Menikmati Setiap Langkah saat Memotret Model

Aku ini aslinya street fotografer. Jadi selalu memotret di jalanan. Kemudian berkembang dikit-dikit untuk street portrait orang asing. Lantas setelah situasi populasi di jalanan makin tak karuan, jadilah sering juga portrait yang bener-bener direncanakan.

Namun ada hal-hal yang tetap terbawa nan sudah jadi kebiasaan sejak masih di jalanan. Ya aku tidak mau diam di satu tempat, inginnya terus berjalan. Ingin selalu pakai lensa wide, background wajib terlihat jelas dan menyatu… maunya selalu dinamis seolah memang begitulah situasi di jalan. Kalau editan hitam-putih sih itu sudah mendarah daging, selain juga idealis dan ego yang harus selalu kita miliki.

(aku mendambakan di belakang dia ada puluhan orang berpakaian bagus hilir mudik, tapi ‘kan tidak begitu kondisinya di sini… sayang sekali)

Sering aku mendapati ada event hunting portrait bareng. Disediakan model, terlihat glamour, tapi tidak cukup glamour sampai memungkinkan satu model hanya dipotret oleh satu orang. Makanya, satu model pasti berpose dikepung puluhan fotografer. I don’t get that. Fotonya sama semua dong. Nantinya cuma ngadu tone ngedit dan kamera siapa yang paling bagus. Jelas aku tidak cocok ke acara begituan, bisa-bisa saya mengacau karena berdiri paling depan… ‘kan lensa saya 28mm sendirian, yang lain pada 100mm. Hehe. Namun yang utama, aku tidak mendapatkan “feel”. Itu seperti gangbang rame-rame, kamu hanya bersetubuh, tapi tidak bersejiwa. Anjaaay, aing. Jangankan berdesak-desakan sama fotografer lain yang tak dikenal, motret bareng temen untuk berbagi model pun kadang saya merasa buyar langsung koneksi antara saya dan modelnya.

Paling maksimal aku portrait berdua lah dengan teman, itu kalau modelnya hanya satu. Lebih dari dua orang yang motret, mendingan jangan kalau buat saya. Satu teman pun harus yang satu visi dan tahu porsi ganti-gantian, jangan maruk, apalagi kalau patungan.

Tapi diusahakan sih, kalau modelnya mau dan saya sanggup bayarnya, ya satu lawan satu ajalah gitu. Aku selalu bikin rencana untuk bertemu di satu tempat yang kira-kira banyak titik fotonya, lalu kita berjalan kaki dengan santai. Tidak harus sedikit-sedikit berhenti terus jepret-jepret, ya jalan aja terus ngobrol terus beli jajanan pinggir trotoar, melihat yang lewat, berteduh kalau panas…

Pertama kali aku portrait direncanakan tuh sekitar beberapa tahun lalu. Waktu itu aku lagi nyetrit, terus ada cewek remaja, cantik banget. Aku ajak foto satu dua menit, dia mau. Terus tukeran kontak deh. Eh ternyata masih anak SMP dong saya kira kuliahan. Minggu depannya aku ajak portrait. Aku bingung bayar model berapa, dia juga bukan model beneran. Ya sudah aku traktir McDonald dan ongkosin taksi pergi pulang.

Beberapa tahun tak bertemu, aku ajak dia portrait lagi. Sedangkan pas masih SMP aja menarik sekali, harusnya di usia SMA sekarang makin jadi, pikirku. Dan memang iya, dia tuh punya aura tersendiri. Follower saya sampai kasih julukan, “model kesukaan kita“. Dia paham betul, aku maunya apa. Mungkin karena dahulu pas pertama ketemu, dia masih tak tahu berpose itu gimana, saya juga gak tahu portrait model itu gimana. Awalnya sama-sama gak tahu, jadinya saling tahu. Dia tahu betul, aku gak akan mengarahkan apa-apa atau meminta pose sulit, aku pasti cuma minta dia diam tanpa ekspresi. Sudah.

Dia mau diajak panas-panasan, kuat jalan kaki jauh. Tidak pernah bawel kalau fotonya aneh, diedit hitam-putih, atau tidak bokeh. Sepertinya dia mulai sering jadi model, dan tahu betul kalau aku tidak mengajaknya “collab” (bahasa kekinian untuk motret gratisan), melainkan aku akan membayarnya dengan baik. Dia cukup terima bayaran, masa bodoh fotonya mau buruk atau aneh, yang penting aku puas. Kesadaran seperti ini yang sulit lagi aku temukan di model-model lainnya. Bahwa kalau dibayar, model harus peka terhadap visi sang fotografer, alias menjadi subjek peraga dari gagasan dan konsep. Ini egonya saya, tapi memang begitu ‘kan seharusnya.

Pokoknya setiap saya beli kamera atau lensa baru, diperawaninnya harus sama dia. Kameranya ya. Apalagi kalau motretnya Minggu pagi, langit biru semua, berjalan berdua saat jalanan masih sepi. Wah… sudah macam di anime Makoto Shinkai lah. Kehujanan berdua, duduk di trotoar sambil jalan telor gulung… (tidak ada sih adegan ini di anime).

