Kampanye Hitam

Tulisan ini tidak begitu penting sebetulnya, namun…

Dari judulnya kamu pasti menebak isinya tentang komunitas fotografi di Bandung yang suka nyinyir itu ‘kan…? salah. Sudah tak perlu lagi, saya sudah menang hahaha.

Tapi kalau mau baca tulisan motivasi yang sudah dikemas dengan rapi, silakan baca e-book Street + Portrait Manifesto, tinggal download di sini.

Keterangan : setiap foto yang dipajang di artikel ini tidak mengacu pada paragraf di atas atau bawahnya, melainkan random saja.

Isi tulisan kali ini adalah unek-unek saya mengenai brutalnya dunia portrait amatir di kota ini. Grrrr. Seriusan, dahulu kesukaan saya sebatas street portrait. Habis jepret sekali di jalan, ya sudah tidak ada kelanjutannya. Makanya kadang ketika saya rindu pada sosok yang ada dalam foto, ya bingung juga cari ke mana karena tidak pernah kenalan.

Demikian, seiring waktu, juga disebabkan pernah adanya periode jalanan sepi serta kalau pun ada orang pasti pakai masker, maka saya jadi menggeluti portrait yang diniatkan. Kendati dari segi lokasi tetap saja di jalanan. Yah… aku menyebutnya sebagai “studio tanpa tembok”.

Sejujurnya aku tidak tahu cara lain dalam “menjaring” talenta untuk kelak diajak portrait selain daripada mencari di jalanan dengan diawali ya lewat street portrait. Belakangan kalau hunting begitu aku selalu berduet dengan kawan saya Randy alias Carl Pei. Itu cukup membantu, sebab selain dia potongannya seperti konten kreator, jadi ada semacam humas haha. Aku tidak begitu suka follow banyak orang apalagi cewek, nanti kamu akan tahu kenapa.

“Kalau upload foto dari cewek yang kita temukan bersama, jangan tag atau mention orangnya.” begitu ujarku saat pertama kali memberi arahan.

“Kenapa gitu Kang?” tanya Carl.

“Iyalah, kita yang susah payah cari, nanti dibajak orang lain. Masih mending kalau dibajak sama Mario Testino atau Tatsuo Suzuki. Lah ini ‘kan…”

“Ooh iya Kang, pernah. Waktu itu saya ikut workshop, ada satu orang maruk banget. Si model kami ajak jadwal portrait, eh malah dia sikat sendiri esoknya.”

“Nah itu, tapi ada yang jauh lebih parah…”

“Gimana tuh, Kang?”

Kuceritakan tentang seorang gadis yang sebut saja bernama Citlali. Masih anak SMP, suka ke event wibu. Nah di event wibu itu ada tukang foto yang cukup dikenal luas. Pernah liat wibu hoodie abu yang dipermak penampilannya oleh Rucas Taylor? nah kira-kira macam itu bentuknya. Itu orang menjanjikan pada Citlali, kalau sering foto sama dia nanti bakal diajak bikin grup idol, yang walau tidak ada keren-kerennya sama sekali tapi bagi remaja SMP terdengar sangat menggiurkan.

Namun ternyata itu hanya tipu daya agar bisa motret gratis berkali-kali. Citlali curhat ke saya, walau agak terlalu drama… tapi efeknya besar. Karena kecewa dan frustrasi dia sampai sayat-sayat tangannya pakai cutter 🙁

Dan si bangsat ini memang begitu. Bermodal bokeh dan editan warna-warni “Jepang”, seolah gak perlu yang namanya bayar fee. Lebih parahnya lagi, sesi foto yang bisa seharian tak ada secuil pun kasih makan / minum ke modelnya. Aku pernah diceritakan oleh cewek lain, dia selalu mau sih kalau diajak orang itu, sudah cocok dengan fotonya. Tapi ya dia harus bawa bekal makan dari rumah hahahaha…

Nah itulah, dan besar kemungkinan yang seperti itu lebih dari satu… bertebaran di Instagram. Aku kenal banyak. Ada duet yang punya hobi bikin cewek baik-baik jadi terlihat binal. Ada juga om-om yang suka ke event wibu tapi punya misi untuk foto di kamar. Wah banyak lah. Oleh sebab itu, agar tidak ikut andil menjerumuskan cewek baik yang kutemukan di jalan, maka ya tidak aku follow, tag dan mention. Istilahnya, kewajiban saya hanya bayar. Aku toh tidak wajib bikin dia lebih terkenal atau lebih kaya.

Pernah sih dulu aku punya model kesayangan. Saya kenal sejak dia SMP dan belum pernah jadi model sama sekali. Memang dia punya pesona dan kepribadian yang unik, kayak pakai susuk haha. Suka saya tag dan mention, dia jadi agak terkenal. Setelah dia terkenal, jadi sombong dan gak mau difoto lagi… kesel juga haha.

Ya saat ini sih, tugas aproach dan humas calon model saya serahkan ke Randy. Tentu dengan persetujuan saya. Tapi satu hal yang kadang agak bikin cemas, setiap kenalan saya cewek atau nemu di internet, pasti sudah diikuti sama si wibu hoodie abu. Kayaknya itu orang, setiap cewek Bandung dia DM.

“Kang ini cantik, selera busana dia juga oke. Tapi pernah difoto sama si wibu…” kadang Randy lapor begitu.

“Ya gak apa-apa, selama kita gak secara langsung comot cewek dari si wibu. Mungkin setelah foto sama kita, dia jadi sadar…”

Dan memang begitu. Saya selalu suruh Randy untuk langsung tembak tanya fee kalau mau chat cewek calon model. Ya supaya gak disangka mau gratisan. Tapi kebanyakan dari mereka bahkan tidak tahu fee itu apa, atau baru sadar bahwa jadi model itu walau masih tahap amatir bisa menghasilkan uang jajan kok.

itu adalah kalimat mutiara yg saya tulis di zine CROWDED punya Randy

Ya… aku tak mau bilang bahwa kami kampanye hitam. Biasanya sehabis foto-foto ‘kan ngopi tuh sama modelnya, lanjut ngobrol-ngobrol. Seandainya di masa lalu dia pernah difoto sama wibu gratisan, aku sarankan kelak dia pasang tarif. Nah tapi jika belum pernah, maka sebaiknya hindari saja kalau ada nama tertentu DM ngajak foto… atau minimal konsultasikan dulu ke saya atau Randy. Untuk keselamatan mereka juga. Karena walau tidak aku tag atau mention, fotonya ‘kan tetap saya upload. Jangan salah… jadi model Kangchem itu kayak jadi model Tatsuo Suzuki haha.

Aku punya model kesayangan lagi, cantik sekali, sebut saja Mualani. Setelah sesi foto pertama, dia curhat kok nyaman pas foto sama Kangchem dan warga binaan. Dia masih miskin pengalaman di kancah portrait amatir, tapi pengalaman pertama dia difoto sebut saja sama si Wibu 2, bikin dia jadi ngeri dan trauma. Katanya jauh-jauh dianter ibu, gak disuguhi apa-apa, malah ibunya yang mentraktir si wibu makan minum. Pantes saja sebelum ketemuan, si model wanti-wanti soal fee… kirain sangat BU, tahunya ada trauma, kayaknya sih sama si Wibu 2 dijanjikan fee tapi gak dibayar. Tapi itu kata dia sih, saya gak tahu kebenarannya, namun sampai sebegitunya waspada sampai kami kaget.

Kalau sama Kangchem sih jangan khawatir soal fee. Malahan selalu dilebihkan, dan bonus makan ngopi cantik.

Tapi model kesayangan saya ini cukup penurut dan mau kalau dikasih nasihat. Dengan ekstrim dia blok langsung si Wibu 2 padahal tidak kami suruh haha. Kami cuma sarankan untuk lebih selektif, sebab di luaran sana banyak hyena-hyena yang siap menerkam secara berkelompok. Modus kerjanya sangat terstruktur, masif dan sistematis.

Benar saja, setelah aku upload, langsung ada beberapa DM dia. Tentu tidak saya tag, namun karena aku juga nyaman dan ingin berteman dengan dia jadi aku follow. Sialnya following saya ‘kan di bawah 200 jadi ya gampang dilacak. Modelku ini langsung konsultasi ke saya, dan salah satu yang chat dia adalah si wibu hoodie abu hahaha. Tentu saja.

“Blok aja.” kataku. Nurut kok, memang untuk kebaikan dia. Aku juga kasih list nama-nama yang harus diblok agar jangan terjadi tak sengaja dia lewat di feed mereka karena bisa berabe. Tak rela juga aku Mualani yang cantik begini, jatuh ke tangan bajingan-bajingan itu huehehehe.

Bulan depannya aku dan Mualani foto di sekitar Ciwalk. Karena hujan, terpaksa kami masuk ke kawasan mall. Sial, rupanya lagi ada event wibu. Ya sudahlah, di dalam kami foto-foto. Tentu saja Mualani lebih cantik dan berkilau daripada cosplayer mana pun… pakai stoking jaring pula.

Pas aku lagi foto Mualani, dia ngeh akan sesuatu…

“Kak itu kayaknya si wibu hoodie abu yang aku blok deh…” dia kasih isyarat.

“Oh iya bener.”

“Kayaknya lagi motoin kita…”

Tentu saja memang iya. Dia ‘kan ngebet banget pengen foto Mualani, tapi keburu diblok atas arahan saya.

“Kalau kamu keberatan, aku samperin dan aku gebukin…”

“Eh gak usah kak…”

Si wibu hoodie kenal dan sangat paham kok saya tidak suka kepadanya. Akibat kejadian Citlali, lalu juga pernah mantan saya si Hu Tao diajak dan gak dibayar. Makanya pernah suatu hari di event wibu, ketika saya lagi jalan menuju spot sambil bawa cewek bernama Kachina (dan Kachina ini cukup matre, dia tahu kalau saya selalu kasih duit makanya akrab haha), si wibu hoodie nyamperin dan pengen ikut. Langsung saya bentak dan usir hahaha.

Semenjak itulah kayaknya dia jadi takut sama saya. Terbukti saat dua pekan lalu ada event wibu di Braga, saya dan Randy nongkrong depan mall karena kami ogah masuk. Dia lewat sambil bawa cosplayer mau foto tepi jalan, dia lihat saya dan langsung lari terbirit-birit haha. Padahal saya tak pernah anarkis, tapi bisa saja jika suatu saat dibutuhkan. Pasti dia lapor langsung ke geng dia di dalam, agar jangan ke luar mall sebab ada Kangchem yang menyeramkan.

Tapi kelakuan kami yang suka edukasi ke cewek, ya ada getahnya juga. Kami pun jadi sering kena black campaign hahaha. Itu belum termasuk si Randy yang diblok sama si, sebut saja Wibu 3… anehnya cuma Randy, saya kok tidak.

Kemarin aku nemu cewek keren banget di Thread. Lucu, mirip Hanny NewJeans. Sialnya dia tampaknya baru-baru ini pernah difoto si Wibu 3. Langsung aku utus Randy untuk approach… bagaimana pun, profil Randy lebih meyakinkan. Eh… gak direspon apa-apa. Saya pun mengalami nasib serupa haha. Curiga itu cewek sudah dibisiki, kalau ada yang chat namanya Randy atau Kangchem, abaikan saja hahahaha.

Lagian si Wibu 3 pernah cari masalah sama saya. Dia black campaign di komunitas foto, bahwa dengan street portrait stranger saya telah eksploitasi cewek. Goblok… dia paham tidak sih, apa itu street portrait. Lagian kalau portrait beneran, aku pasti bayar kok, tidak seperti dia. Justru akulah yang maju paling depan jika ada eksploitasi pada cewek.

Namun tiada yang lebih bajingan dari si Wibu 4. Itu orang paling celamitan kalau soal model. Dahulu model yang saya temukan, didik dari nol, serta jaga baik-baik… dia rampok tanpa etika. Saat saya lagi foto sama si cewek, dia datang tanpa diundang terus ngintil-ngintil pengen ikutan. Setelahnya si cewek dia ajak tanpa permisi ke saya. Tentu saja si cewek adalah manusia bebas, namun dia tahu dan ngambil dari saya. Lebih parah lagi, cewek itu dicuci otaknya agar jangan mau difoto sama saya lagi, sedangkan sekalinya portrait dengan dia langsung gangbang banyakan di studio tertutup dengan busana sangat minim.

Si Bangsat ini selalu hadir (dengan terlambat) tiap ada acara Fujifilm, demi bisa deketin modelnya untuk di lain hari diajak foto gratisan dengan embel-embel bokeh dan warna “Classic Negative”. Wah kalau di event wibu kerjanya ngintil-ngintil “idol”, pokoknya celamitan. Tentu pula dia berafiliasi dengan si wibu hoodie, dan malah sekarang circle mereka kelakuannya sama semua… model itu nyolong dari orang untuk kemudian digilir, beramai-ramai… yang penting bagi mereka hanya bersetubuh, bukan bersejiwa.

Jadinya situasi agak menarik sih. Seperti ada bajak membajak model, namun juga saling berbalas pengaruh. Sebetulnya cewek itu ada banyak banget, tapi entah kenapa seperti selalu dipertemukan dengan sosok yang sama. Ya sudah, kita adu saja, siapa yang menang… bokeh atau uang hahaha.

“Tapi kerasa gak Kang, kalau sudah foto dua sampai tiga kali satu model, udah mulai kerasa gak bener. Entah respon jadi buruk, dia gak menarik lagi, atau bahkan foto kita yang jadi aneh…?” ujar Randy sambil menyeruput kopi.

“Jangankan setelah beberapa kali… kadang sehabis street portrait nyaman, pas dilanjut ke chat aja langsung raib. Tapi… ya memang benar. Aku tak bilang model itu ada kadaluarsanya… tapi ya memang begitu. Makanya targetkan untuk bisa diajak kerja sama maksimal dua kali sesi saja…” jawabku sambil bakar rokok.

Namun tentunya dalam sesi yang hanya satu dua kali itu, aku ingin maksimal. Selanjutnya ya terserah. Tentu aku jauh lebih bahagia jika sang model terus eksis, namun di tangan yang tepat. Minimal setelah sesi dengan kami, model akan jadi lebih cerdas serta jeli untuk tidak mau kena jeratan eksploitasi berkedok “collab”. Tidak melulu di kalangan tukang foto wibu sih, melainkan secara umum.

Sementara itu, aku tetap ada di jalanan… mencari lagi sosok yang akan menjadi kenangan berikutnya…

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram