Tidak begitu banyak sih di kota ini…
Maksudku, tentu saja ada banyak gedung di kota ini, namun tidak semua atapnya bisa bebas dimasuki. Kalau bisa pun, apakah pemandangan sekelilingnya layak sebagai latar foto. Sejatinya kita susah payah manjat roof top sambil bawa kamera tuh bukan demi sedekat mungkin ke langit dong, melainkan cari juga pemandangan di bawah.
Mungkin roof top paling tinggi yang dapat bebas diakses di kota ini adalah gedung Pasar Baru. Sekadar cari langit saja sih bisa, tapi pemandangan di bawahnya jelek sekali… ya harap maklum, ini bukan Jakarta yang banyak gedung pencakar langit berderet. Di sini kalau ada sebiji, ya sudah sebiji itu saja di area tersebut.

Terkadang kalau lagi buntu mau portrait di mana, ide termudah ya ajak saja modelnya ke atap gedung. Iyalah… masa iya susah payah dibelikan kostum, janjian waktu dll lantas fotonya di Braga. Rugi dong… kalau ujungnya di sana, sudah saja cari stranger ajak foto.
Cari model itu susah btw.
Kalau di foto saya keliaran di Braga seolah ceweknya cantik semua, itu memang benar, karena saya hanya foto yang cantik. Tapi kalau dibilang semua cewek di Braga itu cantik… wah keliru. Semalaman hunting saya paling maksimal empat sampai lima saja dapat, itu pun di hari yang sangat baik.
Belakangan aku rutin cari di Thread sih. Setiap tiga hari sekali aku cari dalam berbagai kata kunci semisal “model Bandung”, “collab Bandung”, “muse Bandung” dan semacamnya. Sejujurnya ini tidak begitu menyenangkan karena entah mengapa hasilnya sedikit di luar dugaan haha. Padahal saya punya ide sejumlah kata kunci itu ya dari post orang lain yang lewat. Kok cewek-cewek kota lain yang post undangan sesi foto kelihatannya cakep-cakep ya… sedangkan di kota saya, ah…
Siapa pula sih yang menciptakan istilah “muse” sebagai padanan dari “model”? ini jadi agak rancu, karena banyak cewek yang self proclaim dirinya sebagai “muse” bahkan dijadikan username, di sisi lain dia sebut dirinya “muse pemula”. Bagaimana bisa anda ini mengklaim diri sebagai inspirasi karya seni kalau berpose saja gagap? alih-alih menjadi inspirasi, malah bikin soak. Mana kadang profilnya kosong atau gak bisa dilihat foto, pun gak bisa dikirim pesan. Entah apa maunya…
Ah tapi tidak semua begitu sih. Walau saya masih juga geuleuh dengan pencarian di kota ini, lantaran suka pada gak nyambung… TS mencari model blasteran atau Chindo, eh yang komennya jauh dari kriteria. Namun demikian aku beberapa kali janjian dari Thread selalu puas sih. Aku tak masalah posenya kaku yang penting cantik, toh pose-pose saya kebanyakan melamun. Intinya sekalinya dapat pasti oke, tapi proses pencariannya itu loh.

Tentu aku selalu malas chat ngajak-ngajak. Urusan semacam itu selalu aku serahkan ke kawan saya Randy. Biar dia saja yang basa-basi atur waktu, pakaian dll. Biasanya malah selalu kami modali stocking jaring-jaring. Selain kami ini fans berat Daido Moriyama, itu berguna juga untuk menyamarkan lutut hitam. Maklum, malas juga edit-edit haha.
Ya… seperti pernah aku balas sebelumnya, model itu bagus hanya untuk maksimal tiga kali sesi. Setelahnya ya kadaluarsa. Entah dia yang menghilang (jurus Maura), atau mungkin kami menyakiti satu sama lain. Atau biasanya sih dicuri serta dicuci otak oleh kelompok fotografi lain.

beli e-book dong…
Lupa, belum bahas kamera…
Saat ini aku balik lagi pakai Olympus E-M5 II. Gila ya saya, kalau tahu bakal pakai kamera ini lagi ngapain saya jual lima bulan lalu haha.
Tapi saya dapat dari si Apuh, seller yang harganya selalu miring. Ditambah diskon Shopee, cuma seharga 4.2 juta saja. Itu adalah obral, mana ada lagi semurah dengan kondisi begini. Sebagai gambaran, bulan puasa lalu aku beli yang warna hitam dengan kondisi sama mulus dan lengkapnya, keluar duit 6.5 juta.
Untuk lensa tadinya mau tetap pakai 17/1.8 yang biasa. Namun karena bodi E-P5 dibeli kawan saya si Niko Siregar dari Jambi, kasihan juga kalau dia susah atau salah beli lensa, jadilah saya jual sekalian ke dia. Sebagai gantinya aku ambil 12/2… lensa yang sudah lama saya rindukan.


Lensa ini… memang tidak untuk setiap kebutuhan. 12mm artinya 24mm. Buat saya sih gak masalah, mau portrait atau apapun trabas aja. Ada sebuah karakter khusus yang rasanya sulit dijelaskan, namun tampak nyata. Kalau sekadar ketajaman sih enggak usah saya bahas. Saya paling jijik kalau foto bahas “tajam”, apa gak ada konteks lain untuk didiskusikan?
Langsung debut di roof top sih. Pakai lensa ini saya jadi hemat baterai flash, karena kamera semakin dekat dengan subjek, jadinya power flash bisa agak diredam. Kalau untuk di jalanan ya semakin menantang… namun selaku pakai fisheye pun saya sering, jadi ya biasa saja.


Oh iya… masalah baru muncul ketika aku ingat bahwa sesekali aku harus motret kain denim haha. Lensa ini walau jarak minimum fokusnya cukup, tetap saja objek jadi terlihat jauh dan kecil. Sedangkan aku butuh tekstur kain tuh terlihat jelas… ah, aku jadi menyesal jual 17mm karena lensa itu serba guna, jadinya aku harus beli lensa lain.
Lensa yang terpikirkan olehku adalah Olympus 25mm F/1.8. Gak terlalu mahal sih, masih di bawah tiga juta. Namun kalau hanya untuk foto kain, rasanya mubazir betul. Bisa saja aku pakai untuk foto lainnya, tapi aku tidak pernah cocok dengan FL setara 50mm. Memang 50mm itu focal length yang paling mendekati mata manusia. Masalahnya, saya ini dewa…
Jadilah aku beli lensa murah saja, TTartisan 25mm F/2 haha. Secara bentuk dan FL, tumben dia waras. Dalam artian, biasanya brand-brand macam TTartisan dan 7artisans ini fokus bikin untuk APSC, dan giliran untuk MFT ya sisanya… lensa APSC cuma diganti mounting. Makanya FLnya ya begitulah, untuk crop factor APSC sih masuk, tapi untuk 2x ala MFT jadinya aneh. Mana ukurannya gede semua.


Nah si 25mm ini, ternyata oke, kecil pula. Entah berapa harga barunya, sebab saya cek di Shopee yang masih tersedia selalu untuk Fuji atau Sony, untuk MFT kosong. Saya sih ambil seken like new di toko kamera bekas kota ini, 550rb saja. Okelah, cuma untuk foto kain…
Demikian, sempat aku coba untuk portrait sih. Entahlah, kalau bukan lensa wide, aku benar-benar tidak suka dengan tampilan pemandangan sekelilingnya, jadi rapat. Makanya aku mentok di F/2 terus biar bokeh. Anu… ini bukan berarti saya bodoh soal komposisi makanya bersembunyi di balik bokeh ya, hahaha. Saya hanya bakal pakai lensa ini sekali saja…

Kembali ke atap gedung…
Biasanya sih kalau pengen foto di atap, teringatnya ya Pasar Baru. Namun rada merepotkan, harus naik sampai lantai 12 apa 14… sekitar segitulah. Mana pagar betonnya tinggi sekali, nyaris hingga leher model. Batal dong cari pemandangan bawah (yang juga gak bagus-bagus amat), kecuali mau turun ke parkiran, bisa tuh ambil pemandangan bawah… tapi jadi gelap dan langitnya hilang.


Dahulu sih setelah di roof top ini, masih bisa naik lagi satu tingkat, ke semacam gudang. Tidak ada lagi pagar pembatas. Namun sekarang aksesnya digembok, dan aku setuju.
Medio 2016 aku pernah naik ke sana bahkan tidur siang. Angin gede banget, kamera X-T10 yang baru kubeli ngegubrak dari tripodnya… langsung dent. Aduh rasanya pengen nangis. 2020 kayaknya masih dibuka soalnya aku pernah foto Luna di sana… Nah 2022 ke sini baru digembok.

Aku teringat sekitar 2023 saya dan kawan-kawan motret model di sana, dan bikin video sekalian. Pas mau ngedit di rumah, saat adegan dekat tangga yang sekarang disegel terdengar suara “tolong pak…” sayup-sayup. Mungkin dari hantu orang yang bunuh diri di sana… entahlah. Haha.
Nah kalau belakangan ini, ada roof top yang jauh lebih bersahabat serta pemandangan sekelilingnya jauh lebih oke. Walau masuknya harus salam tempel ke satpam, tapi tak mengapa. Setidaknya kita jadi bukan pengunjung ilegal, keselamatan juga dipantau. Naik turunnya gak terlalu lelah, terus pemandangan gedung di belakangnya cukup memberikan geometri.

Ya gimana lagi… aku tinggal di kota paling overrated. Untuk fotografi sangat sulit… saya jadi bisa mengerti mengapa kebanyakan “kabur” saja ke bokeh. Aku sendiri sering foto malam pakai slow shutter, jadi pemandangan burik bisa agak samar. Tapi sekalinya kalau lagi portrait siang… aduh selalu bingung mesti ke mana.
Btw, apa cerita kamu kali ini?

