Alasan Kamu Cukup Pakai Kamera Murah untuk Street (dan Portrait)

Kendati seolah punya banyak dan suka gonta-ganti kamera, tapi sebenarnya saya ini orangnya sederhana. Hampir semua kamera yang saya coba, harganya relatif terjangkau. Lagipula saya tidak pernah mengarahkan untuk membeli kamera mahal, apalagi maksain kredit. No.

Btw, artikel ini dibuat untuk kalangan hobi dan enthusiast saja. Yang tidak butuh mencetak foto segede billboard atau burst rate super cepat untuk foto balap kuda. Karena, mari realistis, untuk orang yang suka street fotografi atau portrait tipis-tipis, apakah butuh segala teknologi terbaru? bukan berarti tidak boleh beli kamera mahal karena terserah saja apalagi uangnya ada. Namun dalam rangka membuat pengeluaran menjadi efisien dan efektif, tidak ada salahnya ‘kan berhemat, toh kalau cuma untuk street atau portrait ringan, pakai kamera murah tidak bikin kamu kehilangan apapun.

Olympus Pen E-PL8, cuma dua jutaan saja, tapi jangan pakai lensa itu, kit juga cukup.

Seorang bijak pernah berkata, belilah kamera yang murah saja, sisa uangnya untuk beli buku fotografi serta travel. Saya sangat setuju, walau saya jarang travel sih. Namun definisi “murah” di sini harus dibuat jelas terlebih dahulu. Hm… dengan melihat ada kamera APSC terbaru yang harganya menyentuh 40 juta (body only), rasanya sah kalau murah itu sekitar 10 juta ‘kan? tidak… bahkan hanya dengan 5 jutaan saja, kamu sudah bisa memotret segala hal dengan memuaskan kok.

Fujifilm X-E2 dan lensa Fujian CCTV, perkiraan total harga : 3 juta

street fotografi itu gak perlu gear mahal

Jadi begini, kita ibaratkan kegiatan memotret itu seperti memancing. Nah, ibaratnya nyetrit itu seperti mancing tapi cuma di kali. Kamu jangan dulu lihat Jeremy Wade dapet ikan goliath tiger atau giant mekong, karena itu bukan di sini, ibarat lokasi street mungkin itu di Tokyo atau London lah haha. Selaku kita cuma main di empang depan komplek, maksimal dapet ikan sapu-sapu, apakah perlu kita susah payah bawa joran raksasa nan mahal yang peruntukannya untuk mancing ikan marlin atau hiu? bukan berarti joran raksasa tidak bisa buat mancing ikan mas, tapi ‘kan mubazir…

Demikian juga kamera. Pernah di suatu masa jaman kejayaan, saya punya Leica Q. Keren, tentu saja. Walau embel-embelnya kamera street, tapi gak juga sih… selain berat, tidak ada gripnya pula. Dan bawa-bawa kamera 35 juta ke jalanan tuh. Dan faktanya karena saya hanya nyetrit di Bandung, pakai Leica sama sekali tidak bikin foto saya makin bagus. Hasil fotonya tidak ada bedanya dengan saya pakai Ricoh GR II yang cuma 5 jutaan.

Coba carikan foto street yang menurut kamu paling bagus dan susah dibuat. Lihat foto Tavepong, Pak Sambara atau Ilker Karaman. Lalu kamu diskusikan dengan teman yang agak ahli. Renungkan, apakah foto itu memungkinkan untuk dibuat dengan kamera murah? jawabannya pasti iya. Mau teknik apa..? juxta, layering, siluet, close up snap, sebutkan satu per satu, saya rasa tidak ada yang tidak bisa diambil pakai kamera murah…

Olympus PEN E-P5 dan Lumix 14mm, perkiraan total harga : 4 juta.

meringankan beban tangan dan dompet

Pada merek yang sama, kamera yang murah pasti ukurannya lebih kecil daripada yang mahalan. Itu pasti kok. Haha. Namun dengan harga 5 jutaan, kayanya susah deh dapet mirrorless baru. Kalau pun ada, pasti entry level sekali. Itulah mengapa saya lebih menyarankan beli kamera bekas, karena saat beli ya kita beli harga bekas, dan saat dijual pun tidak kena pengurangan nilai yang terlalu drastis toh kita beli pun di harga bekas. Kalau ditanya, dengan budget yang sama mending kamera bekas atau baru, tentu saja pilih yang bekas karena bisa dapat kamera dengan spek yang lebih tinggi.

Budget 5 jutaan itu bisa dapet Ricoh GR II, Fujifilm X70, Olympus E-M5 II, Lumix GX85 dan masih banyak lagi. Semuanya adalah kamera kecil dengan performa luar biasa. Di jalanan, perbedaan bobot itu sangat berarti. Kamu tidak akan mau pegal-pegal leher atau tangan karena bawa gear yang terlalu berat.

Nikon Coolpix A, perkiraan harga sekarang : tidak tahu.
tidak ada yang jual karena tidak ada yang pernah beli kamera ini kecuali saya haha.

prinsip ekonomi

Betul, sesuai prinsip ekonomi, dengan modal sekecil-kecilnya dapat untung sebesar-besarnya. Itu kalau cari untung ya. Tapi kalau kamu tidak mencari keuntungan dalam bentuk uang, ya dapatkanlah keuntungan dalam bentuk lain.

Pakai kamera murah tuh… kalau rusak, benerinnya murah. Lecet-lecet juga biarin, apalagi kalau pas beli memang sudah lecet. Kalau mau ganti pun, ya jualnya gampang. Kalau dijambret di jalan pun gak terlalu nyesek. Walau tetep sedih sih.

Semakin murah kameranya, akan semakin miskin fitur dibanding kamera mahal keluaran terbaru. Itu tidak masalah, malahan akan makin meningkatkan skill, naluri serta kejelian kamu dalam memotret. Bayangkan, kamu motret subjek yang sama pakai X-T5, esoknya pakai E-M10, lalu hasilnya gak jauh beda. Jangan pernah minder pakai kamera murah apalagi cuma di jalanan. Semua orang bisa kok beli kamera mahal (kalau uangnya ada), tapi skill gak bisa dibeli, dan tidak pernah berbanding lurus dengan harga kamera. Akan jauh lebih membanggakan jika dengan kamera 5 juta kamu bisa bikin foto sebagus kamera 20 juta, jangan sebaliknya…

Bahkan sekarang beli lensa semakin nyaman, brand-brand China sejutaan makin bertaring. Lensa murah semakin bagus, lensa bagus semakin murah.

Kalau kameranya tidak menghasilkan uang, ya minimal jangan menghabiskan uang. ‘Kan seperti itu. Belajarlah untuk membuat foto yang hebat walau dengan gear murah nan seadanya. 

Fujifilm X100V, harganya di atas 20 juta. Terlihat ada beda dari foto lain?

Pada akhirnya semua terserah kamu toh itu uang kamu. Saya juga kadang beli kamera mahal, tapi buat investasi. Turun ke jalan sih tetap pakai yang murah kalau buat street.  Apalagi saya suka menyiksa kamera, dibawa hujan-hujanan atau motret mengarah ke terik matahari. Rasanya lebih enteng aja beban, gak takut rusak atau lecet. Kalau bosen, tinggal jual tanpa rugi banyak. Haha.