Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu…
Bahwa aku ini punya latar belakang di bidang fashion sejak 2012 haha. Waktu itu selepas kuliah, aku tidak punya niatan melamar ke perusahaan mana pun. Saya ini lulusan Sastra salah satu kampus negeri ternama, saya maunya jadi penulis novel atau naskah film.
Saat itu kala lagi santai, aku nongkrong sambil bantu skripsi kawan saya yang belum lulus, namanya Alex. Dia dari Medan. Walau kadang rada sombong, tapi duitnya kenceng. Tidak seperti orang Batak lainnya, sayangnya dia tak pandai bernyanyi. Sambil nongkrong di kost dia yang cukup mewah, kami mengobrol santai…
“Jadi rencana kau mau lanjut ke mana…? tanyanya.
“Aku sih inginnya tetap di bidang Sastra…”
Pokoknya pembicaraan itu sudah macam adegan di sinetron Si Doel, saat Doel dan Eddy ngobrol di rumah Han.
“Bagus betul ini, tapi mahalnya…” seru Alex sambil menunjukkan layar laptop.
“Apa yang mahal? kau ‘kan si Poltak raja minyak…” aku bangkit untuk melihat.
Saat itulah untuk pertama kalinya, aku melihat jeans dari Peter Says Denim. Keren sekali. Modelnya bule bertato, t-shirt juga dipakai manggung band luar. Harganya mahal betul, aku jadi penasaran…
“Aku punya ide…” gumamku.

—
Saat itulah, kami menyatakan kesepakatan antar lelaki. Untuk berkongsi memulai usaha di bidang jeans. Kami mulai getol survei ke sana- sini, baik soal bahan, pengemasan, hingga cara berjualan.
Perkaranya adalah, si Alex itu orang kaya sedangkan aku dari keluarga sederhana. Jika aku minta modal dari orang tua, kemungkinan antara tidak ada atau dikasih, karena ayah saya punya prinsip untuk tidak menyuapi dengan ikan, alih-alih memberi tongkat pancing…
“Itu motor ‘kan ada BPKBnya, papa bolehkan kamu jadikan jaminan untuk ajukan kredit.” kata ayahku. “Jika kamu punya tanggungan untuk bayar cicilan, bisnis pun bakal lebih kreatif dan gak bakal santai…”
Saat itu aku kesal sekali dengan ayahku… tapi setelah dewasa, saya sadar bahwa apa yang dilakukannya itu memang untuk kebaikan saya.
Ya… motor saya cuma Jupiter MX. Aku berhasil tarik lima juta. Si Alex, supaya sama-sama usaha, dia pun ikutan gadai motor dia. Kendati motor dia itu Ninja R, tapi dia juga ambil lima juta saja biar adil. Ya walau sebetulnya dia tak perlu ikut-ikutan gadai, toh isi rekening dia gemuk.
Akhirnya kami membuat sampel-sampel pertama. Biar langsung keren, leather patch langsung bikin, juga berbagai tag jeroan celana. Bahkan agar langsung seolah premium, kami order box untuk bungkusnya. Kami pun mendapat gemblengan dari bandar denim yang punya konveksi standar internasional, H.Barly.
Segala macam hal itu hanya didasari modal nekat tanpa wawasan apalagi pengalaman. Bulan-bulan awal memang lumayan ada yang pesan, dengan konsep “made by order” di Facebook. Soalnya dari awal aku cukup beken sebagai penulis, jadi banyak sahabat yang pesan.
Tapi karena otak marketingnya ya cuma segitu, ketika dirasa semua pembeli potensial sudah, bingung juga. Mana masih harus bantu skripsi si Alex.
Pekan-pekan berikutnya mulai muncul benih-benih pertikaian. Akibat kinerja bisnis yang makin tidak menggembirakan, kami jadi sering silang pendapat. Puncaknya… walau tidak pernah menyatakan berhenti, tapi Alex hijrah ke Bogor untuk kerja di butik kawannya. Meninggalkan saya. Skripsi dia pun dibiarkan begitu saja.
Sudah sebulan tuh si Alex gak balik ke Bandung. Aku punya cicilan yang harus dibayar nih. Repot juga. Ini brand yang sama dia, hidup segan mati tak mau.

Ya itulah… mungkin dalam kondisi kepepet, otak kita tuh jadi kreatif. Aku sudah kadung mendalami dunia jeans, kenapa tidak bikin proyek baru. Akhirnya aku bikin Facebook dan Kaskus baru. Membuat identitas baru, sebagai brand custom made by order dengan harga bersahabat.
“Begitulah kisahnya, Om…” aku ngobrol dengan H.Barly di teras rumahnya.
“Aing udah bilang di awal, ada custom ada brand… sekarang yang rame itu custom, tuh si Cliff bocah SMA, jual 130rb sehari masukin 30 potong…”
“Iya…”
“Mulai aja dulu tanpa brand… nanti kalau udah maju, bikin divisi yang lebih premium…”
Tentu tantangan awalnya adalah untuk menemukan pembeli. Bermodal HP dengan kamera 1.3mp (HP saya Motorola Razr V3xx) dan SMS karena sudah pasti aku tak punya Blackberry, aku foto sisa-sisa celana. Satu per satu pembeli berdatangan. Bisa deh upgrade HP jadi Android, foto pun lebih layak. Kemudian mulai pakai WhatsApp (waktu itu harus bayar 15rb setahun), enak deh bisa kirim-kirim foto.
Testimonial pun mulai banyak, meyakinkan pembeli jadi gak repot lagi. Kurang lebih setelah enam bulan bersusah-payah, aku mulai memetik buah perjuangan. Suatu malam, ada film berjudul “The Devil Wears Prada” yang dibintangi Anne Hathaway, dan setelah nonton itu aku mantap pakai nama sendiri untuk brand, biar kelak jadi macam Marc Jacobs atau Valentino Garavani. Well, tentu dimodifikasi sedikit, penambahan “Kang” itu selain memang saya orang Bandung, saat itu bertebaran spanduk politik H.Irianto alias Kang Yance. Kayaknya unik dan agak troll juga kalau saya pakai “Kang” haha… keterusan sampai sekarang.

Kemapanan bisnis saya terdengar ke telinga Alex. Akhrinya dia muncul lagi di Bandung, sambil marah-marah bawa pisau malah. Dia murka karena aku meninggalkan dia, padahal dia yang meninggalkanku. Hingga saat ini pun aku selalu menyesali kejadian itu… di satu sisi, harusnya aku tidak berbisnis dengan sahabat karena jadi kehilangan persahabatan. Di sisi lain, jika aku tak pernah merasakan kegagagalan itu mungkin aku tak akan pernah maju.
H.Barly menawarkanku bantuan, karena selain bos denim, ya dia juga semacam Kang Bahar lah kalau di sini.
Aku selalu bersyukur bisa dipertemukan dengan H.Barly. Selamanya aku berhutang budi pada beliau dan keluarganya. Istri dan anak-anaknya selalu menyambut baik kalau saya ke rumah. Sudah bukan dianggap pelanggan lagi tapi keluarga. Aku sering numpang makan atau sekadar nongkrong, kemudian jadi guru les Bahasa Indonesia untuk anak-anaknya saat mau ujian. Kadang diajak ikut main pakai mobil, sembari melatih anak-anaknya fotografi, tentu kameranya saya yang dititip untuk beli saking sudah dipercayanya…
2013… 2014…2015 waktu berjalan. Brand saya cukup beken di Kaskus. Untuk pencarian denim custom tuh pasti tiga teratas. Lapak saya dikenal karena gaya jualan yang jauh dari ramah, tapi barangnya murah berkualitas. Saya pun punya hobi bikin label pinggang dengan desain nyeleneh, kadang cenderung kasar haha… tapi anehnya laku, mungkin relate dengan para pembeli.

Apalagi kalau habis putus cinta, wah ide-ide segar tuh bermunculan. Kadang pelanggan itu malah ngoleksi labelnya haha. Terutama pada periode itu, sehabis siangnya ke pabrik jeans, sorenya saya selalu jemput pacar yang bernama Ajeng. Dia juga yang sering jadi “fotografer” sementara saya jadi model produk sendiri. Pas putus, anjing lah gusar banget haha, tiada cara yang lebih enak selain curhat di label jeans dan plastik kemasan hahahaha.
—
“Gimana kang, tawaran saya…” ujar salah satu pendiri brand denim raksasa. Kami ngopi santai di cafe, sebetulnya agenda dia adalah untuk mengajakku bergabung.
“Untuk saat ini saya masih nyaman bisnis sendiri dulu, kang…” aku mesti menolak dengan halus, sebab memang kenyataannya begitu… buka custom di Kaskus itu nyaris tidak butuh modal… aku tidak harus sewa toko atau bayar pegawai, jahit pun masih bisa numpang di pabrik H.Barly. Intinya cukup modal foto, toh brand saya sudah mapan…

“Iya tapi elu gak bisa begini terus. Selagi masih di puncak, modal lagi kuat, segera mulai buka toko offline untuk brand, atau konveksi… kalau mau bikin pabrik, gua support ntar mesin dan penjahitnya…” kelakar H.Barly, saat kami lagi ngopi di acara JakCloth.
“Mahal bener om, itu mesin lobang kancing aja 60juta ‘kan? sekarang modal Kaskus aja udah enak…”
“Mesin lobang dan mesin bartac lu masih bisa nebeng ke gua. Beli mesin jahit aja dua atau tiga…”
“Aku pikir-pikir dulu deh…” ujarku sambil menyeruput kopi.
“Brand gak akan eksis selamanya… banyak temen seangkatan lu yang antara udah bangkrut, atau udah jadi brand… Posisi lu masih enak, tapi harus naik level…”
Emang dasar sepuh itu harus didengar nasihatnya. Brand aku tidak hilang, Kaskusnya yang jadi hilang. Padahal baru tahun lalu, aku diundang ke acara wirausaha di Kaskus dan berfoto bersama Alice Norin.

Sebagai pedagang yang bergantung pada suatu platform, kejatuhan Kaskus sangat berpengaruh padaku.
Dari yang biasanya sehari belasan potong, beringsut mulai berkurang. Tadinya kalau mau masuk bulan puasa aku berani nyetok ratusan, kini mulai pikir-pikir sebab puasa kemarin pun kok masih sisa banyak.
Akhirnya saat 2018, aku memutuskan untuk menyudahi petualanganku di dunia denim. H.Barly sangat kecewa. Bukan karena aku tidak menuruti sarannya, tapi karena aku menyerah. Tentu aku tidak pernah ingin menyerah, tapi pertimbanganku matang, jika sudah tidak menyenangkan buat apa lagi dilakukan…
Hubunganku jadi renggang, aku segan juga untuk bertamu. Walau tentu kalau aku datang mana mungkin diusir, tapi aku memang tidak ada lagi kepentingan di dunia jahit menjahit.

—
2022. Sekarang aku hidup dari fotografi. Bukan motret kawinan atau semacamnya, melainkan menjadi penulis buku fotografi. Setiap aku menerbitkan buku, itu hasilnya cukup untuk hidup satu tahun. Bab mencari uang dari buku foto, kalian bisa baca di sini.

