Terkadang aku suka beli lagi kamera lama yang pernah aku miliki di masa lalu. Entah itu untuk sekadar bernostalgia, atau juga salah satu percobaan untuk mengembalikan lagi semangat memotret yang memudar karena situasi jalanan dewasa ini sudah tidak seindah dulu.
Lumix GX7. Kamera ini punya kenangan tersendiri buat saya. Selain dulu merupakan salah satu kamera pertama yang saya miliki, saya juga belajar fotografi secara otodidak menggunakan kamera-kamera Lumix. Bahkan sampai sekarang saya masih admin senior di grup fans club Lumix di Indonesia. Sama perusahaannya sih saya gak kenal, tapi dengan produk-produk jadulnya, saya akrab betul.

Anyway, kamera ini tentu sudah tidak ada barunya. Ini kamera tahun 2013. Harganya juga sudah murah, cuma tiga jutaan kamu bisa dapet kondisi lengkap dan kadang like new. Namun demikian, bentuknya saya suka sekali. Timeless. Spek juga terdengar wajar-wajar saja, 16 megapixel, IBIS, video Full HD, layar sejuta dot, dll dsb. Tidak beda jauh dengan kamera MFT yang baru-baru. Ya karena memang begitu-begitu saja dari dulu haha.
Mindset orang tentang kamera MFT adalah ukurannya yang kecil. Itu benar kalau Lumixnya seri GM / GF, atau Olympus E-PL. Kalau GX7 ini normal-normal saja. Kurang lebih ukurannya segede Fuji X-E2. Namun memang, lensanya kecil-kecil, setidaknya sebelum lensa-lensa “pro” yang kelewat besar itu muncul. Kalau lagi pakai kemera MFT, ya lensa saya begini-begini saja.
Yang menyenangkan dari pakai kamera MFT, lensanya murah, lagi-lagi kalau kita mengecualikan seri “pro”. Tiga jutaan sudah dapet Olympus 17mm F/1.8 yang selalu brilian dari dulu sampai sekarang. Itu setara 35mm di full frame. Coba carikan lensa setara 35mm di sistem lain, berapa harganya. Olympus 45mm bahkan sekarang di bawah dua juta, ini adalah lensa portrait wajib, sangat tajam dan tone warna menyenangkan. Beli lensa itu bukan berarti lagi ngirit budget, karena walau lagi kaya-raya sekalipun, tetap bakal itu yang dipilih. Kecil, tajam, cepat. Apa lagi?
Untuk “Panaleica” 15mm, saya tidak nostalgia karena baru sekarang saya punya. Cukup mahal untuk ukuran MFT kala itu, tapi tetap lebih terjangkau daripada sistem lain. Kalau ada yang tulisannya “Leica”, itu tidak sepenuhnya Leica karena dibuat oleh Panasonic di Jepang. Tapi selalu lebih bagus daripada yang tulisannya “Lumix”. Sedangkan untuk Leica 25mm, wah ini salah satu alasan saya tertarik pada fotografi. Dahulu saat kurang kerjaan, saya menemukan video DigitalRev, Kai Wong memainkan lensa ini di jalanan Hong Kong. Kok kayaknya menyenangkan ya. Tanpa tahu apa-apa, saya beli kamera Lumix dan lensa ini hahaha. Ini merugikan saya sebenarnya, seandainya di awal saya nontonnya Fujifilm atau Olympus, saya tidak harus terjebak dulu pakai Lumix beberapa tahun hahahaha.
Dan saking polosnya saya waktu itu, saya kira lensa ini mahal karena bukaannya F/1.4. Memang iya sih. Tapi jadinya saya merasa rugi kalau gak motret di F/1.4. Mau foto siang terik atau bidang luas sekalipun, tetap saja pakai F/1.4 alih-alih stop down ke F/5.6 dan seterusnya. Kalau dipikir-pikir, lucu juga saat itu.
Kembali lagi ke GX7. Bagaimana rasanya?
Saya tidak bakal sok-sok pakai click bait macam di Youtube dengan memberi narasi “apakah kamera A masih layak dipakai di tahun B” dll, karena itu sangat bodoh. Kamera tidak ada kadaluarsanya. Selama cahaya matahari tidak pernah berkurang kecerahannya, selama malam tidak makin gelap, selama langkah kaki manusia tidak semakin cepat, dan selama tembok bangunan tidak diganti pakai batu granit: maka kamera tahun berapa pun ya tetap layak. Apalagi kalau di masa lalu kamera itu pernah membuat foto yang bagus, maka tidak ada alasan untuk tidak bisa di masa sekarang.