Ya sayangnya kita tidak bisa seterusnya bersama, sekarang sudah jarang saya moto dia, mungkin karena perubahan fisik atau psikis, soalnya tak bisa dicegah, model cewek itu gampang terkenal. Saya merasa dia tidak lagi jadi sosok yang dahulu hidup dalam foto-foto saya. Atau mungkin egoisnya, saya tak mau motret sosok yang sudah sering difoto orang lain dengan gaya foto yang tidak saya suka – dia sudah jadi karakter lain dalam foto lain. Ini salah saya, bukan salah dia.

Karena tidak ada jaminan kita bakal ada kesempatan lagi motret sosok yang sama, makanya aku selalu ingin menikmati saat-saat bersama sang model. Di hari itu, akan kuperlakukan dia seperti pacar.

Rasa ingin menikmati satu hari bersama model ini apakah dirasakan juga oleh fotografer lain? aku tidak tahu dan tidak peduli. Tapi karena ingin menikmati, aku jadinya tidak suka kalau persiapan dan situasinya tidak mendukung.

Ada satu lagi model yang juga paham betul keinginan saya. Dahulu kenalnya dari temen dia, temen dia itu adik kelas saya. Nah niatnya tuh moto adik kelas saya, katanya ada temennya mau ikut, pas datang, astaga cantik sekali. Buatku yang sangat doyan pose merenung tanpa ekspresi, dia ini sesuatu sekali, sangat menjiwai. Kejadiannya sama kayak cerita pertama, lama tak bersua, aku ajak lagi beberapa tahun kemudian. Memang saya sempat hiatus sekitar dua tahun.

Dua tahun tak bersua, wah makin cantik saja, dan makin luwes serta tak pernah lupa apa yang saya sukai. Eh tapi… kebiasaan terbaru dia, di tengah-tengah sesi jalan-jalan, suka ngajak orang tanpa seijin saya. Jadi ada yang nyusul. Kalau temen cewek sih aku menyambut baik. Ini sugar daddy dia yang datang. Sebel banget, dateng naik Pajero, terus ngintil-ngintil kayak ayah mengawasi anaknya. Ya ayah ayah juga sih tapi ayah gula. Selesai hari itu, aku gak mau lagi ngajak dia. Suatu hari dia ngajak duluan, aku kasih syarat, itu tua bangka yang mirip Paman Tat di Boboho, jangan datang. Eh dia marah, saya diblokir hahaha.

Entah sudah berapa kali, saya batalkan untuk memotret seseorang kalau dia ngajak pacar. Masa bodoh dia punya pacar, asal jangan dibawa. Banyak sih mereka yang mengalah, pacarnya disuruh drop saja lantas minggat kemana lah. Tapi banyak juga yang keukeuh pingin ditemenin, ya mending gak usah. Ini ego saya, susah rasanya saya mendapatkan aura yang diinginkan kalau ada gangguan. Bagaimana kita bisa bersejiwa kalau ada jiwa-jiwa lainnya. Memang yang terpenting adalah fotonya, tapi foto itu dihasilkan melalui sebuah proses, dan saya membayar untuk proses itu, jadi harus terserah saya dong hahaha.

Oleh sebab itu ketika sudah “punya” model yang saya banget, itu bakalan sering saya foto. Bosan ya kadang, tapi daripada gambling lagi, mending pakai jasa mereka yang memang sudah bersejiwa dengan saya. Toh tidak akan terlalu sering juga.

“Kak kenapa kalau majang foto aku, gak pernah ditag?”

“Jangankan kamu, walau Eimi Fukada sekalipun gak akan aku tag hahaha…”

Lagi-lagi itu ego saya. Pertama, aku ingin melindungi dia. Secara di kota ini banyak betul fotografer gratisan berkedok “collab”. Aku pernah dicurhati satu model, katanya aku baik sekali ngasih dia 300ribu, ongkos pulang-pergi serta makan. Lah memangnya gimana harusnya? ternyata sepekan sebelumnya, dia digangbang ama delapan “fotografer”, berjam-jam gak dikasih makan, dan parahnya gak dibayar. Iming-imingnya collab, nanti dia terkenal dan dapat banyak job setelah foto diposting. Job macam apa dulu nih? kalau jobnya collab-collab juga, ngapain. Lagian siapa elu sih, nyuruh orang lain berpose berjam-jam, dan gak mau bayar? Tatsuo atau Daido saja menghargai keringat modelnya kok.

Nah dengan tidak pernah aku tag, sedikitnya aku berkontribusi / atau lebih tepatnya tidak berkontribusi terhadap dia jadi terkenal atau tidak. Kedua, karena tidak wajib. Ya kalau awalnya follower dia 500, setelah aku foto tetap 500. Aku ‘kan tak wajib memberikan dia foto-fotonya atau membuatnya terkenal, toh saya gak ngajak collab… kewajibanku adalah memberi honor yang sudah disepakati. Tapi kalau dia minta fotonya ya aku kasih, cuma jangan bawel kalau gak bokeh atau gak berwarna ngejreng.

Ah… seru ya portrait. Harus bisa kita nikmati prosesnya, dan hasil pun harus sesuai visi serta imajinasi kita. Ingat, tidak ada foto yang gagal atau berhasil. Selama fotonya kamu suka, ya sukses. Tapi saya sukanya begitu, ada proses untuk bersejiwa tanpa gangguan. Kalau kamu sukanya foto gratisan rame-rame, ya sah-sah saja, asalkan kamu puas dan suka, ya sudah.