Tips Portrait di Tengah Kerumunan

Baiklah, seperti biasa saya akan mengajarkan hal-hal yang tidak biasa.

Tenang, khusus hal ini saya adalah ahlinya haha… dan mungkin sudah jadi trade mark tersendiri. Buat kamu yang – entah dengan alasan apa – ingin portrait atau menaruh subjek di tengah kerumunan, akan saya ajarkan teknik-teknik yang bisa bikin proses foto jadi efektif serta hasil foto enak dilihat.

Eh tapi kadang kalau lagi scroll foto-foto di hastag tertentu, saya sering lihat foto portrait subjek di tengah kerumunan figuran sangat dinamis. Eh pas diteliti lagi, bikinan AI. Ngapain coba ‘kan? apa sih , gitu-gitu doang mesti pakai AI, ‘kan tinggal portrait saja. 

apaan coba ‘kan…

Baiklah, pertama-tama, untuk mempermudah, aku akan menyebutnya “portrait” saja. Terlepas apakah itu adalah portrait beneran alias bawa model dari rumah, atau mungkin street portrait alias mengajak orang asing yang kebetulan sudah ada di jalanan. Yang jelas, bukan “candid model” haha. Akan lebih hebat lagi kalau ternyata malah tidak ada unsur portraitnya, alias memang subjeknya lagi berjalan lewat, dengan segala kepekaan kita berhasil “menaruh” dia dalam komposisi yang enak. 

Tapi biasanya sih hal-hal yang akan dibahas di sini lebih cenderung untuk street portrait (sudah banyak sekali bahasan saya soal ini, silakan menyelam). Soalnya ya kalau bawa model beneran ngapain ditaruh di tengah jalan. Lain cerita kalau subjeknya memang kebetulan sedang berdiri di jalanan, ya lanjutkanlah foto-fotonya di jalanan. Dengan memahami teknik-tekniknya, kamu bisa menyulap situasi kerumunan yang tadinya dianggap sebagai gangguan, berubah menjadi latar belakang yang menarik.

Baiklah, akan saya jelaskan satu per satu.

Pertama. Soal gear dulu, supaya selaras. Kamera sih bebas saja, tapi pastikan pakai lensa wide. Aku selalu menginginkan porsi subjek dalam frame tuh kurang lebih sampai dada, serta masih banyak ruang di atas dan kanan kiri dia untuk latar belakang pendukung. Kalau pakai 24mm atau 28mm enak banget, kita cukup berdiri satu meter depan subjek, dan masih akan tersisa ruang cukup banyak untuk diisi oleh para figuran.

Kenapa aku tidak merekomendasikan lensa panjang apalagi tele? alasannya jelas, karena kompresi, background jadi sumpek dan DOF juga sempit. Boro-boro bisa memasukkan adegan sebanyak-banyaknya dalam frame, malah mungkin jadi bokeh semua. Lalu juga kalau pakai 28mm, jarak kita dengan subjek hanya satu meter, tidak mengganggu lalu lintas dan tidak bakal ada orang yang nyelonong ke depan subjek, toh jarak dia dengan kita sudah mepet masa mau nyempil. Dan tentu pula harus pakai F besar, seperti F/5.6 dan seterusnya, jangan coba-coba wide open.

ini 35mm kok, tapi karena wide open ya begini jadinya. gak kelihatan apa yang ada di belakang.

Lain cerita kalau pakai 50mm misalnya, untuk mendapatkan sudut pandang serupa, saya yakin kita harus berdiri sekitar dua meter depan subjek. Itu selain bikin lalu lintas terganggu, orang juga jadi ke sana ke mari lewat dan nyempil. Yang dicari di sini adalah subjek hilir mudik di samping subjek, bukan berjalan ngeblok subjek depan kamera.

Oleh sebab itu pakailah lensa wide. Kalau bisa malah pakai kamera pocket kayak GR II dan sebagainya. Semakin tidak mencolok ya makin tidak terlihat, para figuran bakal cenderung mengabaikan kita dan lanjut berjalan dengan natural. Kalau dari jauh mereka sudah melihat kamera besar, yakin deh, pasti pada berjalan menjauhi kamera.

Aku juga menyarankan untuk pakai flash. Tak peduli itu siang hari, karena bisa bikin subjek lebih “pop-up” dibanding figuran. Juga supaya rata cahayanya.

Selingan sedikit, biar motret di jalanan makin sat set, pakai strap lengan dong jangan strap leher. Kabar gembira untuk kita semua, Storyofthetstreet strap sudah rilis lagi, setelah sukses tiga tahun lalu. Kualitas jangan ditanya lagi lah, makanya waktu itu pun sold out kilat. Kali ini pun dicetak terbatas saja, makanya jangan sampai gak kebagian. Mari turun ke jalanan dengan gagah berani dan keren. Segera check out di Tokopedia “kangchem pro“. Yuks.

Kedua. Mempersiapkan frame. Tentunya cari kerumunan, atau titik pertemuan orang melintas. Yang paling mudah sih di lampu merah yang ada zebra cross. Selain memang para figuran akan mendatangi dengan sendirinya, ruang pandang ke depan pun lumayan lega. Kamu bisa memperkirakan, dalam berapa detik orang yang mau nyebrang itu akan tiba ke hadapanmu, lalu dari arah mana saja.

Ini berkait dengan pepatah lama, “sebelum menjepret di kamera, jepret dulu di otak”. Dan itu memang benar. Ya memang naluri itu akan semakin tajam seiring waktu dan pengalaman. Untuk disadari, mengarahkan subjek utama untuk pasang ekspresi wajah tertentu itu mudah, namun kita tidak bisa mengarahkan figuran yang lewat untuk jalan ke arah mana dengan gestur seperti apa dan raut wajah gimana.

Dalam situasi siang, kita bisa pakai mode burst agar dapat beberapa jepret. Namun saat malam dan pakai flash, kayaknya 90% dari kita tidak bawa-bawa flash yang bisa burst ke jalanan. Tidak bisa mendapat dua frame yang mirip apalagi sama persis, makanya timing menekan tombol shutter itu krusial sekali.

Lalu dalam situasi motret di tengah kerumunan, jangan dibiasakan sudah angkat kamera apalagi ngintip pakai EVF, kalau belum akan menjepret. Efeknya, figuran bakal kabur duluan lihat kamera terangkat. Nanti saja ketika semua sudah hampir masuk ke dalam frame imajiner, segera deh angkat kamera dan jepret! Bukan hanya para figuran yang bakal terlihat natural, bahkan model pun sama tidak menyangka haha.

Karena hampir pasti saya memotret malam hari pakai flash, maka saya punya sedikit keuntungan terkait bahasan di paragraf sebelumnya, aku tidak begitu “terlihat”, apalagi pakai kamera pocket hitam pula. Namun begitu menjepret, ya semua kaget karena pakai flash hampir full power.

Ketiga. Frame imajiner, alias dalam pikiran sudah tercetak, seperti apa frame yang diinginkan. Contohnya, aku selalu mendambakan subjeknya ya sudah melamun sajalah, tapi sekurang-kurangnya aku ingin ada dua sampai tiga wajah lain dalam frame. Tidak mesti sama cantiknya (karena subjek utama saya pasti cewek), ya walau kalau bisa ya boleh juga. Namun kadang malah jadi menarik kalau figurannya justru orang lanjut usia atau lelaki yang tidak begitu rupawan, soalnya terjadi semacam kontras dengan subjek utamanya.

Kalau kamu pakai model beneran, atau subjek utamanya lagi waktu luang ya enak, bisa terus coba berkali-kali sampai dapat frame yang ideal. Karena sering terjadi, subjek utama ekspresi dan gesturnya sudah dapet, eh figurannya tidak pas. Kadang juga dapat figuran yang dinamis, eh subjek utama malah lagi merem, dan sebagainya. Ya itulah serunya.

Selaku seringnya foto malam hari pakai flash, aku menambah tantangan sendiri, karena sebagaimana kalian tahu kadang bikin ekor cahaya itu ada unsur keberuntungan. Bisa bikin foto sangat bagus kalau ekor cahayanya bersinergi dengan subjek utama dan figuran, tapi juga bisa merusak. Namun aku lebih suka isi fotonya ekor cahaya semua daripada bangunan polos, misalnya. Soalnya saya hidup di kota yang, tidak begitu bagus pemandangannya.

Penting : Ya walau bagaimana pun cara kalian dapat subjek hingga dia mau difoto di tengah jalan, maka itu adalah portrait. Dan karena portrait maka kita punya “kendali” pada sang model, namun tanpa bermaksud mengajarkan bikin adegan street bohongan, sebaiknya sang model tetap diarahkan untuk selayaknya orang yang memang sedang ada di jalanan. Maksud saya, jangan keblinger mentang-mentang pakai model lantas bikin situasi tak masuk akal semisal ngasih dia properti kayak laptop atau dildo, karena tidak ada orang yang main laptop sambil berdiri di lampu merah.

