Ini adalah kamera favorit saya sepanjang masa. Saya menulis begitu bukan karena saya dibayar oleh Ricoh, setidaknya tidak saat ini. Pengalaman berkali-kali ganti kamera membuat saya tidak ragu untuk bilang GR adalah kamera terbaik untuk street fotografi.
Selepas hidup boros sok fotografer dengan bawa tas berisi dua bodi dan banyak lensa, saya mulai beralih pada konsep “satu kamera satu lensa”. Makanya saya mulai menyukai kamera pocket premium. Kalau mirrorless, masih ada celah untuk saya mengganti lensa, dan itu bikin uang jajan habis. Dengan kamera yang lensanya tidak bisa dicopot, pilihan kita menjadi dibatasi, namun tidak dengan kreatifitas.
Sebelum menemukan GR, saya lebih dulu mencicipi beberapa pocket premium lain : Fuji X100T, Fuji X70, dan Lumix LX100. Khusus LX100, lensanya bisa zoom 24-75 dan sesnsornya MFT, sisanya fix focal length bersensor APSC. Saya rasa LX100 dan X100T adalah kamera yang sangat bagus, namun tidak begitu bisa dibilang “pocket”, ukurannya cukup besar dan tidak ada bedanya dengan mirrorless. X70 agak lumayan.
Saya membeli GR pertama saya usai menonton video DigitalRev juga Eric Kim. Waktu itu saya dapat yang edisi terbatas (warna hijau). Hasil foto tentunya bagus, namun karena saya kurang mengeksplorasi, jadinya kurang maksimal. Lalu juga kala itu saya terbiasa pakai kamera yang layarnya bisa ditekuk ke atas, dan touch sensitif. Saya bosan, sebulan saya jual lagi.
Beberapa bulan kemudian, saya pakai Olympus E-M10 mark II dan lensa 17mm kalau tidak salah. Ya saya ingin suasana baru, saya jual. Ketika bingung mau beli apa, saya ingat lagi GR. Kalau kali ini saya lebih mengeksplorasi, pasti hasilnya lebih maksimal. Saya menunggu beberapa saat sampai kamera itu ada di pasaran, karena barangnya memang jarang ada. Akhirnya saya dapat. Warna hitam reguler, jauh lebih enak digenggam daripada yang hijau limited edition.
Kali ini saya benar-benar dapat feel dari kamera ini. Well, kalau mau jujur, tidak ada aspek dari kamera ini yang lebih superior dibanding kamera sejenis. Auto fokus tidak lebih cepat, hasil foto tidak lebih spektakuler, sistem menu juga membingungkan. Namun kamera ini sangat konsisten dalam hasil foto, begitu stabil. Okelah, ini ringan, tajam, senyap, dan mematikan. Tapi yang utama bagi saya adalah konsistensi dari hasil fotonya.
Format RAW dari kamera ini adalah DNG, yang bisa dibilang adalah format paling universal. Bahkan kalau kamu pakai GR versi II, itu lebih enak lagi. Satu-satunya kamera yang bisa transfer file RAW via wifi ke smartphone, dan tentunya bisa diedit langsung karena aplikasi edit di smartphone hanya membaca RAW DNG.
Kamera ini ringan sekali, hanya berbobot setara iPhone SE. Menunya rumit, namun efektif sekali. Jelas bahwa dalam pembuatan sistem menunya, Ricoh tidak hanya melibatkan teknisi, namun juga fotografer betulan. Saya juga suka dengan pop-up flash pada GR, sangat kuat namun lembut. Itu ditambah lagi dengan banyak sekali mode untuk memaksimalkan flash bawaannya.
Hasil fotonya? Tidak usah tanya. Lensa 28mm yang sangat tajam, tanpa AA filter di sensornya bikin foto semakin tajam bahkan di wide open. Well ini memalukan karena sebetulnya “tajam” itu tidak utama. Jika ada orang berkomentar foto kamu tajam, maka foto kamu itu pasti jelek. Kalau foto kamu bagus, orang tidak akan mengomentari ketajamannya lagi. Apapun itu, saya menganggapnya sebagai bonus.
Dengan 28mm, kamu mendapatkan sudut pandang yang cukup luas. Tentu kamu harus mendekat, itu memacu kamu untuk lebih berani di jalanan. Ngomong-ngomong soal jalanan, memang GR ini identik dengan street fotografi. Seperti juga ketika kita mencari kamera untuk video, maka akan teringat GH5 atau A7S, atau ketika cari kamera selfie yang warnanya kekinian, langsung terbayang seri Fuji X-A. Sayangnya, bukan image sebuah kamera yang menjadikan foto yang diinginkan tercipta, melainkan orang yang memegang kameranya. Jika kamu bisa memaksimalkannya, maka GR akan menjadi kamera street sejati. Jika tidak, ini hanya pocket biasa yang harganya mahal.
Pada akhirnya, hampir semua foto dalam buku ini diambil pakai Ricoh GR. Sangat bisa diandalkan. Kecuali, yah, pada saat saya menulis ini saya baru saja beli kamera GR yang ketiga, karena yang lama sudah mati total karena gangguan pada lensanya, yang bukan hanya terjadi pada saya. Saya sedikit kesal karena biaya servisnya mahal sekali, setara beli sebiji lagi. Namun jika uang bukan masalah, saya tidak akan ragu untuk beli GR baru setiap yang lama rusak.

