Digicam yang Agak Mendingan – no 2

Seperti biasa, ada kamera digital jadul di meja saya. Setelah dites seharian, ternyata kamera ini…

Sangat enak digunakan serta hasilnya… lumayan. Ini adalah Lumix LX5, kamera pocket keluaran tahun 2010. Beberapa bulan lalu saya cicip Leica D-lux 6 alias LX7, nah ini satu generasi lebih tua. Kesan saya menggunakan D-lux 6 sangat positif, namun saya tidak merekomendasikan beli yang versi Leica lantaran akan lebih murah jika ambil yang Lumix saja (sama kameranya). Nah kali ini, yang saya pegang adalah versi Lumix, jadi tidak akan ada lagi “ganjalan” berupa harga yang kena mark-up oleh Leica.

Seperti sebelumnya, saya dapat kamera ini dari sahabat saya Bung Yogi. Beliau ini sering ikut-ikutan beli kamera digital lawas, dan serunya dia itu fanboy Lumix jadi ya mirip-mirip saya lah. Sekarang kameranya ada di tangan saya dan akan tetap begitu sampai laku. Jadi setelah tulisan ini tayang, kameranya pasti sudah tersedia di Tokopedia saya.

terima kasih Teh Serena dan Kang Mawar… salam Preman Pensiun!

Baiklah… di era sekarang yang mana digicam jadul ngehits lagi serta harganya digoreng habis, kami selaku maniak kamera pun ya rutin beli-beli. Namun bedanya kami cukup paham kamera luar dalam, makanya jika beli sesuatu, ya harus “menang banyak”. Tidak boleh sekadar beli karena desain atau warna, melainkan harus ada nilai lebih.

Silakan lihat foto di bawah, seperti itulah kameranya.

Ya desain Lumix seri LX ya dari dulu begitu. Saya rasa cukup keren, tidak terlihat seperti kamera mainan. Kamera ini full logam, benar-benar solid. Dan entah dari mana dapatnya, unit yang saya pegang benar-benar like new. Kalau kamu cari benda ini di pasaran, minimal pasti sudah ada paint loss serta LCDnya vignet. Saya punya, beneran prima kondisinya. Yang ekstrim, baterai CMOSnya sehat… untuk kamera setua ini, ketika dinyalakan tidak harus reset tanggal tuh prestasi sekali. Mana dikasih viewfinder LVF1 segala, yang terus terang tidak akan pernah saya pakai karena saya tidak suka ngintip lewat lubang.

Yang khas pada seri LX yaitu adanya switch aspek rasio di tepian lensanya. Itu bukan crop foto secara digital, melainkan beneran lensanya bakal mengambil aspek rasio langsung ke sensor. Oleh sebab itu agar bisa mentok pakai 10mp, aspek rasio yang sebaiknya dipakai adalah 4:3. Lagipula pilihannya ‘kan 4:3, 3:2, 16:9 dan 1:1. Ya yang paling logis cuma 4:3 atau 3:2, namun karena bahkan mentok pun hanya 10mp jadi tidak enak juga pakai 3:2 karena makin kecil resolusinya.

sebagian foto pada artikel ini dibantu oleh kawan saya Randy , silakan cek karya-karyanya.

Begitulah… sensor kamera ini ukurannya 1/1.63″ CCD 10 megapiksel. Yoi… CCD, istilah yang bikin imajinasi serta harapan akan hasil yang vintage macam kamera film. Sejujurnya saja, ya tidak juga sih. Nuansa fotonya mirip-mirip dengan LX7 yang sudah CMOS itu. Hanya saja LX5 agak lebih suram dan noise, dan itu wajar, karena ukuran sensornya yang mungil itu. Sebagai gambaran, ukuran sensor pada kamera ini sama dengan kebanyakan smartphone flagship tahun lalu. 

Tapi sebelum bahas hasil foto, akan saya ceritakan sedikit mengenai rasa memotretnya. Karena kamera ini kecil sekali namun berat, jadi agak kagok apalagi grip pun sedikit sekali, tapi ya lama-lama terbiasa. Semua tombolnya klik dan renyah, lever zoom juga sangat lembut. Karena tidak ada ring fokus /zoom di lensanya, jadi selain zoom hanya bisa pakai lever ti tombol shutter, konsekuensi lainnya adalah :

1. Mengganti F mesti di dial yang sama dengan shutter speed. Jadi satu tombol untuk dua fungsi, cara pindahnya cukup dipencet saja. Ini berlaku untuk mode M, sedangkan mode lain ‘kan tidak ada yang mesti atur F dan SS secara manual sekaligus.

2. Saat pakai manual fokus, mengaturnya pun lewat dial yang itu tadi. Sehingga, fungsi untuk ganti F dan SS jadi hilang. Kalau mau ubah F atau SS ya cetrek balik dulu ke auto. Namun demikian, saat mengatur manual fokus, pada layarnya akan tampil jarak satu meter, setengah dll.

Iya… bener… ada meteran jaraknya! haha. Kalau pakai Fuji atau Ricoh, itu hal biasa. Tapi pada kamera Lumix, ini adalah sesuatu yang langka. Lebih hebatnya lagi, walau kameranya dimatikan, jaraknya tidak reset. Coolpix A dan RX1 akan malu melihat hal ini hahaha. Fakta bahwa kamera ini bisa zone fokus (dan sangat responsif), menjadikannya cukup nyaman untuk gaya foto snap orang asing yang mondar-mandir.

Satu hal yang masih agak aneh adalah… jadi LCD kamera ini tuh resolusinya 3″ 460k dots. Jumlah yang terdengar sangat minim untuk standar sekarang, namun pada masanya ya lumrah. Dan saya pun tidak ada masalah, karena sering pakai digicam atau mirrorless jadul yang resolusinya segitu atau malah lebih rendah, dan baik-baik saja.

lawan matahari masih berani tanpa flash, cuma pas angkat shadow, semut semua haha

Nah pada kamera ini, kendalanya bukan karena layarnya tidak menampilkan eksposur sesungguhnya sebagaimana kamera jadul, melainkan ketika ada mode live view, resolusinya terasa drop sekali… mungkin hanya jadi sekitar 100k dots. Tentu pengamatan saya itu ada dasarnya, sebab setelah kita jepret dan lihat hasilnya, layarnya mendadak jadi sangat tajam, detail dan kontras. Entah apa yang terjadi… panelnya ‘kan sama, tapi mengapa setingnya dia bedakan. Situasi ini jauh dari ideal karena jadi susah ngecek fokus atau tidak… (walau kebanyakan sih fokus)

Ngomongin fokus, AF pada kamera ini, sangat lumayan. Sekadar single target apalagi stand by sih, sat set banget. Semakin cahaya turun, ya semakin berat, tapi masih sangat bisa diandalkan. Lagipula, masih ada opsi cadangan yaitu MF, yang seperti sudah dijelaskan tadi, selain enak ada meteran jarak untuk zone fokus, juga ada beberapa assist semisal pembesaran poin fokus.

Begitulah, pokoknya handling dan fitur ya cukup mudah dipakai. Menu Lumix pun sangat simpel, dan di luar dugaan sangat “fluid”, animasinya lembut dan luwes sekali. Padahal mereka jago bikin software tapi mengapa tidak sekalian kasih update firmware untuk hal itu… firmware kamera ini berjalan sampai versi 2.0 dan tidak ada sedikit pun tentang resolusi layar itu, jadi dugaan saya ya itu disengaja… mungkin untuk hemat baterai atau apa lah. Menyebalkan.

Sudahlah… saatnya bahas hasil fotonya, karena itu adalah hal terpentingnya bukan…?

Saya hanya memotret RAW. Selagi bisa. Tidak peduli JPEGnya sebagus apa. Dan jujur, aku lebih merasa puas mengolah RAW kamera dengan sensor kecil begini daripada yang 1″ kayak Canon G7X II atau Lumix LX10. RAW pada kamera 1″ selalu sangat flat dan kering, sedangkan file RAW LX5 dan LX7 tuh masih ada lucu-lucunya gitu. Mana ukuran RAWnya cuma sekitar 10mb… hemat tempat.

Walau dengan mengolah RAW tidak berarti sangat fleksibel layaknya kamera sensor besar, namun sekadar highlight shadow tipis-tipis masih bisa lah. Tapi jangan berharap terlalu banyak karena ada takdir yang tak bisa dilawan, yakni ukuran sensornya yang kecil.

Ditambah dengan teknologi prosesing saat itu, jangan heran kalau baru ISO 500 pun noise sudah banyak. Kalau olah RAW plus jadikan hitam-putih di Silver Efex, itu noise bisa lah disamarkan menjadi grain halus. Lagian, sebetulnya noise pun tak apa ‘kan… toh itu yang kamu cari pada kamera jadul begini.

Pada kamera seperti ini, rasanya tidak penting juga membahas yang namanya ketajaman atau detail ‘kan. Bisa aku katakan, sekadar cukup. Namun ini jauh lebih detail daripada digicam kebanyakan yang sejutaan. Oh iya, jangan berharap bisa bikin bokeh yang terlalu bagaimana… walau zoomnya bisa sampai 90mm dengan F tetap kecil, karena sensornya ya cuma segitu. Ini harus dipakai untuk street, enak semuanya fokus dari ujung ke ujung. Mana stabilizernya pun lumayan bagus.

Ah… karena sensornya CCD, ada lah sedikit karakter jadulnya. Terutama kalau nembak lawan arah matahari… garis-garis semua haha. Lebih dari itu, baik segi warna atau nuansa foto, ah tak penting juga, toh fotonya bakal kamu edit di Lightroom. Intinya untuk daily apalagi kaum skena, kamera ini lebih dari cukup.

Apakah layak dibeli dan berapa harganya…?

Well, kamera ini tidak bisa disamakan dengan digicam point and shoot sejutaan, karena levelnya beda. LX5 levelnya kamera enthusiast, ada mode full manual, bisa shoot RAW, pasang flash eksternal dll. Demikian kamera ini cocok buat kamu yang mau ikut-ikutan tren digicam namun ingin keleluasaan lebih untuk memotret.

Karena jujur kalau pakai digicam biasa, ada banyak sekali keterbatasan. Yang paling terasa kalau gak ada mode full manual tuh, saya gak bisa main slow shutter flash. Mengolah file JPEG pun rasanya sangat tak enak. Kalau mau edit-edit, ya harus RAW lah. Lagipula, digicam tanpa Lightroom bisa apa sih…? cuma dapat suremnya doang, nuansa vintage ya tak ada.

Dengan segala kontrol manual serta bisa pasang flash eksternal, saya cukup percaya diri bisa menggunakan LX5 untuk daily bahkan street. Dengan catatan kameranya harus sehat kayak yang saya pakai. Baterai pada kamera ini juga cukup awet pada kondisi terbaik, dan walau sudah tak bagus sekali pun masih banyak yang jual baterainya. 

Kamera ini harganya sekitar 2-3 jutaan, ini jelas agak naik daripada beberapa tahun lalu, terutama kalau dapat yang kondisinya prima. Bagaimana pun kondisi jual-beli saat ini agak menyebalkan. Tiga juta, tidak banyak pilihan. Antara beli mirrorless tua (dan masih butuh lensa), atau pocket premium jadul kayak begini. Opsi selain LX5 adalah Canon S95 yang sama populernya, namun agak lebih mahal lagi… karena brand yang lebih populer, bahkan kaum FOMO pun tahu apa itu Canon.

LX5 atau S95? aku sih LX5, simpel karena bisa colok flash eksternal serta kontrol yang lebih lengkap. Lagian, LX5 lebih mudah dicari di pasaran. Soal hasil foto sih, gitu-gitu aja…

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram