Belakangan ini ada hal yang cukup mengganggu pikiranku. Semuanya berawal dari acara wibu sebulan lalu. Bukan, bukan tentang Tomie yang sudah dikisahkan sebelumnya dan hingga sekarang aku tak tahu mengapa. Kali ini, sedikit lebih bikin miris…
Sebulan yang lalu, seperti biasa di Minggu sore nan mendung, aku dan grup wibu menyambangi acara cosplay di salah satu mall paling besar di Mondstadt. Seperti tak ada bosan dan kapoknya, karena memang demikian.
“Apa-apaan ini?!” keluhku saat melihat sekerumunan orang berjoget di depan panggung kosong. Iya, panggung kosong, tidak ada artis apapun yang tampil. Hanya ada lagu “Heavy Rotation” diputar dengan sangat keras kadang suaranya naik-turun supaya sound man yang disewa seolah-olah jadi DJ dan ada kerjaan. Menyusul kemudian sosok pemuda yang pakai setelan ojol orange masuk kerumunan sambil bawa guling besar bercetak karakter game anime. Astaga. Apa kata ibunya kalau tahu.
Penonton teriak mengikuti lagu, seolah-olah di panggung kosong itu memang ada AKB48 sedang tampil. Aku muak melihat kerumunan ini.
“Cari makan yuk…” ajak Zhongli.
“Aromanya sedap dari arah sana…” timpal Childe.
Memang karena saking luasnya pelataran mall ini, bisa selenggara beberapa acara sekaligus. Makanya di sisi lain sana, ada festival kuliner khas Sumeru. Membayangkannya saja sudah membuatku ngiler. Segera aku, Zhongli, Childe, Gorou dan Guoba berjalan ke sana. Kami berpencar, masing-masing beli satu dua menu, lalu kami seret paksa bangku ke pojokan untuk dibuat jadi meja. Lahap kami menyantap sate khas Sumeru, juga kepiting, dan lain-lain.
“Aaah, kenyang…” ujar Guoba.
“Lanjut moto lagi?” tanya Gorou.
“Santai lah, sebat dulu…” jawabku.
Ketika lagi asyik ngebul, lewat dua orang cewek. Berpakaian dan wig juga seperti anime, tapi aku tak tahu anime apaan. Sontak Gorou segera nyamperin. Dia sedang semangat-semangatnya memotret setelah aku ajari teknik dasar, tapi belum ada niat beli kamera makanya pakai kamera punya saya. Pun demikian, kami lagi mengembangkan klub wibu dan fotografi yang diberi nama “Yoimiya”, sesuai karakter Genshin kesukaan saya, sang gadis kembang api.
Demikian juga selain memotret, Gorou aktif membagikan kartu nama dan stiker yang juga bergambar Yoimiya. Guoba dan Zhongli ikutan motret dua gadis itu. Aku dan Childe tidak ikutan. Lagi pula dua gadis itu tidak buka masker, dan pun nanti cuma upload ke akun Yoimiya, gak usah terlalu bagus jadi kubiarkan saja Gorou yang memotret.
Aku mendekat tapi tidak sampai mengeluarkan kamera. Dua gadis itu, yang satu kurus dan bawa otopet, kaos kakinya tinggi sekali kayak Kilian Mbappe. Yang satu lagi agak putih, bajunya keren, jarinya lentik pegang kamera digital jadul, tapi tetap pakai masker jadi aku gak tahu juga ya aslinya. Tiba-tiba Childe menepuk bahuku, “Kang, sini sebentar…” ajaknya.
Kami berjalan beberapa langkah menjauhi sesi foto.
“Ada apa?” tanyaku.
“Gadis itu nyilet…” bisiknya.
“Nyilet? apa tuh?” juga kubisiki.
“Tangannya, ada bekas disilet banyak banget…”
“Hah??”
Guoba, Gorou dan Zhongli sepertinya beres memotretnya. Tentu pula ada adegan minta Instagram dan bagi-bagi kartu nama.
“Mantap…” seru Zhongli sambil jalan ke arah kami.
“Siapa tadi nama mereka?” tanyaku.
“Yang bawa otopet, Layla. Yang bawa camdig, Faruzan…” jawab Guoba.
“Nah, yang Layla parah banget bro…” ujar Childe.
“Parah gimana?”
“Tangannya banyak bekas silet…”
“Astaga…”
“Supaya apa??”
“Biasanya kalau stress, gitulah remaja sekarang…”
“Ya ampun…”
“Kenapa gak coli atau mabok aja ya…”
Malamnya aku santai mengolah foto sambil sesekali buka Instagram.
