Jatuh Cinta pada Hantu Dalam Foto

Aku percaya, ketika kita merindukan satu sosok, sebetulnya kita bukan sedang rindu pada orangnya, melainkan pada kenangannya. Maka yang terburuk adalah fotografer yang ngajak modelnya portrait satu lawan satu di Minggu sore yang cerah nan tenang, karena dia tidak mengabadikan kenangan tentang sosok tersebut secara alami, alih-alih dia abadikan dia dengan cara terbaik dan secantik mungkin. 

Berbeda dari artikel lainnya, kali ini saya tidak akan menempel foto-foto yang ada wajahnya sebagai ilustrasi dalam tulisan. Supaya tidak ada salah paham bahwa kisah ini mengacu pada sosok dalam foto itu dll.

Aku… suka memotret wanita. Dahulu sih seringnya snap-snap saja orang asing yang papasan di jalanan. Tapi dewasa ini agak berubah, sukanya portrait beneran yang ajak khusus model janjian di suatu lokasi. Kalau dulu paling banter street portrait, yang menurut saya lebih berat unsur streetnya. Kendati demikian, setiap file RAW yang pernah saya ambil pasti saya arsip baik-baik di disk khusus dan juga Google Drive, supaya aman dan ketika saya butuhkan, dan walau tidak sedang butuh pun bisa saya lihat-lihat kembali. Mereka, dan kenangannya…

Jeleknya saya tuh, kalau habis street portrait orang asing… selama mereka tidak bilang mau minta fotonya, ya saya tidak minta kontak. Padahal kadang-kadang cantik sekali sih. Bukan berarti saya tidak suka berteman apalagi gak suka cewek, jelek sekali kesannya… tapi foto yang aku buat tuh cuma bagus untuk aku sendiri. Tidak ada bokeh atau warna-warna ngejreng yang akan disukai oleh mata umum.

Maka ketika aku melihat foto-foto lama yang isinya model selewat, kenangan yang aku ingat ya cuma segitu-gitunya: dia berdiri di trotoar, aku juga lagi lewat, lantas aku ajak foto, selesai. Tidak kenalan atau minta kontak. Ini jangan ditiru, karena… kadang aku membayangkan, sekarang mereka-mereka itu jadi secantik apa ya, atau tinggal di mana, dan lantas mau ajak foto lagi pun harus ke mana carinya… 

Bukan berarti semuanya seperti itu. Seperti omongan saya di atas, tidak kenalan itu kalau orangnya tidak minta foto. Kalau orangnya minta, ya jadinya kenal. Bisa kenal sekadar kenal saja, bisa juga sampai foto ulang atau malah terlibat lebih jauh…

Tadi aku lihat sebuah foto di album DCIM dengan format RAF. Pernah suatu ketika, pada sebuah malam di Jalan Braga, aku nyetrit dengan kerennya pakai X100V dan Leica Q sebagai cadangan dalam tas, walau pasti figuran di sana gak tahu Leica itu apa, mungkin dikira temennya Xiaomi. Aku lihat foto-fotonya dengan seksama… pernah juga aku punya X100V ternyata, tapi yang lebih dalam, pernah juga aku mengalami hal ini…

Jalan Braga. Sabtu petang dan gerimis tak kunjung henti, hingga kulihat sesosok gadis remaja dengan setelan yang keren sekali, berjalan perlahan dalam hujan. Jaket yang dia bawa dipakainya sebagai mantel untuk menutupi kepala. Aku hampiri dengan maksud snap-snap dia dari dekat, tapi dia keburu tiba di sisi jalan yang tertutupi atap, jadinya dia berteduh gak lagi pakai jaket sebagai mantel hujan…

Tetap aku samperin kok.

“Hai…”

“Hai juga…”

“Aku nyebrang buat foto kamu tadi bagus adengannya, tapi kamu keburu berteduh…”

“Oh iya? hehe.”

“Keberatan gak kalau diulangi lagi…?”

“Oh… iya boleh kak…”

Gila ya saya, orang lagi berteduh disuruh hujanan lagi. Aku sih biarin kena hujan, kameranya juga anti air. Snap snap. Dia ajak tuker nomor buat nanti minta fotonya, aku kasih dengan senang hati.

“Habis ini mau ke mana…?”

“Balik hotel kak…”

“Oh bukan orang Bandung..?”

“Bukan kak, aku dari Jakarta, lagi staycation…”

What the fuck is staycation btw, aing taunya plesiran. Aaaaiingg, udah kayak remaja cewek sini aja. Tapi ya dia buka dari sini makanya dandanan dia keren, kalau cewek sini pasti celananya gombrang kayak Snoop Dogg, tak lupa sendal gunung atau sepatu macam di tempat fitness. Tapi ya sudahlah, setelah itu kami berpisah. Aku lanjut kembali ke teman-temanku yang lagi melongo di seberang jalan.

Sudah beberapa hari aku chat dengan gadis itu. Sebut saja namanya Hu Tao. Ada beberapa kemiripan fisik soalnya, termasuk bagian yang kamu tahu jelas. Intinya dia 18 tahun, baru lulus sekolah tapi gak kuliah, cari kerja di Jakarta susah katanya. Makanya cek Bandung, ingin lanjut kerja di sini, tapi gak punya sanak saudara untuk modal awal menetap. Dan dengan kerennya aku bilang, punya apartment nganggur, pakai aja. Emang bener, bulan lalu rumahku direnovasi, kamarku hilang dibikin tangga ke lantai tiga, makanya aku sempat sewa apartment di wilayah sangat strategis (dan mahal pula). Sudah bayar tiga bulan, renovasi rumah beres cepet ya aku pulang aja daripada tinggal di tempat aneh. Kalau mau huni aja, kalau sewanya habis tar aku yang perpanjang.

Dia bilang pekan depan mau ke Bandung, tentunya kita bakal bertemu. Tiap malam chat, pasti kirim foto lagi di warung kopi remang-remang, sambil pegang rokok, kopi hitam kadang juga bir murah. Aduh gimana ya, tapi bakal asyik sih, kalau tinggal di sini bakal kuajak ke tempat-tempat seru di Bandung.

“Di sini kalau mau ngadem, tinggal naik ke daerah bukit…”

“Asyik ya kak…”

“Iya dong…”

“Kalau Saritem itu tempat apa kak?”

“Duh… gak tahu.”

Katanya hari ini dia mau berangkat. Story terkini dia juga sudah di stasiun kereta. Tapi dia tidak mengabari mau turun di mana lantas lanjut ke mana. Jadi aku tunggu saja. Tidak ada, dia tidak pernah tiba. Aku chat dan telpon, sudah pasti gak bales. Tidak ada kabar apapun.

Hari-hari berikutnya, dia tidak pernah bikin story apapun. Aku chat ceklis dua sih, tapi last seen juga sudah lama sekali, terakhir ya hari dan jam dia kasih kabar mau berangkat.

Satu pekan berlalu. Aku nyetrit lagi petang hari di jalan Braga. Sendirian. Walau sudah tahu hasilnya pasti buruk, karena ini bukan week end, tetap saja aku ingin memotret. Masih musim hujan jadi pasti gerimis. Braga kalau bukan week end, sebagian besar tokonya tutup karena tahu bakal sepi, bahkan lampu tokonya mati supaya hemat atau apalah… semakin buruk karena lampu jalanan sini juga banyak yang padam, sudah bentuknya jelek, tak berfungsi pula.

Aku berdiri di depan Jurnal Risa. Sambil ngetest-ngetest kamera, motret jalanan kosong. Yang lewat juga sedikit. Sesekali aku menoleh kanan-kiri, kalau-kalau mendadak ada cewek cantik muncul. Tentu tidak ada. Di sini perbandingannya 1:690.

Sesaat kemudian, aku terperanjat. Dari arah kejauhan dekat Circle K ujung, ada satu sosok wanita yang kelihatannya keren. Duduk di bangku yang tersorot cahaya lampu. Sendiri saja dalam keremangan. Jaket itu, juga model dan warna celana, serta sepatunya… mirip sekali dengan pakaian Hu Tao di hari saat kami bertemu. Aku tunggu wajahnya kelihatan, akhirnya dia menengok ke arah sini. Itu memang dia…!

Segera aku beranjak ke arah sana, saat tinggal dua puluh meteran, tanpa menoleh dia bangkit, lantas berjalan cepat ke arah ujung jalan yang agak gelap. Aku kejar. Dia makin cepat, melewati kerumunan pemuda jamet yang lagi foto urbex, aku susul berdesak-desakan, dan… hilang. Dia hilang. Aku lihat ke dalam Circle K, tak ada. Di seberang zebra cross juga tak ada. Kanan-kiri jalan Naripan, lowong. Bagaimana bisa…?

Esoknya, aku cek hp sambil nyruput kopi di pagi hari. Pada beranda Instagram, terlihat akun Hu Tao muncul paling awal di Story, dia buat story apa. Dia buat story…

Hanya foto.

Foto makam yang masih baru, ada nama dia di kayu yang menancap. Juga sedikit keterangan yang ditulis entah oleh siapa. Bahwa dia sudah tak ada di dunia ini, untuk yang mengenal, tolong dimaafkan kalau dia punya salah, dll dsb.

Kepalaku pusing

2023.

Foto dia masih ada kok. Tadi baru saja aku lihat. Tidak ada yang berubah. Tidak ada Camera RAW atau Photoshop di alam ghaib. Masih tetap seperti saat diambil, dia cantik, lugu tapi ada kesan nakal. Ya, sekarang dia cuma hidup dalam kenangan, dan abadi dalam foto. Itulah mengapa aku suka memotret. Itu juga mengapa aku benci memotret.