginian di jalanan. Kendati setelah beberapa foto, pasti habis baterai. Susah bener cari spare batrenya. Namun ya mereka juga bukan street tog hardcore, nanti juga bosan sendiri. Padahal kalau memang sudah niat bawa kamera khusus, saran saya sih sekalian saja beli pocket 1″ kayak RX100 atau LX10, memang harus ada effort lebih untuk edit di VSCO atau LR Mobile, tapi filenya jauh lebih bisa dipakai bukan hanya untuk sosmed. Itu pocket-pocket jadul ‘kan maksimal 5 megapiksel, jadi ya… sebatas sosmed aja, setelah itu selesai.

Apakah memotret pakai iPhone lantas diedit di VSCO pakai preset jadul, bakal hasilnya mirip? saya bilang sih iya, malahan lebih bagus. Namun tidak otentik. Gak tahu juga ya, yang dicari tuh warnanya saja atau sekalian dengan efek-efek lainnya. Aku tidak terlalu mendalami warna, untuk alasan itu juga lah, aku tidak pernah tertarik memotret pakai film, tapi orang lain ‘kan suka. Untuk itulah orang-orang berlomba beli kamera Fujifilm. Apa daya, aku malah sukanya Lumix, yang warnanya datar-datar saja toh nanti juga aku proses jadi monokrom.

Sebetulnya ada kamera pocket modern yang hasilnya vintage banget tapi sekaligus bisa diandalkan untuk banyak hal… namanya Canon G7X II. Jangan ditanya, sudah pasti langka juga… ya gara-gara tren camdig Tiktok ini… gila, dua-tiga tahun lalu palingan cuma tiga juta… sekarang bekasnya bisa tujuh juta. Kayaknya itu sih hal menyebalkan yang diakibatkan tren ini, harga jadi gak karuan… -,-

G7X II. tentu saja aku pernah punya

Orang normal pasti beli GR II aja, atau Fuji X70. Namun dalam fotografi, kita ‘kan tidak mesti melulu mengambil jalur yang normal. Nikmati saja…