Lensa Leica Termurah

Sudah lama aku tidak memotret pakai 50mm. Ya karena aku seringnya ada di jalanan, 28mm atau 35mm lebih cocok dengan gayaku. Namun mendadak tiba-tiba ingin saja, dan selaku user MFT, tak lain tak bukan lensa pertama yang ada di pikiranku ketika memutuskan untuk cari di marketplace ya lensa ini.

Ini adalah Leica Summilux 25mm F/1.4, sama sekali bukan lensa baru, ini sudah keluar sejak tahun 2011 dan kemudian pada tahun 2019 ada penyegaran dengan dibikin mark II, jadi anti cuaca. Tapi yang dibahas di sini yang original (mark I). Untuk kamu yang sama sekali awam, ini bukan lensa Leica untuk kamera Leica, ini lensa untuk kamera Lumix dan Olympus karena mountingnya MFT. Saya tidak bohong soal ini lensa Leica termurah karena memang tulisannya “Leica” dan juga memang lensa paling terjangkau dengan logo “Leica”. Kenapa Leica berhubungan dengan Lumix, ya itu suka-suka mereka aja, haha. Yang jelas sampai hari ini lensa Lumix dengan brand “Leica” masih dibuat… dan bahkan ada L Mount, alias mount Leica SL yang juga satu lubang dengan Lumix S full frame. Juga ada Leica Q3 yang pakai interface Lumix S5 II dll, jadi ya anggap saja mereka ini satu keluarga.

Walau aku pernah beberapa kali punya lensa ini, malahan kemarin beli lagi, tapi jujur aku jarang menggunakannya untuk waktu yang lama. Utamanya, karena aku tidak pernah cocok dengan 50mm. Kendati demikian lensa ini punya tempat tersendiri dalam ingatan… soalnya, video dunia fotografi pertama yang kutonton adalah saat Kai Wong menjajal lensa ini di jalanan Hong Kong, episode lawas DigitalRev. Aku jadi tertarik untuk beli kamera untuk kemudian juga foto-foto di jalanan. Dan malahan tanpa sebab, ikutan beli kamera merek Lumix. Tapi itu dulu. Eh sekarang juga pakai Lumix sih, kebetulan saja lagi punya.

Sebetulnya dikasih lens hood tapi besar sekali, saya tidak mau pakai.
Lalu itu lens hood tidak bisa dipasang terbalik, jadinya makan tempat ketika dalam tas.

Lensa ini lumayan besar dibanding kameranya. Padahal GX85 itu sudah membesar jauh dibanding body Lumix di masa lalu macam GF3 atau GX1 saat lensa ini diluncurkan. Diameternya 46mm seperti kebanyakan lensa fix MFT, tapi gendut di tengah. Fisiknya full plastik tapi bukan plastik murahan, enak banget lah digenggam, ring fokusnya smooth sekali, namun sayang karet… lama kelamaan bakal kendor, getas bahkan copot. Ya pilih saja, kalau full metal kayak Olympus 17mm bakal paint loss atau dent, kalau karet ya bisa kendor hingga copot.

Tapi saya tidak akan pernah pakai manual fokus di kamera MFT kecuali kalau pakai lensa 17mm F/1.8. Karena apa? karena selain AFnya sudah cepat dan akurat jadi ngapain lagi, namun yang paling menyebalkan… di layar Lumix dan Olympus tidak ada keterangan jarak fokus. Ini gila, kasihan para street tog yang suka pakai zone focus. Makanya lensa 17mm Olympus tak tergantikan buat saya, ya karena ada meteran jarak di lensanya… zone fokus itu bukan melulu karena AF lambat, tapi untuk mempersingkat jeda shutter dijepret, saat nyetrit itu krusial sekali.

Jadi bagaimana rasa pakai lensa ini? well, saya tidak terbiasa dengan 50mm, jadinya semua foto saya ambil pakai wide open F/1.4. Selain daripada foto-fotonya semua diambil sore dan malam, juga rasanya aneh saja stop down ketika background di belakangnya tidak menarik. Mending saya wide open sekalian.

Foto-foto diambil di kampus saya. Walau sudah alumni,
saya bisa ke kampus kapan saja dan menyamar sebagai mahasiswa…

AF cepat, dan semakin cepat daripada jaman dahulu karena teknologi AF di kamera pun sudah meningkat. Dibandingkan jaman dahulu ketika body Lumix belum ada IBIS, sekarang kalau mau stop down F gak terlalu khawatir untuk turunkan shutter speed karena IBIS Lumix kuat sekali. Efeknya ISO bisa minim-minim saja.

