Setelah lebih dari enam tahun tanpa putus, akhirnya aku berhenti melakukan ini…
Ya, sudah diputuskan, aku tidak akan lagi hunting rutin Sabtu sore di kawasan Braga. Serentetan kekecewaan sudah mencapai puncaknya. Lokasi ini seolah dipaksa mundur beberapa tahun ke era kegelapan: pengamen bebas, pedagang bebas, odong-odong parkir sembarangan, semuanya semrawut. Semua karena ketololan yang punya wewenang, menghentikan secara permanen “Braga Beken” (alias car free day akhir pekan) untuk hari Sabtu, hingga hanya menyisakan Minggu.
Sejarah singkatnya, ya dulu Braga pun tidak ada yang namanya car free day. Itu baru ada sekitar tiga tahun belakangan. Nah semenjak ada, ya bahagia dong… turis senang, pehobi foto senang, warga pun senang karena bisa bikin panggung ini itu. Untuk konteks fotografi, saya sangat menyambut baik… saya jadi bisa membentuk “human wall” sebagai background, alih-alih memaksakan pohon-pohon aneh atau bola batu ada dalam foto.
Dalam kaitannya dengan gaya foto saya, car free day sudah membentuk pola dan formula. Karena motor mobil harus selesai di ujung jalan, mau tidak mau orang mesti berjalan untuk tiba di cafe atau toko tujuan mereka. Itu sangat enak untuk mencari subjek street portrait. Kemudian ada pertunjukan musik, bikin crowd dan semacam jebakan mulut botol untuk snap subjek lewat. Walau sederhana, tapi bahagia.

Akhir tahun kemarin ditiadakan, konon sementara hingga habis lebaran. Tebak apa yang terjadi berikutnya? ketika “Beken” dikembalikan, kini hanya Minggu. Tiada lagi di hari Sabtu.
Lepas dari ego saya yang suka motret hari Sabtu, ini adalah langkah mundur. Sebab populasi pengunjung Braga semakin padat, lalu walau tidak ada car free day, toh itu segala atraksi di trotoar masih tetap ada, menghasilkan ruang jalan yang terlalu sempit. Pengunjung terpaksa tumpah hingga jalan raya, berebutan jalur dengan kendaraan.
Tadinya saya dan kawan-kawan masih bersabar, sebab ada harapan sehabis lebaran bakal ada lagi. Pupus, kami kecewa. Terpaksa hunting seperti dulu lagi, atau bahkan jauh lebih buruk karena dulu sih tak ada atraksi-atraksi pemakan trotoar.

Puncaknya, Sabtu kemarin sengaja saya dan Daniel stay di sana hingga lewat tengah malam. Sekadar ingin tahu, betulkah jalannya segera ditutup karena sudah masuk hari Minggu. Benar sih. Walau ya sudah sepi dan masih banyak motor parkir. Agak termenung, gusar dengan kebahagiaan yang dirampas.
Maka esoknya saya bilang ke anak-anak, bahwa saya tidak akan lagi hunting di hari Sabtu. Saya akan melakukannya Minggu. Jika mereka masih mau gabung, saya sambut. Jika tidak, ya aku akan sendiri. Karena jujur hunting di Sabtu yang kacau-balau itu effort dan hasil tidak sebanding. Tentu ini signifikan karena aura dan gairah Sabtu sore dibanding Minggu itu jauh sekali, namun ada keputusan yang harus dibuat. Pada akhirnya, buat apa susah-payah hunting kalau proses dan hasil fotonya jauh dari harapan…
Setelah lebih dari enam tahun, aku tidak akan ada di Braga untuk Sabtu sore.

Coolpix A.
Si anak hilang telah kembali, walau agak lain. Biasanya saya punya hitam, kali ini silver. Jangan tanya dari mana, tentu saja dari Mas Nanung. Ini semacam tukar tambah pemain, sebab E-P7 saya oper untuk beliau, dan memang harus beliau… memangnya siapa lagi yang layak memiliki unit E-P7 yang mungkin hanya ada tiga biji di tanah air, selain dia.


Ya.. aku pakai untuk portrait. Rasanya masih sama seperti yang dulu-dulu. Rasa rindu terobati, nostalgia berjalan.
Menariknya di pekan yang sama, ada orang Bandung yang siap membeli E-M5 II dan 12mm saya sepaket, rumah dia pun dekat. Sempat sih aku berpikir, jual saja dan saya full balik pakai Coolpix. Tentu aku gembira-gembira saja pakai Coolpix, namun sebelum CLBK ada baiknya kita mengingat lagi, alasan apa yang membuat dulu kamera itu dijual.
Gak jauh-jauh sih, hal yang paling bikin jengkel ya zone focus meter dia yang reset kalau kameranya tidur atau padam.

Tapi setelah kupikir beberapa saat, kuputuskan untuk keep si E-M5. Simpel aja, nanti ketika butuh, gak akan nemu lagi kamera lima jutaan sebagus ini. Kamera ini punya semua yang aku butuhkan, maka tidak ada alasan untuk melepasnya. Bahkan dibanding E-P7 yang susah payah kutitip dari Jepang, saya lebih suka E-M5 II.
Oleh sebab itu, Coolpix A saya simpan saja dalam dry cabinet sebagai koleksi. Untuk harian, aku akan tetap pakai E-M5. Apalagi frekuensi hunting bisa dibilang semakin jarang.
Kalcer.
Babak baru dalam kehidupan bisnisku dimulai. Setelah beberapa tahun balik kecimpung di dunia denim, aku putuskan untuk buat brand skena kalcer. Kaget bukan main saya lihat pakaian dengan desain aneh-aneh begitu kok bisa digoreng habis-habisan reseller. Bahkan saya sangat akrab menyentuh salah satu brand yang produksi di satu lokasi yang sama dengan saya (tapi sekarang saya sudah cabut sih)… itu desain dan jahitannya jelek banget, tapi harga jualnya sama dengan selvedge denim saya. Laku pula.

Jujur sejujur-jujurnya aku masih jijik lihat celana sontog apalagi ada sablon aneh-aneh di front rise. Tapi kita harus bisa bedakan, mana idealis pribadi dan mana bisnis.
Saya mendapat investor dari Jogja, awalnya dia adalah pembeli saya. Saat dekat lebaran, saya bikin semacam sayembara untuk mencari investor, lantas cocok dengan beliau ini. Dia setuju-setuju saja saat aku ajukan YOZO sebagai nama brand. Yozo itu diambil dari nama tokoh utama “No Longer Human” karya Osamu Dazai.
Bukan hanya bikin brand dengan cara menumpang konveksi sana-sini sih, melainkan akan dibuat konveksi sendiri. Sebab ada banyak rencana serta proses kreatif yang akan lebih mulus jika punya pabrik sendiri.
Ya bisa dibilang saya jadi creative director. Jabatan yang terdengar keren, padahal memusingkan. Oleh sebab itulah aku butuh refreshing yang nyaman, tak mau lagi Sabtu malam di Braga yang semrawut.

