Mencoba Kamera MFT Paling Populer

Walau sudah beredar lebih dari tujuh tahun, sejujurnya aku belum pernah pegang apalagi punya kamera ini. Padahal ini ‘kan kamera MFT paling populer dan selalu banyak dicari…

Ya, ini adalah Lumix GX85. Mirrorless keluaran tahun 2016, penerus dari salah satu kamera favorit saya sepanjang masa yakni GX7. Ada juga GX8 tapi karena bentuknya aneh jadi gak terlalu laku dan masa edarnya pendek. GX85 ini masih bisa dibeli baru dan resmi pula. Tidak usah memikirkan sistem penamaan Lumix yang aneh karena ada GX1 tapi tidak ada GX2, 3, 4, 5, dan 6. Ujug-ujug 7 lalu 8 kemudian 85 baru 9. Bahkan GX85 ini di Eropa disebut GX80 dan di Jepang GX7 mark II.

Akhirnya saya beli kamera ini. Bukan karena sangat ingin, tapi entah mengapa stok kamera second hand di Tokopedia lagi rada aneh. Saat tulisan ini dibuat, saya tidak punya satu pun lensa MFT. Kebetulan penjualnya juga jual 14mm F/2.5 II, ya sudah saya minta dibikin sepaket. Body dan lensa dengan beberapa bonus baterai, saya dapat di angka 6.2jt, dan kalau hanya body itu sekitar 4.5 juta. Itu harga yang luar biasa menyenangkan untuk kamera dengan fitur sebanyak ini. Tadinya saya mau beli Olympus lagi, tapi jujur hanya dua kamera dari Olympus yang masuk radar saya yakni E-M5 II dan Pen F. Agak membosankan karena saya sudah pernah punya dan masih segar dalam ingatan. Makanya saya beli ini, dengan pertimbangan seandainya tidak cocok pun, akan mudah dijual.

Kok saya bisa bilang kamera ini mudah dijual dan populer? ya karena saya adalah admin senior dan salah satu pendiri grup Lumix, haha. Saya tahu betul benda yang sering dijual dan laku. Walau tidak sekali pun saya menerima tanda terima kasih atau apresiasi dari Lumix haha. Di grup Fuji, walau status saya hanya rakyat biasa, sering dipinjami kamera.

Begitulah, saya beli tanpa pernah pegang sebelumnya, hanya bermodal nonton Youtube. Saya pernah pegang penerus dari kamera ini yaitu GX9 dan saya terkesan. Mudah-mudahan kamera ini lebih mirip GX9 daripada GX7… satu doang sih yang saya benci dari GX7 (juga G7, GX8, LX10 dan LX100) yakni layarnya. Di atas kertas gak ada yang salah, resolusi tinggi kok sejuta dot, tapi entah kenapa kalau dalam mode foto layarnya jelek sekali, pedes di mata dan butek. Begitu switch ke video, mendadak bagus. Padahal fotonya pas dilihat di laptop, normal-normal saja. Ketika saya coba GX9, G9 dan G100, oh layarnya sudah membaik, jadi enak kayak Olympus atau Fuji. Termasuk juga tampilan menunya, GX7 ‘kan jadul sekali. Bukan berarti membingungkan dan absurd kayak Olympus, tapi ibaratnya interface GX7 tuh kayak MacOS Catalina. Saya coba GX9 dan sejenisnya, rada enak lah ibarat MacOS Big Sur. Tapi yang terbaru namanya Ventura sih.

*khusus untuk interface menu, saya jarang lihat ada update firmware yg akan mengubah drastis tampilannya. jangankan Lumix yang pelit update, Fuji saja tidak mau kasih film simulasi lewat update firmware padahal bisa saja. mau filter terbaru? beli kamera terbaru!

Jadi, apakah di GX85 layarnya pedes kayak GX7? apakah juga interface menunya berubah? nanti kita bahas satu per satu.

Pertama, desain dan fisiknya. Ya… begitu-begitu saja, kotak doang dengan EVF di kiri. Mirip X-E3 Fuji tapi ini agak lebih berat dan solid. Mengejutkan. Ada flash internal.. akhirnya. Sudah setahun lebih saya harus bawa-bawa flash. Tombol-tombolnya di posisi yang pas. Layar bisa ditekuk ke atas. Sudah pasti layar sentuh dan mulus lancar. Memang seharusnya begitu, karena kemarin saya pakai Fuji X-E3 yang layar sentuhnya jelek sekali. Tidak ada jack 3.5mm, tak heran. Ya, desainnya aman-aman saja, bagus. Enak digenggam, mudah dioperasikan satu tangan pula.

Dan… layarnya… mirip GX7, sialan, haha. Tidak sama persis tapi mirip, ya sedikit lebih baik lah. Kalau biasa pakai Fuji atau Olympus, bakal terasa warm sekali. Hahhhhh. EVF saya gak berharap banyak, dan benar saja. Lagi-lagi walau di atas kertas angka-angkanya terdengar normal, 2.7 juta dot, tapi kualitasnya lebih buruk dari mirrorless apapun. Warna pedes di mata, kalau panning sambil membidik, ada RGB patah-patah, kayak nonton sinetron 3D tahun 90an. Ini bukan soal resolusi melainkan kalibrasi.

Sebagai salah satu produsen TV terkemuka di dunia, ini adalah keanehan untuk Panasonic, bertahun-tahun tidak bener bikin kalibrasi LCD dan EVF di kamera Lumix. Secara umum ya masih sangat terpakai dan tidak mengganggu, tapi Olympus E-M10 yang dua jutaan punya layar dan EVF yang lebih enak. Mungkin hanya ini kamera yang setingan kecerahan layarnya saya turunkan sampai habis, demi terlihat agak teduh dan nyaman.

Tampilan menunya… seperti GX7 dan tidak seperti GX9. Sama sekali tidak buruk. Menurut saya sistem menu Lumix adalah yang paling simpel dan mudah dimengerti oleh awam sekalipun. Hanya saya terkesan terlalu sedikit fungsi yang bisa diulik, rasanya jumlah item pada menunya cuma 60-70% dari Fujifilm. Entah Fuji yang terlalu banyak atau Lumix yang terlalu sedikit, tapi selama fungsi-fungsi primer lengkap, ya sudah. Demikianlah, saya berharap tidak harus sering-sering masuk ke setting menu karena tampilannya kuno macam MacOS Catalina.

Karena ini kamera Micro Four Third, jadi pilihan lensanya banyaaaaak sekali, lebih banyak dari sistem mirrorless apapun. Secara estetik, menurut saya lensa yang pas dengan body GX85 adalah 20mm F/1.7 II. Pancake juga seperti 14mm tapi diameternya lebih besar, jadinya proporsional. Sayang sekali saya tidak akan pernah beli lensa itu karena focal length aneh, 40mm. Bilamana dalam waktu dekat kamera ini tidak saya jual dan tidak ada yang namanya Ricoh GR II di Tokopedia, saya akan membeli lensa yang lebih layak. Kayaknya bakal Olympus 17mm F/1.8 lagi deh. Soalnya pada ring MF ada satuan jarak, berguna sekali untuk zone focus. Entah mengapa pada Lumix dan Olympus, tidak ada satuan jarak MF pada layarnya. Ini menyebalkan. Mungkin juga saya akan beli Leica 15mm F/1.7 , selama ini tiap punya lensa itu pasti dipasang di body Olympus jadinya ring F tidak berfungsi. Nah mumpung lagi pakai body Lumix ‘kan…

Edit. Setelah paragraf tadi selesai ditulis, saya beli 17mm F/1.8 yang sudah terpercaya haha, dan ada satuan jarak pada MF ring di lensanya... Oleh sebab itu, seluruh foto pada tulisan ini diambil dengan kombinasi GX85 dan Olympus 17mm F/1.8.

ini dia bentuknya

Baiklah, bagaimana rasanya motret pakai kamera ini…?

Well, ya biasa saja sih, haha. AF single point sangat cepat, bahkan ketika minim cahaya. Hentakan flange shutternya tidak terlalu kasar, tapi tidak selembut E-M5 II misalnya. EVF saya tidak pernah pakai sih, tak peduli mau bagus atau jelek. 

Saat lagi motret di jalan, kalau saya “dapet” keinginan untuk lekas-lekas pulang dan memproses foto di laptop, tandanya saya dapat foto yang bagus. Khusus kamera ini, tidak begitu. Karena warna layarnya aneh, saya jadi ingin segera lihat hasil fotonya kalau di layar yang normal (Macbook). 

Ada IBIS loh. Wow. Gak aneh sih, Lumix dan Olympus harga murah sekalipun selalu ngasih IBIS. Gak kayak Fuji dan Sony. Sangat stabil bahkan saya bisa saja tahan kamera 2 detik tanpa tripod. Khusus Lumix, dia ada Dual IS jadi kalau pakai lensa OIS, stabilizer body dan lensa akan bekerja bersama. Sayang sekali saya tidak akan punya lensa OIS karena harus merek Lumix, sedangkan saya lebih suka pakai lensa Olympus.

Kamera ini 16mp hanya jika pakai aspek rasio 4:3. Kalau pakai 3:2 jadinya 14mp. Bukan cuma kamera ini sih, tapi semua kamera MFT, resolusi maksimal harus rasio 4:3 karena bentuk sensornya pun 4 banding 3. Kalau pilih RAW + JPEG, apapun rasio JPEGnya, RAWnya tetap 4:3. Memang harus begitu, malah jadi kayak bonus… kalau di JPEG 3:2 ada kepala orang terpotong, nah di RAWnya kepala orang tersebut bakal ada. Dan kalau kita berbicara soal RAW dan JPEG…

Ini rahasia umum. JPEG Lumix tidak pernah sebagus Fuji. Well, sejujurnya kamera apapun tidak ada yang JPEGnya sebagus Fuji. Tapi khusus Lumix, saya tidak akan pakai JPEGnya, jadi sudah pasti RAW sajalah. Uh… secara umum yang saya harapkan dari memotret RAW adalah recovery highlight dan shadow.

tidak ada istilah angkat shadow, harus angkat exposure secara keseluruhan, lalu turunkan highlight

Dan.. ya begitulah. Saya tidak bisa terlalu ekstrim motret melawan cahaya semisal lagi pakai Fuji atau Olympus. Karena recovery highlight dan shadow pada RAW Lumix, sangat sangat miskin. Itu kamu kalau mau angkat shadow di wajah orang, langit di belakang subjek ikutan jadi silau. Ini agak mengurangi kreatifitas namun meningkatkan rasa mawas diri, supaya jangan menyerahkan segalanya pada post proses haha. Ibaratnya, foto itu sudah harus 80% jadi ketika dijepret, karena Adobe Camera RAW tidak banyak membantu (entah ya kalau CaptureOne atau software lainnya). Selebihnya sih, detail serta kontras dll masih bisa lah dibantu di Photoshop. 

Tapi semakin saya pakai, saya makin merasa hasil fotonya gak beda jauh dengan Olympus E-M5 II yang selama ini saya puji-puji dan saya anggap kamera terbaik di bawah 5 juta. JPEG jelas bagusan Olympus, tapi kalau sesama RAW, beneran mirip. Apa sensornya sama ya? haha. Dan berarti kalau buat saya hasil E-M5 II itu bagus, ya berarti GX85 sama bagusnya.

Ada flash internal, bisa ditekuk ke atas pula. Kualitasnya biasa saja, tapi jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Untuk street, kita tidak perlu flash yang terlalu bagus dan rapi. Menu setting flashnya juga lengkap, dan mudah diakses. 