Kalau lagi cari fokus, ada suara “crak crak” dari blade apertur. Ya mau gimana lagi, pada tahun itu ya begitu. Tapi sekalinya dapet, akurat.

Karakter warna dan bokeh lensa ini mengingatkan saya pada… Fujinon 35mm F/1.4 , tapi AF Leica jauh lebih cepat, bahkan ketika low light. Normalnya warna dari foto yang muncul di layar tuh agak kering, tone Leica ini cenderung kental dan kontras.

Ketajaman saya tidak peduli sebenarnya haha. Tapi atas dasar sains, ya… pada F/1.4 tengah sangat tajam, pinggiran frame gak terlalu. Turun dikit ke F/1.8, aman semua.

Aku benar-benar tidak sreg dengan portrait yang bokeh semua…
rasanya tuh, kecerdasan dan peran kita sebagai fotografer agak disunat… jadi tidak kreatif bikin komposisi. Tapi itu mindset saya sebagai orang yang biasa foto jalanan, tak usah terlalu dipusingkan…

Sebetulnya kalau mau equivalent 50mm ada banyak pilihan di MFT. Opsi lainnya adalah Lumix 25mm F/1.7 dan Olympus 25mm F/1.8. Lensa-lensa Pro F/1.2 tidak pernah saya anggap, karena selain kemahalan, rasanya mematahkan premis dari pakai kamera MFT yakni faktor kompak dan bobot.

Lumix 25mm F/1.7 harga bekasnya cuma dua jutaan kurang, jauh lebih murah daripada Leica F/1.4 yang hampir lima juta. Apakah yang Leica dua kali lipat lebih bagus? tidak sih, namun jauh lebih berkarakter. Yang F/1.7 bener-bener seadanya… bokeh ya asal bokeh, tapi kasar. Kelewat tajam. Tone juga kering. Mana sering focus shift pula… itu gejala aneh, pas motret seolah sudah fokus, tapi di hasil malah bergeser.

Saya malah lebih merekomendasikan Olympus 25mm F/1.8 bahkan daripada Leica. Karena lebih kecil, murah, hasil pun sama bagusnya. Ya cuma kalah bukaan satu stop. Jaman dahulu satu stop cahaya itu lumayan signifikan apalagi ISO performance mirrorless masih payah dan jarang ada IBIS pada body. Kalau sekarang sih, up ISO aja atau rendahkan shutter speed. Tidak terlalu kerasa faedahnya cuma satu stop. Kalau soal “tone Leica” bawaan lensa ini… sebetulnya saya tidak terlalu peduli karena foto saya monokrom, dan seandainya mau warna pun tinggal oprek saja. Lagipula warna foto hasil lensa ini akan berbeda ketika dipasang di body Olympus. 

Namun yang tidak bisa digantikan adalah kualitas bokehnya. Yang F/1.7 udahlah, berantakan. Sedangkan yang Olympus, walau rapi tapi datar-datar saja. Lalu satu stop bukaan, ya ada sedikit lebih blur daripada F/1.8, tapi ya namanya sensor kecil, blurnya segitu-segitu aja, makanya utamakan kualitas blur daripada intensitas blur. Untuk hal ini, Leica memang punya karakter, yang selalu dicintai oleh user MFT.

Kemudian yang harus dipertimbangkan adalah ketika ingin menjual kembali lensanya. Lumix 25mm F/1.7 itu paling mudah laku, karena termurah. Namun apa artinya ketika selama masa pakai, hasil fotonya payah. Olympus paling susah sepengalaman saya, murah enggak, mahal juga enggak, tiga juta lebih dikit. Orang akan milih naik sedikit untuk ambil Leica. Yang sudah terbukti lebih disukai dan populer, jadinya lebih mudah dijual. Padahal harapan bakal sedikit merasakan tone dan feel “Leica” itu kadang tidak terjadi sih.

ini hasil dan sudut pandang 35mm (Olympus 17mm), jauh lebih bersahabat dan nyaman untuk saya.

Jadi, layak dibeli atau tidak? kalau cuma niat pakai satu lensa, saran saya beli Olympus 17mm F/1.8 karena 35mm itu lebih fleksibel, bisa jadi 28 bisa jadi 50. Tapi kalau sudah punya, atau memang ingin 50mm… ya… lihat lagi dua paragraf di atas. Seberapa penting karakter bokeh untuk kebahagiaanmu. Selain bokeh, semuanya bisa diatur dengan cara lain…