Beberapa tahun lalu aku menonton video DigitalRev episode Leica Noctilux 50mm F/0.95. Salah satu episode terbaik, karena jalan cerita, musik serta pengambilan latar untuk reviewnya pas sekali. Malam hari di Hong Kong, sambil jalan-jalan sesekali muncul sosok wanita asing yang termenung, lalu Kai foto dengan lincahnya. Bukan wanita asing beneran sih, itu talent mereka. Namun demikian, saya suka sekali episode itu, sesekali suka saya tonton lagi terutama kalau lagi butuh semangat sebelum memotret.
Tidak, artikel kali ini sama sekali tidak membahas Noctilux. Karena saya tidak punya. Tentu saja. Harga lensa itu 100 juta lebih. Sandainya saya sedang kaya raya sekalipun, tetap saja akan berpikir ratusan kali untuk beli lensa itu.
Tapi terima kasih untuk produsen lensa asal China, sekarang kita bisa merasakan “sensasi” bukaan sebesar itu dengan harga relatif terjangkau. Ya walau saya pasang lensa itu hanya di kamera MFT, tapi intensitas cahayanya tetap F/0.95, cuma bokehnya saja yang tak akan seperti full frame. Lagipula ini lensa APSC…
Dan karena 7Artisans 35mm ini adalah lensa APSC, makanya ketika dipasang di body MFT jadi tampak jomplang sekali. Seperti biasa, brand-brand semacam ini gak mau susah, jadinya lensa APSC diganti saja mountingnya jadi MFT, selesai. Bukan saya berburuk sangka, tapi 35mm dikali dua itu jadinya 70mm… mana ada focal length 70mm. Kalau di APSC, jadinya sekitar 53mm, masih masuk akal. Memang sih, produsen China yang agak niat bikin berbagai formula lensa manual untuk ukuran sensor berbeda-beda tuh kayaknya cuma Laowa dan Mitakon. Sisanya kadang suka kurang niat…
Baiklah, seperti apa rasanya pakai 7Artisan 35mm F/0.95 ini? well, ya biasa-biasa saja. Lensanya berat sekali, ring F tidak pakai klik klik, radius putaran manual fokus agak jauh, smooth sekali malahan terlalu smooth, saya berharap ring fokusnya ada sedikit “perlawanan” ketika diputar, karena kok rasanya lensa TTartisan yang sejutaan jauh lebih mudah fokusnya dan gak gampang geser. Ini kesentuh dikit, langsung geser.
Lensa ini harganya 3 jutaan kalau baru, jadi build quality jauh lebih bagus daripada yang sejutaan. Semua angka-angka penunjuk F dan jarak fokus, diukir bukan sekadar disablon. Tutup lensanya parah, model tempel kayak Fuji X100 series tapi sama sekali tidak menempel, hati-hati kalau taruh dalam tas terus lepas sendiri, nanti pasti menghantam optik depan.
Mountingnya… keset sekali pas mau dipasang, dan tidak berakhir pas ada “klik”, melainkan harus diputar sedikit lagi. Karena kalau cuma sampai “klik”, flange shutternya tidak terpicu untuk membuka, setidaknya begitu kalau di body Olympus.
Lensa ini, jadinya 70mm kalau di Olympus, jelas itu adalah focal length untuk portrait. Maka saya pakai untuk portrait.
Saya benar-benar berharap lensa ini bagus mulai dari wide open, karena apa gunanya punya F/0.95 kalau tidak terpakai. Sayang sekali, lensa ini baru mulai bagus di F/2.8, atau F/2 lah kalau pengen banget. Pada wide open F/0.95 benar-benar tidak terpakai, tidak tajam dan kontras sama sekali. Tapi kalau ingin karakter soft dreamy, ya paksa saja. Atau mungkin kalau motret malam hari, yang mana ketajaman itu nomor sekian, yang penting terang, nah bolehlah haha.
Stop down ke F/2.8 mulai terasa enaknya, dan menurut saya F/2.8 saja jangan ke /5.6 /8 dan seterusnya karena focal length sejauh ini kalau tidak bokeh jadinya macam hasil zoom lensa kit… Pada F/2.8 semuanya mulai asyik, subjek tajam (banget), purple fringing dan CA mulai bersih, kontras membaik dan pastinya bokeh pun masih dapet.
Ya, ya, bokeh. Ada, jangan khawatir. Creamy dan membulat. Kalau motret melawan cahaya, ada sedikit ghosting terang tapi malah enak. Tapi jangan coba-coba menembak arah matahari karena jelek sekali, coatingnya tidak cukup bagus untuk bikin efek sun star.

Kesimpulannya bagaimana? well, kalau harus dipakai di F/2 ke bawah, mendingan beli Olympus 45mm F/1.8, jauh lebih ringan, auto fokus, tajam sejak wide open, focal length juga gak nanggung, dan yang terpenting kalau bosen lebih gampang dijual.
Alasan harga tidak berlaku kali ini, karena lensa Olympus cuma 3 jutaan barunya dan 2 jutaan bekasnya, ini pun segituan. Jadi sama saja. Ambil yang 7Artisans kalau kamu memang ingin manual fokus beneran (bukan by wire), butuh ekstra stop untuk low light, atau pun untuk video karena AF MFT tidak becus kalau untuk video, kebanyakan main di MF saja.
Sepertinya lensa ini banyak variannya, ada yang F/1.2 dan /1.8. Jadi yang /0.95 itu sudah yang paling tinggi. Dibandingkan varian di bawahnya, yang ini jelas paling bagus, warna, bokeh hingga flare paling bener. Coating depannya pasti lebih tebal. Hasil foto sih ya oke-oke aja, tapi dengan melihat Olympus 45mm pun selalu sangat bagus dan lebih gampang digunakan, saya akan lebih merekomendasikan Olympus 45mm saja. Tapi kalau kamu punya niat beli 7Artisans atau TTartisan sejutaan yang F/1.4, ya nanggung nambah sedikit dapet ini, hasil fotonya jauh lebih bagus dan berkarakter, bukan asal tajam dan bokeh namun gak ada karakter khususnya. Yang ini, rada bagusan dikit lah, ada harga ada rasa.