Kendati tidak menutup kemungkinan di jalanan ada saja hal-hal unik, contohnya saya sering sekali menemukan cewek lagi pakai bedak atau pasang lensa kontak di tengah jalan, tapi itu terjadi justru pas beneran snap-snap tanpa ada kesepakatan berpose. Anu… di kalangan tertentu, street portrait saja sudah dianggap menyimpang, apalagi kalau kalian bikin terlalu mencolok, batas-batas dengan portrait konsep beneran akan makin kabur. Mari tetap mengacu pada situasi yang kemungkinan benar memang bisa terjadi, apalagi kalau modelnya adalah stranger.

Makanya ketika snap beneran tanpa arahan malah dapat adegan yang luar biasa tuh… rasanya puas sekali ‘kan…?

Tapi kalau sudah ada gambaran frame yang didambakan itu seperti apa, gak bakal bingung. Gagal? ya coba lagi. 

Keempat. Komposisi, cahaya dan leading lines imajiner. He… leading lines itu tidak harus selalu garis beneran loh… arah pandangan dari figuran pun bisa menghasilkan garis tak terlihat. Nah berkait dengan komposisi, kamu nanti lihat ada berapa wajah di dalam frame itu, ke arah mana saja mereka memandang. Semisal dapat satu foto, isinya ada lima wajah, satu menghadap depan, lainnya rata ke kanan kiri atas bawah, wah itu hidup sekali. Atau mungkin, para figuran kompak mendelik ke arah subjek utama.

Kalau main flash malam-malam sih enak, motretnya pakai slow sync tapi nanti panning dikit lah… dah langsung muncul tuh garis-garis terima kasih pada lampu-lampu jalanan dan kendaraan.

Selain arah pandangan, arah berjalan juga bisa membuat nuansa dinamis tersendiri. Tentu saja foto itu diam, tapi kalau figurannya dalam gestur berjalan menuju sebuah arah, Itu pun sudah membuat garis tak terlihat.

Untuk komposisi, seimbangkanlah. Walau mungkin kamu tidak memotret hitam-putih, namun keseimbangan gelap dan terang tetap harus diperhatikan. Ada juga kontras yang bukan hanya warna, semisal duduk dan berdiri, lalu tua dan muda, gondrong dan botak, semacam itulah.

Nah cahaya, karena kita punya keleluasaan untuk mengatur subjek mau menghadap ke arah mana, ini tinggal milih saja. Semisal di sore yang cerah, bisa dibuat membelakangi cahaya matahari supaya ada semburat-semburat cahaya pecah. Kondisi bayangan juga bakal bervariasi, barangkali terjadi keajaiban, sebagian figuran jadi gelap sebagian jadi terang. 

Jujur saya aku nyaris tidak pernah melakukannya siang hari. Ya gimana, kota saya baru ramai setelah malam. Kalau aku coba-coba bikin portrait tengah jalan di siang hari, dijamin frame saya kosong melompong, subjek utama doang isinya.

Padahal ‘kan poinnya adalah, semakin banyak hal yang masuk ke dalam frame, akan makin kaya dan terlihat hidup. 

Kelima. Pindah ke Tokyo, dan motret di Shibuya haha. Dijamin, asal bidik ke sembarang arah pun bakal bagus haha.

Gak deh, bercanda. Justru, mari kita jadikan segala keterbatasan untuk jadi ajang berlatih lebih keras. Orang Tokyo kalau disuruh motret di Bandung pasti bakal kebingungan juga, nah kita sudah terbiasa. Makanya, nanti kalau kamu ke Tokyo lalu motret udah langsung jadi manusia setengah dewa. Ibaratnya, biasa lawan boss level 100, eh kok sekarang lawannya mudah ya… hahaha.

Demikian, terus berlatih, terus memotret.

: kedengarannya rumit dan banyak sekali hal-hal yang harus diatur ya, namun kalau sudah biasa memotret orang asing atau minimal nyetrit pakai lensa wide, secara alam bawah sadar pasti sudah langsung sat set kok.

Jangan lupa kalau hunting, cari teman yang bisa memacu kreatifitas serta mendorongmu mencoba lewati apa yang sudah biasa dilakukan. Jangan bayar-bayar workshop tak berguna yang bikin naluri jadi tumpul, mending beli buku fotografi luar negeri sebanyak-banyaknya. Nanti jadi bikin semangat ingin segera menjepret serta terbuka wawasan baru. Dan ketika sudah dapat suatu gagasan baru, tinggal pertajam saja. Syukur-syukur kamu bisa bikin aliran baru.

Salam candid model. Hahahaha.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram