“Pulang” ke Micro Four Third

Setelah beberapa tahun hampir selalu pakai kamera pocket premium sebagai kamera utama, kayaknya saya bakal “pulang” dan “menetap” lagi di sistem Micro Four Third. 

Disebut “pulang” karena dahulu kamera saya ya MFT. Kalau gak Lumix ya Olympus. Namun belakangan saya sukanya kamera pocket sensor APSC seperti Fujifilm X100 series, X70 dan pastinya Ricoh GR.

Beberapa bulan lalu aku nostalgia beli Lumix GX7. Kemudian aku lanjut iseng beli lagi Olympus OM-D E-M10 II. Dibilang enak sekali sih enggak, tapi aku cocok. Namun ada beberapa alasan mengapa akhirnya aku lanjut pakai MFT…

Pertama, sebetulnya aku terjebak juga sih. Tadinya aku pakai OM-D karena di pasaran sedang ada kamera-kamera yang biasa aku pakai. FYI aku tidak pernah pakai kamera yang sama untuk waktu yang lama. Jadi waktu itu, aku sedang tidak punya Fuji X70 atau GR. Adanya di lemari ya OM-D, dalam rangka nostalgia. Pas mau beli pun di pasaran lagi jarang sekali yang kondisinya bagus nan harga masuk akal. Akhirnya aku keterusan pakai ini, dan malahan upgrade sedikit jadi OM-D E-M5 II.

benda-benda MFT yang saya pegang sekarang. sebetulnya satu bodi satu lensa juga cukup sih…

Bukannya aku tidak ingin beli X100V atau GR III. X100V tentu sangat bagus, tapi harganya masih segitu-gitu aja dan sulit untuk berharap bakal turun. Kalau GR III sih skip lah, parah. Mending GR II. Aku cocoknya X70 dan GR II, tapi barangnya luar biasa langka. Ini salah saya sih, kalau lagi punya suka bosen dan pengen jual. Tapi kalau lagi gak punya, malah kangen pengen beli lagi. Namun sudahlah, nanti saja balik ke pocket premiumnya kalau sudah ada penerus X70 atau GR IV dibuat dengan waras.

Bahkan saat tulisan ini dibuat, sekurang-kurangnya aku sudah beli empat lensa MFT. Ini menandakan aku memang sudah mau menetap sajalah. Anu, keempat lensa itu punya FL yang mirip-mirip sebetulnya, jadi tidak harus punya semuanya sekaligus. Rencananya mau aku pakai dulu, lalu aku sisakan satu atau dua yang paling cocok, nanti sisanya dijual. Selama tidak dijual rugi, ya aku senang-senang saja, bisa dipakai ‘kan barangnya. 

diambil dengan E-M10 II dan lensa kit 14-42, asalnya wajah dia gelap sekali, tapi ‘kan aman hasilnya

Alasan lainnya dan yang utama, ya karena memang cocoknya ini. Kalau aku pengen kamera mirrorless yang bisa ganti lensa, dengan berbagai alasan : pilihannya sedikit. Aku tak begitu suka Canon atau Nikon, lensanya sedikit sekali. Sony? enggak ah. Pilihan ya tinggal Fuji atau MFT. Sistem Fuji tentu aku akrab, tapi seri-seri terjangkau alias jadulnya kurang menarik. Kalau harganya sama-sama 5jt, opsi dari MFT jauh lebih canggih dan banyak fitur. Cobain aja, E-M5 II aduin dengan X-T10 misalnya. Belum lagi lensa-lensanya yang murah.

Entah mengapa, kalau cuma dari APSC ke MFT, aku tidak merasa kehilangan atau inferior dari segi apapun. Malahan aku merasa diuntungkan, bodi dan lensa jauh lebih kecil dan ringan.

Akan panjang perdebatannya, baik dengan bukti ilmiah atau tidak. Tapi ya itu tadi, kalau bisa kecil, ringan dan lebih murah, ya aku pilih MFT. Aku tidak bilang kamera MFT lebih bagus dari APSC, tapi kalau dibilang lebih jelek juga… ya tidak. Semua ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Harus diakui kalau soal “bokeh”, lebih mudah dibuat dengan sensor yang lebih besar. Tapi APSC tidak jauh lebih besar daripada MFT kok, cuma sekitar 25%. Kalau dengan full frame, itu drastis. Namun bokeh bukan melulu seberapa blur, melainkan kualitas blurnya. Cukup dengan lensa Olympus 45mm, kalian bisa dapet bokeh yang sangat creamy dreamy. 45mm setara 90mm, apa lensa yang setara di Fujifilm? iya, Fujinon 50mm F/2, bandingkan harga bekasnya.

aku tidak mau komen banyak soal bokeh, karena bahkan sensor iPhone pun akan menghasilkan blur background… ini soal pemilihan lensa dan teknik memotret

Auto fokus? ya… E-M5 II yang aku pakai cuma mengandalkan contrast detection. Fujifilm yang harganya serupa (X-T1 atau X-T10) punya phase detection. Itu sudah cukup untuk bikin orang yang baca spek cuma sekilas, bangga. Dia tidak tahu, ada berapa titik phase detectionnya hehe. Saya sudah pernah bandingkan sebelah-sebelahan kok, single point, Olympus menang jauh. Kalau wide tracking, Fuji bisa tangkap subjek dengan lebih akurat. Tapi seberapa sering pakai wide tracking apalagi kalau diatur hanya kursornya di tengah? sudah saja pakai single AF. Untuk video? kamera MFT di harga segini jauh lebih superior. Fitur lain macam 5 axis IBIS, sudah pasti ada di MFT. Di Fuji atau Sony, belum diciptakan hehe… nunggu yang belasan juta dulu, baru ada.

diambil dengan E-M10 II dan Leica 25mm (setara 50mm) pada shutter speed nyaris sedetik, tanpa tripod

Poin saya bukan ingin bilang MFT lebih baik. Melainkan, kamera MFT sama sekali tidak inferior dibanding APSC. Apalagi kalau ingin main di unit-unit jadul, malah lebih worth to buy. Tapi kalau mau main di unit-unit terbaru nan mahal juga boleh diadu, walau nantinya bakal ada komentar : “20jutaan mending full frame sekalian”. Itu saya no komen, bakal debatnya APSC lawan full frame. Gak ada beresnya. 

Serius, aku tidak merasakan kehilangan apapun. Aku bahkan pernah bisa hidup dengan kamera sensor 1″. Aman. Motret malam, aman. Apalagi saya malah suka menambahkan grain pada foto, jadi gak ngaruh itu noise sedikit. Namun perlu diingat, aku ini amatiran yang tidak mencari uang dari memotret untuk orang lain. Kalau aku suka fotonya, ya sudah. Nyetrit atau portrait-portrait santai, sangat cukup. Malahan enak, enteng bawa-bawa kameranya. Cuma upload ke sosmed atau website ini, apa aku butuh 40 megapixel? 

Hanya saja ada yang harus dipertimbangkan. Karena anggapan orang, Olympus itu sudah tidak jualan di Indonesia, nanti kalau rusak servisnya susah, kalau mau jual dll dsb. Ya tidak sepenuhnya salah sih, tapi tidak terlalu benar juga. Komunitas MFT gede kok, sekadar servis hal-hal umum sih gampang banget. Jual-beli apalagi, malah lebih gampang menurut saya. Gini ya, lensa dengan mounting MFT itu dipakai di beberapa brand kamera. Olympus, Lumix, Blackmagic, DJI, Xiaomi, dll. Bandingkan misalnya lensa X-Mount ya hanya buat kamera Fuji. E-Mount untuk Sony, dll dsb. Dengan adanya kesamaan mounting artinya user bodi Lumix bisa membeli lensa Olympus. Pun sebaliknya. Bukankah malah jadinya pasar terbuka lebar.

saya tidak mau mengarahkan untuk beli suatu brand atau sistem. saya cuma mau share saja he he

Sampai hari ini saya masih dan selalu jadi admin senior di grup Lumix Indonesia. Jadi saya paham betul seperti apa dinamika pasar dan sirkulasi barang dijual di grup. Aku sangat tahu, tak ada benda yang terlalu sulit untuk dijual, karena usernya banyak. Malah mereka punya kecenderungan lebih sering ganti-upgrade. Karena harga barangnya terjangkau. 

Kurang lebih itu sih. Mengapa aku tidak lagi pakai kamera pocket APSC, dan akhirnya memilih MFT saja padahal ada pilihan lain. Selama aku tidak merasa kehilangan apapun, aku tidak punya alasan untuk pilih mirrorless APSC yang ukurannya lebih besar dan lensanya lebih mahal.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram