Tomie adalah sosok fiksi ciptaan Junji Ito, maestro manga horor asal Jepang. Dikisahkan Tomie adalah seorang gadis cantik yang suka mendekati lelaki dengan segala cara hingga akhirnya para lelaki itu tunduk karena jatuh cinta padanya. Saking tergila-gila dan buta pada pesona Tomie, ketika dikecewakan, para lelaki itu akhirnya membunuh Tomie. Terjadi berkali-kali, karena setiap mati dimutilasi, dari potongan-potongan tubuhnya Tomie akan hidup kembali, dan mengulangi lagi kisah hidupnya.
Dan kemarin, aku seperti bertemu Tomie versi dunia nyata…

Kisah ini adalah seri dari cerita saya yang seperti fiksi padahal bukan, lanjutan dari bagian pertama. Tentunya akan selalu berkaitan dengan fotografi. Seperti biasa, aku tidak akan mencantumkan foto apapun untuk seri ini… silakan berimajinasi sendiri.
Pertemuan pertama
Seperti biasa, di akhir pekan aku mendatangi acara Jejepangan, untuk nonton cosplay pun mencari sosok menarik untuk dipotret. Aku hadir bersama teman-temanku yang tergabung dalam grup “Wibu Bau Kaporit”. Kami tidak benar-benar wibu apalagi bau kaporit, itu cuma ejekan iseng buat pemuda-pemuda yang suka onani sambil liat sosok anime, sampai muncrat-muncrat dan menimbulkan aroma mirip kaporit. Hahaha.
Acara kali ini dari segi kuantitas ya luar biasa ramai seperti biasa, sampai seisi gedung rasanya panas sekali. Namun dari segi kualitas begitu-begitu saja, masih pada pakai masker sampai rasanya sia-sia saja mereka dandan maksimal. Sekitar tiga jam muter-muter, kami naik sampai lantai atas, berharap dapat space untuk bersantai, pun mudah-mudahan menemukan harta karun.
Lantai paling atas lumayan sepi, kontras dengan bagian bawah mall yang penuh sesak oleh orang wig warna-warni. Kami berjalan lemas karena walau sudah susah-payah naik sampai paling atas, tetap tidak menemukan sosok cantik untuk difoto.
Tiba-tiba saja Zhongli, teman saya yang paling senior dan dituakan kalau lagi di acara wibu, melipir gesit, nyamperin sesosok wanita. Aku kurang jelas melihat wanita itu karena jauh sekali di pojokan, tapi dari jauh saja sudah terlihat begitu putih bening, dan pasti cantik makanya disamperin sama Zhongli. Pasti mau diajak foto, boleh juga, dan cewek itu langsung ikut iring-iringan kami. Memang Zhongli pandai mengajak orang…
“kenalin, ini temen-temen saya…” ujar Zhongli.
“Childe.” jawab temanku.
“Alhaitam.” timpa yang lain.
Akhirnya dia berjabat tangan denganku.
“Shenhe…” ujarnya.
“Albedo…” sapaku.
Kami jalan bersebelahan. Dia cantik sekali, wangi pula. Rambutnya coklat, pakai kaos hitam tangan panjang ketat. Dan mau tidak mau aku menyadari sesuatu, duh… dadanya besar sekali.
Aku tidak punya ide harus motret di mana karena lantai atas ini kosong saja, hanya berisi pertokoan yang tutup. Sayang ‘kan modelnya sudah bagus. Untungnya Zhongli memang kaya pengalaman, dia tahu di sisi lain lantai ini ada Timezone. Dia arahkan rombongan kami menuju sana, siplah, pasti bisa dibuat konsep ceria atau apapun. Modelnya cantik. Dadanya besar sekali…
Aku harus oportunis, karena ini cewek pasti gak bisa lama-lama diculik, sudah begitu yang pegang kamera ada empat orang pula. Harus berbagi angle, dan… begitu mulai difoto, kok susah sekali, si Shenhe gak mau diem, ketawa-ketawa dan joget sendiri, aku agak heran tapi karena cantik jadinya ya lucu saja. Ah, susah sekali aku ingin pose merenung… kalau disuruh merenung, dia malah sengaja manyun, terus kalau aku suduh menengadah, kepalanya malah didekatkan sudah kayak mau nyium kamera…
“Kamu ceria sekali…” ujarku…
“Iya kak hehe…” cengirnya.
“Liat kak fotonya…” dia mendekat.
Aku kasih lihat foto yang mungkin hanya aku yang suka karena pakai wide 12mm, jauh sekali dari bokeh kesukaan cewek. Tapi dia lihatnya dekat sekali, sampai aku merasakan sesuatu yang empuk menekan lenganku.
“Eh Instagram kamu apa?” Tanya Alhaitam. Dia ini memang suka sekali mengikuti orang, tak heran followingnya sudah menyentuh angka 6.000 lebih. Tapi sambil jawab, Shenhe menekankan sesuatu… “tapi aku cuma mau follow sesama cosplayer aja kak…” jawabnya.
Hari-hari berikutnya, obrolan kami di grup bertambah satu tema, yakni si Shenhe. Ada saja tingkah laku lucunya yang dibagikan baik oleh Alhaitam dan Childe, pun kalau dia live seksi sekali. Aku upload fotonya tapi tidak aku tag, karena memang sudah prinsip. Juga tidak aku ikuti, nanti saja kalau sudah bisa berteman beneran. ‘Kan dia cuma mau berteman sama cosplayer katanya.
Satu yang sedang harus diusahakan adalah bagaimana caranya si Shenhe mau diajak foto non-cosplay alias sebagai manusia biasa. Secara, sepertinya seluruh waktunya cuma mau jadi cosplayer. Jangan-jangan tidur atau ke warung pun pakai wig dan kostum…
Aku DM dia sih. Gak dibalas.
Pertemuan kedua
Acaranya di Cihampelas Walk. Tapi kali ini squad tidak lengkap lantaran Childe dan Zhongli harus ke Jakarta, karena mereka punya tugas meliput idol band. Jadi hanya aku, Alhaitam serta Gorou yang hadir. Setelah beberapa saat muter-muter, kami melihat Shenhe dalam kostum, entah kostum apa karena aku tidak mengikuti anime kekinian. Aku ini generasi tua, tahunya cuma Digimon, Evangelion, Golden Boy, dan sebagainya…
“Hei, kakak yang kemarin di Istana Plaza ya?” sapanya.
“Iya, ‘kan aku DM kamu…” jawabku.
“Masa? mau apa gitu…?”
“Mau nanya, kalau foto non-cosplay mau gak?”
“Kalau kayak gitu, aku bayar berapa?”
“Hah, kok bayar, kamu yang aku bayar…”
Dia keheranan dengan penuh ekspresi lugu.
“Berapa kak? 50 apa 100 ribu?”
“Minimal 300…!” jawabku.
“Waaaah, mau mau. Enak banget cuma difoto dibayar 300… aku belum pernah…” ujarnya lagi,
dia ini memang polos atau pura-pura polos sih. Lalu juga, kenapa sedikit-sedikit harus joget sih. Dia di rumahnya makan batu baterai atau apa, kayaknya lincah penuh energi.
“Nanti DM lagi kak, tulisnya Shenhe ganteng. Pasti aku bales…”
“Oke…”
Benar saja, malemnya aku DM, langsung dibalas. Tapi ya sudah sebatas itu saja, ketika aku tanya kapan mau foto-foto, hilang lagi orangnya.
Pertemuan ketiga
Bukan main antusias aku menyambut event kali ini, soalnya lokasinya di BIP. Lokasi kesukaan saya untuk nyetrit, setidaknya sebelum pandemi zombie melanda. Rasanya seperti mimpi saja melihat tempat ini kembali ramai. Sudah begitu, tadi sebelum ke sini aku dapat kamera Pen F, hasil barter dengan sahabat saya, dia ambil lensa Leica 9mm punya saya. Akibatnya aku bawa-bawa dua kamera, E-M5 II dan Pen F. Aku berharap, sosok pertama yang memerawani kamera baruku adalah Shenhe…
Aku masuk gedung bersama Gorou. Menyusul kawanku yang lain, namanya Guoba, dia brand ambassador Lumix. Seperti biasa, Childe dan Zhongli berhalangan hadir karena ada tugas pengawalan idol group di luar kota. Begitu masuk ke kerumunan wibu, kulihat sosok yang sangat familiar. Dia pakai sweater khaki, rok pendek serta stocking sampai atas paha. Baru mau aku samperin, eh sudah ada yang ngajak dia selfie. Agaknya dia memang populer di kancah wibu kota ini.
“Hei.” aku muncul di belakangnya.
“Eh kakak… katanya mau ngajak aku foto?” dia jawab dengan lucu sekali.
“Laaah, ‘kan aku sudah DM.. kamu gak bales…” keluhku.
“Yaudah sekarang aja, dikasih uang gak…?”
“Oke… tapi di luar gedung ya…”
“Ya udah ayo…” dia tarik tanganku, semangat betul. Wah rasanya senang sekali.
“Bener ya kak dikasih uang… buat makan anak kost…”
“Iyaaaa, setiap yang ikut kita, nanti aku palakin seorang 50 ribu.”
“Asyik…”
Akhirnya kesampaian juga foto Shenhe dalam balutan busana manusia normal – walau tidak terlalu normal untuk ukuran pengunjung mall sini -, sudah gitu lokasi fotonya di spot kesukaan saya, dan juga aku pakai kamera yang sudah lama aku idamkan. Sampai bingung, gimana mengawali sesi fotonya…
Aku, Guoba dan Gorou semua pegang kamera. Shenhe joget-joget sendiri, seperti biasa. Duh, banyak yang liatin. Tapi karena dia cantik, jadi ya masa bodoh lah. Tak lama kemudian muncul kawanku yang lain, Razor, tahu-tahu dia sudah ada di sana pegang Sony A6400…
“Halo kang… eh ada Shenhe juga kebetulan…”
“Nah, tambah lagi nih 50 ribu..” gumamku.
Kami foto-foto dengan ceria. Biasanya aku tidak pernah pakai mode burst untuk portrait, tapi karena dia ini gak mau diem kayak kucing, terpaksalah. Sesekali dia break dance, kebiaasaan. Lalu juga memeluk pohon, atau duduk di aspal, tanpa disuruh.
“Lihat nih kak…” dia tendang pohon. Puk. “Aduh… sakit…” teriaknya.
“Ha… ha…” aku hanya nyengir, perasaan apa ini. Padahal aku sudah ratusan kali portrait cewek cantik, tapi tidak pernah yang ceria dan enerjik seperti ini.
Berbagai spot kami coba. Di atas jembatan, di tepi jalan, di tembok polos. Banyak foto yang kuambil, antara bagus sekali atau jelek sekali karena Shenhe suka menampilkan ekspresi yang aneh.
“Dimana kang? saya baru tiba…” Alhaitam chat di grup. Aku fotokan saja Shenhe dengan latar belakang jalanan.
“DAEBAAAKKKK” Childe langsung melimpali.
“AKHIRNYAAA” Zhongli yang sama-sama lagi di Jakarta pun balas.
“SAYA OTW KE SANA!” seru Alhaitam.
Memang kami semua berambisi motret si Shenhe ini, dan akhirnya aku berhasil. Tak lama kemudian muncul Alhaitam. “Halo Shenhe…” ujarnya, dia pakai kemeja dan sepatu kantoran, tapi kamera sudah siap siaga menggantung di lehernya. “Nah, tambahan lagi sumbangan nih…” gumamku. “Asyiiikkk”… Shenhe langsung joget trademarknya.
Tak terasa hampir sejam kami foto-foto dia, seperti gak ada capeknya, dikit-dikit nendang pohon atau meluk tiang listrik. Aku mau ambil dia close up dari dekat, pakai lensa Summilux 25mm punya Gorou, kami sama-sama pakai MFT jadi bisa swap lensa.
“Itu tahi lalatnya asli…?” saat aku sadar ada tahi lalat di bawah mata.
“Enggak hehe, tahu gak aku dandan jadi siapa?” jawabnya.
“Tomie?” tanyaku.
“Betul!”
Akhirnya kami semua lelah dan merasa cukup. Kasihan pengunjung yang lain kalau-kalau pengen juga menikmati dia. Walaupun ya kami gak nyulik secara gratis, total dana terkumpul ada 400 ribu. Sangat amat layak untuk sekadar foto culik sejam di event.
Habis diberi uang, dia cium tangan. Duh, manis sekali.
“Aku mau follow kakak…” ujarnya.
“Katanya gak mau berteman dengan selain cosplayer?” godaku.
“He he…”
Hari pun usai. Pulang dengan membawa banyak foto. Senang sekali, berhasil moto dia, di lokasi kesukaan, dengan kamera baru pula. Plus aku difollow, mungkin dianggap teman, pasti ke depannya urusan jadi lancar, bisa ajak foto kapan saja. Apalagi sudah terbukti, grup kami ini grup foto yang gak pelit ngasih uang sama model.
Sejak hari itu, aku dan Shenhe selalu berbalas chat. Enak sekali, akrab seperti sudah kenal lama.
Balasan dari dia selalu ceria, kalau terlihat antusias hurupnya kapital semua. Bahasan gak jauh-jauh dari foto dan cosplay.
Tiga hari berlalu, chat tak pernah putus. Dia kirim foto rambut terbarunya, lalu juga next event sebaiknya pakai baju apa, supaya kami mau foto-foto lagi dan dia dapet angpao lagi. Sedang enak-enak chat, tiba-tiba akun dia… menghilang.
Hilang saja. Tidak ada fotonya, atau postingan apapun tersisa dari akun Instagramnya. Sampai sekitar sejam. Akunnya muncul lagi, tapi ada tombol “follow”. Padahal ‘kan memang sudah. Aku cek followingnya… aku, Alhaitam, Razor, semua sudah tidak ada. Dan bahkan Zhongli dan Childe yang tidak dia follow tapi follow dia, ikutan diusir dari daftar pengikut. Juga story-story dia hari ini hilang semua, padahal salah satunya dia repost fotoku.
Hanya ada satu story baru yang dikasih highlight…
“Mulai hari ini saya tidak menerima ajakan foto baik gratis atau berbayar selain dengan teman cosplayer yang saya kenal, untuk kenyamanan dan keselamatan saya. Kalau saya mendengar hal aneh tentang kalian, maka kalian akan saya blok…”
dan masih panjang lagi, tulisan itu ditaruh di depan foto selfie dia dengan kostum hari H sesi foto denganku.
Segera di grup, aku adakan rapat mendadak. Esoknya seluruh anggota Wibu Bau Kaporit berkumpul di Warung Kopi Purnama, memang sudah agenda rutin, tapi ada hal luar biasa yang harus dibahas. Karena terus terang, aku patah hati…
“Kayaknya dia tuh autis deh, tapi ya karena cantik jadi seolah lucu…”
“Aing lagi enak-enak chat, bayangin…”
“Pasti pacarnya yang suruh, gak terima dia terima uang dari lelaki lain…”
“Mungkin ada oknum yang chat cabul, banyak tuh di dunia wibu.”
“Iya, efeknya semua jadi kena…”
“Lah iya, saya aja yang gak hadir di BIP kena juga…”
“Ada kata-kata ‘keselamatan’ segala…”
“Elu kali, foto selfie pegangan tangan ama dia…”
“Lah, dia itu sama cowok asing aja gelendotan…”
“Iya ya, jauh dari kesan menjaga keselamatan…”
“Jangan-jangan emang iya, gak mau berteman selain sesama cosplayer.”
“Pendek banget pikirannya, apa dia gak nyadar suatu saat bakal ketemu kita di acara…”
“Kan memang autis anaknya…”
Dan lain-lain dan sebagainya, banyak sekali teori kami munculkan. Aku menyeruput kopi dan membakar sebatang rokok.
“Mungkin, dia mendalami jadi karakter Tomie…” gumamku.
Mungkin di antara kami semua, akulah yang paling sedih sebetulnya. Tapi kalau sudah ada kejadian begini aku suka langsung nonton video-video motivasi dari Andrew Tate, makanya bisa tahan. Terima kasih Mas Botak.
Kemarin, event BEC.
Kami mengawali hari dengan memotret Lili. Cosplayer remaja, kami modali untuk pakai kostum Yoimiya. Aku, Gorou, Razor dan Zhongli hadir. Kami motret di samping apartment seberang BIP. Ya tetap saja, ada sedikit obrolan, gimana nanti kalau ketemu Shenhe, pasti awkward. Apalagi dia sudah bilang mau datang.
Ini sedikit aneh karena tidak satupun dari kami yang merasa bikin salah, makanya aneh sekali kalau jadi merasa sungkan atau apapun seandainya bertemu. Aku pun berharap bertemu, dan melihat seperti apa reaksi dia. Kalau dia menyapa, ya aku sapa balik. Kalau dia menghindar, ya sudah. Dan kalau dia manggil teman-teman lelakinya, ya akan aku hadapi satu per satu. Walaupun jelas tidak ada keren-kerennya berkelahi di acara wibu.
Selesai foto Yoimiya, kami nongkrong di lobby, karena kalau masuk penuh sekali.
“Saya paling bisa sampai jam enam kang…” ujar Zhongli, dia memang harus lanjut motret grup idol di acara tempat lain…
“Aman… yang penting kita sudah foto Yoimiya…”
“Kalau ketemu Shenhe, salam… hahaha…”
“Ah, hahaha, entah juga ya…”
Tapi memang tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Lagipula dengan mall penuh sesak begini, sudah sekali menemukan orang, itu pun kalau sengaja mencari. Kalau tidak dicari ya makin tidak ada. Akhirnya jam enam, Zhongli pamit duluan. Aku, Gorou dan Razor masuk ke dalam mall. Panas bukan main. Kami culik cewek yang non-cosplay, foto sebentar di luar, kasih amplop berisi uang, lalu masuk lagi dan cari yang lain… sampai, ada sosok yang sangat familiar lewat dari kejauhan, celingak-celinguk seperti lagi sembunyi.
Shenhe. Dengan pakaian yang sama persis seperti hari H kemarin. Dia buru-buru naik eskalator, tidak melihat kami, tapi kami melihantnya, dan tak ada satupun yang berniat mengejar…
“Gimana?” tanya Razor.
“Biarin ajalah…” jawabku.
Walau sebetulnya aku ingin sekali menghampirnya, untuk sekadar bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tidak usahlah…
Petang tiba, kami istirahat sejenak. Makan di warteg seberang BEC. Alhaitam ada juga, tadinya dia ada di acara lain, tapi karena sepi, dia balik lagi ke sini. Kuceritakan saja, tadi ada Shenhe lewat, dan lain-lain.
Selepas kenyang, kami menyebrang mau balik lagi ke BEC. Saat lewat sisi jalan, terlihat lobi bawah yang ada KFC, banyak wibu berkumpul di sana. Kami putuskan untuk sejenak nongkrong di sini, dan… ada Shenhe di antara kerumunan. Kami hanya memperhatikan tingkahnya dari kejauhan, dia masih suka joget-joget sendiri.
“Lihat kang…” seru Razor. Dia pakai lensa tele, membidik Shenhe yang lagi betulin baju supaya makin kencang, lantas joget Tiktok bersama lelaki. “Goyang… goyang…” ujarnya. Aku hanya tertawa.
Sesaat kemudian ada yang ngajak dia selfie, lelaki. Posenya minta berpelukan. Dia iyakan. Berikutnya lebih parah, dia dibopong di bahu oleh seorang lelaki, kemudian difoto. Aku… tentu saja aku tidak suka lihat cewek yang aku sukai begitu mudahnya dipegang-pegang oleh setiap lelaki, tapi siapalah aku. Aku bahkan bukan bagian dari mereka.
Ada perasaan iri dan cemburu, tapi juga rasa jijik dan benci bercampur. Padahal ketika foto di jembatan, ada orang asing yang mencoba mengintip celana dalamnya, langsung kami kejar. Tapi dia memilih menjauhi kami, dan memilih bergaul dengan orang-orang yang mungkin masuk dalam kriteria “kenyamanan dan keamanan dia”…
“Gak mungkin tuh mereka mau ngasih angpao kayak kita…”
“Kita perasaan gak bakal gendong-gendong begitu…”
“Iya… mungkin bukan itu tujuan dia ketika ingin jadi pusat perhatian…”
“Apaan dong…?”
“Ya… mungkin dia menikmati perannya sebagai Tomie…” tutupku. Entahlah, aku tak tahu. Aku tak mau jadi bagian dari mereka. Aku harusnya hanya datang untuk memotret, bukannya terlibat masalah perasaan.
Kukirim pesan terakhir untuknya, tidak melalui DM Instagram atau lainnya. Cosplayer seperti dia punya laman Trakteer untuk mengumpulkan dana dari fans. Kusisipkan beberapa rupiah, supaya bisa menyelipkan pesan yang hanya bisa dibaca olehnya…
“Kamu tidak harus hidup dalam batasan kok.”
Sudah. Aku bakal berpikir seribu kali untuk berteman apalagi naksir sama cewek dari event wibu. Sekadar foto saja, cukup, selesai. Sampai jumpa di event selanjutnya…