Malah sepertinya aku lebih dikenal sebagai ahli fotografi jalanan. Bahkan saya pernah jadi brand ambassador untuk sebuah kamera. Ya walau begitu, nama FB saya tidak bisa diubah, masih ada kata “Jeans”. Sejujurnya dari awal aku lebih nyaman pakai kata “Jeans” daripada “Denim” sih.
Suatu hari, ada chat di Messenger.
“Kang, saya Bennett (bukan nama sebenarnya), dulu pernah beli di akang…”
“Iya, saya ingat.”
“Berkat terinspirasi akang, saya bikin brand denim. Sekarang udah buka toko… silakan kalau akang mau main…”
Aku lihat memang brand dia mapan. Terus terang setelah berhenti, aku tidak lagi mengikuti dunia perdeniman. Aku cuma sekali saja beli celana jadi di Levi’s store, jadi gak tahu dinamika brand lokal. Rupanya sekarang dunia RAW denim kembali seksi… mana ada yang namanya “presiden denim” segala hahaha…
Bennett bukan satu-satunya eks pelangganku yang sudah buka brand. Ada satu orang lagi, lebih gagah lagi malahan… bolak-balik Jepang untuk urusan bahan denim. Tokonya juga sudah ada di beberapa kota.
Well, sejujurnya aku ikut merasa gembira, apalagi mereka terang-terangan mengucapkan terima kasih karena aku ada andil. Kerap terpikir, seandainya dulu pas di puncak aku mengikuti saran H.Barly, mungkin aku juga bakal punya brand yang ikut bermain di percaturan denim tanah air…
Tercetus sebuah ide. Aku ingin mengadakan semacam “nostalgia”. Aku minta seorang teman untuk survei harga bahan-bahan dan cari konveksi yang agak bagus. Aku bakal jualan jeans tapi hanya sebulan. Nanti aku yang ngurus pelanggan, dia yang masukin bahan ke tempat jahit.

Awalnya agak gugup, namun tak dinyana ternyata respon pemirsa sangat baik. Aku tidak pernah lupa nama-nama yang pernah beli. Saat bikin status FB perihal nostalgia, banyak sekali yang komen sambil kirim foto jeans belel yang bertahun-tahun lalu beli di saya. Well, nostalgia sebulan berlangsung cukup baik, aku bikin hampir seratus potong.
Maka tahun-tahun berikutnya, aku memutuskan untuk rutin mengadakan “nostalgia”, yakni setiap bulan puasa. Bahan tapi hanya selvedge saja, yang aku kumpulkan dari berbagai sumber, karena aku tahu sekarang bahan ini agak susah lantaran banyak permainan.
Tentu walau sebenarnya aku ini sepuh dan sah sah saja kalau menulis “sejak 2012”, tapi tetap saja jika bikin brand baru maka identitasnya juga baru. Aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan langganan yang walau beli terus tiap tahun, tapi jumlahnya kian berkurang. Aku harus memperluas pasar, setidaknya selama sebulan karena saya kadung nyetok bahan selvedge agak banyak.

Aku sadar, kini tidak bisa sok jutek kayak dulu, atau ikut-ikutan jual harga selangit seperti brand lain yang mapan. Terlebih, aku tidak bisa pakai Shopee atau Tokopedia. Bukan tidak mau, tapi untuk benda yang ukurannya custom by order itu tidak seharusnya bisa diretur, kecuali memang kesalahan pembuat. Oleh sebab itu, untuk membayar kepercayaan mereka yang sudah yakin transfer langsung, aku harus memberi servis ekstra. Baik dari segi durasi mau pun harga.

dan kasih nama dari karakter Genshin Impact semuanya…
Eh kalau mau cek IG jeans saya, bisa main ke sini.
Dan memang harga saya itu jauh di bawah pasaran brand nasional. Umumnya selvedge kelas menengah itu dimulai 750rb, di saya cuma 500rb kok. Dan itu pun masih untung. Lagipula aku tidak berniat untuk jualan lama-lama, setelah bulan puasa saya akan kembali ke kehidupan lain, dan mungkin balik lagi tahun depan kalau masih niat.
Sempat seorang pelanggan, yang kini sudah jadi sahabat dan sering main ke Bandung, mencetuskan ide investasi untukku membangun lagi sebuah brand. Brand beneran, bukan yang hanya muncul setahun sekali. Aku bakal jadi pimpinan, semua bakal mengikuti ide dan visi misiku. Soal modal, berapa pun itu urusan dia.

Tapi aku masih pikir-pikir, aku sudah meninggalkan dunia jeans… sesekali bernostalgia, bolehlah. Namun untuk kembali terjun total, itu butuh komitmen serta perenungan yg mendalam…