Aku kasih tahu ya, kamera ini masih sangat enak. Auto fokus single poin luar biasa cepat. Bahkan saat gelap. Hentakan flange shutternya sangat keras haha, tapi itu tidak pengaruh apa-apa. EVFnya dari dulu pedas di mata, saya gak mau pakai, dan memang saya orangnya lebih suka komposisi dari layar. Khusus untuk layar, entah kenapa, sudah beberapa kamera Lumix rasanya begini semua. Kalau lagi rekam video, layarnya jauh lebih bagus, entah warna atau frame ratenya. Ketika di mode foto, sangat amat jadi kurang bahkan buruk. Seperti ada dua color science yang berbeda, mungkin timnya dibagi dua, yang ngurus interface foto dan interface video. Makanya ketika memotret, hasilnya terlihat tidak bagus, tapi ketika file dibuka di Macbook, normal-normal saja kok.
Hanya saja jangan mengharapkan hasil foto dengan warna instan sebagus Olympus atau Fuji. Tidak bisa tidak, kamu mesti edit RAWnya. Selain warna, dynamic range pada kamera ini sangat-sangat buruk hahahaha. Kalau foto JPEG, jangan coba-coba membelakangi matahari atau situasi tricky lainnya. Lewat RAW, rada terbantu lah, walau kadang entah kenapa kalau saya mau turunin highlight langit, subjek depan ikutan gelap, dan kalau mau naik shadow di wajah orang, semuanya rata ikutan terang. Ini agak merepotkan tapi bisa diatasi, hanya butuh effort lebih saja.
Saya kalau pakai body Lumix, suka pakai lensa Olympus. Karena tone lensanya bisa rada bikin “jinak” tone body yang rada ngaco. Tapi kalau pakai body Olympus, mau pakai lensa Lumix juga boleh-boleh saja karena karakter tone bawaan body sudah enak. Kalau masalah ukuran sensornya kecil, sebetulnya tidak kecil-kecil amat, cuma beda 25% dari APSC. Tapi harus diakui, performa ISO dan noise memang inferior. Sebagai kaum monokrom grainy, saya tidak masalah kalau noise sedikit-sedikit.

Sekitar dua bulan lah saya nostalgia pakai GX7. Selanjutnya saya jual. Karena saya admin senior di grup, jual jadi murah. Tapi lensa-lensa masih pada sisa, ya sudah saya belikan body Olympus. Kalau harganya sama, sebenernya body Olympus jauh lebih worth it hehe. Lumix bagus di video sedangkan Olympus di foto itu mitos, sensornya sama-sama aja kok, yang beda cuma color science dan kualitas RAW mereka. Saat tulisan ini dibuat, saya pakai OM-D E-M10 mark II, juga dibeli atas dasar nostalgia. Kendati bentuknya tidak sebagus GX7 (menurut saya), tapi lebih terpakai hasil foto dan videonya. Buktinya saya sudah pakai hampir setengah tahun, dan merasa tidak kehilangan apa-apa dibanding pakai mirrorless lain yang harganya dua-tiga kali lipat.
Sebetulnya di harga tiga jutaan, ada alternatif lain yang lebih oke untuk fotografi, yaitu Fuji X-E2. Tapi harga lensanya jauh lebih mahal, dan juga ukurannya. Namun dari segi fitur, di masa itu GX7 dan OM-D sudah jauh lebih advance. Layar tekuk, touch screen pula. IBIS. Burst rate lebih cepat. Dan pastinya kualitas video.
Aaaaahhhh… beli kamera jadul memang menyenangkan. Nostalgia sejenak, nikmati, lalu jual tanpa rugi, toh harga awalnya sudah sangat murah.