Stabilizer pada kamera ini terlalu bagus. Biasanya saya pakai 1/20″ untuk foto street pakai flash slow sync. Pada kamera ini, 1/20″ sama sekali belum muncul motion blur, makanya saya lambatkan lagi sampai 1/8′. Mantap.

Foto ini solid satu detik tanpa tripod, saya pegang satu tangan. Ya di luar tangan saya yang terlalu stabil, memang IBIS dia gila, apalagi melihat harganya. Tapi layar otomatis jadi lag jika shutter speed terlalu lambat (dalam setting “constant preview : on”) , tapi kalau kita buka flash, langsung lancar lagi dan constant preview dia otomatis off. Ini sangat cerdas.

Sebetulnya kamera ini lumayan untuk video, tapi itu di luar keahlian saya jadi tidak akan saya bahas. Juga ada fitur-fitur semacam 4K Photo dan post focus tapi itu pun saya tidak akan pernah pakai, haha. Namun demikian, kamera ini langsung saya hack supaya 30 dan 60 fps muncul (pada Lumix tidak bisa pindah PAL dan NTSC dengan mudah), lalu juga saya hack biar ada color profile cinelike D. Itu memang disebutnya “hack” karena mengubah setingan standar dan mungkin membatalkan garansi. Salah dia sendiri kenapa fiturnya disembunyikan. Setahu saya, Lumix adalah satu-satunya brand yang kita harus bayar supaya unlock “Log” color, mudah-mudahan sekarang sudah gratis. Saya cuma butuh 30 dan 60 fps sih, karena kadang mungkin rekam video dan saya terbiasa pakai 60 fps kalau di iPhone.

Tapi segala hack tadi bisa dikembalikan jadi settingan pabrik. Bukan dengan pilih “reset”pada kamera, tentu saja harus lebih sulit, yakni dengan kombinasi beberapa langkah. Saat ini kamera saya ada pada posisi hack jadi setiap dimatikan muncul ikon segitiga tanda seru besar sekali, kayak tombol hazard di dashboard mobil. Ada-ada saja, seolah-olah setiap dipakai akan berbahaya untuk kameranya. Padahal tidak akan kenapa-kenapa, banyak rekan saya di grup Lumix yang pakai kamera hack bertahun-tahun kok.

Jadi bagaimana kesimpulannya? layak beli? tentu saja!

Empat jutaan untuk kamera dengan kualitas dan fitur sebanyak ini masuknya tuh obral. Empat jutaan itu harga bekas mulus ya. Entah ada pengaruhnya atau tidak, tapi kalau bisa cari yang garansi resmi. Kamera ini masih dijual kok barunya, delapan jutaan yang resmi, enam juta yang distributor abal-abal. Sudah termasuk kit 12-32 yang lumayanlah daripada pakai lensa manual. Terlepas dari selisih harga yang jauh antara resmi dan distributor, saya tidak akan mengarahkan untuk beli yang garansi mana mana karena saya tidak tahu bagaimana kualitas servis Lumix di Indonesia (karena tidak pernah pakai apalagi rusak, silakan tanya saja di grup Lumix Owner Indonesia). Malah sepengalaman saya mengelola grup, kayaknya tingkat kepedulian pemirsa terhadap apa jenis garansinya tidak terlalu signifikan. Dibanding misalnya kalau jual-beli Fuji, ex resmi FFID tuh harga mati.

Jangan tanya mengapa logo LUMIX saya tutup stiker. Semua kamera bakal saya tutup mereknya kok.

Well, tidak banyak kamera empat jutaan sebagus dan kaya fitur macam GX85 ini. Lensa juga bejibun dan murah-murah. Kalau sekiranya bakal video (audio input pikirkan sendiri), ya GX85 ini hitungannya obral besar-besaran. Tapi kalau berat ke foto, harga yang sama kayaknya E-M10 III jauh lebih layak. Walau ketika dijual kembali, Lumix lebih gampang laku. Yap, saya merekomendasikan kamera ini, baik untuk hobi atau kerja tipis-tipis.

Cheeers.