“Duh si Gorou…” aku sudah bilang padahal jangan follow siapa-siapa pakai akun Yoimiya. Biarkan saja nol. Mana kalau bikin story ngetag cewek, captionnya centil bukan main. Ini sangat bertentangan dengan karakter diriku sendiri di sosial media, tapi ya ini ‘kan Yoimiya jadi mungkin harus ramah atau apalah.
Nah, ada tuh, duo cewek tadi dia tag. Astaga foto-fotonya gak ada yang jelas. Si Faruzan agak lumayan, walau tetap gak jelas. Tapi yang Layla, kenapa ini bahasanya kasar-kasar sekali, isinya coret-coret dia dan selalu ada adegan berdarah-darah. Sepertinya dia menyukai darah dan silet. Pokoknya sama sekali tidak seperti remaja cewek pada umumnya, fotonya selalu menyendiri, penuh khayalan abstrak, dan juga darah…
Seminggu kemudian. Sebagian dari kami datang untuk nongkrong dan motret di acara wibu berikutnya. Tidak, tidak ada duo Layla dan Faruzan. Sial sekali untuk keluar dari komplek mall ini susah sekali, antriannya panjang, padahal sudah jam sembilan malam.
“Makan ajalah, lapar…” seruku. Aku, Guoba dan Alhaitam yang tadinya sudah siap pulang, kembali memarkir motor. Lalu jalan ke KFC. Eh di sana ada sosok dikenal.
“Amber! kenapa belum pulang…?!” seruku.
“Eh… Kak Albedo dan kawan-kawan… kebetulan…” dia cengengesan.
Amber ini cosplayer yang cukup akrab dengan kami. Dia masih SMP tapi badannya kayak anak kuliahan. Cantik lumayan, tapi ganjen, suka gelendotan sama laki-laki mana saja yang ada di event, tapi saja kalau tidak kuteriaki mungkin cowok di sebelahnya bakal lanjut sosor payudara dia. Walau masih ada lucu-lucunya sedikit, tapi tetap saja bikin aku makin yakin kalau dunia wibu itu tidak selucu yang dikira…
“Apanya yang kebetulan?” tanyaku. Alhaitam masuk ke dalam KFC untuk antri. Aku dan Guoba duduk, diikuti Amber.
“Kak Guoba mau nganter aku pulang lagi gak? hehe…” Amber memelas.
“Lah, sepanjang siang jalan-jalan dan gelendotan sama cowok lain, ngapa pas pulang sama gua?” keluh Guoba.
“Huh…”
“Maklum, cowok-cowok labil itu gak punya biji untuk berani nganter cewek malem-malem… cuma mau enaknya doang haha…” kelakarku.
“Uh, kalian jahat…” dia menyibak hoodie dari kepalanya lantas menyilangkan tangan, hingga lengannya kelihatan…
“Eh…” ujarku.
“Apa kak?” tanya Amber.
“Perlihatkan lenganmu…”
Dia angkat lengan kanannya.
“Bukan, yang kiri…” seruku.
“Jangan ah…”
“Cepet, nanti diantar pulang sama Kak Guoba…”
“Malu ah…”
“Cepet…”
Akhirnya dia gulung lengan hoodie longgar itu.Terlihat jelas, di bagian urat nadi ada dua-tiga bekas luka sayatan. Sudah pasti itu bekas cutter atau semacamnya.
“Astaga… kamu juga?”
*****
Tanpa sepengetahuanku, “Yoimiya” sudah cukup akrab dengan cewek-cewek cosplay. Sepertinya pendekatan ala Gorou dan Guoba cukup masuk untuk para remaja. Mereka berdua aku tugaskan untuk mengelola akun Yoimiya. Semoga saja mereka tidak lupa tujuan utamanya, yakni edukasi pada para model di acara event untuk menjauhi predator-predator foto gratis, serta juga kami berharap dapat sosok potensial yang mau berfoto sebagai manusia biasa di dunia biasa, bukan sebagai cosplayer di acara. Tentunya kami bayar.
Tengah malam, Gorou mengirimi pesan.
“Ada nih yang mau difoto casual, gas gak…?”
“Siapa?”
“Si Layla…”
“Yang mana sih?”
“Itu loh, si silet…”
“Ooohh… gak mau ah…”
Gorou gak bisa apa-apa kalau aku gak mau, ‘kan aku yang punya semua kamera. Aku tidak mau ah moto gadis itu. Kalau tak sengaja ketemu sih oke, kalau harus sesi khusus, nggak ah.
“Si Faruzan, temennya ikut juga..”
“Yang pegang camdig?”
“Iya.”
“Yang jarinya lentik?”
“Heem.”
“Yang lututnya putih…?”
“Yoi.”
“GASSSS!!!”
Esoknya jam tigaan kami sudah nongkrong di Purnama, yang sekarang sudah ditetapkan jadi markas besar wibu club. Sebetulnya janjian jam tiga, tapi namanya orang Indonesia, maksudku Tvyat, susah kalau diajak on time. Kami bertiga menyeruput kopi masing-masing.
“Lama bener!” seru Guoba.
“Sabar, namanya juga remaja…” jawab Gorou.
“Remaja gak disiplin!” kecamku, “Coba chat!”
Tak satu pun antara Guoba dan aku yang berminat chat mereka, makanya semua diurus sama Gorou, lagian dia yang ngajak.
“SABAR COY GUWEH LAGI SIAP-SIAP.” begitu jawabannya. Gila, logika dari mana janjian jam tiga, ini jam empat masih siap-siap. Dia pikir jarum jam berputar mundur atau apa sih.
Kubakar batang rokok terakhir. “Jam lima gak ada, cabut pindah ke Braga…” kuberi mereka instruksi. “Kalau dia datang gimana?” tanya Gorou. “Ya suruh susul ke Braga, lagian mau foto apaan petang hari di ABC? gelap semua…” ujarku.
Dan memang sampai jam lima , tidak ada yang menampakkan batang hidung di Purnama. Kami bermotor ke Braga, parkir di Circle K rel kereta, lalu nyetrit di lokasi yang luar biasa membosankan ini. Satu dua tiga putaran, dapat lah beberapa foto, kemudian kami istirahat di bangku pinggir jalan. Tak satu pun pengamen berani mendekat, sepertinya mereka tahu saya ini siapa. Tak terasa, matahari sudah hilang, sebuah senja di Braga yang jauh dari kesan sinematik…
“Eh, orangnya chat tuh, udah dateng…” celetuk Gorou.
“Dateng ke mana?” tanyaku.
“Parkir di Braga Citiwalk katanya… hayu…”
“Hayu ke mana?”
“Samperin…”
“Lu aja sana, bawa ke sini…”
“Iya, enak aja udah ngaret lama, ingin disamperin…”
Tanpa banyak omong, Gorou langsung gerak cepat jalan ke arah Braga Citywalk. Aku dan Guoba bukannya diam saja, kami akhirnya nyusul dengan pelan. Karena walau kesal, tapi ingin juga foto si Faruzan, bukan si Layla. Duh, seragam sekolah Jepang di Braga, gimana ya fotonya…
Sejurus kemudian Gorou muncul bersama Layla. Ha?
“Temennya mana..?”
“Gak jadi ikut…” jawabnya datar.
“Hah.”
Guoba dan aku mencoba menyembunyikan rasa kecewa. Sudah harus nunggu lama, yang diharapkan ada malah gak ada, sisa si ini seorang. Aku menghela nafas. Kukeluarkan kamera, lalu aku seting mode semi auto yang hanya atur angka F, kemudian kuberikan kameranya pada Gorou.
“Nih…”
“Gua yang foto?” tanya Gorou…
“Yoi. Urang behind the scene…” jawabku.
Behind the scene itu adalah sebutan jika aku malas untuk memotret. Gorou dan Guoba sudah memahami. Kami berjalan ke ujung jalan Braga, mencari spot yang bersih serta tidak mencolok perhatian karena yang kami foto kostumnya kayak Usagi Sailor Moon.
“Gueh sebenernya sama nyokap ke sini…” tiba-tiba Lalya nyeletuk.
“Hah? mana??” Gorou kaget.
“Itu…” dia tunjuk, memang ada wanita mengikuti kami, dari jarak sekitar dua puluh meter.
“Astaga… ajak ke sini, jangan disuruh jauh gitu…” suruhku.
“Biarin, suka ganggu…” ujarnya.
Ya memang pasti ganggu sekali kalau ada ibu ngikut-ngikut pas sesi foto, tapi kalau sudah terlanjur ada ya apa boleh buat, jangan juga disuruh jauh-jauh begitu. Aku samperin si ibu, mengajak untuk jalan dekat-dekat kami saja. Bagaimana juga, itu orang tua.
Akhirnya sampai kami ke ujung jalan Braga. Tidak lebih baik juga pemandangannya sih, tapi lumayan tidak mencolok dan yang terpenting bebas tukang ngamen dan pengemis berkedok mahasiswa. Aku duduk di emperan sambil merokok, kubiarkan saja Guoba dan Gorou memotret sepuasnya. Si Ibu rekam-rekam video anaknya yang lagi difoto. Entah siapa yang mengarahkan, tapi aku sama sekali tidak melihat pose yang umum, semuanya terasa canggung dan kelabu.
Sejenak aku mampir ke Circle K untuk beli beberapa botol air mineral untuk Layla dan ibunya. Belum juga disentuh, tiba-tiba ibunya berdiri. “Udah yuk udahan, kita pulang…” ujarnya. Hah. Baru juga sepuluh menitan. Aku pengen ketawa sih, karena Guoba baru saja mau mengeluarkan properti untuk foto, eh disuruh udahan sama ibunya. Lantas mereka pamit, ya sudah, begitulah.
Kami semua duduk di Circle K. Antara heran, kaget, dan juga menahan tawa.
“Apaan sih tadi itu?”
“Entah deh…”
“Nah, udah biarin… jangan pakai dia lagi… sudah ngaret, bawa ibu, sepuluh menit udahan pula…” simpulku. Mereka harus setuju.
Sial, aku lupa set format foto jadi RAW + JPEG, ini cuma RAW saja, jadinya tak bisa aku wifi foto-fotonya langsung ke hp Gorou. Aku malas sekali harus memproses foto-foto cewek itu jadi JPEG lalu upload ke Google Drive. Karena Gorou sudah janji untuk mengirim foto-fotonya.
Kupilih foto-foto yang fokus saja. Bukan yang bagus, sekadar fokus dulu sajalah, karena Gorou masih amatir. Mau tak mau harus aku import ke Camera RAW, dan… aku ngilu sekali melihat foto-foto yang ada tangannya… rasanya bekas silet itu makin banyak saja dan terlihat baru…
Aku rasa ada alasan kenapa ibunya “cut” sesi foto tadi sesegera mungkin…
*****
Tapi memang duo silet ini aktif sekali chat dengan “Yoimiya”. Apa mereka tahu kalau Yoimiya itu ada tiga orang. Si Faruzan, aku lihat-lihat agak beda dari si Layla, agak lebih rapi lah, dan gak ada hal-hal ekstrim. Demikian aku pun angkat topi dengan selera manga dan musik Jepang dia, anjay Malice Mizer, Dir en Grey, Buck-Tick… jelas ini bukan wibu selewat macam di event-event, yang tahunya cuma anime kepala gergaji. Juga kulihat foto-fotonya, dia beneran pernah ke Jepang.
Iseng aku buat story,
LOWONGAN PEKERJAAN, JADI MODEL SANTAI BERSAMA YOIMIYA. FEE : 300K + KOPI , UNTUK HARI MINGGU.
tapi setelah diberitahu oleh Guoba, iklannya harus aku revisi.
NOTE : KITA YANG KASIH KAMU UANG, BUKAN SEBALIKNYA.
Mestinya tidak harus begitu sih karena tentu saja fotografer yang bayar model, namun karena ada hal-hal tak lazim yang membuatku kena culture shock saat di dunia wibu, jadi apa boleh buat. Aku pun tak mau disangka minta-minta uang ke cewek, apa ntar kata guru saya Mas Andrew Tate…
Faruzan membalas cerita anda. Begitu pemberitahuannya. Ya, yang agak cantik dan lututnya putih itu, tapi kemarin gak datang.
“Waah, mau dong bang Yoimiya…” balasnya.
“Mau apa?” balasku. Tapi kemudian Gorou ambil alih, tentu saja dia lebih cocok untuk chat dengan cewek remaja.
“Jadi gini teman-teman…” buka Gorou di grup chat kami.
“Masih mau foto si Faruzan gak mang?” Guoba menimpali.
“Ah, kemarin juga gak bener…” kecamku.
“Sekarang pasti bener, ‘kan ada uangnya…”
“Kemarin juga ada, tapi dia balik baru juga bentar…”
“Kemarin dia gak datang, karena bilangnya mau dijemput sama si Layla, ternyata enggak…”
“Sama aja parah.”
“Lututnya putih lho..”
“Gak peduli…”
“Udah, lokasi n jadwal, gua yang atur…”
“Terserah deh… gua anggapnya ngopi aja, moto cuma bonus…”
Begitulah, walaupun bilangnya mau ala kadarnya, tetap saja dipersiapkan. Gorou malah cek lokasi dulu, melihat arah angin serta matahari jatuh ke sebelah mana kalau sore di gedung lokasinya. Guoba beli payung transparan dua biji. Aku, mencoba tak peduli… walau sebenarnya aku masih tertarik dengan Faruzan, kepribadiannya menarik, walau demikian aku belum pernah mengecek lengannya sih…
“Lokasi aman…”
“Payung aman…”
“Sebentar, sebentar, ini si Faruzan aja ‘kan?”
“Enggak, harus sama si Layla…”
“Ah…”
Sejak kemarin ada grup chat baru, anggotanya Yoimia, Faruzan dan Layla. Walau tidak ikut chat, tapi aku bisa baca semuanya. Gorou menyusun rencana untuk memotret di Bandung Creative Hub di Minggu siang, roof top dan beranda gedung itu bagus, juga banyak spot, dan kalau bosan tinggal jalan kaki sedikit, banyak lokasi lain.
“EH KALIAN MAU GUE MASAKIN STEAK GAK GUYS?” begitu chat Layla.
Gorou berulang kali menekankan, jam dua siang, dan duo silet setuju. Tentu tidak benar-benar motret jam dua siang karena panas terik, tapi dengan melihat track record mereka, jamnya harus dimundurkan agak jauh…
Hari H pun tiba. Drama terjadi (harus), Layla mengabari bahwa ibunya ingin ikut, Faruzan yang lupa dan baru mandi jam satu, dll dsb. Aku gak mau ambil pusing, aku berangkat saja, niatku ngopi. Niatku ngopi. Ngopi.
Ya, kami bertiga duduk di Alfamart dekat gedung lokasi. Jam tiga, tak ada yang muncul. Faruzan bilang nunggu dijemput Layla. Layla gak ada kabar. Gorou berangkat sendiri ke gedung lokasi, untuk mendapati info bahwa roof top hanya dibuka sampai jam empat. Batang demi batang rokok dibakar, terjadi lagi.
“Terjadi lagi…”
“Kan aing udah bilang, cukup gak usah lagi…”
“Iya, ini Faruzan yang antusias ‘kan…”
“Kalau antusias, datang harusnya…”
Teng, jam empat. Menunggu di sini pun percuma, karena gedungnya tak akan bisa dipakai. “Ayo…” kusuruh mereka siap-siap, kita menuju Purnama. Ngopi ajalah. Tinggalkan tempat ini.
Dengan kena hujan yang cuma setengah menit, kami tiba di Purnama. Memesan kopi susu. Semua tampak kesal, dan memang bisa diprediksi.
“Aing motret selebgram yang harganya jutaan, gak pernah telat apalagi gak datang…” kecamku. Yang lain main hp.
“Banyak missed call nih, dari Layla.” kata Guoba.
“Biarin aja, jangan dibalas.” seruku.
Kami melanjutkan sore dengan main game dan makan roti kukus serikaya khas kedai kopi ini. Tak berhenti hp Guoba berdering, hanya dia yang mengaktifkan pemberitahuan. Aku tidak pernah.
Jam enam sore, jalanan di depan Purnama sudah kosong, karena ini Minggu dan juga agak gerimis. Tiba-tiba saja sesosok gadis berpakaian seragam sekolah Jepang turun dari ojol, lalu masuk ke Purnama tanpa menoleh.
“Itu dia ‘kan?” tanya Guoba.
“Iya kali…” jawab Gorou.
“Lagi-lagi cuma dia, temennya gak ada…” timpalku.
Bukannya mencari kami duduk di mana, dia malah keluarin hp dan motret lukisan di pojokan. Bicara sendiri, lalu termenung. Dan akhirnya jongkok sambil memegang kepala, macam orang mau pingsan. “Eh kenapa tuh… cepet bawa ke sini…” seruku. Segera Gorou mengambil cewek itu, dan mengajaknya duduk bersama kami. Aku benar-benar tidak ingin terlibat, aku pura-pura scroll layar hp.
Layla dia saja, tak berkata apapun. Guoba punya ide lain sepertinya, dia bangkit.
“Yuk kita cerita di luar…” ajaknya.
Layla mengangguk, dia ikut ke luar kedai.
Aku dan Guoba saling berpandangan.
“Apaan tuh?”
“Mungkin naluri kebapakan dia muncul…”
Setengah jam kami dibiarkan menunggu di sini. Mana hp si Gorou pun ditinggal di meja. Bukan main deh, hari ini aneh sekali. Faruzan yang kuidamkan pun tak pernah muncul. Apa-apaan sih ini. Jelas, minat memotret kami sudah tidak ada. Bahkan harusnya dia usah datang. Ah.
Beberapa menit kemudian, Gorou masuk membawa Layla. Dia tampak lebih tenang. Kalau dilihat-lihat sebetulnya dia sama sekali gak jelek, malahan cantik. Dia memesan susu coklat setelah disuruh Gorou. Meneguk sampai habis, padahal itu panas sekali. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya… cutter besar.
“Yo… what the…” aku kaget, apalagi Guoba yang duduk sebelahan.
Kemudian diangkatnya tabung kecil berisi cairan merah.
“Ayo..” ajak Layla.
Gorou mengangguk. “Hayu…” dia ajak Guoba. “Kita foto-foto bentar…”
Sejurus kemudian, muncul seorang pemuda. Sepertinya teman sekolahnya. “Aku disuruh ibu kamu buat nanti jemput pulang…” katanya. Tapi Layla malah melipir ke luar, Gorou dan Guoba ikut. Aku tak mau ikut.
Pemuda itu duduk di bangku seberang.
“Hei kau…” panggilku.
“Iya kang…”
“Sini duduknya…”
“Iya, kang.” dia nurut.
Kuberi dia rokok, lalu kutanyakan apa maksud kedatangannya. Dia cerita bahwa dia sudah berteman dengan Layla sejak SD. Dipercaya oleh ibunya, dan tahu cara menangani kalau ada kejadian, soalnya juga sering ikut mengantar ke psikiater. Tapi cara dia bercerita sangat kurang lengkap dan banyak yang ditutup-tutupi, kendati demikian aku angkat topi karena dia mau melindungi sahabatnya apalagi ini wanita dan kelihatannya tidak sehat secara mental. Oleh sebab itu dia kubelikan rokok serta kusuruh pesan kopi.
Setengah jam berlalu. Guoba, Gorou dan Layla akhirnya kembali. Tetap tidak ada Faruzan, baik di sini atau minimal mengabari di Instagram.
“Gaes, minggu depan gue ultah lho…” tiba-tiba Layla nyeletuk.
“Oh… iya…”
“Pada dateng ya, gue masak steak terus nanti kita main kembang api…”
Setelah duduk-duduk sejenak, mereka kusuruh pulang karena sudah malam. Tidak usah bayar kopi, sudah pulang saja. Bodoh sekali, pemuda itu parkir di Braga, padahal kami ada di jalan Alkateri. Tapi terserah saja. Aku lega melihat mereka pergi, dan aku pun sangat penasaran, ngapai tadi si Gorou ngajak Layla keluar.
Tapi tampaknya aku tidak harus menyuruh dia cerita, karena dia pun tampak gatal ingin segera bercerita. Setelah membakar rokok, dia mulah angkat bicara…
“Jadi dia punya Scizofernia, dan juga AADC atau apalah namanya…”
“Oke..”
“Tadi begitu masuk sini, langsung gelisah ‘kan. Itu dia nahan diri untuk gak histeris…”
“Dia… tidak punya teman di sekolah, pindah-pindah terus. Di rumah sering disiksa ayahnya yang orang bule. Waktu sekolah di Jepang, pernah hampir diperkosa ramai-ramai…”
“Ya ampun…”
“Selalu ada bisikan untuk menyiksa dirinya sendiri… dan bisa tiba-tiba ngamuk…”
“Iya anjing itu bawa cutter gede aja udah aneh.”
“Di kaki juga banyak sih. Ini bukan menyiksa diri sendiri karena gak dibelikan iPhone atau dilarang pacaran. Ini lebih dari itu. Dia trauma mendalam, ditambah gangguan mental… Tiap pekan harus ke psikiater, minum obat pun rutin…”
Kami hanya terdiam. Segala rasa kesal karena ngaret motret beberapa kali, mendadak jadi rasa kasihan.
“Tadi makanya telat, berantem dulu sama ibunya… ibunya maksa ikut, dia gak mau…”
“Makanya pergi sendiri dan gak jemput Faruzan…”
“Tentu saja ibunya harus ikut, kalau-kalau dia tiba-tiba kumat…”
Untuk beberapa saat, kami hanya saling merenung. Lagi-lagi aku terlibat hal aneh, padahal aku datang ke acara wibu itu untuk memotret. Mau tidak mau, jadi kepikiran. Di balik segala postingan dan tingkah lakunya yang aneh, ternyata…
*****
Tadi malam aku bermimpi tentang dia. Duduk sendiri di pojokan sekolah, daun-daun rontok, langit berubah merah. Dia bawa kembang api di tangan kiri, seperti Yoimiya, dan… cutter besar di tangan kanan. Seluruh tubuhnya penuh bekas sayatan, darah segar mengalir ke mana-mana. Dia, berjalan menuju ke arahku, selagi tubuhku tak bisa bergerak seperti ada yang menindih…
Sabtu depannya…
Selepas dari acara wibu yang garing makanya kami hanya bertahan sejam, aku Gorou dan Guoba memutuskan untuk lanjut street ke Braga. Tidak berarti lebih bagus sih, ya begitu-begitu saja. Baru juga jam lima, kami sudah lelah dan lanjut duduk-duduk.
Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Seseorang berulang tahun hari ini. Kukeluarkan hp, lantas cari-cari foto untuk dibuat sebagai Instagram story.
“Bikin apa?” tanya Guoba.
“Ucapan happy birthday.”
“Buat siapa?”
“Eimi Fukada, dia ultah hari ini.”
“Aktris JAV?”
“Hooh…”
“Pakai akun Yoimiya…?”
“Iyalah, kalau mau wibu jangan nanggung.”
Beberapa saat kemudian, Gorou ditelepon oleh orang rumah, sepertinya ada perlu penting. Jadilah dia pesen ojol untuk pulang, karena tadi berangkat dibonceng motorku sedangkan aku belum mau pulang. Petang baru dimulai, aku melanjutkan street dengan Guoba, di Braga yang jadi agak ramai, tapi tak pernah bagus.
Sebentar-sebentar capek, duduk lalu merokok dan main hape. Aku lihat banyak yang lihat story, termasuk si Faruzan dan Layla. Tak sengaja kugeser layar, masuk ke story si Layla…
“MENUNGGU SAHABAT-SAHABAT DATANG KE ULANG TAHUNKU”… tulisnya disertai selfie dia dengan make up macam Sting WCW.
Astaga, iya juga, dia ulang tahun. Dengan melihat fakta bahwa Eimi Fukada pun diberi ucapan, masa iya dia enggak, apalagi dia lihat kalau aku alias Yoimiya mengucapkan selamat ulang tahun pada artis porno Jepang.
“Happy birthday.” tulisku lewat DM, pakai akun Yoimiya tentu saja.
Cuma dia kasih emot hati, bukan dibalas. Ya sudahlah, terserah. Aku lanjut jalan-jalan dengan Guoba, sampai mendadak dia menghentikan langkah… “Gorou nelepon nih…” katanya. “Angkat.” suruhku.
“Oi siapa itu yang ngucap ulang tahun ke Layla??!” tanyanya.
“Kenapa gitu…?”
“Gue ditelpon tadi, diundang datang ke rumahnya malam ini…” serunya.
“Haaahhhh…”
Esoknya, hari Minggu pagi.
Siang ini ada event wibu yang kemungkinan bakal sangat ramai, soalnya terakhir sebelum puasa. Agak pagi aku bermotor menuju rumah Gorou, memang sengaja selalu aku jemput karena rumah dia strategis lagipula aku tak mau datang ke acara wibu sendirian, jadi kayak alien.
Seperti biasa, kutunggu di depan pos ronda. Tak lama kemudian dia datang.
“Gas…” ujarnya.
“Nih bawa…” kuoper kunci motor.
Kami bermotor di Minggu pagi nan cerah, menuju Purnama dulu mau ngopi…
“Gimana pesta?” tanyaku.
“Begitulah…”
“Gua yang ngucapin, kok maneh yang diundang?”
“Dia tahunya Yoimiya itu gua, dia gak tahu admin Yoimiya ada tiga orang… kebetulan pas habis foto cutter yang kemaren, gua forward langsung link Drive pakai akun sendiri… jadi aja ketahuan…”
“Hooo, banyak yang datang…”
“Cuma berlima…”
“Hah…” aku harus kaget, walau sebetulnya sudah bisa diduga.
“Salah satunya guru sekolah dia, terus Faruzan, sama si pemuda yang waktu itu nyusul ke Purnama.”
“Oke…”
“Iya, bakar steak… rumahnya gede banget. Jam 12 urang baru bisa pulang…”
“Bawa kado…?”
“Boro-boro, baru dikasih alamat aja jam 10 malam, mau nyiapin apa..”
“Haha…”
“Tapi katanya nyusul juga tak apa, dia minta air soft gun buat nembak cicak…”
“Astaga.. haha…”
Jalanan tampak lengang, Minggu pagi memang enak.
“Tapi yang sedih, pas mau pulang…” ujar Gorou, sambil tancap gas begitu lampu berganti hijau.
“Apa tuh?”
“Pas urang udah jalan ke teras, sama dia dikejar, terus dipeluk dari belakang… sambil agak nangis, katanya makasih udah mau jadi sahabat dan datang ke ulang tahun aku… begitu…”
Membayangkannya agak sedih sih. Padahal aku yang kirim ucapan. Uh. Tapi bukan berarti aku ingin dipeluk juga. Memang kasihan, dia ulang tahun, yang datang sedikit, karena hanya punya beberapa teman. Tapi semoga cukup menghibur dia, supaya makin positif…
“Hari ini dia datang gak?”
“Gak bakal, mau rayain ultah sekeluarga di temapat wisata…”
Sorenya di event, sudah cukup lelah kami ngevlog serta foto-foto, pada duduk di pojokan. Mall tetap ramai kendati acaranya sudah beres sih tapi bukan berarti pada bubar, setiap wibu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sebelum esok mereka harus kembali jadi masyarakat normal.
“Bro…” panggil Gorou.
“Yup.” jawabku.
“Mau tahu Faruzan itu aslinya kayak gimana…?”
“Ada gitu?”
“Arah jam 11. Di sudut sana, pakai rambut pink.”
Kucari sejenak. Ada. Ciri-cirinya mirip. Tapi pakai masker. Ya sudah, kuambil kamera dari tangan Gorou.
“Mau ikut?” tanyaku.
“Enggak.” Gorou dan Guoba kompak menjawab. Aku bangkit lalu jalan ke arahnya.
Beberapa langkah menuju Faruzan, dia keburu diajak foto sama wibu ber-DSLR dan lampu warna-warni. Lama sekali fotonya, sudah gitu gak buka masker. Kutunggu dengan sabar sampai sepuluh menit. Akhirnya wibu ber-DSLR itu pergi. Kupanggil dia.
“Kakak mau foto…?” tanyanya.
“Kamu tahu aku siapa?” jawabku.
Dia berpikir sejenak, lalu menyadari.
“Kakak, Yoimiya ya?”
Entah sejak kapan namaku berubah jadi Yoimiya, tapi ya sudahlah. “Iya. Aku mau ngobrol sebentar.”
Belum sempat dia menjawab, wibu ber-DSLR tadi datang lagi. “Ayo kita lanjut lagi kak.” ajaknya.
“Gantian anjing!” seruku. Barangkali baru kali ini dia lihat orang marah di acara wibu, akhirnya dia mempersilakanku ‘memakai’ Faruzan.
“Kita jalan ke sana…” ajakku.
“Oke…” jawabnya.
Kami jalan belum tahu ke mana, aku ingin mencari sudut yang paling sepi. Akhirnya sampai ke tangga darurat. Kameranya kusimpan di lantai.
“Buka maskernya… aku belum pernah lihat wajah kamu…” ujarku. Dia menurut.
“Kaget ya, aku jelek…?” tanyanya.
“Enggak. Sangat cantik kok.” jawabku.
Kami duduk bersebelahan walau di lantai.
“Kenapa waktu kemarin gak datang?” tanyaku.
“Maaf kak… aku gak boleh keluar kalau gak dijemput temen. Ternyata Layla langsung ke cafe Kakak, itu juga udah sore banget… aku gak dijemput.”
“Begitu ya…”
“Iya kak…” sepertinya dia masih agak takut bakal kuapa-apakan.
“Kenal Layla udah lama?”
“Dari SD kak… terus satu SMP, cuma pas SMA misah…”
“Oooh… berarti udah tahu ‘kan kalau dia itu spesial?”
“Iya kak… dia sahabat aku…”
“Aku, boleh minta satu hal sama kamu?”
“Apa itu kak?”
Aku menghela nafas sejenak. Lalu memandangnya dari dekat.
“Teruslah bersahabat dengan Layla. Jangan biarkan dia kesepian…” ujarku.
Faruzan tersenyum. “Pasti kak!”
“Ya udah, ayo balik lagi ke tengah…” ajakku, kami berdiri berbarengan.
“Gak mau foto aku?”
“Mungkin suatu saat, kalau kamu gak pakai kostum…” jawabku.
Sudah agak malam, walau belum terlalu larut. Aku dan Gorou sudah ada di atas motor, menyusuri jembatan Pasoepati. Luar biasa lelah dua hari ini ke event dan foto-foto terus.
“Terakhir sebelum puasa…” ujar Gorou.
“Hooh.” jawabku.
Rasanya lega, kami akan berpisah dari event-event wibu beserta segala ceritanya untuk sementara waktu. Beberapa bulan ke acara beginian, aku mengalami banyak hal-hal menyebalkan. Terutama bertemu Tomie dan duo Layla-Faruzan. Tapi juga banyak sisi menariknya sih, dan Layla ini yang paling bikin kepikiran… saking kepikirannya, tadi saja aku tidak sadar pas di event, aku berpapasan dengan… Tomie.
Ya.. semoga saja Layla selalu ceria dan tidak kesepian lagi. Jangan lagi menyakiti diri sendiri, gadis seusianya harus riang gembira bersama teman-temannya.
Sambil dibonceng, aku memandang langit. Tidak, tidak ada kembang api.
Untuk Layla. Kalau kamu bisa baca tulisan ini. Aku ingin meminta maaf. Aku terus memikirkan hal ini. Kalau saja hari itu aku tidak mengajak anak-anak makan di sudut itu, mungkin pertemuan itu tidak akan terjadi. Lalu juga seandainya aku tidak iseng mengucapkan selamat ulang tahun, pasti kamu tidak akan mengalami hal ini. Aku tidak akan memperbarui atau menambah panjang cerita dengan menuliskan hal-hal buruk yang kamu alami setelahnya, karena kita semua ingin melupakan hal itu. Aku mengutuk keras apa yang sudah dilakukan orang itu kepadamu, tidak ada satu pun dari geng kami yang mendukung perbuatannya. Bahkan aku tidak mau lagi datang ke event wibu, karena aku tidak mau lagi melihat apalagi mengalami kejadian serupa.
Aku harap kamu baik-baik saja dan kembali menjadi gadis yang ceria.
Kangchem, 31 Mei 20122
part 3 ada di sini

