#STORYOFTHESTREET

Kisah ini dimulai pada pertengahan tahun 2016. Aku yang kala itu masih lugu di dunia street fotografi, harus berhadapan dengan suatu hal yang sangat…

Baiklah… jujur saja kalau sedang tidak mengerjakan proyek zine kompilasi, aku pun kadang lupa Storyofthestreet (selanjutnya disingkat SOS) itu ada, haha. Aku tidak pernah mention SOS pada postingan apa pun, sebaliknya juga aku tidak mempromosikan diriku di akun SOS. Namun bulan ini aku tengah menggarap zine volume 3 yang sesuai tradisi melibatkan belasan fotografer muda tanah air. Jadinya aku ingin bercerita sedikit…

Semuanya dimulai di tahun 2016. Saat itu benar-benar era keemasan fotografi di Instagram, surga sekali, belum ada yang namanya reels video vertikal, pun bebas dari konten yang… ah macam sekarang lah. Waktu yang sangat menyenangkan untuk memajang foto terbaik, termasuk untukku yang sedang penuh gairah nan antusias untuk turun ke jalan.

Alkisah kala itu aku sudah bergelut di street beberapa saat, dan sudah pakai gaya seperti… ya seperti saya selama ini. Aku ‘kan berguru sama Tatsuo Suzuki. Namun perlu diketahui, di masa itu snap-snap orang asing dari jarak dekat apalagi pakai flash, belum merupakan gaya yang umum setidaknya di sini. Jadi kalau scroll foto street di Instragram, ya antara bakal ketemu street yang damai dan elegan seperti Pak Sambara, atau street yang pakai tele motret orang susah disertai caption yang tak kalah menyusahkan, dan bisa-bisanya disebut sebagai “human interest”.

salah satu foto saya di tahun itu

Padahal aku juga “human interest”, tapi entah mengapa seolah-olah bukan padahal sama saja subjeknya manusia. Kayaknya kalau moto pakai tele nenek-nenek sedang bertani, itu “human interest”, sedangkan kalau snap cewek cantik dari jarak semeter itu tak sopan dan bajingan, haha. 

Nah suatu ketika di pertengahan tahun, ada seorang yang bisa dikatakan (atau mengatakan dirinya sebagai) senior di dunia street tanah air, mengundangku untuk bertemu. Yang aku ketahui, dia itu memang mengurasi foto-foto street Instagram yang pakai tagar dia untuk kemudian dibahas di sebuah akun yang kerjaanya begitu. Akun itu cukup populer kelihatannya, sudah diikuti belasan ribu orang, menjadi semacam majalah street fotografi di Instagram lah. Maka aku mengerti, undangan itu adalah untuk semacam ngobrol, karena memang sebulan sekali ada rubrik wawancara dengan street fotografer lokal.

Singkat cerita aku menyanggupi, kami berjumpa di sebuah restoran Padang di daerah Dago. Singkat cerita juga, bukannya ngobrol enak, itu orang malah mengkritisi gaya foto saya, dan menggurui street yang “benar dan salah”. Kurang ajar betul, aku gebrak meja dan berseru padanya. “Lihat dalam beberapa bulan, saya akan membuat akun yang lebih hebat dan mendunia!” haha.

Itulah yang terjadi. Segera malam itu, aku mengumpulkan orang-orang yang kurasa bisa diajak untuk membuat sebuah gerakan. Terkumpul enam orang, dalam grup chat LINE. Aku jabarkan konsep yang kuinginkan, dan lain sebagainya. Melalui diskusi yang panjang, terpilihlah nama “Story of the Street” , nama itu tidak dimiliki siapa pun dan tagar #stoyofthestreet  aku cek nol postingan. Sah, segera mengudara. Aku infokan pada teman-teman asal Jepang yang kukenal, aku akan membuat ini, kalian silakan pakai tagarnya kalau mau. Semua setuju dan mendukung. Maka jangan heran, di awal sebagian besar fotonya dari Jepang karena memang menyebar duluan di sana.

Demikian untuk tanah air, dukungan pemirsa agak lambat. Ada beberapa kendala, semisal adminku digembosi direktur oleh grup lokal lain yang lebih dulu mapan, hingga si brengsek yang tempo hari ketemu di restoran Padang, aktif nyinyir di setiap kesempatan. Masa bodoh, kita lihat saja siapa yang tersenyum belakangan.

Perlahan tapi pasti, tagar mulai banyak yang pakai, unggah foto sehari dua kali secara teratur. Fotografer lokal banyak yang mendukung dan pakai tagar. Kerikil kecil ada saja, seperti pergantian personel admin. Tapi semakin banyak nama-nama beken yang pakai tagar, maka foto yang dipajang pun semakin naik ke permukaan. Dalam beberapa pekan saja, pengikut dan tagar dipakai sudah ribuan.

Waktu berlalu, hari-hari rutin mengurasi foto yang masuk. Kadang diselingi dengan “take over”, itu semacam ambil alih akun selama satu pekan oleh fotografer terpilih untuk kemudian diisi oleh foto-foto terbaik dan cerita mereka. Nama-nama seperti Tatsuo Suzuki pernah masuk. Kala itu pernah ada satu kejadian lucu, admin saya menolak instruksi saya untuk mengunggah sebuah foto hanya karena fotografernya orang Israel, haha.

Jelang 2020, tak terasa pengikut sudah hampir seratus ribu. Tagar dipakai lebih dari tiga juta. Aku keasyikan dalam dunia foto street, sampai lupa tujuan awalku mengalahkan si brengsek. Lagian aku sudah menang dari jauh hari, hanya dalam beberapa bulan awal malahan. Storyofthestreet sudah mapan, bahkan bermitra dengan akun-akun sejenis dari Prancis, Jepang dan Turki.

Di level personal pun aku bisa menepuk dada kalau ketemu si brengsek, karena toh yang akhirnya bisa dapat endorse dari brand kamera dan gelar workshop besar ‘kan aku, bukan dia. Ini sebagai pelajaran saja, jangan pernah meremehkan orang lain. Waktu itu jiwa mudaku memang terlampau bergelora,

hanya ingin membuktikan dan menang.

Anyway, formasi adminnya terus berubah, hanya aku member asli yang tersisa. Sisanya ya menyesuaikan, hingga akhirnya hanya tinggal berdua dengan Mia (anggota termuda dan terbaru, tapi paling mengerti kemauan dan visi saya). Bukan tidak ada yang melamar, banyak kok, namun aku menjaga agar SOS tetap dipegang 100% oleh orang Indonesia, ya walau porsi tayang fotonya sedikit sekali yang dari Indonesia.

Pertengahan 2020, terjadi kegoyahan. Dunia dilanda pandemi zombie. Aku sendiri terdampak, sampai-sampai mobil kesayanganku terancam ditarik leasing. Jangankan memotret atau memilih foto untuk tayang, kehidupan sehari-hari pun dilanda kegamangan. Sampai muncul ide gila yang hampir saja terwujud : aku menawarkan kepemilikan SOS beserta segala hak intelektualnya kepada orang-orang luar negeri. 

Tawaran tertinggi adalah USD 8.000 . Itu sekitar 130 jutaan lebih. Orang Amerika itu percaya dan setuju untuk tidak mengubah nama, tagar dan menjaga SOS tetap jadi akun street fotografi. Aku minta deal ditunda satu bulan, karena saat itu aku nekad hendak menerbitkan buku pertamaku yang berjudul “The Book of Street Portrait”, aku butuh media untuk publikasi.

Apa yang terjadi berikutnya di luar dugaan. Bukunya laris manis. Bahkan aku bisa melunasi seluruh cicilan mobilku yang masih tersisa tiga tahun lebih, aku bayar tunai, jadi hanya kena pokok plus sedikit penalti. Haaaaah. Mobilnya (Brio RS) tetap aku jual sih, aku belikan Ford karena saat itu aku kerja sampingan sebagai Grab taksi, rasanya Brio mudah sekali penyok kalau terserempet sedikit. Dan benar saja, Fiesta jauh lebih kuat walau rada boros. Intinya, alih-alih harus menjual SOS, aku malahan dapat untung yang lebih besar, pun masih bisa terus menggunakan SOS sebagai mesin politik.

Eksis di luar negeri sudah. Postingan mapan, like pasti puluhan ribu. Nama-nama tenar rutin masuk galeri. Namun masih ada sedikit perasaan mengganjal. Setiap aku hunting lalu ketemu orang baru, sering aku tanya, “tahu SOS gak?”

Jawabannya pasti tahu dan mengikuti. Namun dasar memang literasi rendah, padahal pada setiap caption pasti tercantum “Based in Indonesia”, tetap saja mereka mengira ini akun dari Jepang atau Inggris. Oleh sebab itu, selain untuk melebarkan sayap di dalam negeri, aku juga ingin berkontribusi untuk dunia street tanah air. Aku tidak mau hebat sendirian.

Lantas aku melihat VoidTokyo, grup bentukan Tatsuo, menerbitkan zine yang isinya kumpulan foto-foto jalanan para membernya. Aku sangat tertarik. Maka segera kucari calon-calon membernya, aku cari dari list orang-orang yang bulan lalu beli bukuku.

Sebetulnya mudah saja bagiku untuk mengajak nama-nama tenar yang sudah pasti hebat dan menjual. Tapi rasanya bukan itu yang aku inginkan, aku ingin mengajak nama-nama potensial yang belum terkenal untuk berkecimpung di dunia cetak buku fotografi, dan kalau perlu bisa hidup darinya. Jadi foto itu jangan hanya selesai di Instagram saja, sayang ‘kan.

SOS zine vol 1

Terbentuklah. Cetak. Semua senang. Dan hingga saat ini sudah sampai vol 3. Seharusnya sih vol 4 tapi pas 2022 aku lupa untuk membuatnya ha ha.

Dan bukan hanya lupa untuk menerbitkan buku tahunan, aku juga lupa kalau SOS itu ada, persis seperti yang aku sebut di paragraf pertama. Semasa pandemi yang luar biasa lama, sense yang aku miliki terhadap foto street jauh berkurang. Aku tidak begitu ingin mengurasi foto atau apa pun. Mungkin sesekali aku upload, tapi jarang sekali. Kalau dihitung, selama dua tahun hanya 20% dari jumlah hari, SOS posting sesuatu. Ini diperparah dengan admin yang paling aku percaya dan cintai, pamit entah karena alasan apa. Makin terbengkalai lah…

Itu follower yang asalnya 150 ribu lebih, bukannya bertambah tentu malah berkurang karena tidak eksis lagi. Kedengarannya sepele ya, apa sih susahnya mengunggah satu foto sehari. Apalagi jumlah foto yang pakai tagar SOS sudah hampir lima juta foto, kasarnya sih tinggal pilih secara acak.

Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, pernah ada masa, aku benar-bener tidak mau melihat foto-foto jalanan.

Namun di 2023 ini, aku coba bangkitkan lagi. Walau hanya sendirian dan tidak rutin, namun setahap demi setahap mulai konsisten lagi. Apalagi zine vol 3 baru saja diterbitkan. ‘Kan gimana ceritanya, tidak eksis tapi tiba-tiba menerbitkan buku.

Dapatkan di sini btw.

Jangan khawatir, saya sudah kembali punya semangat street fotografi seperti dulu lagi, walau dalam versi agak berbeda. Tidak ada lagi yang ingin aku kejar atau kalahkan. Misiku kini hanya satu, meramaikan khazanah street fotografi… baik dalam negeri maupun internasional. Tentu dengan caraku sendiri.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram